Natal dan Kenangan
Hai para pembaca, apa
kabar kalian hari ini? Saya harap kalian baik-baik saja, mengingat perayaan
Natal sudah dekat. Saya juga ingin menyapa saudara-saudara saya yang saat
berada di tanah rantau, semoga kalian juga baik-baik saja disana.
Natal semakin dekat,
kerinduan akan kampung halaman pasti menghatui hari-hari kalian. Bayangan masa
kecil bersama keluarga dan teman-teman pada saat Natal pasti tidak akan
terlupakan. Apalagi jika di kampung kita masing-masing ada sesuatu yang unik
pada saat itu atau paling tidak kita ingat saat minum kopi dan hang latung cero
(makan jagung goreng) bersama keluarga kalian. Tentu hal ini semakin membuat
kerinduan ini membara atau juga menangis dalam kamar karena tidak dapat
membendung kerinduan. Apalagi mendengar lagu “kole beo” (pulang kampung) atau
“pulang jo”, ya tahu saja rasanya. Sakit hati,,,,,,,,,.
Beberapa
hari terakhir kemeriahan perayaan Natal sudah dimulai. Keluarga-keluarga kecil
mulai menyiapkan sesuatu yang baru untuk perayaan Natal tahun 2018. Para artis
juga mulai memamerkan busana-busana yang akan dikenakan. Untuk penulis, tidak
ada yang saya dipamerkan, mengingat dompet kosong.
Hahahaha.
Tidak
apalah yang penting pulang dari tempat yang panas ini dapat berkumpul bersama
keluarga. Maram apa kat ata manga ne, hang situ kaut (makan apa adanya). Bagi
teman-teman saya yang belum libur karena mungkin ada halangan kerja, sabar bro!
Masih ada tahun depan e ase kae. Okelah, cukup dulu bahas yang ini, kita
kembali ke tulisan ini. Belakangan ini para artis papan atas yang merayakan
Natal mulai memamerkan pohon Natal mereka yang megah. Warna pohon Natal sangat
bervariasi tergantung selera setiap keluarga atau individu. Salah satu pohon
Natal berwarna hitam pekat sempat menjadi sorotan publik, mungkin karena baru
kali ini atau karena artis internasional yang memilikinya. Entalah, biarkan
pembaca yang menilai.
Baiklah, sekarang kita akan
berbicara Natal di Ruteng, Manggarai, NTT, yang jarang dari pemberitaan media
televisi, eh penulis mulai berharap, percaya diri kali aku ini.
Hahahah.
Padahal
kalau diberitakan akan menarik, cukup kami tersenyum pasti penonton terkesima, apalagi
senyum orang-orang di kota dingin menawarkan sejuta rasa persaudaraan. Di
tempat ini kalian akan temukan hal-hal baru baru untuk merayakan Natal. Dari
anak-anak jail yang suka main meriam bambu, busi motor yang diikat tali
kemudian dilemparkan untuk menimbulkan ledakan yang tidak kalah dengan petasan
saat Natal. Saat itu pasti “ise ende gu ise ema” (Mama dan Bapak) mulai
marah-marah. Sabar e ema gu ende, anak-anak memang begitu tapi mereka tidak
akan berbuat lebih dari itu, pasti mereka akan menjadi anak yang baik. O iya
ada yang lupa, Ruteng juga dijuluki kota seribu gereja, karena banyak gereja di
tempat ini.
Natal
di Ruteng pasti banyak lampu jalan dipasang masyarakat setempat. Ini sudah
menjadi kebiasaan kami saat-saat sebelum Natal. Tidak ada tujuan lain selain
untuk memeriakan kelahiran Juru Selamat Raja Damai. Nilai positifnya, kami saling bergotong
royong mengerjakan semua ini, dengan demikian rasa persaudaraan semakin kuat.
Jika
Natal di Eropa ada musim salju, kami di Ruteng ada musim hujan yang tidak
mungkin terhindarkan. Kalau di Eropa ada jaket salju yang tebal kami di sini
cukup siapkan payung dan jaket seadanya. Meskipun hujan kami tetap bersyukur,
paling tidak masih bisa ke Gereja. Saat itu kalian akan rasakan dingin dengan
baju yang basah dan juga berdoa pada posisi kedinginan. Pulang Gereja juga
begitu, hujan lebat siap mengguyur.
Nasib,
nasib.
Ya
begitulah cerita kami di kota dingin. Hujan seperti musim istimewa menemani
suasana Natal. Satu kebiasaan yang tidak
pernah terlewatkan bagi kami (lingkup kampung) yaitu berkumpul di luar rumah
pada saat malam Natal. Menikmati indahnya malam, lampu warna-warni, dan angin
yang dingin, tau saja dinginya Ruteng toh, menusuk hingga ke tulang.
Ber………
Setelah itu pempang (meriang. Aku meriang,aku meriang), hahahaha. Jadinya macam
lagu dangdut ya. Masih banyak cerita unik lainnya yang ingin penulis bagikan,
tapi tunggu dulu ya, supaya kalian penasaran toh.
Tunggu
dan tunggu, cerita ini akan dilanjutkan tahun depan.
Bersambung
ke Natal tahun depan………………
F.D.D