18 Maret 2019

Puisi FDD











Kutitipkan Rindu pada Hujan

Telah kusampaikan rindu pada helaan nafas
Kemudian angin bertiup membawa menggumpal di atas awan
Hingga waktu tiba nafas itu turun bersama hujan
Membasahi tubuhmu
Engkau tidak tahu hujan sore itu mengalir rindu
                      Februari 2019


Sampai Tanda Titik

Suatu kali di malam lengan
ada lelaki sedang membaca
cerita cinta masa remaja yang sempat ia tuliskan
pada kertas bergaris kecil
Baris perbaris dibaca perlahan sampai pada tanda titik;
kemudian melanjutkan pada kalimat berikut  berisi kisah asmara pilu
Sempat ada tanda koma
menandakan kisah cinta sempat jeda bersama si gadis
Kini hanya tinggal seruan kalimat doa
berharap  jeda akan menghilang dan melanjutkan kalimat berikut.
                                                                  02 Maret 2018


Kupotong Senja
Suatu senja duduk di tepian kali tak bermuara
Melihat cahaya merah memanggil kerinduan pilu
Tampak cahaya  memudar seketika jam terus berlalu
Dalam hati merenung, kenapa tak kupotong saja senja itu?
Bukan itu tercipta untuk semua orang.

Malam itu cahaya bulan dan bintang bersorak
Menghias langit berteman rindu
Akankah itu ada untukku
Mungkin, bulan mengingat namaku?
Di antara  nama di dunia

Sejenak berpikir, haruskah kusandingkan bulan dan bintang
untuk melukiskan rindu di antara rindu berjuta jiwa.
Ini aneh, sangat aneh
bintang, bulan jauh di sana
Bahkan bermil-mil jarak tempuh

Terdiam sunyi menyadari
Tidak mau menyadingkan rinduku pada jarak bermil di atas sana
Cukup kubayangkan saja sebagai pelita di malam gelap
yang akan selalu kunyalakan setiap malam, bahkan sepanjang hari
Takan kubiarkan redup, kupagari tembok baja
Lalu, dialiri minyak bumi dari pusatnya. 
                                         Februari 2019


Jika Telapak Kakimu
Jika sore berganti maka terjadilah malam
Saat itu warna bekas telapak kaki
pada keramik putih kusam kian menuai
Bekas kaki berukuran senti menjadi mili
meskipun sudah ada pembatas angin menghamburkan telapak kaki
Pada keramik berikut hanya tersisa bekas ibu jari
 besar dan pendek
Mungkin itu jejak jari kaki telunjuk yang ukuran sama
Entalah, pokoknya itu bekas jari kaki dengan telapak
yang menjadi surga buah hatimu
atau mungkin juga itu surga anak-anakku
jika takdirku bersamamu
                                                     04 Maret 2019

Akhir Hidup
Teriakan hari itu memecah kebisuan
hingga melenting gendang telinga rapuh
Terdengar isak tangis terbawa angin mengitari
Tersiar kabar cerita hidup lelaki tiga anak kini telah usai
Surat kabar tak lelah menceritakan kisah tergantung
pada seutas tali nilon di kamar mandi
Terlihat pesan-pesan cerita hidup
tergores pada dinding kamar mandi hijau.
Ma, maafkan papa,
penyakit yang kuderita sungguh menyiksa
 Aku sudah tidak tahan lagi
Biarkan hidupku usai menanggung derita ini.
                                     05 Maret 2019

Takdirku Berkata Demikian
Gadis remaja pejuang keluarga
Mengitari garis-garis hidup pada jurang kemiskinan
Melintasi jalan terjal dan panjang
Berteriak pada subuh dan petang
menjajal keberuntungan sebaskom ikan
Berteriak-berteriak sepanjang jalan
Tak lupa memasang kuping pada pintu-pintu tetangga
Barangkali ada suara sendu pembeli sepanjang jalan

Kini Dia tak lagi menikmati masa kecil
bermain bersama kawan-kawan
Malahan ejekan menjadi teman perjuangan

Hanya senyum simpul ada pada bibir mungil
Menatap dan meratap menerima kenyataan.
                                      07 Maret 2019
Berlarilah
Berlarilah pada jarak tak terisi
Mencari ruang kosong yang belum sempat dimaknai
Mungkin akan menemukan narasi singkat hidup ini
Bila itu narasi usang tak bermakna, lepaskan!
Bila itu narasi baru dan bermakna, nikmati saja!
Bukankah demikian
                             07 Maret 2019

Mencari Rupiah
Kepulan asap bakar sampah mengikuti tiupan angin
Uapan air laut berlaju mendaki awan
Pagi-pagi buta membongkar sunyi
Debu-debu semen menyumbat hidung buruh
Secarik kain diikat menutup kepala
Hanya tersisa mata saja

Matahari pagi terus melaju mencari titik terang
Hingga terik membakar tubuh
Keringat darah menetes mengalir setitik demi setitik
Kaki menopang
Tangan mengangkat
Menggenggam rupiah sampai senja tiba

Gelombang Suara

Telah kudengar suara pilu
Mengetuk-ngetuk gendang telinga
Bertarung dengan gelombang suara lain
 tetapi arah suara itu tidak diketahui
Suara tangisan semakin keras
tetapi tidak ada yang menagis

Rupanya lelaki itu sudah meninggal berbenturan dengan palka kapal
`                                                     12 Maret 2019


 Bayang-Bayang Hidup

Bayang-bayang jarak tempuh semakin tak  terhitung
Melewati lautan, bukit, gunung di jalan yang panjang
Susah dan senang tak mampu lagi kutulis pada lembaran akhir buku ini
Kini hanya tersisa beberapa baris kosong yang tak mungkin memuat seluruh cerita ini
                                                                                                13 Maret 2019

Kali Ini, Lain Kali
Kali ini tidak ada yang menjaring rejeki di antara tumpukan semen
Kali ini tidak ada yang berteriak minta-minta rejeki
karena mungkin sudah punya rejeki sendiri
Kali ini tidak ada yang duduk di dekat gudang
mengamati mobil-mobil pengantar rupiah
Lain kali pasti ada lagi yang berada di tumpukan semen
Lain kali pasti ada yang mencari rejeki karena mungkin rejeki itu sudah habis
Lain kali ada yang duduk di dekat gudang mengamati mobil-mobil pengantar rupiah
                                                             14 Maret 2019



Puisi-puisi terbaru Fransiskus D. Darma (FDD)















BANG LAWO "BERBURU TIKUS"

    BANG LAWO  Masa kecil menjadi masa yang indah, tidak ada beban berat yang terlintas dalam pikiran hanya ada rasa senang saat kita tert...