15 Februari 2019

PUISI


*Hallo sobat, ini beberapa puisi terbaru. Mungkin agak berlebihan mungkin juga tidak, intinya setiap kata dalam kalimat akan membentuk makna baru tergantung siapa yang menafsir.
Dengan puisi Aku bernyanyi
Dengan puisi Aku berdoa
 (Kutipan kalimat seorang penyair)

Hingga Mata Sayup
Sudah kukatakan rindu ini milikmu
Pada suatu sore tubuh berpeluk alas tikar
Ada rindu tersirat dalam sukma
ketika kubayangkan wajahmu mengalir bersama bulir-bulir hujan di helai daun
kemudian jatuh membentuk lubang kecil dan tak tahu mengalir kemana; rupanya mencari kerinduan
Tidak lagi kubayangkan pada dinding bambu
Pada lantai tanah keras
Pada atap terpal kusam seperti yang pernah kubayangkan; bayanganmu lebih dari itu
Tak pantas jika kusamakan, rupa terlalu elok

Ada rasa cemas bulir-bulir berhenti mengalir
Takut  kehilangan tetesan yang kuperhatikan
Hingga mata ini sayup tidak kupersoalkan, sayang kalau terlewatkan

Wajahmu terus mengalir hingga malam
Hujan jua paham akan derita hingga mengalir terus-menerus
Meskipun hanya kuperhatikan bayang-bayang menari-nari mengikuti cahaya lampu pelita terseok-seok mengikuti arah angin
Itu lebih dari cukup

*Kisah besambung pada puisi Dengarkan Cerita Ini, 11 Februari 2019*
F.D.D


Sumpah Herodias
Cinta terbentur dinding terjal
Saat memberi jalan pada orang banyak
Ketika itu Yohanes tampil di orang banyak memberitakan kabar baik
Lalu raja Herodes berkata” inilah Yohanes yang sudah bangkit dari antara orang mati dan kuasa-kuasa bekerja di dalam-Nya.
Memang kemurkaan masih tertanam jelas dalam diri kita menangkap orang-orang yang tidak bersalah hanya karena keserakahan.
Yohanes harus kehilangan kepala hanya karena sumpah tidak jelas Herodias pada anak perempuan.
Sekejam itukah kekuasaan kalian hingga merelahkan orang tak bersalah di muka umum

Renungan pribadi pada kisah Yohanes dibunuh, 11 Februari 2019
F.D.D
Maafkan
Pohon tua merontok daun sisa pada sebatang tangkai
Terjatuhnya sehelai daun itu
Menari-nari mengikuti irama angin
Terkapar di tanah basah sisa hujan

Dua orang pemuda berlari membawa kapak
Menebang pohon hingga terkoyak
Satu persatu ranting jatuh berhamburan di tanah
Tak pernah mereka pikirkan pohon tua pernah memberi makan untuk keluarganya
Tak pernah mereka pikirkan mungkin pohon itu akan tumbuh tunas baru

Mana mungkin mereka pikirkan itu
Keluarga mereka sudah tak punya uang apalali emas, permata dab bla,bla
selain baju yang melekat pada tubuh

Pohon tua maafkan kami
Tak ada lagi yang tersisa dari pada kami
Semua sudah dirampas hingga tak ada kasih
jika kami tidak menjadikanmu uang
“kata pemuda tak berdaging”.
                                12 Februari 2019
       F.D.D


Mengacak Bola Mata
Sepasang bola mata beradu menatap antara kiri kanan
Melihat senyum simpul gadis remaja
Dilemparkan senyum manja  gaya centil merayu
kadang juga belagu
kadang juga pura-pura lugu
Belahan dagu, lesung pipi bentuk bibir. Serasi!
Gelombang rambut terurai panjang
Lekukan tubuhmu tiada lagi terbayangkan
 Hampir sempurna, ya hampir.
Kedua bola mata lagi-lagi berlomba menatap
Entah keindahan mana yang harus dilihat.
                                                                13 Februari 2019
                                                                F.D.D


DBD ( Dureng Bulan Dua)
Rintik-rintik hujan hadir di bulan Februari
Siang-malam menemani
Gelombang air laur mengamuk
 menyapu bersih keresahan pinggir pantai
Kali, selokan, jalan raya bahkan rumah tegenang
Atap rumah bocor
Setetes demi setetes menampar lantai bahkan muka
Tergambar raut ketakutan   pada setiap doa mohon perlindungan
Hujan terus mengamuk menghamtam seng hingga berlubang
Tanah-tanah tandus terkikis hingga berhamburan
Tebing berbatu memenuhi  tengah jalan
Rumah-rumah sunyi senyap seprti tak berpenghuni
Ratap tangis dalam sukma menemani mimpi-mimpi
                                                                                13 Februari 2019
                                                                                F.D.D
Doa Belum Usai, Tuhan!
Tuhan
Disetiap doa hambamu memohon
Terangilah jalan, berikanlah tongkat penuntun
Semoga kesuksesan berada padaku
Tidak lupa berdoa bagi kedua orangtuaku
Semoga mereka umur panjang
Segala usaha dan karya selalu dilindungi
Masih banyak lagi do’a yang belum diucapkan
Karena hamba yakin Engkau Maha tahu
13 Februari 2019
F.D.D

Nama: Fransiskus D. Darma
Alamat: La’o Lanar, Kel. Wali, Kec. Langke Rembong, Manggarai, NTT




08 Februari 2019

PUISI TERBARU F.D.D






Tak Ada Kabar Bapakku (1)


Lelaki paruh bayah terbaring dikursi kayu panjang, mulut tertutup sehelai kain
Disebelah ada seorang anak duduk di antara pohon pisang
merenget minta dibelikan jajan
Dia hanya menoleh menatap kasihan anaknya
Tak ada uang sepeserpun dalam saku celana tisu kusut
Anaknya terus berteriak minta jajan
Sekali lagi lelaki itu menatap, jangan menangis tidak ada orang yang memberimu uang
Bukan diam anak itu terus berteriak
Sekali lagi menatap lalu berdiri meninggalkan anaknya
Pergi sejauh mungkin hingga tak terdegar lagi kabar.
                                                                01 Februari 2018

Tak Ada Kabar Bapakku (2)

Hari terus berlalu tak ada kabar bapak
Padahal setiap bintang jatuh selalu memohon agar bapak pulang
Tak ada yang memberiku uang
Tak ada yang menemani berburu
Kini satu pekan berlalu, belum juga ada kabar
Setiap sore mama selalu menatap senja
Barangkali merindukan masa duduk bersama di tepi pelabuhan belakang rumah
Bapak, kenapa belum pulang,
Apa rindumu  membatu untuk leuarga?
                                                7 Februari 2018

Ditegur Matahari

Tuhan, pagi ini hambamu bangun terlambat
Bukan disengaja, hanya saja Aku lelah
Sejujurnya malu pada burung-burung, serangga, binatang, dan
Matahari yang menegur saat beranjak siang
Untung saja hari ini libur kalau tidak ini menjadi rasa mundur dalam diri.
                                                                05 Februari 2019

Suara yang Tidak Didengar

Ada suara yang  terdengar tetapi tak dihiraukan
Mengetuk-ngetuk, mengalirkan getaran ke arah gendang telinga
Suara itu kian mendekat, menderap di antara keramik-keramik
Kemudian melenting pada dinding-dinding tembok.
Derap langkah kian mengeras berbenturan pada kaca jendela
Menabrak kursi dan meja hingga hingga ke dapur

Terlihat tikus tua dan muda sedang makan dengan lahap berbaring di atas meja
Lalat-lalat kecil hinggap pada tumpukan sisa makanan tikus,
lalu ditampar, ditendang, dan dicemoohkan
Kalian mengganggu,” kata segerombolan tikus”.
Sisa-sisa makanan kemudian dikumpulkan lagi
Disembunyikan pada lemari tak berlubang
Simpan saja, “ teriak tikus tua”, itu untuk teman kita
Biarkan saja disitu hingga rayap menggerus
Tak sudi itu dimakan kaum melata seperti mereka.
                                05 Februari 2019


Dengarkan cerita Ini

Adindaku sayang
Bukankah pernah Aku katakan padamu tentang rindu
disetiap jarak yang ditebas, disetiap jarak yang harus dipangkas
Bukankah pernah juga kukatakan tentang hati ini milik siapa
Kenapa mukamu masam?
Mengerut  hingga tak terbentuk cantikmu
Sudah kukatakan padamu disetiap pesan sebelum tidur,
rindu ini untuk perempuanku
Akankah Engkau terus seperti ini?

Adinda
Pernahkan Kau bayangkan rindu terbungkus ruang gelap dan sunyi
Hanya menatap langit-langit,  dinding kamar saling beradu,
merebut sepi dan gelisah padaku.
Belum lagi hujan menggertak menghapus jejak-jejak
Angin serta kilat merayu menghantam, mengoyak perisai cerita
Harus kujelaskan apalagi!!
Sudah banyak kata, kalimat yang kuceritakan,
hingga  mata ini tak mampu membaca sekali lagi.
Tangan ini tak mampu lagi menulis
Mulut tak lagi bersuara

Semoga, akan kau temukan dimasa akan datang setelah selesai kutulis
Mungkin juga membaca cerita baru yang masih kurenungkan.


Sisi Lain

Renungkan ketika suatu pagi setelah bangun lalu berkaca
Tak ada wajahmu saat Kau bercermin
Yang tampak hanya bayangan lain menatap sinis penuh curiga
Sadarlah, ini bukan dirimu
Cermin ini bukan milikmu
Engkau pun heran seakan tidak percaya
Mana mungkin cermin dalam kamar sendiri milik bayangan lain

Bayangan siapa itu?
Senyum sinis mengalirkan perasaan emosi kepadaku
                               
                                                                                   06 Februari 2019
                                                             

Rintik-Rintik Hujan

Gerimis Mengantar Sunyi
Bulir-bulir hujan menetas mengalir pada tiang-tiang besi
Melompat-lompat menuruni anak tangga hingga berserakan di lantai gudang
Sedikit demi sedikit mengikis kenangan
melewati lubang-lubang paralon ventilasi dasar lantai
Senyum pahit buruh memperhatikan gerimis mengalir menahan rejeki
Canda tawa hiasan belaka mengusir kegundaan
Lalu lalang kendaraan kecil bukan tujuan,
mereka hanya memperhatikan mobil-mobil besar pengantar rindu kesejahteraan
rintik-rintik hujan terus mengalir
Gemercik air melenting pada daun kresem menetes jatuh ke tanah mencari kehidupan

                                                    04 Februari 2018



Pengantar Kerinduan

Ketika matahari perlahan berjalan ke ufuk Barat,
orang berbondong-bondong mencari tempat terindah menikmatinya.
Ketika itu juga sepasang kekasih berlari menikmati senja dari pinggir dermaga
Berpelukan menikmati sisa waktu hari itu
Entah apa yang mereka bicarakan, kelihatan mesra sekali
Dari sudut pagar di antara celah daun,
bayangan seorang lelaki memperhatikan kemesraan sepasang kekasih
Rupanya terbayang kisah sepuluh tahun lalu saat duduk di tempat  sama bersama bayangan kekasih yang kini memilih seribu kehidupan baru
                                                07 Februari 2019




Nama: Fransiskus D. Darma (FDD)
Alamat : La’o Lanar, Kel. Wali, Kec. Langke Rembong, Kab. Manggarai, NTT










BANG LAWO "BERBURU TIKUS"

    BANG LAWO  Masa kecil menjadi masa yang indah, tidak ada beban berat yang terlintas dalam pikiran hanya ada rasa senang saat kita tert...