22 Desember 2018

NATAL DAN KERINDUAN





Natal dan Kenangan

Hai para pembaca, apa kabar kalian hari ini? Saya harap kalian baik-baik saja, mengingat perayaan Natal sudah dekat. Saya juga ingin menyapa saudara-saudara saya yang saat berada di tanah rantau, semoga kalian juga baik-baik saja disana.
Natal semakin dekat, kerinduan akan kampung halaman pasti menghatui hari-hari kalian. Bayangan masa kecil bersama keluarga dan teman-teman pada saat Natal pasti tidak akan terlupakan. Apalagi jika di kampung kita masing-masing ada sesuatu yang unik pada saat itu atau paling tidak kita ingat saat minum kopi dan hang latung cero (makan jagung goreng) bersama keluarga kalian. Tentu hal ini semakin membuat kerinduan ini membara atau juga menangis dalam kamar karena tidak dapat membendung kerinduan. Apalagi mendengar lagu “kole beo” (pulang kampung) atau “pulang jo”, ya tahu saja rasanya. Sakit hati,,,,,,,,,.
Beberapa hari terakhir kemeriahan perayaan Natal sudah dimulai. Keluarga-keluarga kecil mulai menyiapkan sesuatu yang baru untuk perayaan Natal tahun 2018. Para artis juga mulai memamerkan busana-busana yang akan dikenakan. Untuk penulis, tidak ada yang saya dipamerkan, mengingat dompet kosong.
Hahahaha.
Tidak apalah yang penting pulang dari tempat yang panas ini dapat berkumpul bersama keluarga. Maram apa kat ata manga ne, hang situ kaut (makan apa adanya). Bagi teman-teman saya yang belum libur karena mungkin ada halangan kerja, sabar bro! Masih ada tahun depan e ase kae. Okelah, cukup dulu bahas yang ini, kita kembali ke tulisan ini. Belakangan ini para artis papan atas yang merayakan Natal mulai memamerkan pohon Natal mereka yang megah. Warna pohon Natal sangat bervariasi tergantung selera setiap keluarga atau individu. Salah satu pohon Natal berwarna hitam pekat sempat menjadi sorotan publik, mungkin karena baru kali ini atau karena artis internasional yang memilikinya. Entalah, biarkan pembaca yang menilai.
            Baiklah, sekarang kita akan berbicara Natal di Ruteng, Manggarai, NTT, yang jarang dari pemberitaan media televisi, eh penulis mulai berharap, percaya diri kali aku ini.
Hahahah. 
Padahal kalau diberitakan akan menarik, cukup kami tersenyum pasti penonton terkesima, apalagi senyum orang-orang di kota dingin menawarkan sejuta rasa persaudaraan. Di tempat ini kalian akan temukan hal-hal baru baru untuk merayakan Natal. Dari anak-anak jail yang suka main meriam bambu, busi motor yang diikat tali kemudian dilemparkan untuk menimbulkan ledakan yang tidak kalah dengan petasan saat Natal. Saat itu pasti “ise ende gu ise ema” (Mama dan Bapak) mulai marah-marah. Sabar e ema gu ende, anak-anak memang begitu tapi mereka tidak akan berbuat lebih dari itu, pasti mereka akan menjadi anak yang baik. O iya ada yang lupa, Ruteng juga dijuluki kota seribu gereja, karena banyak gereja di tempat ini.
Natal di Ruteng pasti banyak lampu jalan dipasang masyarakat setempat. Ini sudah menjadi kebiasaan kami saat-saat sebelum Natal. Tidak ada tujuan lain selain untuk memeriakan kelahiran Juru Selamat Raja Damai.  Nilai positifnya, kami saling bergotong royong mengerjakan semua ini, dengan demikian rasa persaudaraan semakin kuat.
Jika Natal di Eropa ada musim salju, kami di Ruteng ada musim hujan yang tidak mungkin terhindarkan. Kalau di Eropa ada jaket salju yang tebal kami di sini cukup siapkan payung dan jaket seadanya. Meskipun hujan kami tetap bersyukur, paling tidak masih bisa ke Gereja. Saat itu kalian akan rasakan dingin dengan baju yang basah dan juga berdoa pada posisi kedinginan. Pulang Gereja juga begitu, hujan lebat siap mengguyur.
Nasib, nasib.
Ya begitulah cerita kami di kota dingin. Hujan seperti musim istimewa menemani suasana Natal.  Satu kebiasaan yang tidak pernah terlewatkan bagi kami (lingkup kampung) yaitu berkumpul di luar rumah pada saat malam Natal. Menikmati indahnya malam, lampu warna-warni, dan angin yang dingin, tau saja dinginya Ruteng toh, menusuk hingga ke tulang.
Ber……… Setelah itu pempang (meriang. Aku meriang,aku meriang), hahahaha. Jadinya macam lagu dangdut ya. Masih banyak cerita unik lainnya yang ingin penulis bagikan, tapi tunggu dulu ya, supaya kalian penasaran toh.

Tunggu dan tunggu, cerita ini akan dilanjutkan tahun depan.

Bersambung ke Natal tahun depan………………

                                                                                                            F.D.D


13 Desember 2018

CERPEN: KETAKUTAN BERSAMA BANYANGAN PETIR




KETAKUTAN BERSAMA BANYANGAN PETIR

Sore itu langit tampak mencekam. Awan-awan hitam berkumpul pada satu tempat yang sepertinya siap menurunkan hujan dengan penuh amarah. Burung-burung di udara lalu lalang berterbangan mencari tempat tenang. Masyarakat kami percaya, jika burung-burung banyak berterbangan di sore hari, ini tandanya akan hujan. Bagi kami, awan hitam pekat belum tentu turun hujan. Bisa saja ada pawang hujan yang akan mengatur itu semua. Memang, kepercayaan akan hal mistis masih melekat pada masyarakat.
Hiruk pikuk mulai terlihat, para petani mengumpulkan hasil pertanian dan peralatannya. Rintik-rintik hujan perlahan menyapa. Aku biasanya tak pernah memperdulikan hujan yang intesitasnya rendah.  Bagiku, hujan yang belum lebat tidak akan mengurungkan niatku untuk terus bekerja meskipun petani di ladang sebelah sudah berteduh di pondoknya masing-masing. Kuperhatikan bagian selatan dan arah timur laut masih cerah, mungkin tidak akan turun hujan hari ini. Sementara itu, kakek tua yang renta namanya Markus, memanggilku untuk beristirahat tetapi aku berkata” sebentar dulu kek, hujan belum lebat, masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan, rumput-rumput belum diangkat”.  Baiklah nak, kata kakek tua itu. Waktu terus berjalan, belum ada niat untuk beristirahat.
Langit bagian selatan sepertinya tidak cerah lagi. Awan hitam sedikit demi sedikit bergerak menuju arah timur laut. Burung-burung semakin banyak berterbangan. Apakah ini pertanda akan hujan lebat? Bingung dan cemas menghantui, antara bekerja lagi atau istirahat, padahal pekerjaan belum tuntas. Aku paling malas bekerja setelah hujan, biasanya rumput-rumput basah lebih berat untuk diangkat. Sejenak menoleh ke arah pondok, tiba-tiba cahaya yang begitu cepat melintas di depan mata.
Prak………
Bunyi letusan petir yang sangat dasyat hingga getaran menjalar ke hati. Terlihat semua orang yang masih bekerja berlarian menuju sekang (pondok) mereka masing-masing. Aku terdiam, berteriak dan merangkak ketakutan. Kemudian berlari menuju tempat berteduh di bagian Timur ladang. Desiran darah mengalir begitu cepat, detak jantung semakin tak terkontrol. Hembusan nafas setelah berlari tak teratur seakan menghembuskan nafas terakhir.
Kakek sudah bilang, jangan memaksakan diri untuk bekerja kalau cuacanya tidak memungkinkan. Kamu juga tahu, daerah kita ini tempat yang rawan. Sudah ada beberapa orang meninggal disambar petir. Untung saja, kamu tidak apa-apa. Sebab kalau itu terjadi, daerah sekiran ini mungkin bertambah angker dan lebih banyak lagi yang takut karena trauma dengan kejadian seperti ini. Aku hanya terdiam merenungkan jika itu terjadi padaku.
Sudah, ganti bajumu dan nyalakan api! “perintah kakek Markus”. Hujan disertai angin kencang terus mengguyur. Hatiku cukup cemas melihat cuaca sore itu. Bukan soal petir lagi, tetapi melihat tanaman jagung yang terseok-seok mengikuti arah angin, apalagi tanamannya masih berbunga saat ini.
Bencana besar, ini akan menjadi bencana yang menyakitkan. Tidak ada yang bisa dipanen kalau hujan serta angin terus mengguyur tanamanku. Natal sudah dekat, apa yang bisa dimakan saat Natal nanti? Aku terus perhatikan tanaman yang terseok-seok. Bunga-bunga jangung mulai berjatuhan, batang patah, dan jagung yang lain terbang tertiup angin entah kemana. Hanya bisa terdiam melihat semua ini. Sejenak memandang ke langit, akankah semua ini berakhir dengan penderitaan berkepanjangan. Ini memang cobaan yang menyakitkan. Sudah tidak terhitung lagi waktu yang telah terbuang untuk merawat semua ini. Tertunduk lesu dan sudah tidak ada harapan lagi.
Anak muda, jangan melamun. Nyalakan apinya, hujan akan semakin lebat, mengeluarkan korek api dari saku celana, kakek tua itu hanya tersenyum dan memegang bahuku dengan tangan kanan. Terlihat garis kerutan dan lecet pada telapak tangan menandakan betapa kerasnya ia berusaha untuk menghidupi keluarga.
Kakek juga pernah merasakan apa yang sedang kamu rasakan. Memang menyakitkan, tapi ya, mau bagaimana lagi. Tuhan sudah mengatur semua ini. Tidak ada hujan, kebutuhan akan air juga tidak terpenuhi untuk daerah persawan kita.
Api sudah dinyalakan, aku dan kakek Markus duduk di dekat perapian, sebatang rokok menemani candaan kami berdua sore itu sembari menunggu air matang untuk membuat kopi. Rupanya kakek Markus lumayan humoris. Kejadian demi kejadian diceritakan untuk menemani hujan yang semakin lebat. Tidak terasa waktu sudah menunjukan pukul 16.00 Witeng. Hujan belum juga redah, malahan semakin lebat. Sesaat menunggu air matang aku tertidur. Kakek Markus tetap duduk di dekat perapian, mungkin belum ngantuk.
Prak……
Bunyi keras memukul mental kami. Bahkan bunyi itu, menyebabkan getaran di sela-sela alas bambu tempatku tidur. Bukan hanya sekali saja bahkan berulang-ulang menghantam kesunyian sore itu. Kakek hanya terdiam, aku juga ikut diam. Aku tidak tahu apa yang harus kuperbuat. Kepanikan, ketakutan, dan keraguan semakin menjadi-jadi. Rupanya kakek juga takut dan trauma dengar bunyi petir, ini terlihat dari refleksnya menutup telinga dan memejamkan mata. Saking takut, tikar alas tidur dijadikan sebagai tempat sembunyi seperti main petak umpet. Pondok sangat berantakan saat itu akibat gerakan secara tidak sadar. Air yang hampir matang tumpah mengenai sela-sela bambu akibat dari kaki yang secara tidak sengaja mengenai kayu dekat perapian. Aku pun tidak tahu, kaki siapa yang meneganai kayu itu. Sudahlah. Ini sudah terjadi yang penting selamat. Sudah tidak tahu lagi, apa yang terjadi saat itu. Aku dan kakek Markus tertidur di tengah ketakutan yang begitu dasyat.
Ketika suara guntur tak terdengar, hujan juga redah. Terdengar teriakan memecah kesunyian setelah hujan.
Tolong, tolong, tolong.
 Teriakan seorang pria paru baya di tengan jalan. Semua orang keluar dari pondok memperhatikan pria itu. Semua mendekat dan mengikuti pria itu berlari ke tengah hamparan sawah. Terlihat seorang perempuan tua terkapar di antara batang-batang padi. Tubuhnya sebagian terbakar dan lebam terkena sambaran petir. Tidak ada yang tahu, perempuan tua ini masih selamat atau tidak. Semuanya panik dan ketakutan. Lalu, beberapa pria turun dan mengangkat perempuan itu. Di antara mereka juga tidak ada yang tahu, perempuan itu masih hidup atau tidak.
Semuanya panik.
Perempuan itu langsung diangkat dan dibawa ke rumah sakit saat itu juga. Orang-orang berdoa, semoga dia selamat.
Melihat kejadian ini orang-orang takut. Hari sudah semakin sore, satu persatu petani kembali ke rumah. Aku dan kakek pun pulang ke rumah masing-masing. Dalam perjalanan pulang semuanya sunyi terbanyang kejadian tadi. Kakek tua yang biasanya lucu, sekarang menjadi pendiam.
Hanya ketakutan yang ada.
Sekitar pukul 18.00 Witeng terdengar suara sirene di sekitaran kampung. Terdengar kabar perempuan tua yang terkapar di tengah persawan tadi sudah meninggal. Inilah awal kisah menakutkan. Saat hujan turun, semua petani pasti kembali ke rumah, tidak ada lagi yang berteduh di sawah atau ladang mereka, sekalipun hujan saat itu tidak bersamaan dengan petir. Aku pun demikian, kejadian saat itu menjadi ketakutan yang membekas dalam bayangan.
                                               Ruteng, 6 Desember 2018

Nama penulis: Fransiskus Darviansa Darma (Fian)
TTL: La’o Lanar, 17 Oktober 1995


08 November 2018

Puisi Baru, fransdarma.blogspot.com







PAWANG HUJAN
Ada yang ingin menendang mundur hujan
dengan perisai saat menyerang bumi

Dihembuskan kepulan asap rokok membentuk perisai
Gempuran gempuran butir air kian memaksa mundur
Berontak, memukul mental mulut pemilik mantra
Digoyangkannya jari-jari membuka telapak ke langit
Komat-kamit membaca mantra penghalau hujan

Butiran-butiran itu kian lemah, tidak mampu menahan kerasnya asap
Mantra-mantra seakan kokoh, tak tertandingi.






Didera Mimpi I
Malam yang panjang
Saat kau harus tertidur dengan mimpi mengerikan
Melihat bayang-bayang beringas memanggil namamu

Hai keturunanku, mengapa engkau membangun leluhurmu?
Semua jari tangan gemetar menyaksikan wajah
yang tidak pernah kau lihat sebelumnya
Wajah itu kian mengamuk, meminta ganjaran
atas apa yang telah kau perbuat.

Sekali lagi dia bertanya, mengapa kau mengganggu?
Melihat wajah yang sangar, jari-jari semakin gemetar tak terarah
Keringat ketakutan menetes di sela-sela bulu mata
Meskipun kau tahu itu mimpi di malam dingin
dan mungkin akan menjadi nyata
Aku ini memang leluhurmu, lalu apa yang kau inginkan?
Tidak mampu berkata-kata
Hanya mata melotot, seperti akan terlepas dari lingkarannya
Sungguh sangat menakutkan saat ingin menjawabnya

Sentuhan angin malam yang panjang
Perlahan menyuntik ke sela pori-pori
Sel-sel dalam tubuhmu ikut merasakan mimpi yang tak tahu ujungnya
Semuanya berontak ingin melompat ke tubuh lain
Ketika merasakan tubuhku didera



Didera Mimpi II
Hari beranjak pagi
Tidak ada yang menegur dengan selamat pagi
Hanya saja ayam berkokok
mungkin juga menegur dengan cara seperti itu
Derap langkah kaki membuka hari
Setiap orang sibuk menata masa depannya.

Termenung, bayang-bayang mimpi leluhur meniru langkah
Semuanya dihantui rasa takut
Kedua tangan menopang dagu memikirkan apa yang akan terjadi.
Cerita-cerita arti mimpi membisik ke telinga
Semua orang berseru, kau yang salah, kenapa membangunkan mereka
Bingung dan takut; aku tidak membangunkan mereka.


Fransiskus D. Darma











05 November 2018

Contoh Puisi 2018 Karya Dhery Roman

 





Melodi
Ku yakin takkan ada lagi keraguan
Mengisi dan mengarungi kehidupan yang lebih manis
Aku yakin semuanya takan sama
Dulunya pudar, sekarang seakan hidup

Tidak ada insan merasa beban
dengan perubahan dan keunikannya
Kini tiada lagi alasan menghilang
Sang penghibur datang menyapa

Jawablah
Sangatlah tidak bermakna jika kau hanya berbisik
tanpa berkata-kata  lugas
Kau seperti bisu
Jawablah apa yang sudah kukatakan


Cahaya
Bersinarlah
Pancarkan rasa keagungan
Gemerlap seperti kilauan
Tidak akan berhenti untuk menunggu setiap sapaan
Demi hati yang kian penasaran

 Sekilas kisah mencari harapan
Tersadar, seakan terus bertahan
Meski hati selalu melawan
Menanti seberkas cahaya yang tak juga datang

Kelam
Tampak gersang hingga tak terasa
Gemuruh kejam kian mencekam
Sadarlah, semuanya menjadi gila
Waktupun tidak lagi memihak
Hilangkan
Hilangkan itu dari kalbu yang beradu
Semoga, masa kelam akan menjadi baru


Menunggu
Jika memang harus menunggu
Maka akan kutunggu

Kumpulan puisi Dhery Roman
 Penulis berasal dari La’o Lanar, Kelurahan Wali, Kecamatan Langke Rembong, Manggarai, NTT. Saat ini penulis masih belajar di SMA Negeri 2 Langke Rembong, Manggarai.







05 Oktober 2018

CONTOH RPP, MEMPERBAIKI PENGGUNAAN TANDA BACA, KATA, KALIMAT, DAN EJAAN






1.      Identitas Sekolah
a.       Sekolah                  
b.      Mata pelajaran       : Bahasa Indonesia
c.       Kelas/Semester     : VII/II
d.      Materi Pokok        : Memperbaiki penggunaan tanda baca, kata, kalimat, dan ejaan
e.       Alokasi Waktu      : 2 x 40 menit
2.      Kompetensi Dasar
Menelaah struktur dan kebahasaan fabel/legenda daerah setempat yang dibaca dan didengar.
3.      Indikator Pencapaain Kompetensi
a.       Menemukan pengertian  dan contoh fabel daerah setempat
b.      Mengidentifikasi struktur dan kebahaasaan dari fabel daerah setempat
c.       Menentukan dan memperbaiki kesalahan penggunaan kata, kalimat, ejaan dan tanda baca dalam cerita fabel.
4.      Tujuan Pembelajaran
Di akhir pembelajaran siswa diharapkan mampu:
a.       Menemukan pengertian  dan contoh fable daerah setempat
b.      Mengidentifikasi struktur dan kebahaasaan dari fabe daerah setempat
c.       Menentukan dan memperbaiki kesalahan penggunaan kata, kalimat, ejaan dan tanda baca dalam cerita fabel.
5.      Materi Pembelajaran
a.       Pengertian Fabel
b.      Struktur fabel
c.       Karakteristik fabel
d.      Contoh penggunanaan kata/frasa (benda, sifat, benda, tempat), kata sambung yang berkaitan dengan waktu (seketika, seraya, sambil, kemudian, setelah itu, akhirnya.
e.       Prinsip dan contoh ejaan/tanda baca yang benar maupun yang salah.
6.      Pendekatan/Metode Pembelajaran
a.       Diskusi
b.      Tanya jawab
c.       Saintifik
d.      Kerja kelompok
7.      Media Pembelajaran
a.       Proyektor
b.      Contoh teks cerita fabel
8.      Sumber Belajar
Buku Bahasa Indonesia Kelas VII Revisi 2016
9.      Langkah-langkah pembelajaran
a.       Kegiatan Awal
·         Guru menyapa siswanya
·         Guru mengecek kehadiran siswanya
·         Guru menyuruh salah seorang siswanya untuk memimpin doa
·         Guru mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengaitkan pengetahuan sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari
·         Guru menjelaskan tujuan pembelajaran atau kompetensi dasar yang akan dicapai
·         Guru menyampaikan cakupan materi dan penjelasan uraian kegiatan sesuai silabus.
·         Membagi siswanya dalam beberapa kelompok kecil yang terdiri dari 3-5 orang
b.      Kegiatan Inti
·         Mengamati
ü  Guru membagikan teks cerita fabel lokal untuk dibaca siswa
ü  Guru membaca teks cerita fabel atau bisa juga salah seorang siswa yang mampu membaca dengan baik. Siswa lainnya mendengar apa yang dibacakan. 
ü  Guru membimbing kelompok siswa untuk menemukan informasi dari cerita fabel yang dibaca dan didengar dari  gurunya
·         Menanya
ü  Setelah  membaca dan mendengar cerita fabel, peserta didik diarahkan untuk melihat struktur dan kebahasaan dari cerita yang sudah dicermati
ü  Guru memfasilitasi peserta didik untuk bertanya mengenai hal-hal yang tidak dipahami.
·         Mengumpulkan informasi
ü  Peserta didik diarahkan berdiskusi dalam kelompoknya masing-masing untuk menemukan masalah struktur dan kebahasaan dari fabel yang dibaca dan didengar
·         Menalar
ü  Guru membantu siswanya untuk menemukan struktur dan kebahasaan yang terdapat dalam fabel daerah sekitar.
ü  Guru membimbing siswanya untuk mendiskusikan hal-hal yang diperbaiki dari unsur kebahasaan cerita fabel yang ada.
ü  Guru membimbing siswa untuk memperbaiki unsur kebahasaan yang salah dari cerita fabel yang ada.
·         Mengkomunikasikan
ü  Masing-masing kelompok mempresentasikan hasil diskusi struktur dan kebahasaan fabel yang dibaca dan didengar.
c.       Kegiatan penutup
·         Guru bersama peserta didik menyimpulkan materi pembelajaran di hari itu.
·         Guru bersama peserta didik melakukan evaluasi.
·         Guru memberi motivasi kepada peserta didik.
·         Guru bersama peserta didik mengakhiri kegiatan pembelajaran dengan doa.

10.  Penilaian proses dan hasil pembelajaran
a.       Lembar pengamatan sikap
No.
Nama
Aspek Pengamatan Sikap
Skor
Total Skor
Keseriusan
Teliti
Bekerja sama





















Keterangan:
1: sangat kurang
2: kurang
3: cukup baik
4: baik
5: sangat baik
b.      Lembar pengamatan psikomotorik
No.
Nama
Aspek Pengamatan Psikomotorik
Skor
Total Skor
Berbicara
Membaca
Menyimak






















Keterangan:
1: sangat kurang
2: kurang
3: cukup baik
4: baik
5: sangat baik
c.       Lembar pengamatan kognitif
Instrumen:
·         Apa saja struktur cerita fabel?
·         Apa yang menjadi ciri khas dari cerita fabel?
·         Temukan unsur kebahasaan yang salah dari cerita fabel!
No.
Nama
Aspek Pengamatan Kognitif
Skor
Total skor
Pemahaman struktur
Penguasaan unsur kebahasaan
Berpikir logis






















11.  Sumber mengajar
Buku Bahasa Indonesia Kelas VII Revisi 2016



BANG LAWO "BERBURU TIKUS"

    BANG LAWO  Masa kecil menjadi masa yang indah, tidak ada beban berat yang terlintas dalam pikiran hanya ada rasa senang saat kita tert...