BANG LAWO
Masa kecil menjadi masa yang indah, tidak ada beban berat yang terlintas dalam pikiran hanya ada rasa senang saat kita tertawa lepas sambil membuka tangan bermain bersama teman. Tidak ada handphone android dan tidak ada mainan anak-anak secanggih zaman sekarang. Permainan tradisional selalu punya cerita ketika berkumpul bersama teman. Hanya bermain, bermain dan terus bermain tanpa ada beban. Bahagia saat kecil sangat sederhana dan murah. Sesederhana saat tertawa menikmati waktu bahkan lupa pulang rumah, lalu dicari Orangtua.
Bermain bersama teman sama halnya seperti rutinitas setiap hari seperti orang dewasa yang selalu bekerja. Masih teringat masa kecil hingga remaja dan kebiasaan bang lawo (berburu tikus), bukan tikus kantor tapi tikus sawah. Biasanya bang lawo sering dilakukan setelah musim panen padi. Ini peluang emas mendapatkan banyak tikus. Pematang sawah satu persatu kami razia macam polisi yang sedang patroli. Hahaha, maaf ehm, sa curhat e. Jujur saja, beberapa teman cita-citanya jadi polisi, maka pemilihan kata yang kita gunakan seperti polisi lagi patroli, seperti TKP, razia, dan operasi gabungan.
Lubang-lubang di pematang sawah tidak luput dari pantaun tim operasi lapangan, ehm,,,,,, lagi-lagi istilah yang tidak biasa. Teman-teman yang berperan sebagai tim lapangan akan menentukan lubang tikus yang akan kita cari karena mereka sudah mahir mencari tempat persembunyian tikus. Rombongan pemburu tikus dibagi dalam dua kelompok kecil. Ada yang bertugas untuk mencari daun pisang kering atau bisa juga jerami padi kering, ada yang bertugas untuk berburu. Tergantung dari kelompok, ada juga yang semua anggota tim mencari rumput bersama, setelah itu pergi berburu.
Setelah semua peralatan siap, pertempuran dimulai. Rasanya seperti sedang berperang saja melihat raut wajah teman-teman yang berjaga depan pos tikus (lubang tikus) dengan sebatang kayu pendek. Oh iya, sekadar informasi, pos dalam pengertian kami sebagai tempat penjagaan terakhir tikus yang akan keluar dari persembunyian. Biasanya, ada sejenis ranting atau rumput liar yang kita simpan pada lubang tikus dengan tujuan sebagai tanda setelah yang lain menyalakan api. Kalau ranting di pos lawo (lubang tikus) bergerak maka ada tanda-tanda tikus mau keluar. Terkadang yang keluar bukan tikus tetapi ular atau hewan lain. Ya, hantam saja gaes atau pakai jurus seribu kaki, syukur kalau bisa salto. Bercanda sa, yang salto itu jangan ditiru.
Bang lawo malam hari kami menyebutnya ngo tea (berburu tikus dengan bantuan lampu gas atau senter). Saya gambarkan ini seperti proses berperang, hanya saja musuhnya tikus.
Dingin malam, semak belukar berduri, dan lumpur di sawah tidak kami hiraukan, yang penting dapat tikus. Berlari di tengah sawah tak terhidarkan. Kadang-kadang ada yang terjatuh saat berlari, itu sial gaes.
Uniknya, meskipun hanya bermodal lampu minyak tanah yang buram, teman-teman yang bertugas sebagai pasukan khusus eksekusi dengan mudah memukul mudur tikus dan menyerah.
Luar biasa bukan.
Setelah larut malam biasanya kami istrahat sejenak di pondok dekat sawah sebelum kembali ke rumah. Dapat banyak tikus, pasti rame. Tak jarang ada yang bernyanyi sepanjang perjalanan pulang, kalau dapat sedikit pasti pulang masing-masing.
“De Mori, sengsara e, poli pa’u toe mnga ba
lawo du kole”. Jauk one nai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar