PENGORGANISASIAN
DAN KOORDINASI MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH
A. PENGORGANISASIAN
SEKOLAH
Secara
etimologis organizing merupakan terjemahan dari organize. Kata organize barasal
dari kata organ yang berarti bagian, badan dan alat ( Echols,1984). Secara
terminilogy, organizing atau pengorganisasian berarti pembentukan
bagian-bagian, unit-unit kerja dalam suatu kelompok atau sering atau juga dapat
diartikan sebagai sistem kerja sama antara satu orang atau lebih dalam mencapai
tujuan tertentu.
Dalam
sekolah pengorganisasian memiliki lima makna:
a. Pembentukan
bagian-bagian, unit-unit dan badan kerja institusi sekolah
b. Sistem
kerja sama dua orang atau lebih dalam rangka mencapai tujuan yang diinginkan
c. Pembagian
kerja dari satu orang kepada orang lain yang dinilai mampu untuk melakukan
pekerjaan tersebut
d. Pembagian
kerja yang semestinya dikerjakan oleh orang yang berperan melakukannnya , namun
karena keterbatasan waktu, tenaga dan pikiran perlu didelegasikan pada orang
lain dalam suatu lembaga pendidikan
e. Pembagian
kerja dengan maksud pengkaderan sebelum bersangkutan memangku tugas atau
tanggung jawab.
A. Tujuan
dan Fungsi Pengorganisasian Sekolah
1. Tujuan
Pengorganisasian sekolah
a. Menata/
mengatur
Tugas, wewenang dan
tangggung jawab yang dibuat bersama seperti pekerjaan yang diberikan kepala
sekolah pada seorang guru atau staf maka ini dinamankan tugas. Sedangkan
wewenang adalah apa saja yang boleh dan tidak boleh dalam menjalankan tugas.
Berkaitan dengan kedua hal yaitu tugas dan wewenang maka munculah rasa tangggung
jawab terhadap tugas-tugasnya.
b. Mempermudah
kegiatan kerja sama antara orang-orang di sekolah
c. Mengatur
hubungan baik antara satu tim dengan tim yang lain dalam suatu lembaga
pendidikan untuk membangun koordinasi yang baik.
2. Fungsi
Pengorganisasian sekolah
a. Sebagai
sarana untuk membagi pekerjaan di antara komponen-komponen dan unit-unik kerja
yang ada di sekolah.
b. Sebagai
sarana untuk memperlancar jalannya kerja sama antara komponen-komponen dan
unit-unit kerja yang lain yang ada di sekolah
c. Sebagai
sarana untuk mengatur hubungan antara individu, unit-unit kerja serta
mempermudah komunikasi dalam lingkungan kerja.
Adapun prinsip-prinsip
pengorganisasian sekolah, yaitu;
a. Adanya
tujuan pendidikan di sekolah yang jelas dan dapat diketahui oleh semua komponen
di sekolah
b. Semua
yang berkepentingan bekerja dengan mengutamakan kepentingan sekolah untuk
mencapai visi dan misi sekolah
c. Prinsip
pembagian pekerjaan harus harus jelas
d. Pendelegasian.
Wewenang yang dimiliki oleh kepala sekolah hendaknya tidak menjadi jabatan yang
mementingkan diri sendiri. Dia harus mampu mengatur sekolahnya.
e. Kesatuan
komando. Daalam satu sekolah semestinya hanya ada satu orang yang memberi
komando yaitu kepala sekolah. Ini dilakukan agar segala sesuatunya terencana
dan berjalan sesuai dengan yang direncanakan.
f. Kemampuan
pengawasan. Seorang pemimpin harus mampu mengontrol anggotanya dalam
menjalankan tugas-tugasnya.
3. Model
struktur pengorganisasian sekolah
a. Pengorganisasian
model lini
Model ini sering juga
disebut dengan model jalur. Model ini banyak digunakan di dunia militer dan
perusahaan.
Kelebihan model lini;
1. Kekuasaan
dan tanggung jawab pimpinan secara struktural sangat jelas dan tegas
2. Pemegang
kekuasaan mulai dari puncak sampai pada unit-unit dikatahui secara transparan
oleh stakeholders
3. Proses
pengambailan keputusan secara cepat
4. Kedisiplinan
anggota mudah diawasi
5. Hubungan
anggota lebih akrab karena mudah dikenal
Kekurangan
model ini :
a. Hanya
berdasarkan pertimbangan pribadi atasan
b. Kecendrungan
pimpinan otoriter
c. Menimbulkan
kekurangan kader karena keputusan berada di tangan pimpinan.
b. Model
lini staf
Model ini menekankan
keterlibatan angggota dalam memecahkan masalah dan bisa berkonsultasi dengan
staf ahli jika ada hal yang kurang dipahami. Model ini
Kelebihan model ini:
a. Adanya
susuanan tugas dan tanggung jawab antara
anggota organisasi dan staf
b. Kelompok
pekerja maupun kelompok staf dapat bekerja sesuai dengan keahlihannya.
c. Organisasi
lebih mudah dilaksanakan pada setiap bagiannya
Kekukurangannya
:
·
Pimpinan seringkali mengabaikan masukan
dari nasihat atau pertimbangan-pertimbangan dari karyawan.
·
Pemimpin seringkali menggunakan
kewenangannya melebihi kewenangan yang dimiliki. Dalam hal ini biasanya
pimpinan mengambil alih kewenangan dari stafnya.
·
Selalu ada perbedaan pendapat antara
lembaga dan juga pihak lain yang terlibat dalam organisasi yang membingungkan
anggota.
c.Model
fungsional
Model
pengorganisasian ini, kekuasaan dari pimpinan didelegasikan pada pimpinan di
bawahannya selama masalahnya sesuai dengan keahlihannya. Model ini juga
biasanya melimpahkan wewenang dari atasan kepada bawahannya.
Kelebihan
model ini:
a. Kegiatan
yang ril dengan memperhatikan kemampuan intelektual dan tenaga yang prima
b. Pekerjaan
selalu dikerjakan secara bersama-sama dan meningkatkatkan keakraban anggota
c. Saling
koordinasi
Kekurangan
model ini:
·
Para anggota mengalami kesulitan dalam
berkonsultasi karena sudah dibagi berdasarkan keahlihannya.
·
Sulit melakukan koordinasi secara
menyeluruh karena para anggota mementingkan tugas dan fungsinya masing-masing.
·
Inisiatif para anggota semakin
berkurang.
d. Model
gabungan
Model
ini merupakan gabungan dari empat model sebelumnya.
B. KOORDINASI
Dalam
kamus besar Indonesia, koordinasi diartikan sebagai perihal mengatur suatu
organisasi atau kegiatan sehingga peraturan dan tindakan yg akan dilaksanakan
tidak saling bertentangan atau simpang siur.
Koordinasi
berkaitan dengan penempatan berbagai kegiatan yang berbeda-beda pada keharusan
tertentu, sesuai dengan aturan yang berlaku untuk mencapai tujuan dengan
sebaik-baiknya melalui proses yang tidak membosankan. Koordinasi juga dapat
diartikan sebagai suatu usaha kerja sama antara badan, instansi, unit dalam
pelaksanaan tugas-tugas tertentu, sehingga terdapat saling mengisi, saling
membantu dan saling melengkapi.
Penggunaan
istilah koordinasi sering tertukar dengan istilah kerja sama (cooperation). Padahal,
koordinasi lebih daripada sekedar kerja sama karena dalam koordinasi juga
terkandung singkronisaasi. Sementara kerja sama merupakan suatu kegiatan
kolektif dua orang atau lebih untuk mencapai tujuan bersama. Dengan demikian
kerjasama dapat terjadi tanpa koordinasi, sedangkan dalam koordinasi pasti ada
upaya untuk menciptakan kerjasama.
1. Karakteristik Koordinasi
Handayaningrat (1992) mengemukakan
karakteristik koordinasi sebagai berikut:
a. Tanggung
Jawab koordinasi terletak pada pimpinan. Oleh karena itu, koordinasi menjadi
wewenang dan tanggung jawab pimpinan, sehingga dapat dikatakan bahwa pimpinan
bisa berhasil jika melakukan koordinasi.
b. Koordinasi
adalah kerja sama. Hal ini disebabkan kerja sama merupakan syarat mutlak
terselenggaranya koordinasi.
c. Koordinasi
merupakan proses yang terus menerus (continue process). Dan berkesinambungan
dalam rangka mewujudkan tujuan lembaga
d. Pengaturan usaha kelompok secara teratur. Hal
ini disebabkan koordinasi adalah konsep yang diterapkan di dalam kelompok, bukan
usaha individu melainkan sejumlah individu yang berkerjasama di dalam kelompok
untuk mencapai tujuan bersama.
e. Kesatuan
tindakan merupakan inti koordinasi.
Pimpinan merupakan pengatur usaha-usaha dan tindakan-tindakan setiap
individu sehingga diperoleh keserasian dalam mencapai hasil bersama.
f. Tujuan
Koordinasi adalah tujuan bersama (common purpose) Kesatuan usaha yang meminta
kesadaran semua pihak untuk berpartisipasi secara aktif melaksanakan tujuan
bersama sebagai kelompok tempat mereka bekerja.
2. Prinsip-Prinsip Koordinasi
Prinsip-prinsip koordinasi adalah
sebagai berikut :
a. Koordinasi
harus dimulai dari tahap perencanaan awal.
b. Hal
pertama yang harus diperhatikan dalam koordinasi adalah menciptakan iklim yang
kondusif bagi kepentingan bersama.
c. Koordinasi
merupakan proses terus menerus dan berkesinambungan.
d. Koordinasi
merupakan pertemuan-pertemuan bersama untuk mencapai tujuan.
e. Perbedaan
pendapat harus diakui sebagai pengayaan dan harus dikemukakan secara terbuka
dan diselidiki dalam kaitannya dengan situasi secara keseluruhan.
1. Manfaat
Koordinasi
Koordinasi
sangat diperlukan dalam manajemen berbasis sekolah terutama untuk mengatur
pandangan berbagai pihak terkait dengan kepentingan bersama.
Koordinasi dilakukan
untuk menghubungkan satu bagian dengan bagian lainnya dan memudahkan dalam
mengatur setiap jenis pekerjaan dan pekerjaanya sangat terarah jika bisa
dikoordinasi dengan baik. Jika tidak dikoordinasi dengan baik maka pekerjaannya
tidak akan beres.
Melalui
koordinasi setiap bagian yang menjalankan fungsi dengan spesialisasi tertentu
dapat meningkatkan efesiensi dan efektifitas pencapaian tujuan lembaga. Dengan
demikian, manfaat koordinasi dalam manajemen dapat diidentifikasikan sebagai
berikut :
a. Menghilangkan dan menghindarkan perasaan terpisah
satu sama lain antara atasan dan bawahan.
b. Menghindarkan
perasaan atau pendapat bahwa dirinya atau jabatannya merupakan yang paling
penting.
c. Mengurangi
dan menghindakan kemungkinan timbulnya pertentangan antar pejabat dan
pelaksana.
d. Menghindarkan timbulnya rebutan fasilitas.
e. Menghindarkan
terjadinya peristiwa menunggu yang memakan Waktu lama.
f. Menghindarkan
kemungkinan terjadinya kesamaan pekerjaan sesuatu kegiatan.
g. Menghindarkan
kemungkinan terjadinya kekosongan pekerjaan sesuatu program atau kekosongan
pengerjaan tugas oleh para manajer.
h. Menumbuhkan
kesadaran tugas oleh para manajer untuk saling memberikan bantuan satu sama
lain terutama bagi mereka yang berada dalam wilayah yang sama.
i.
Menumbuhkan kesadaran para manajer untuk
saling memberitahu masalah yang dihadapi bersama dan bekerjasama dalam
memecahkannya.
j.
Memberikan jaminan tentang kesatuan
langkah di antara para atasan atau bawahan.
k. Menjamin
adanya kesatuan langkah dan tindakan diantara manajer.
l.
Menjamin kesatuan sikap diantara
manajer.
m. Menjamin
kesatuan kebijaksanaan di antara manajer dalam wilayah tertentu.
n. Dapat
dikemukakan bahwa manfaat utama koordinasi dalam managemen adalah untuk
menumbuhkan sikap egaliter, serta meningkatkan rasa kesatuan dan persatuan
diantara atasan dan bawahan dengan tetap menghargai kewajian dan wewenang
masing-masing. Dengan demikian, setiap
atasan dan bawahan, tidak terjebak oleh kepentingan masing-masing bagian yang sempit sehingga dapat menjalankan
perannya secara efektif dan efisien dalam mencapai tujuah sekolah secara kaffah
( menyeluruh).
MANAJEMEN
BERBASIS SEKOLAH
BERBASIS
PRESTASI ( TEORI DAN PARAKTIK)
DR.
ABDUL MAJIR
CV.
INFO MEDIKA. JL PRAMUKA NO. 27 JAKARTA 13120