PAWANG
HUJAN
Ada yang ingin menendang mundur hujan
dengan perisai saat menyerang bumi
Dihembuskan kepulan asap rokok membentuk
perisai
Gempuran gempuran butir air kian memaksa
mundur
Berontak, memukul mental mulut pemilik
mantra
Digoyangkannya jari-jari membuka telapak
ke langit
Komat-kamit membaca mantra penghalau
hujan
Butiran-butiran itu kian lemah, tidak
mampu menahan kerasnya asap
Mantra-mantra seakan kokoh, tak
tertandingi.
Didera
Mimpi I
Malam yang panjang
Saat kau harus tertidur dengan mimpi
mengerikan
Melihat bayang-bayang beringas memanggil
namamu
Hai keturunanku, mengapa engkau
membangun leluhurmu?
Semua jari tangan gemetar menyaksikan
wajah
yang tidak pernah kau lihat sebelumnya
Wajah itu kian mengamuk, meminta
ganjaran
atas apa yang telah kau perbuat.
Sekali lagi dia bertanya, mengapa kau
mengganggu?
Melihat wajah yang sangar, jari-jari
semakin gemetar tak terarah
Keringat ketakutan menetes di sela-sela
bulu mata
Meskipun kau tahu itu mimpi di malam
dingin
dan mungkin akan menjadi nyata
Aku ini memang leluhurmu, lalu apa yang
kau inginkan?
Tidak mampu berkata-kata
Hanya mata melotot, seperti akan
terlepas dari lingkarannya
Sungguh sangat menakutkan saat ingin
menjawabnya
Sentuhan angin malam yang panjang
Perlahan menyuntik ke sela pori-pori
Sel-sel dalam tubuhmu ikut merasakan
mimpi yang tak tahu ujungnya
Semuanya berontak ingin melompat ke
tubuh lain
Ketika merasakan tubuhku didera
Didera
Mimpi II
Hari beranjak pagi
Tidak ada yang menegur dengan selamat
pagi
Hanya saja ayam berkokok
mungkin juga menegur dengan cara seperti
itu
Derap langkah kaki membuka hari
Setiap orang sibuk menata masa depannya.
Termenung, bayang-bayang mimpi leluhur
meniru langkah
Semuanya dihantui rasa takut
Kedua tangan menopang dagu memikirkan
apa yang akan terjadi.
Cerita-cerita arti mimpi membisik ke
telinga
Semua orang berseru, kau yang salah,
kenapa membangunkan mereka
Bingung dan takut; aku tidak
membangunkan mereka.
Fransiskus D. Darma