15 Desember 2016

OPINI : GURU DALAM PELAKSANAAN KURIKULUM


GURU DALAM PELAKSANAAN KURIKULUM
Dalam dunia pendidikan kurikulum merupakan hal yang sangat penting dalam melaksanakan proses pembelajaran yang telah direncankan untuk mencapai hasil belajar yang diinginkan. Proses pembelajaran telah diatur sedemikian rupa sesuai dengan kebutuhan siswa, baik oleh lembaga maupun oleh guru yang secara langsung terlibat aktif dalam prosesnya. Kurikulum itu sendiri harus mencakup dua hal yang paling penting, yaitu kurikulum sebagai dokumen yang berfungsi sebagai pedoman dan kurikulum sebagai implementasi. Realisasi dari dokumen yang telah direncanakan berupa implementasi dalam proses pembelajaran di kelas.
Untuk menunjang proses pembelajaran yang baik, dibutuhkan seorang  yang paham dengan kurikulum, yaitu seorang guru. Peran guru merupakan peran yang  sentral untuk menentukan proses pembelajaran, selain peran dari pada siswa sebagai peserta didik. Ketika menjadi seorang guru, kita dituntuk untuk bersifat professional dalam setiap hal yang berkaitan dengan tugasnya. Bahkan di masyarakat guru merupakan orang yang dihormati dan teladani dengan  tugasnya yang mulia.
Dalam UU no. 14 tahun 2005,  guru  sebagai pendidik professional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini, jalur pendidikan formal, jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Dengan tuntutan yang begitu banyak yang ideal sebagai pengajar, seorang guru harus mampu menjalankan tugasnya dengan penuh tangggung jawab sebagai orang tua kedua. Artinya seorang guru juga harus menjadi idola siswanya. Apa yang disampaikan guru dalam proses pembelajaran harus mampu memotivasi peserta didik dalam belajar. Jika seorang guru sejak awal gagal menjalin rasa simpati dengan siswanya, maka secara tidak langsung hal semacam ini bisa mempengaruhi proses ke depannya. 
Dalam kaitannya dengan pelaksaan kurikulum, seorang guru harus paham dan mampu melaksanakan proses pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan para siswa atau konteks siswanya. Jika guru mengabaikan hal ini maka proses pembelajaran akan berjalan tanpa arah yang jelas.
Pedoman yang telah dibuat untuk menunjang implemantasi kurikulum akan sia-sia yang disebabkan oleh guru yang tidak paham dengan implementasi kurikulum. Guru pada dasarnya sebagai kurikulum itu sendiri yang mengarakan proses pembelajaran seperti yang telah direncanakan. Guru juga sebagai pengembang kurikulum mempunyai wewenang untuk mendesain suatu  kurikulum sesuai dengan kebutuhan dan kondisi lingkungan dan para pesrta didik. Bukan hanya tujuan yang harus dicapai guru tetapi juga mencakup strategi apa yang harus digunakan untuk mengukur keberhasilan implementasi kurikulum. Maka dari itu peran guru dalam  implementasi kurikulum  sangat vital dan memegang peranan yang sangat penting.
Oleh karena itu, sebagai seorang guru harus mengerti pelaksanaan kurikulum sesuai dengan rancangannya. Dengan alasan guru sebagai bagian dari kurikulum yang mempunyai peranan penting dalam pelaksanaan kurikulum.



06 Desember 2016

CERPEN SENJA


SENJA
( Fransisikus D Darma)
Penulis tinggal di La’o Lanar dan sedang belajar di STKIP St. Paulus Ruteng Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia

Sore  itu, aku duduk terpaku menikmati pemandangan senja yang begitu menawan. Hatiku  seolah-olah bercerita tentang masa lalu yang masih membekas dalam sukma, mungkinkah ini yang dinamakan rindu atau hanya imajinasi  belaka. Ya terserah kalian para pembaca mempersepsi rasa yang telah saya ceritakan. Rasa yang ada kian megembara dengan senja yang begitu indah dipandang, cahaya memudar manambah nuasa remang-remang. Begitu banyak aktivatas yang masih orang lakukan sore itu, lalu lalang kendaraan dengan suaranya masing. Ada yang bunyinya  memecahkan telinga para pejalan kaki, bunyi seperti orang berteriak bahkan  ada yang berbunyi seperti orang yang kesakitan. Rasanya pusing jika saya harus menceritakannya kembali.
Ketika aku sedang asyik dengan pemandangan cahaya senja, handphone dalam saku celana bergetar yang sempat membuat aku kaget. Ya maklumlah orang lagi ngelamun ko diganggu.
Hehehehehe.
Singkat cerita ku terima telepon itu. Hallo selamat sore, suara yang terdengar pertama dari handphone butut  yang tak jelas bunyinya. Selamat sore juga” jawaban yang singkat membalas salam dari nomor 336. Suaranya begitu samar, tidak jelas dan nomornya tidak tersimpan dalam kontak handphone, mungkin hpku  kurang baik   menyebabkan suaranya samar dan nomornya tidak tersimpan dalam memori telepon.
 Karena suaranya samar, lalu kumatikan saja handphonenya. Panggilan yang tidak jelas, mengganggu orang yang lagi senang. Meskipun dalam perkataan saya tidak senang dengan  panggilan di telepon, tetapi hal ini membuat saya penasaran dengan nomor baru yang angka belakangnya  366. Sungguh, panggilan itu membuat saya semakin penasaran, tidak biasanya saya seperti ini. Mungkinkah ini telepon yang penting ataukah ini telepon bagian dari masa lalu yang sempat aku renungkan bersama senja. Aku semakin bertambah bingung dan kepalaku sepertinya ingin meledak, hancur kali pikiranku ini. Di situ kulihat temanku sedang asyik dengan handphonenya, dia memutarkan lagu-lagu Dj dan  kepalanya bergoyang menikmati alunan nada. Nikmat benar hidupnya, bisa merasakan hal-hal yang membuat hatinya bahagia sedangkan aku terjebak dalam tanya yang harus kupecahkan.
Lalu aku bertanya dengannya tentang nomor telepon yang sempat dipertanyakan asalnya.” Apakah kamu kenal dengan nomor telepon yang tiga angka di belakangnya 366? Jawaban teman saya sangat sedarhana, “Tidak”. Mungkin itu hanya nomor yang salah alamat dan ingin mencari sensasi atau teman karena dia kesepian. Jawaban yang aneh dan humoris, sempat membuat saya tertawa terbahak-bahak karena kata sensasi. Dia minta hpku untuk mengecek nomor yang tadi di hanphonenya, barang kali nomor itu ada di kontak teleponnya.
Setelah dicek, nomor itu tidak ada dalam memorinya, lantas aku berpikir, mungkinkah itu nomor telepon  teman saya. Memang sih tadi pagi aku sempat dibangunkan suara telepon masuk yang ternyata teman sekelas dan ingin minta bantuan karena hari ini dia tidak masuk kelas dengan alasan sedang sakit. Aku tidak tahu apakah dia sakit benaran atau sakit pura-pura, ya maklumlah jika seoarang siswa malas ke sekolah,alasannya hanya satu yaitu sakit, meskipun sesunggunya dia tidak sakit. Terkadang mereka yang sakit menginformasikannya lewat telepon atau pesan singkat. Satu hal yang membuat saya bingung, apakah mereka tidak tahu, kalau sedang sakit harus disertakan dengan surat pemberitahuan bahwa dirinya sedang sakit, ini sebagai bukti dan pegangan jika sewaktu- waktu ada masalah dengan ketidakhadirannya dalam proses belajar.
Telepon kembali berbunyi, teman  Felly memberikan telepon itu kepada saya. Kulihat nomor yang terpampang di layar hpku, nomor yang sama dengan tiga angka belakangnya 366.
Hallo selamat sore, tegurnya dengan lembut.  Aku menjawabnya dengan lembut pula,” Selamat sore juga.
Kaka buat apa?” Katanya”.
 Lalu aku menjawab tidak ada buat kebetulan lagi duduk. Aku bertanya sebaliknya” Ini dengan siapa? Ini dengan Ani” Apakah ini dengan kaka Frans? Dia bertanya sekali lagi.’’ Iya ini dengan saya sendiri’’. Lantas menyebut nama Ani aku termenung sejenak.,
Siapakah  Ani?  
Mungkinkah dia teman atau keluargaku. Memang sih nama itu tidak asing dari telingaku, perasaan saya mengatakan dia bukan orang baru saya kenal.
Setelah bercakap- cakap cukup lama, aku mengingat dia  ternyata orang yang pernah mengisi lembaran hidupku dengan kisah  indah. Saat ini memang dia berada di salah satu kota untuk tes jadi Polisi Wanita. Kabarnya terbarunya dia tidak lolos seleksi dan akan melanjutkan kuliah dijurusan akuntansi, atau tidak dia akan kuliah dijurusan keperawatan bagian gizi.
Kata Polwan inilah yang mengingatkan saya pada dirinya, dulu memang dia pernah bercerita untuk menjadi Polisi Wanita karena ini adalah impian terbesarnya.
Cerita kami pun berlanjut, saling menyakan kabar masing-masing saat ini. Kenangan masa lalu kembali teringat, hal yang paling tampak pada dirinya adalah seorang pemalu dan selalu bersikap dewasa. Aku hanya tersenyum kecil mengingat dirinya pada masa lalu dan membanyangkan perubahannya pada masa sekarang,  paling tidak dia bukan pemalu seperti dulu lagi.  Senyuman manja selalu menghias wajah polos, cerita lama seakan tak habis bila diceritakan, bukan berarti aku harus kembali pada masa yang lewat tetapi kini aku berkreasi dengan apa yang sedang aku lakukan.
Tidak terasa, kurang lebih 50 menit kami bercakap-cakap melalui telepon. Sudah banyak hal yang telah dibicarakan, mulai dari kabar kami masing-masing, kekecewaannya karena gagal  meraih impiannya, bahkan mendengarkan ceritanya saat dia pergi ke warung dan dicegat laki-laki. Untunglah dia pernah belajar beladiri pencak silat dengan aku sewaktu SMA, sehingga dirinya mampu memukul laki- laki yang memegang tanganya pada malam hari dan berhasil melarikan diri. Kejadian itu membuatnya trauma dengan laki-laki yang tidak dikenal sebelumnya. Kami larut dalam cerita, aku sambil berbaring di atas ranjang sedangkan dirinya aku tidak tahu, yang pasti dia sedang berbicara dengan aku.
Nostalgia lama seakan terulang, canda tawa menghiasi sore itu terbungkus rapi dalam lamunanku. Kini dirinya jauh di sana dibatasi hamparan laut yang membentang sementara aku dihalangi gunung yang tinggi seperti tembok pembatas.











 




Teman Kesepian
Fian darma

Tinggal cerita yang tak berarti. Kenangan indah terhapus  sesaat. Aku menyadari, kisah yang dulu harus berakhir dengan kecewa, berjanji setia pada hal yang tak mungkin terajut. Ya begitulah, kenangan tinggalah cerita manis, aku harus melupakan apa yang telah berlalu  sebagai tanda untuk melepaskan semua kisah masa lalu.
Kali ini aku sangat merasakan kesepian yang sangat menghantam batin, selalu dan setiap saat melanda pikiranku.  Kesepianku kali ini bukan karena cinta di masa lalu yang telah aku ceritakan namun kali ini kesepiaanku disebabkan orang tua dan adik-adikku yang masih berlibur di rumah nenek. Sunyi senyap, kira-kira begitulah suasana yang kurasakan setiap saat. Hampir selama sepekan ini hal yang sama kulakukan untuk mengusir sepi. Segelas kopi selalu kulakukan setiap 3 jam sekali, maklumlah karena kecanduan kopi sejak aku duduk dibangku Sekolah Menengah Pertama. Bayangkan saja aku bangun  paling lambat jam 7 dan harus minum kopi,  empat jam kemudian sekitar jam 11, setelah itu jam 3 sore.
Sebernanya minum kopi seperti ini bukan hanya saya saja tetapi budaya kami orang Manggarai yang selalu bekerja keras memang seperti ini, tanpa kopi hidup rasanya malayang-layang bagi mereka yang penikmat kopi. Bagi saya selain bekerja keras dari pagi sampai sore, kopi juga sebagai sumber inspirasi untuk menciptakan proses kreatif.  Saking kecanduannya, tanpa kopi tidak bisa melakukan kegiatan yang membutuhkan tenaga yang relatif kuat dan stabil.
Hari ini ada yang berbeda, melodi musik lawas  aku putarkan untuk menemani gelas kopi yang lagi sendirian. Paling tidak rasa rinduku dengan keluargaku sedikit terobati. Oh,,,, iya kalau tidak salah hari ini mereka akan kembali ke rumah, ini menambah semangat untuk bekerja.
Setelah beres-beres rumah yang berantakan, langsung ke dapur memasak sayur, untunglah tadi malam saya sudah memasak nasi, jadinya pagi ini tidak repot seperti hari sebelumya. Hidup rasanya nikmat ketika kita menjalaninya tanpa beban. Saat saya sedang memasak sayur, ada orang yang memanggil.
’’Fian,,,,,,Fian,,’’kamu ada di mana?
 Beginilah suara yang terdengar dari luar rumah. Dengan polosnya aku langsung menjawab.
 ‘’Saya ada di sini’’, langsung membukakan pintu bagian samping.
Ternyata ada keluarga dari kampung, kebetulan tanta saya dengan suami dan anaknya. Langsung masuk dan saya persilakan duduk.  Beberapa  menit kemudian mereka pamit untuk ke rumah sakit untuk mengobati anaknya yang sedang sakit. Setelah saya tanya, ternyata dia ini digigit anjing kecil yang mereka pelihara. Untuk menjaga kemungkinan terkena penyakit rabies langsung ke rumah sakit.
 Mereka langsung pergi.
Semoga anaknya tidak terkena penyakit rabies yang sangat berbahaya.
Sayurpun sudah matang. Tidak membuang waktu lagi, aku langsung menyatapnya. Meskipun rasanya sedikit hambar, itu bukan penghalang rasa laparku ini. Nikmat dan tentunya kenyang.
Ehhehhehhehe.
Mataku sayup-sayup, melihat setiap benda yang ada terbayang menjadi dua, semua yang ada terasa kabur. Mataku terpejam, seketika itu langsung tertidur lelap. Waktu itu sekitar jam 9 pagi. Imajinasiku kali ini tidak bertindak dalam mimpi, mungkin karena terlalu kelelahan. Memang tadi malam saya terlambat tidur, sekitar jam dua pagi. Inilah hal lain yang membuat saya lelah dan kantuk.
Kira sekitar jam dua lewat empat puluh menit aku terbanngun, sepertinya tidurku ini sudah disepakati untuk bangun sebelum jam minum kopi sore.
Inilah yang selalu kulakukan saat aku sepi dan hanya kopi sumber proses kreatif dalam hidup.
Coffe part of my life.
















































BANG LAWO "BERBURU TIKUS"

    BANG LAWO  Masa kecil menjadi masa yang indah, tidak ada beban berat yang terlintas dalam pikiran hanya ada rasa senang saat kita tert...