BINGKISAN
ISTIMEWA
Hari
itu rumahku tampak sunyi dan sepi aku tak tahu bapakku pergi kemana. Hatiku
sangat cemas palagi bapak sering sakit mengingat ia membanting tulang untuk
menghidupi aku. Meskipun ia sering sakit,
tak pernah ia peduli dengan apa yang dirasakan saat ini, lebih baik ia sakit dari pada anaknya tidak
makan, itulah kata yang selalu ia katakan ketika aku melarangnya untuk bekerja.
Haripun berganti tapi aku tak bisa
menghilangkan rasa rindu terhadap sosok
seorang ibu yang kini telah kembali ke pangkuan Mahakuasasaa. Rasa rindu kian
menggelbu saat dinginnya malam menikam tubuh yang kian mengglegar. Terkadang hati berkata “ rasanya Tuhan tidak
adil, mengapa semua ini harus terjadi padaku yang lemah ini. Mengapa waktu
begitu cepat berlalu mengambil orang yang kusayangi. Ingin kembali berkumpul bersama, “aaahhhhh”
rasanya itu hanya terjadi dalam mimpi di siang hari. Waktu terus berlalu
aku hanyut dalam mimpi yang tak pasti……
Jjjjrrrrrrrrrrrrrrrrrrrengggggg……jrengggggggggg
Bunyi
alaram berkali-kali membangunkan anak manusia yang hanyut dalam mimpi……..
Mentari
tersenyum, menyambut deretan cerita baru.
Akupun
bergeges menuju ke sekolah bersama teman- teman dari sekitaran rumahku….eits
sebagai anak yang baik jangan lupa pamit
sama bapak setelah itu baru deh jalan.
Selamat
pagi bu…………….pelajaran di mulai ,kami bersemangat mendengarkan penjelasan yaaaaa maklumlah
pelajaran yang kami sukai yaitu sejarah
apalagi sejarang bangsa Indonesia.
Tengggggg……..teng…………teng………….
Tidak
terasa pelajaran selesai saya dan teman-teman bergeges kembali ke rumah
masing-masing.
Waktu
terus berlalu mengiringi aktivitas aku hari ini……kini matahari mulai pamh it
parlahan,namun bapakku belum pulang juga. Keadaan ini membuat aku cemas apalagi
ia sedang sakit. Pikiran aneh perlahan menjalar dihantui rasa cemas tarhadap
bapak yang belum pulang” jangan – jangan terjadi sesuatu terhadap bapak. Tapi
itu tidak mungkin terjadi, bapakku orang hebat.
Tokkk…….tok,,,,tok,,,,,,,,
Berlari
membuka pintu,mungkin bapa sudah pulang,,,, ya ternyata temannku yang ingin
mengajak aku main. Dengan wajah lesu menolak ajakan temanku.
Menunggu
dan terus menunggu itulah yang aku lakukan meskipun perasaan tidak tenang tapi
mencoba untuk bersabar. Beberapa saat kemudian aku masuk dalam rumah dan
ternyata bapak sedang minum kopi,,,,,,bingung,,,,,tapi hati senang.
“Bagimana
mungkin bapak ada dalam rumah sementara
dari tadi saya mencari bapak…..????
Oh,,,,
iya maaf, bapak tadi ketiduran dalam kamar soalnya baak cape pulang dari pasar
tadi siang…….
“
ya bapak akukan kwatir,,,,,,,, ah bapak bikin orang panik.
“Bapak
membeli sesuatu untukmu,,,,,,memberikan bungkusan yang lumayan besar…..
Perlahan
membuka ……..
Hati
berdebar membuka bingkisan itu…… jreng,,,,,,,jreng,, ternyata sepatu bola yang
aku impikan selama ini.
Rasanya bahagia,,, meskipun kini ibu telah
tiada namun sosok bapak manggantikan ibu sekarang ini.
(
Fransiskus D. Darma II E)