SENJA
( Fransisikus D Darma)
Penulis tinggal di La’o Lanar dan sedang belajar di
STKIP St. Paulus Ruteng Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia
Sore itu, aku duduk terpaku menikmati pemandangan
senja yang begitu menawan. Hatiku
seolah-olah bercerita tentang masa lalu yang masih membekas dalam sukma,
mungkinkah ini yang dinamakan rindu atau hanya imajinasi belaka. Ya terserah kalian para pembaca
mempersepsi rasa yang telah saya ceritakan. Rasa yang ada kian megembara dengan
senja yang begitu indah dipandang, cahaya memudar manambah nuasa remang-remang.
Begitu banyak aktivatas yang masih orang lakukan sore itu, lalu lalang
kendaraan dengan suaranya masing. Ada yang bunyinya memecahkan telinga para pejalan kaki, bunyi
seperti orang berteriak bahkan ada yang
berbunyi seperti orang yang kesakitan. Rasanya pusing jika saya harus
menceritakannya kembali.
Ketika
aku sedang asyik dengan pemandangan cahaya senja, handphone dalam saku celana
bergetar yang sempat membuat aku kaget. Ya maklumlah orang lagi ngelamun ko
diganggu.
Hehehehehe.
Singkat
cerita ku terima telepon itu. Hallo selamat sore, suara yang terdengar pertama
dari handphone butut yang tak jelas
bunyinya. Selamat sore juga” jawaban yang singkat membalas salam dari nomor
336. Suaranya begitu samar, tidak jelas dan nomornya tidak tersimpan dalam
kontak handphone, mungkin hpku kurang
baik menyebabkan suaranya samar dan nomornya tidak
tersimpan dalam memori telepon.
Karena suaranya samar, lalu kumatikan saja
handphonenya. Panggilan yang tidak jelas, mengganggu orang yang lagi senang.
Meskipun dalam perkataan saya tidak senang dengan panggilan di telepon, tetapi hal ini membuat
saya penasaran dengan nomor baru yang angka belakangnya 366. Sungguh, panggilan itu membuat saya
semakin penasaran, tidak biasanya saya seperti ini. Mungkinkah ini telepon yang
penting ataukah ini telepon bagian dari masa lalu yang sempat aku renungkan
bersama senja. Aku semakin bertambah bingung dan kepalaku sepertinya ingin
meledak, hancur kali pikiranku ini. Di situ kulihat temanku sedang asyik dengan
handphonenya, dia memutarkan lagu-lagu Dj dan
kepalanya bergoyang menikmati alunan nada. Nikmat benar hidupnya, bisa
merasakan hal-hal yang membuat hatinya bahagia sedangkan aku terjebak dalam
tanya yang harus kupecahkan.
Lalu
aku bertanya dengannya tentang nomor telepon yang sempat dipertanyakan asalnya.”
Apakah kamu kenal dengan nomor telepon yang tiga angka di belakangnya 366?
Jawaban teman saya sangat sedarhana, “Tidak”. Mungkin itu hanya nomor yang
salah alamat dan ingin mencari sensasi atau teman karena dia kesepian. Jawaban
yang aneh dan humoris, sempat membuat saya tertawa terbahak-bahak karena kata
sensasi. Dia minta hpku untuk mengecek nomor yang tadi di hanphonenya, barang
kali nomor itu ada di kontak teleponnya.
Setelah
dicek, nomor itu tidak ada dalam memorinya, lantas aku berpikir, mungkinkah itu
nomor telepon teman saya. Memang sih
tadi pagi aku sempat dibangunkan suara telepon masuk yang ternyata teman
sekelas dan ingin minta bantuan karena hari ini dia tidak masuk kelas dengan
alasan sedang sakit. Aku tidak tahu apakah dia sakit benaran atau sakit
pura-pura, ya maklumlah jika seoarang siswa malas ke sekolah,alasannya hanya
satu yaitu sakit, meskipun sesunggunya dia tidak sakit. Terkadang mereka yang
sakit menginformasikannya lewat telepon atau pesan singkat. Satu hal yang
membuat saya bingung, apakah mereka tidak tahu, kalau sedang sakit harus
disertakan dengan surat pemberitahuan bahwa dirinya sedang sakit, ini sebagai
bukti dan pegangan jika sewaktu- waktu ada masalah dengan ketidakhadirannya
dalam proses belajar.
Telepon
kembali berbunyi, teman Felly memberikan
telepon itu kepada saya. Kulihat nomor yang terpampang di layar hpku, nomor
yang sama dengan tiga angka belakangnya 366.
Hallo
selamat sore, tegurnya dengan lembut.
Aku menjawabnya dengan lembut pula,” Selamat sore juga.
Kaka
buat apa?” Katanya”.
Lalu aku menjawab tidak ada buat kebetulan
lagi duduk. Aku bertanya sebaliknya” Ini dengan siapa? Ini dengan Ani” Apakah
ini dengan kaka Frans? Dia bertanya sekali lagi.’’ Iya ini dengan saya
sendiri’’. Lantas menyebut nama Ani aku termenung sejenak.,
Siapakah
Ani?
Mungkinkah
dia teman atau keluargaku. Memang sih nama itu tidak asing dari telingaku,
perasaan saya mengatakan dia bukan orang baru saya kenal.
Setelah
bercakap- cakap cukup lama, aku mengingat dia ternyata orang yang pernah mengisi lembaran
hidupku dengan kisah indah. Saat ini
memang dia berada di salah satu kota untuk tes jadi Polisi Wanita. Kabarnya
terbarunya dia tidak lolos seleksi dan akan melanjutkan kuliah dijurusan
akuntansi, atau tidak dia akan kuliah dijurusan keperawatan bagian gizi.
Kata
Polwan inilah yang mengingatkan saya pada dirinya, dulu memang dia pernah
bercerita untuk menjadi Polisi Wanita karena ini adalah impian terbesarnya.
Cerita
kami pun berlanjut, saling menyakan kabar masing-masing saat ini. Kenangan masa
lalu kembali teringat, hal yang paling tampak pada dirinya adalah seorang
pemalu dan selalu bersikap dewasa. Aku hanya tersenyum kecil mengingat dirinya
pada masa lalu dan membanyangkan perubahannya pada masa sekarang, paling tidak dia bukan pemalu seperti dulu
lagi. Senyuman manja selalu menghias
wajah polos, cerita lama seakan tak habis bila diceritakan, bukan berarti aku
harus kembali pada masa yang lewat tetapi kini aku berkreasi dengan apa yang
sedang aku lakukan.
Tidak
terasa, kurang lebih 50 menit kami bercakap-cakap melalui telepon. Sudah banyak
hal yang telah dibicarakan, mulai dari kabar kami masing-masing, kekecewaannya
karena gagal meraih impiannya, bahkan
mendengarkan ceritanya saat dia pergi ke warung dan dicegat laki-laki.
Untunglah dia pernah belajar beladiri pencak silat dengan aku sewaktu SMA,
sehingga dirinya mampu memukul laki- laki yang memegang tanganya pada malam
hari dan berhasil melarikan diri. Kejadian itu membuatnya trauma dengan
laki-laki yang tidak dikenal sebelumnya. Kami larut dalam cerita, aku sambil
berbaring di atas ranjang sedangkan dirinya aku tidak tahu, yang pasti dia
sedang berbicara dengan aku.
Nostalgia
lama seakan terulang, canda tawa menghiasi sore itu terbungkus rapi dalam
lamunanku. Kini dirinya jauh di sana dibatasi hamparan laut yang membentang
sementara aku dihalangi gunung yang tinggi seperti tembok pembatas.
Teman Kesepian
Fian darma
Tinggal
cerita yang tak berarti. Kenangan indah terhapus sesaat. Aku menyadari, kisah yang dulu harus
berakhir dengan kecewa, berjanji setia pada hal yang tak mungkin terajut. Ya
begitulah, kenangan tinggalah cerita manis, aku harus melupakan apa yang telah
berlalu sebagai tanda untuk melepaskan
semua kisah masa lalu.
Kali
ini aku sangat merasakan kesepian yang sangat menghantam batin, selalu dan
setiap saat melanda pikiranku.
Kesepianku kali ini bukan karena cinta di masa lalu yang telah aku
ceritakan namun kali ini kesepiaanku disebabkan orang tua dan adik-adikku yang
masih berlibur di rumah nenek. Sunyi senyap, kira-kira begitulah suasana yang
kurasakan setiap saat. Hampir selama sepekan ini hal yang sama kulakukan untuk
mengusir sepi. Segelas kopi selalu kulakukan setiap 3 jam sekali, maklumlah
karena kecanduan kopi sejak aku duduk dibangku Sekolah Menengah Pertama.
Bayangkan saja aku bangun paling lambat
jam 7 dan harus minum kopi, empat jam
kemudian sekitar jam 11, setelah itu jam 3 sore.
Sebernanya
minum kopi seperti ini bukan hanya saya saja tetapi budaya kami orang Manggarai
yang selalu bekerja keras memang seperti ini, tanpa kopi hidup rasanya
malayang-layang bagi mereka yang penikmat kopi. Bagi saya selain bekerja keras
dari pagi sampai sore, kopi juga sebagai sumber inspirasi untuk menciptakan
proses kreatif. Saking kecanduannya,
tanpa kopi tidak bisa melakukan kegiatan yang membutuhkan tenaga yang relatif
kuat dan stabil.
Hari
ini ada yang berbeda, melodi musik lawas
aku putarkan untuk menemani gelas kopi yang lagi sendirian. Paling tidak
rasa rinduku dengan keluargaku sedikit terobati. Oh,,,, iya kalau tidak salah
hari ini mereka akan kembali ke rumah, ini menambah semangat untuk bekerja.
Setelah
beres-beres rumah yang berantakan, langsung ke dapur memasak sayur, untunglah
tadi malam saya sudah memasak nasi, jadinya pagi ini tidak repot seperti hari
sebelumya. Hidup rasanya nikmat ketika kita menjalaninya tanpa beban. Saat saya
sedang memasak sayur, ada orang yang memanggil.
’’Fian,,,,,,Fian,,’’kamu
ada di mana?
Beginilah suara yang terdengar dari luar
rumah. Dengan polosnya aku langsung menjawab.
‘’Saya ada di sini’’, langsung membukakan
pintu bagian samping.
Ternyata
ada keluarga dari kampung, kebetulan tanta saya dengan suami dan anaknya.
Langsung masuk dan saya persilakan duduk. Beberapa menit kemudian mereka pamit untuk ke rumah
sakit untuk mengobati anaknya yang sedang sakit. Setelah saya tanya, ternyata
dia ini digigit anjing kecil yang mereka pelihara. Untuk menjaga kemungkinan
terkena penyakit rabies langsung ke rumah sakit.
Mereka langsung pergi.
Semoga
anaknya tidak terkena penyakit rabies yang sangat berbahaya.
Sayurpun
sudah matang. Tidak membuang waktu lagi, aku langsung menyatapnya. Meskipun
rasanya sedikit hambar, itu bukan penghalang rasa laparku ini. Nikmat dan
tentunya kenyang.
Ehhehhehhehe.
Mataku
sayup-sayup, melihat setiap benda yang ada terbayang menjadi dua, semua yang
ada terasa kabur. Mataku terpejam, seketika itu langsung tertidur lelap. Waktu
itu sekitar jam 9 pagi. Imajinasiku kali ini tidak bertindak dalam mimpi,
mungkin karena terlalu kelelahan. Memang tadi malam saya terlambat tidur,
sekitar jam dua pagi. Inilah hal lain yang membuat saya lelah dan kantuk.
Kira
sekitar jam dua lewat empat puluh menit aku terbanngun, sepertinya tidurku ini
sudah disepakati untuk bangun sebelum jam minum kopi sore.
Inilah
yang selalu kulakukan saat aku sepi dan hanya kopi sumber proses kreatif dalam
hidup.
Coffe
part of my life.