*Hallo
sobat, ini beberapa puisi terbaru. Mungkin agak berlebihan mungkin juga tidak,
intinya setiap kata dalam kalimat akan membentuk makna baru tergantung siapa
yang menafsir.
Dengan
puisi Aku bernyanyi
Dengan
puisi Aku berdoa
(Kutipan kalimat seorang penyair)
Hingga Mata Sayup
Sudah
kukatakan rindu ini milikmu
Pada suatu
sore tubuh berpeluk alas tikar
Ada rindu
tersirat dalam sukma
ketika kubayangkan
wajahmu mengalir bersama bulir-bulir hujan di helai daun
kemudian
jatuh membentuk lubang kecil dan tak tahu mengalir kemana; rupanya mencari
kerinduan
Tidak lagi
kubayangkan pada dinding bambu
Pada
lantai tanah keras
Pada atap
terpal kusam seperti yang pernah kubayangkan; bayanganmu lebih dari itu
Tak pantas
jika kusamakan, rupa terlalu elok
Ada rasa
cemas bulir-bulir berhenti mengalir
Takut kehilangan tetesan yang kuperhatikan
Hingga
mata ini sayup tidak kupersoalkan, sayang kalau terlewatkan
Wajahmu
terus mengalir hingga malam
Hujan jua
paham akan derita hingga mengalir terus-menerus
Meskipun
hanya kuperhatikan bayang-bayang menari-nari mengikuti cahaya lampu pelita
terseok-seok mengikuti arah angin
Itu lebih
dari cukup
*Kisah
besambung pada puisi Dengarkan Cerita
Ini, 11 Februari 2019*
F.D.D
Sumpah Herodias
Cinta
terbentur dinding terjal
Saat
memberi jalan pada orang banyak
Ketika
itu Yohanes tampil di orang banyak memberitakan kabar baik
Lalu
raja Herodes berkata” inilah Yohanes yang sudah bangkit dari antara orang mati
dan kuasa-kuasa bekerja di dalam-Nya.
Memang
kemurkaan masih tertanam jelas dalam diri kita menangkap orang-orang yang tidak
bersalah hanya karena keserakahan.
Yohanes
harus kehilangan kepala hanya karena sumpah tidak jelas Herodias pada anak
perempuan.
Sekejam
itukah kekuasaan kalian hingga merelahkan orang tak bersalah di muka umum
Renungan
pribadi pada kisah Yohanes dibunuh, 11 Februari 2019
F.D.D
Maafkan
Pohon
tua merontok daun sisa pada sebatang tangkai
Terjatuhnya
sehelai daun itu
Menari-nari
mengikuti irama angin
Terkapar
di tanah basah sisa hujan
Dua
orang pemuda berlari membawa kapak
Menebang
pohon hingga terkoyak
Satu
persatu ranting jatuh berhamburan di tanah
Tak
pernah mereka pikirkan pohon tua pernah memberi makan untuk keluarganya
Tak
pernah mereka pikirkan mungkin pohon itu akan tumbuh tunas baru
Mana
mungkin mereka pikirkan itu
Keluarga
mereka sudah tak punya uang apalali emas, permata dab bla,bla
selain
baju yang melekat pada tubuh
Pohon
tua maafkan kami
Tak
ada lagi yang tersisa dari pada kami
Semua
sudah dirampas hingga tak ada kasih
jika
kami tidak menjadikanmu uang
“kata
pemuda tak berdaging”.
12 Februari 2019
F.D.D
Mengacak Bola Mata
Sepasang
bola mata beradu menatap antara kiri kanan
Melihat
senyum simpul gadis remaja
Dilemparkan
senyum manja gaya centil merayu
kadang
juga belagu
kadang
juga pura-pura lugu
Belahan
dagu, lesung pipi bentuk bibir. Serasi!
Gelombang
rambut terurai panjang
Lekukan
tubuhmu tiada lagi terbayangkan
Hampir sempurna, ya hampir.
Kedua
bola mata lagi-lagi berlomba menatap
Entah
keindahan mana yang harus dilihat.
13
Februari 2019
F.D.D
DBD ( Dureng Bulan Dua)
Rintik-rintik
hujan hadir di bulan Februari
Siang-malam
menemani
Gelombang
air laur mengamuk
menyapu bersih keresahan pinggir pantai
Kali,
selokan, jalan raya bahkan rumah tegenang
Atap
rumah bocor
Setetes
demi setetes menampar lantai bahkan muka
Tergambar
raut ketakutan pada setiap doa mohon
perlindungan
Hujan
terus mengamuk menghamtam seng hingga berlubang
Tanah-tanah
tandus terkikis hingga berhamburan
Tebing
berbatu memenuhi tengah jalan
Rumah-rumah
sunyi senyap seprti tak berpenghuni
Ratap
tangis dalam sukma menemani mimpi-mimpi
13
Februari 2019
F.D.D
Doa Belum Usai, Tuhan!
Tuhan
Disetiap
doa hambamu memohon
Terangilah
jalan, berikanlah tongkat penuntun
Semoga
kesuksesan berada padaku
Tidak
lupa berdoa bagi kedua orangtuaku
Semoga
mereka umur panjang
Segala
usaha dan karya selalu dilindungi
Masih
banyak lagi do’a yang belum diucapkan
Karena
hamba yakin Engkau Maha tahu
13 Februari 2019
F.D.D
Nama: Fransiskus D. Darma
Alamat: La’o Lanar, Kel. Wali, Kec.
Langke Rembong, Manggarai, NTT



