31 Maret 2020

Puisi " Mencekam, Maria"




MENCEKAM, MARIA

Maria, cuaca malam ini begitu mencekam
Angin, hujan, disertai kilat senantiasa menegur
Air menetes di celah-celah tiang baja
Dinding kamar basah kuyup
Tetap saja Aku takut meskipun tiang rumah ini dari baja
Gelombang laut perlahan meninggi walaupun tidak terlihat jelas

Suara riuh itu Maria,
menghantam dermaga hingga menembus batas ketakutan
Lampu-lampu suram, penyakit gelap kian kumat
Tak ada kabar yang dapat kubaca

Terjadilah, kini sudah gelap.
                          Reo, 07 Januari 2019




          


Aku Menatapmu

Rasakan sentuhan  jiwa ini
Pada setiap malam Aku bermimpi
tentang celotehmu tiap kali kita duduk.
Aku memelukmu dan kamu pun membalas meskipun masih kaku
Sungguh dunia ini seperti milik kita.
Getaran jantung memompa aliran darah seperti keluar dari tubuh

Kita berteduh di bawah pohon rindang
Menikmati masa sepi yang menjadi ceria ketika bersama
Kemudian sepi lagi, kehabisan kata indahn hari itu.

Kini Aku mulai serius menatap mata, alis, hidung, senyum bibirmu,
sesekali menatap lesung pipi.
Aku menatapmu terus- menerus
Kau membalas tatapanku.
Kemudian berpaling
Tak sanggup rasanya menatapmu terlalu lama.
Kubuka percakapan serius
Ujung-ujungnya hanya candaan menanyakan nama ibu, nama bapak,
 bahkan menanyakan, kamu berapa bersaudara?

Membuka percakapan lebih serius
Tapi rasanya susah, kau menatap, aku pun menatap,
jadinya malu sendiri dan kembali berpaling.
Kupegang saja tanganmu, kayaknya hari itu dentak jantung memompa lebih kuat dari yang pertama.
Tanganmu gemetar saat kuraba 

Keringat dingin berkumpul di pelipis kiri
hingga berlari perlahan dan jatuh tepat di telapak tangan
yang sedang menggengam erat tanganmu.

Mulai lagi candaan lebih serius
menanyakan perasaanmu padaku
hingga bayangan masa depan bila harus bersama.
Saat kuingin mengatakan semua tentang isi hati dan ingin mencium keningmu, hujan berteriak merobek seluruh tubuh
kemudian berbisik, belum saatnya.
Semua berlalu begitu saja hingga kuantar depan pintu rumahmu.


30 Juni 2019

          MUNGKIN LAIN KALI

         Ini kali doa terus disulam pada tiap detak jantung 
         hingga tak ada kata lain.
         Bait-bait doa yang sama, terus mengalir hingga penghujung mata
         Ini kali tidak ada candaan yang seperti waktu lalu
         Ini kali lorong jalanan desa sangat kaku  bagaikan kota mati
         Ini kali, mungkin juga lain kali akan baik-baik saja.
                                  Reo, 01 April 2020




BANG LAWO "BERBURU TIKUS"

    BANG LAWO  Masa kecil menjadi masa yang indah, tidak ada beban berat yang terlintas dalam pikiran hanya ada rasa senang saat kita tert...