13 Februari 2017

NASKAH DRAMA SINGKAT

NASKAH DRAMA KOMEDI SINGKAT

PENULIS: FIAN  DARMA
Naskah drama ini bercerita tentang dua orang anak yang bersaudara. Mereka berdua sebagai penjual jagung yang tidak akur dan saling olok. Dalam menjajakan jagungnya Nadus dan Lakas berharap menemukan uang seratus ribu rupiah untuk membeli baju baru. Tetapi dalam ceritanya mereka tidak menemukan uang dan yang terjadi hanya perdebatan tentang uang yang belum ada kepastian.

SEANDAINYA
Suatu hari saat musim dureng dua orang anak berjualan latung ( jagung). Kebetulan pada hari itu hujan sudah agak redah dan mereka bisa menjua jagung mereka.
Lakas   : latung, latung, latunng. Toe weli latung ko ema. Ciek  koep haup ta Nadus. Lako bom kat bao mai’n
Nadus  : kalau saya tidak mau?  Supaya kau tahu, sap suara itu suara emas. Saya tidak bisa jualan latung seperti kau
Lakas   : mese ngoeng di nana e. Terus,  kenapa kau  ikut jualan latung dengan saya?
Nadus  : oe Lakas, saya kasihan dengan kau punya muka jelek, itu makanya saya mau bantu. Elo  aku ata so’oo pe ta de, itu makanya mereka beli kau punya jagung. Ganteng dari dulu aku e, kamer pikul ganteng ow.
Lakas               : bo kali e, haer kat toe ca ema ite y. Cala  anak di Ari Wibowo kali hau e?
Nadus : bukan begitu, dulu waktu mama mengandung dia sering nonton film Tersanjung, itu makanya saya lebih ganteng dari kau.
           
Mereka  ribut terus dan tidak lagi mengingat apa yang sedang mereka kerjkan.  Sementara mereka berdebat, tentang siapa yang paling ganteng, seorang pembeli dari dalam rumah memanggil mereka.
Kakek  : pika ko toe se latung demeu e Lakas? Saya lihat kalian mempersoalkan  siapa yang paling ganteng.   Supaya kalian tahu aku danong e rumbu le newai.
Lakas   : asa keta ta ema? Saya liat mukanya kakek tidak terlalu ganteng. Cala 11 gu 12 ranga dite ta ema
Kakek  : oe, aku danong e reba ge. Itu makanya dulu saya sering dikejar cinta ta de. Elo kat le meu timi daku ho musi, lengket terus, takut kelilangan taen e. rantang seligkuh e.
Nenek  : ( mendengar percakapan Lakas dan kakek, nenek menuju ke depan rumah)
            Apa, de gaya de hau nana, menyesal aku jadi gu hau danong. Ina le wendo tara eng gaku olo. ai cop taen e, manga kaba, uma sawah, agu tv. ali kat kut goda aku. Menyesal o Lukas.
            ( kembali ke belakang)
Lakas   : hahahahaah
Nadus ; toe jadi weli ko ema?
Kakek  : mau ta de. Weli suan kat e. cop kudut awa kole ata tu’a ende hi musi tong

Setelah itu Lakas dan Nadus kembali menjajakan jagungnya. Karena tak ada pembeli mereka berdua duduk dan menghayal. Nadus dan Lukas menghayal seandainya mereka menemukan uang seratus ribu rupiah.
Lakas    : Nadus, seandainya saya menemukan uang seratus ribu, saya akan membeli baju baru gambar hi Boy Anak Jalanan. Saya juga mau membeli pulsa paket lima puluh e, kudut ngance facebook. Maka do timi molas nitu nana ga.
Nadus   : gaya na. makit kat bae labar facebook.
Lakas    : bisa to itu makanya saya beli. Eng pe ta de, eme ita seng aku e, asi kat teing me hau e, masalah toe pas seng e.
Nadus   : eng ta de, kalau saya menemukan uang seratus saya juga tidak mau bagi dengan kau. ai toe manga bagi’n dehau bo.
Lakas    : ole bang g, saya kan adik, kakak harus mengalah dengan adiknya. Harus bagi
Nadus   : go,,,, toe gori g. ceing keta bog a
Lakas    : harus bagi
Nadus   : ogok
Lakas    : harus
Nadus   : ogok
Kedua adik dan kakak ini terus berdebat merpersoalkan uang yang belum ada kepastiannya.
Apakah mereka akan menemukan uang atau tidak?
 STOP MENGHAYAL SEBELUM TERJERUMUS DALAM DOSA PIKIRAN
( mengangkat papan)

Karena tak sanggup menyelesaikan masalah seandainya ini. Mereka berduapun mengadu dengan bapak dan ibunya. ( menuju ke rumah)
( Bapak dan ibu sedang duduk di depan rumah)
Bapak : kenapa kamu dua dua? Rebut terus kat me.
Ibu       : bom melet dise cua. Selalu mempersoalkan masalah kegantengan, mereka tidak paham sebenarnya cama dogki de ema d.
Mendekat kearah kedua orangtuanya
Lakas   : ngo’o y ema. Kami dari tadi mempersoalkan seandainya kami menemukan uang seratus ribu rupiah. Bang gee ma, eme ita seng di Nadus porot asi bagi agu aku ye seng. Sedangkan kalau saya yang menemukan uang harus bagi dengan Nadus. Inikan tidak adil, hanya karena alasan kakak harus mengalah dengan adik.
Bapak  : meu cua e, ngaok kat masalah ho’o. toe kat di ata seng ne. cama keta bapa se.
Ibu       : (dari arah belakang ke depan rumah) meu ho’o nagok terus kat me. Kudut di’a baen le meu taung seng weli dea ga.
Kasih mama saja uangnya.

Lakas, Nadus dan bapak         : (sambil tersenyum, secara bersamaan)
                                                 ATA UMPAMA E ENDE

SEKIAN
FIAN DARMA






BANG LAWO "BERBURU TIKUS"

    BANG LAWO  Masa kecil menjadi masa yang indah, tidak ada beban berat yang terlintas dalam pikiran hanya ada rasa senang saat kita tert...