13 Juli 2019

Puisi " Sajak Sepi










SAJAK SEPI

Sambil menyeberangi sepi,
Melompatlah Aku dalam narasi panjang,
yang mungkin sudah setahun lalu kau ceritakan
Rupanya, ada namaku yang sempat kau ceritakan pada baris-baris kertas sepimu
Matamu yang tajam menatap liku dalam buku
melayang-layang di atas awan hingga bergumpal
Lekuk indah tubuh mengantar hayal
pada cakrawala tak terbatas sampai hanyut dalam fiksimu
derita pun kian subur

Malam ini bulan indah,
merayu menatap kembali dua pasang bola mata layu
Bintang malam pun kaku,
merasakan lembut remang-remang di ujung cakrawala
Bayangan derai rambut panjang melintas saat menatap cermin
di samping vas bunga mawar yang tak lagi semerbak setahun lalu.
Masihkah Kau ingat namaku dalam bahagia dan derita

Senyum simpul menawan pelipur
tidak lagi kurasakan saat menatap bulan
meskipun sudah menutup mata  rapat-rapat namun derita terus saja berlanjut
Tidak lagi!
Takan ada lagi!
Kuberanjak  melewati malam
tanpa menatap cahaya bulan dari jendela kamar
Bahkan sudah kututup dengan tirai
Berharap derita terbatas pada sekat jendela
sampai tak tampak lagi cahaya melewati celah-celah
hingga tertidur menjemput pagi.

01 Juli 2019


SUDAH TAK ADA LAGI

Dalam rangkaian masa pemulihan ini
telah dibersihkan otak dari kenangan tubuhmu hingga dasar jiwa.
Kemolekan rupa yang sempat tertanam
kini tercabut bersama foto-foto yang sempat dibakar,
sekarang menjadi abu.
Angin meniup wangi tubuh
Sebagian  mengalir bersama gelombang laut yang entah kemana muaranya.
Penderitaan bayangan sedikit demi sedikit berlalu
saat tidak ada satupun kenangan tersimpan
pada dompet, dinding, buku, bahkan di hati.
Semuanya sudah kulepaskan
Tenanglah,
meski sesekali menghirup  helaan nafasmu mengalir bersama embun pagi, 
namun tak melekat pada aliran sel-sel tubuh.
                                                                        15 Juni 2019


PALING JIKA
Jika telinga tidak mengarah padaku
paling tidak masih kau dengar
Jika mulut tidak berkata-kata
paling tidak gerak tubuh menuntun ke arahku
Jika mata tidak menatapku
paling tidak jangan menunduk
Jika engkau di depan
Paling tidak jangan membelakangi
Jika semuanya tidak, jangan berpaling
                                    17 Juni 2019




MULAI DARI MANA
Gadisku, rasakan bayangan
Pada setiap malam Aku bermimpi
tentang celotehmu tiap kali kita duduk.
Aku memelukmu dan kamu pun memeluk Aku meskipun masih kaku
Sungguh dunia ini seperti milik kita.
Getaran jantung memompa aliran darah seperti keluar dari tubuh

Kita berteduh di bawah pohon
Menikmati masa sepi yang menjadi ceria ketika tertawa
Kemudian sepi lagi karena kehabisan kata
indahnya hari itu.

Kini Aku mulai serius menatap mata, alis, hidung, senyum bibirmu,
sesekali menatap lesung pipi.
Aku menatapmu terus- menerus,
Kau membalas tatapanku.
Kemudian berpaling
Tak sanggup rasanya menatapmu terlalu lama.
Kubuka percakapan serius
Ujung-ujungnya hanya candaan menanyakan nama Ibu, nama Bapak,
 bahkan menanyakan, kamu berapa bersaudara?

Membuka percakapan lebih serius
Tapi rasanya susah, kau menatap, aku pun menatap,
jadinya malu sendiri dan berpaling.
Kupegang saja tanganmu, 
kayaknya hari itu dentak jantung memompa lebih kuat dari yang pertama.
Tanganmu gemetar saat kuelus,
jadinya salah tingkah.
Keringat dingin berkumpul di pelipis kiri
hingga berlari perlahan dan jatuh tepat di telapak tangan
yang sedang menggengam erat tanganmu.

Kumulai lagi candaan lebih serius
menanyakan perasaanmu padaku
hingga bayangan masa depan bila harus bersama.
Saat kuingin mengatakan semua tentang isi hati dan ingin mencium keningmu,
 gemuruh berteriak menyambar-nyambar seluruh tubuh
kemudian berbisik, belum saatnya.
Semua berlalu begitu saja hingga kuantar depan pintu rumahmu.
Sampai jumpa besok. 
30 Juni 2019


Penulis
Fian D.D
















 


18 Maret 2019

Puisi FDD











Kutitipkan Rindu pada Hujan

Telah kusampaikan rindu pada helaan nafas
Kemudian angin bertiup membawa menggumpal di atas awan
Hingga waktu tiba nafas itu turun bersama hujan
Membasahi tubuhmu
Engkau tidak tahu hujan sore itu mengalir rindu
                      Februari 2019


Sampai Tanda Titik

Suatu kali di malam lengan
ada lelaki sedang membaca
cerita cinta masa remaja yang sempat ia tuliskan
pada kertas bergaris kecil
Baris perbaris dibaca perlahan sampai pada tanda titik;
kemudian melanjutkan pada kalimat berikut  berisi kisah asmara pilu
Sempat ada tanda koma
menandakan kisah cinta sempat jeda bersama si gadis
Kini hanya tinggal seruan kalimat doa
berharap  jeda akan menghilang dan melanjutkan kalimat berikut.
                                                                  02 Maret 2018


Kupotong Senja
Suatu senja duduk di tepian kali tak bermuara
Melihat cahaya merah memanggil kerinduan pilu
Tampak cahaya  memudar seketika jam terus berlalu
Dalam hati merenung, kenapa tak kupotong saja senja itu?
Bukan itu tercipta untuk semua orang.

Malam itu cahaya bulan dan bintang bersorak
Menghias langit berteman rindu
Akankah itu ada untukku
Mungkin, bulan mengingat namaku?
Di antara  nama di dunia

Sejenak berpikir, haruskah kusandingkan bulan dan bintang
untuk melukiskan rindu di antara rindu berjuta jiwa.
Ini aneh, sangat aneh
bintang, bulan jauh di sana
Bahkan bermil-mil jarak tempuh

Terdiam sunyi menyadari
Tidak mau menyadingkan rinduku pada jarak bermil di atas sana
Cukup kubayangkan saja sebagai pelita di malam gelap
yang akan selalu kunyalakan setiap malam, bahkan sepanjang hari
Takan kubiarkan redup, kupagari tembok baja
Lalu, dialiri minyak bumi dari pusatnya. 
                                         Februari 2019


Jika Telapak Kakimu
Jika sore berganti maka terjadilah malam
Saat itu warna bekas telapak kaki
pada keramik putih kusam kian menuai
Bekas kaki berukuran senti menjadi mili
meskipun sudah ada pembatas angin menghamburkan telapak kaki
Pada keramik berikut hanya tersisa bekas ibu jari
 besar dan pendek
Mungkin itu jejak jari kaki telunjuk yang ukuran sama
Entalah, pokoknya itu bekas jari kaki dengan telapak
yang menjadi surga buah hatimu
atau mungkin juga itu surga anak-anakku
jika takdirku bersamamu
                                                     04 Maret 2019

Akhir Hidup
Teriakan hari itu memecah kebisuan
hingga melenting gendang telinga rapuh
Terdengar isak tangis terbawa angin mengitari
Tersiar kabar cerita hidup lelaki tiga anak kini telah usai
Surat kabar tak lelah menceritakan kisah tergantung
pada seutas tali nilon di kamar mandi
Terlihat pesan-pesan cerita hidup
tergores pada dinding kamar mandi hijau.
Ma, maafkan papa,
penyakit yang kuderita sungguh menyiksa
 Aku sudah tidak tahan lagi
Biarkan hidupku usai menanggung derita ini.
                                     05 Maret 2019

Takdirku Berkata Demikian
Gadis remaja pejuang keluarga
Mengitari garis-garis hidup pada jurang kemiskinan
Melintasi jalan terjal dan panjang
Berteriak pada subuh dan petang
menjajal keberuntungan sebaskom ikan
Berteriak-berteriak sepanjang jalan
Tak lupa memasang kuping pada pintu-pintu tetangga
Barangkali ada suara sendu pembeli sepanjang jalan

Kini Dia tak lagi menikmati masa kecil
bermain bersama kawan-kawan
Malahan ejekan menjadi teman perjuangan

Hanya senyum simpul ada pada bibir mungil
Menatap dan meratap menerima kenyataan.
                                      07 Maret 2019
Berlarilah
Berlarilah pada jarak tak terisi
Mencari ruang kosong yang belum sempat dimaknai
Mungkin akan menemukan narasi singkat hidup ini
Bila itu narasi usang tak bermakna, lepaskan!
Bila itu narasi baru dan bermakna, nikmati saja!
Bukankah demikian
                             07 Maret 2019

Mencari Rupiah
Kepulan asap bakar sampah mengikuti tiupan angin
Uapan air laut berlaju mendaki awan
Pagi-pagi buta membongkar sunyi
Debu-debu semen menyumbat hidung buruh
Secarik kain diikat menutup kepala
Hanya tersisa mata saja

Matahari pagi terus melaju mencari titik terang
Hingga terik membakar tubuh
Keringat darah menetes mengalir setitik demi setitik
Kaki menopang
Tangan mengangkat
Menggenggam rupiah sampai senja tiba

Gelombang Suara

Telah kudengar suara pilu
Mengetuk-ngetuk gendang telinga
Bertarung dengan gelombang suara lain
 tetapi arah suara itu tidak diketahui
Suara tangisan semakin keras
tetapi tidak ada yang menagis

Rupanya lelaki itu sudah meninggal berbenturan dengan palka kapal
`                                                     12 Maret 2019


 Bayang-Bayang Hidup

Bayang-bayang jarak tempuh semakin tak  terhitung
Melewati lautan, bukit, gunung di jalan yang panjang
Susah dan senang tak mampu lagi kutulis pada lembaran akhir buku ini
Kini hanya tersisa beberapa baris kosong yang tak mungkin memuat seluruh cerita ini
                                                                                                13 Maret 2019

Kali Ini, Lain Kali
Kali ini tidak ada yang menjaring rejeki di antara tumpukan semen
Kali ini tidak ada yang berteriak minta-minta rejeki
karena mungkin sudah punya rejeki sendiri
Kali ini tidak ada yang duduk di dekat gudang
mengamati mobil-mobil pengantar rupiah
Lain kali pasti ada lagi yang berada di tumpukan semen
Lain kali pasti ada yang mencari rejeki karena mungkin rejeki itu sudah habis
Lain kali ada yang duduk di dekat gudang mengamati mobil-mobil pengantar rupiah
                                                             14 Maret 2019



Puisi-puisi terbaru Fransiskus D. Darma (FDD)















15 Februari 2019

PUISI


*Hallo sobat, ini beberapa puisi terbaru. Mungkin agak berlebihan mungkin juga tidak, intinya setiap kata dalam kalimat akan membentuk makna baru tergantung siapa yang menafsir.
Dengan puisi Aku bernyanyi
Dengan puisi Aku berdoa
 (Kutipan kalimat seorang penyair)

Hingga Mata Sayup
Sudah kukatakan rindu ini milikmu
Pada suatu sore tubuh berpeluk alas tikar
Ada rindu tersirat dalam sukma
ketika kubayangkan wajahmu mengalir bersama bulir-bulir hujan di helai daun
kemudian jatuh membentuk lubang kecil dan tak tahu mengalir kemana; rupanya mencari kerinduan
Tidak lagi kubayangkan pada dinding bambu
Pada lantai tanah keras
Pada atap terpal kusam seperti yang pernah kubayangkan; bayanganmu lebih dari itu
Tak pantas jika kusamakan, rupa terlalu elok

Ada rasa cemas bulir-bulir berhenti mengalir
Takut  kehilangan tetesan yang kuperhatikan
Hingga mata ini sayup tidak kupersoalkan, sayang kalau terlewatkan

Wajahmu terus mengalir hingga malam
Hujan jua paham akan derita hingga mengalir terus-menerus
Meskipun hanya kuperhatikan bayang-bayang menari-nari mengikuti cahaya lampu pelita terseok-seok mengikuti arah angin
Itu lebih dari cukup

*Kisah besambung pada puisi Dengarkan Cerita Ini, 11 Februari 2019*
F.D.D


Sumpah Herodias
Cinta terbentur dinding terjal
Saat memberi jalan pada orang banyak
Ketika itu Yohanes tampil di orang banyak memberitakan kabar baik
Lalu raja Herodes berkata” inilah Yohanes yang sudah bangkit dari antara orang mati dan kuasa-kuasa bekerja di dalam-Nya.
Memang kemurkaan masih tertanam jelas dalam diri kita menangkap orang-orang yang tidak bersalah hanya karena keserakahan.
Yohanes harus kehilangan kepala hanya karena sumpah tidak jelas Herodias pada anak perempuan.
Sekejam itukah kekuasaan kalian hingga merelahkan orang tak bersalah di muka umum

Renungan pribadi pada kisah Yohanes dibunuh, 11 Februari 2019
F.D.D
Maafkan
Pohon tua merontok daun sisa pada sebatang tangkai
Terjatuhnya sehelai daun itu
Menari-nari mengikuti irama angin
Terkapar di tanah basah sisa hujan

Dua orang pemuda berlari membawa kapak
Menebang pohon hingga terkoyak
Satu persatu ranting jatuh berhamburan di tanah
Tak pernah mereka pikirkan pohon tua pernah memberi makan untuk keluarganya
Tak pernah mereka pikirkan mungkin pohon itu akan tumbuh tunas baru

Mana mungkin mereka pikirkan itu
Keluarga mereka sudah tak punya uang apalali emas, permata dab bla,bla
selain baju yang melekat pada tubuh

Pohon tua maafkan kami
Tak ada lagi yang tersisa dari pada kami
Semua sudah dirampas hingga tak ada kasih
jika kami tidak menjadikanmu uang
“kata pemuda tak berdaging”.
                                12 Februari 2019
       F.D.D


Mengacak Bola Mata
Sepasang bola mata beradu menatap antara kiri kanan
Melihat senyum simpul gadis remaja
Dilemparkan senyum manja  gaya centil merayu
kadang juga belagu
kadang juga pura-pura lugu
Belahan dagu, lesung pipi bentuk bibir. Serasi!
Gelombang rambut terurai panjang
Lekukan tubuhmu tiada lagi terbayangkan
 Hampir sempurna, ya hampir.
Kedua bola mata lagi-lagi berlomba menatap
Entah keindahan mana yang harus dilihat.
                                                                13 Februari 2019
                                                                F.D.D


DBD ( Dureng Bulan Dua)
Rintik-rintik hujan hadir di bulan Februari
Siang-malam menemani
Gelombang air laur mengamuk
 menyapu bersih keresahan pinggir pantai
Kali, selokan, jalan raya bahkan rumah tegenang
Atap rumah bocor
Setetes demi setetes menampar lantai bahkan muka
Tergambar raut ketakutan   pada setiap doa mohon perlindungan
Hujan terus mengamuk menghamtam seng hingga berlubang
Tanah-tanah tandus terkikis hingga berhamburan
Tebing berbatu memenuhi  tengah jalan
Rumah-rumah sunyi senyap seprti tak berpenghuni
Ratap tangis dalam sukma menemani mimpi-mimpi
                                                                                13 Februari 2019
                                                                                F.D.D
Doa Belum Usai, Tuhan!
Tuhan
Disetiap doa hambamu memohon
Terangilah jalan, berikanlah tongkat penuntun
Semoga kesuksesan berada padaku
Tidak lupa berdoa bagi kedua orangtuaku
Semoga mereka umur panjang
Segala usaha dan karya selalu dilindungi
Masih banyak lagi do’a yang belum diucapkan
Karena hamba yakin Engkau Maha tahu
13 Februari 2019
F.D.D

Nama: Fransiskus D. Darma
Alamat: La’o Lanar, Kel. Wali, Kec. Langke Rembong, Manggarai, NTT




BANG LAWO "BERBURU TIKUS"

    BANG LAWO  Masa kecil menjadi masa yang indah, tidak ada beban berat yang terlintas dalam pikiran hanya ada rasa senang saat kita tert...