30 Desember 2020

BANG LAWO "BERBURU TIKUS"

 


 BANG LAWO 

Masa kecil menjadi masa yang indah, tidak ada beban berat yang terlintas dalam pikiran hanya ada rasa senang saat kita tertawa lepas sambil membuka tangan bermain bersama teman. Tidak ada handphone android dan tidak ada mainan anak-anak secanggih zaman sekarang. Permainan tradisional selalu punya cerita ketika berkumpul bersama teman. Hanya bermain, bermain dan terus bermain tanpa ada beban. Bahagia saat kecil sangat sederhana dan murah. Sesederhana saat tertawa menikmati waktu bahkan lupa pulang rumah, lalu dicari Orangtua.

Bermain bersama teman sama halnya seperti rutinitas setiap hari seperti orang dewasa yang selalu bekerja. Masih teringat masa kecil hingga remaja dan kebiasaan bang lawo (berburu tikus), bukan tikus kantor tapi tikus sawah. Biasanya bang lawo sering dilakukan setelah musim panen padi. Ini peluang emas mendapatkan banyak tikus. Pematang sawah satu persatu kami razia macam polisi yang sedang patroli. Hahaha, maaf ehm, sa curhat e.  Jujur saja, beberapa teman cita-citanya jadi polisi, maka pemilihan kata yang kita gunakan seperti polisi lagi patroli, seperti TKP, razia, dan operasi gabungan.

 Lubang-lubang di pematang sawah tidak luput dari pantaun tim operasi lapangan, ehm,,,,,, lagi-lagi istilah yang tidak biasa. Teman-teman yang berperan sebagai tim lapangan akan menentukan lubang tikus yang akan kita cari karena mereka sudah mahir mencari tempat persembunyian tikus. Rombongan pemburu tikus dibagi dalam dua kelompok kecil. Ada yang bertugas untuk mencari daun pisang kering atau bisa juga jerami padi kering, ada yang bertugas untuk berburu. Tergantung dari kelompok, ada juga yang semua anggota tim mencari rumput bersama, setelah itu pergi berburu.

Setelah semua peralatan siap, pertempuran dimulai. Rasanya seperti sedang berperang saja melihat raut wajah teman-teman yang berjaga depan pos tikus (lubang tikus) dengan sebatang kayu pendek. Oh iya, sekadar informasi, pos dalam pengertian kami sebagai tempat penjagaan terakhir tikus yang akan keluar dari persembunyian. Biasanya, ada sejenis ranting atau rumput liar yang kita simpan pada lubang tikus dengan tujuan sebagai tanda setelah yang lain menyalakan api. Kalau ranting di pos lawo (lubang tikus) bergerak maka ada tanda-tanda tikus mau keluar. Terkadang yang keluar bukan tikus tetapi ular atau hewan lain. Ya, hantam saja gaes atau pakai jurus seribu kaki, syukur kalau bisa salto. Bercanda sa, yang salto itu jangan ditiru.

Bang lawo malam hari kami menyebutnya ngo tea (berburu tikus dengan bantuan lampu gas atau senter). Saya gambarkan ini seperti proses berperang, hanya saja musuhnya tikus.

Dingin malam, semak belukar berduri, dan lumpur di sawah tidak kami hiraukan, yang penting dapat tikus. Berlari di tengah sawah tak terhidarkan. Kadang-kadang ada yang terjatuh saat berlari, itu sial gaes.

Uniknya, meskipun hanya bermodal lampu minyak tanah yang buram, teman-teman yang bertugas sebagai pasukan khusus eksekusi dengan mudah memukul mudur tikus dan menyerah.

Luar biasa bukan.

Setelah larut malam biasanya kami istrahat sejenak di pondok dekat sawah sebelum kembali ke rumah. Dapat banyak tikus, pasti rame. Tak jarang ada yang bernyanyi sepanjang perjalanan pulang,  kalau dapat sedikit pasti pulang masing-masing.

“De Mori, sengsara e, poli pa’u toe mnga ba lawo du kole”. Jauk one nai.

 


31 Maret 2020

Puisi " Mencekam, Maria"




MENCEKAM, MARIA

Maria, cuaca malam ini begitu mencekam
Angin, hujan, disertai kilat senantiasa menegur
Air menetes di celah-celah tiang baja
Dinding kamar basah kuyup
Tetap saja Aku takut meskipun tiang rumah ini dari baja
Gelombang laut perlahan meninggi walaupun tidak terlihat jelas

Suara riuh itu Maria,
menghantam dermaga hingga menembus batas ketakutan
Lampu-lampu suram, penyakit gelap kian kumat
Tak ada kabar yang dapat kubaca

Terjadilah, kini sudah gelap.
                          Reo, 07 Januari 2019




          


Aku Menatapmu

Rasakan sentuhan  jiwa ini
Pada setiap malam Aku bermimpi
tentang celotehmu tiap kali kita duduk.
Aku memelukmu dan kamu pun membalas meskipun masih kaku
Sungguh dunia ini seperti milik kita.
Getaran jantung memompa aliran darah seperti keluar dari tubuh

Kita berteduh di bawah pohon rindang
Menikmati masa sepi yang menjadi ceria ketika bersama
Kemudian sepi lagi, kehabisan kata indahn hari itu.

Kini Aku mulai serius menatap mata, alis, hidung, senyum bibirmu,
sesekali menatap lesung pipi.
Aku menatapmu terus- menerus
Kau membalas tatapanku.
Kemudian berpaling
Tak sanggup rasanya menatapmu terlalu lama.
Kubuka percakapan serius
Ujung-ujungnya hanya candaan menanyakan nama ibu, nama bapak,
 bahkan menanyakan, kamu berapa bersaudara?

Membuka percakapan lebih serius
Tapi rasanya susah, kau menatap, aku pun menatap,
jadinya malu sendiri dan kembali berpaling.
Kupegang saja tanganmu, kayaknya hari itu dentak jantung memompa lebih kuat dari yang pertama.
Tanganmu gemetar saat kuraba 

Keringat dingin berkumpul di pelipis kiri
hingga berlari perlahan dan jatuh tepat di telapak tangan
yang sedang menggengam erat tanganmu.

Mulai lagi candaan lebih serius
menanyakan perasaanmu padaku
hingga bayangan masa depan bila harus bersama.
Saat kuingin mengatakan semua tentang isi hati dan ingin mencium keningmu, hujan berteriak merobek seluruh tubuh
kemudian berbisik, belum saatnya.
Semua berlalu begitu saja hingga kuantar depan pintu rumahmu.


30 Juni 2019

          MUNGKIN LAIN KALI

         Ini kali doa terus disulam pada tiap detak jantung 
         hingga tak ada kata lain.
         Bait-bait doa yang sama, terus mengalir hingga penghujung mata
         Ini kali tidak ada candaan yang seperti waktu lalu
         Ini kali lorong jalanan desa sangat kaku  bagaikan kota mati
         Ini kali, mungkin juga lain kali akan baik-baik saja.
                                  Reo, 01 April 2020




BANG LAWO "BERBURU TIKUS"

    BANG LAWO  Masa kecil menjadi masa yang indah, tidak ada beban berat yang terlintas dalam pikiran hanya ada rasa senang saat kita tert...