Kutitipkan Rindu pada Hujan
Telah kusampaikan rindu pada helaan nafas
Kemudian angin bertiup membawa menggumpal di atas awan
Hingga waktu tiba nafas itu turun bersama hujan
Membasahi tubuhmu
Engkau tidak tahu hujan sore itu mengalir rindu
Februari 2019
Sampai Tanda Titik
Suatu kali di malam lengan
ada lelaki sedang membaca
cerita cinta masa remaja yang sempat ia tuliskan
pada kertas bergaris kecil
Baris perbaris dibaca perlahan sampai pada tanda titik;
kemudian melanjutkan pada kalimat berikut berisi kisah asmara pilu
Sempat ada tanda koma
menandakan kisah cinta sempat jeda bersama si gadis
Kini hanya tinggal seruan kalimat doa
berharap jeda akan menghilang dan melanjutkan kalimat berikut.
02 Maret 2018
Kupotong
Senja
Suatu senja duduk di
tepian kali tak bermuara
Melihat cahaya merah
memanggil kerinduan pilu
Tampak cahaya memudar seketika jam terus berlalu
Dalam hati merenung,
kenapa tak kupotong saja senja itu?
Bukan itu tercipta
untuk semua orang.
Malam itu cahaya bulan
dan bintang bersorak
Menghias langit
berteman rindu
Akankah itu ada
untukku
Mungkin, bulan mengingat
namaku?
Di antara nama di dunia
Sejenak berpikir,
haruskah kusandingkan bulan dan bintang
untuk melukiskan rindu
di antara rindu berjuta jiwa.
Ini aneh, sangat aneh
bintang, bulan jauh di
sana
Bahkan bermil-mil
jarak tempuh
Terdiam sunyi
menyadari
Tidak mau menyadingkan
rinduku pada jarak bermil di atas sana
Cukup kubayangkan saja
sebagai pelita di malam gelap
yang akan selalu
kunyalakan setiap malam, bahkan
sepanjang hari
Takan kubiarkan redup, kupagari tembok baja
Lalu, dialiri minyak bumi
dari pusatnya.
Februari 2019
Jika
Telapak Kakimu
Jika sore berganti
maka terjadilah malam
Saat itu warna bekas
telapak kaki
pada keramik putih
kusam kian menuai
Bekas kaki berukuran
senti menjadi mili
meskipun sudah ada
pembatas angin menghamburkan telapak kaki
Pada keramik berikut
hanya tersisa bekas ibu jari
besar dan pendek
Mungkin itu jejak jari
kaki telunjuk yang ukuran sama
Entalah, pokoknya itu
bekas jari kaki dengan telapak
yang menjadi surga
buah hatimu
atau mungkin juga itu
surga anak-anakku
jika takdirku
bersamamu
04
Maret 2019
Akhir Hidup
Teriakan hari itu memecah
kebisuan
hingga melenting gendang telinga rapuh
Terdengar isak tangis
terbawa angin mengitari
Tersiar kabar cerita
hidup lelaki tiga anak kini telah usai
Surat kabar tak lelah
menceritakan kisah tergantung
pada seutas tali nilon
di kamar mandi
Terlihat pesan-pesan
cerita hidup
tergores pada dinding
kamar mandi hijau.
Ma, maafkan papa,
penyakit yang kuderita
sungguh menyiksa
Aku sudah tidak tahan lagi
Biarkan hidupku usai
menanggung derita ini.
05
Maret 2019
Takdirku Berkata Demikian
Gadis remaja pejuang
keluarga
Mengitari garis-garis
hidup pada jurang kemiskinan
Melintasi jalan terjal
dan panjang
Berteriak pada subuh
dan petang
menjajal keberuntungan
sebaskom ikan
Berteriak-berteriak
sepanjang jalan
Tak lupa memasang
kuping pada pintu-pintu tetangga
Barangkali ada suara
sendu pembeli sepanjang jalan
Kini Dia tak lagi
menikmati masa kecil
bermain bersama
kawan-kawan
Malahan ejekan menjadi
teman perjuangan
Hanya senyum simpul
ada pada bibir mungil
Menatap dan meratap
menerima kenyataan.
07
Maret 2019
Berlarilah
Berlarilah pada jarak
tak terisi
Mencari ruang kosong
yang belum sempat dimaknai
Mungkin akan menemukan
narasi singkat hidup ini
Bila itu narasi usang
tak bermakna, lepaskan!
Bila itu narasi baru
dan bermakna, nikmati saja!
Bukankah demikian
07 Maret 2019
Mencari
Rupiah
Kepulan asap bakar
sampah mengikuti tiupan angin
Uapan air laut berlaju
mendaki awan
Pagi-pagi buta
membongkar sunyi
Debu-debu semen
menyumbat hidung buruh
Secarik kain diikat
menutup kepala
Hanya tersisa mata
saja
Matahari pagi terus
melaju mencari titik terang
Hingga terik membakar
tubuh
Keringat darah menetes
mengalir setitik demi setitik
Kaki menopang
Tangan mengangkat
Menggenggam rupiah
sampai senja tiba
Gelombang
Suara
Telah kudengar suara pilu
Mengetuk-ngetuk gendang telinga
Bertarung dengan gelombang suara
lain
tetapi arah suara itu tidak diketahui
Suara tangisan semakin keras
tetapi tidak ada yang menagis
Rupanya lelaki itu sudah
meninggal berbenturan dengan palka kapal
` 12
Maret 2019
Bayang-bayang jarak tempuh semakin
tak terhitung
Melewati lautan, bukit, gunung di jalan
yang panjang
Susah dan senang tak mampu lagi kutulis
pada lembaran akhir buku ini
Kini hanya tersisa beberapa baris kosong
yang tak mungkin memuat seluruh cerita ini
13
Maret 2019
Kali
Ini, Lain Kali
Kali ini tidak ada yang menjaring rejeki
di antara tumpukan semen
Kali ini tidak ada yang berteriak
minta-minta rejeki
karena mungkin sudah punya rejeki
sendiri
Kali ini tidak ada yang duduk di dekat
gudang
mengamati mobil-mobil pengantar rupiah
Lain kali pasti ada lagi yang berada di
tumpukan semen
Lain kali pasti ada yang mencari rejeki
karena mungkin rejeki itu sudah habis
Lain kali ada yang duduk di dekat gudang
mengamati mobil-mobil pengantar rupiah
14
Maret 2019
Puisi-puisi terbaru Fransiskus D. Darma (FDD)
