.
Matahari
terbangun dari tidurnya semabari tertawa bahagia. Ayam bernyayi bersama
kawan-kawannya menyambut pagi yang
cerah. Creeeeng…………. Suara hanphone butut yang melengking membakar telinga anak
manusia yang masih tertidur pulas. Bangun,,,bangun ‘’ Kata adikku sebelum
berangkat ke sekolah. Terpaksa aku harus bangun, sebab kalau tidak pasti suara
yang lebih keras akan mambakar telinga.
Semua
seperti biasa, bangan pagi langsung mandi setelah itu langsung ke kampus. Oh
iya, hari ini hari Sabtu, artinya tidak ada proses perkuliahan, hanya ada ada
kegiatan ekstrakulikuler. Meskipun demikian aku tetap bersemangat, walau hanya
kegiatan ekstra bukan berarti malas ke kampus.
Kegiatan
hari itu berjalan dengan lancar tanpa ada hambatan yang berarti, sepatutnya
kita mengucapkan syukur kehadirat Tuhan atas berkat yang masih dilimpahkan pada
anak manusia yang hina ini. Panas membakar kulit, semangat tak pernah surut tuk
pulang ke rumah. Akhirnya kegiatan ekstra sudah selesai untuk hari ini,
setibanya di rumah aku langsung melamparkan tubuhku ke atas ranjang yang
menyambut dengan muka masam, karena tak sanggup menahan bau badan setelah aku
kegiatan ekstra. Hahahahahaha.
Tok….Tok………Tok…………
Aku
langsung beranjak dari tempat tidur menuju pintu belakang, ternyata adik
sepupuku. Selamat siang, “ suara yang terucap dari gua yang penuh kebisingan.
Kenapa saya katakan demikian, sebabnya dia anak laki-laki dalam keluarga yang
bawel, manja, dan nakal. Apa yang diinginkannya harus terpenuhi, itulah mengapa
dia di sebut sebagai orang yang bawel, manja dan beberapa julukan yang lainnya.
Memang sikap manjanya ini dimaklumi keluarganya, ini dikarenakan dia
ditinggalkan ayahnya yang berpulang ke rumah bapa sewaktu masih kecil. Dulu dia
selalu dimanjakan ketika ayahnya pulang kerja, tidak heran kalau sekarang dia
manja dengan ibunya.
Beberapa
tahun lalu sewaktu kecil, dia memaksa
ibunya untuk membeli sepeda keren, permintaannya pun dituruti meskipun harus
terpaksa dibelikan oleh ibunya mengingat keuangan yang semakin menipis. Setelah
dibelikan tidak lama kemudian sepeda rusak. Permintaannya, harus diperbaiki
secepat mungkin. Setelah diperbaiki eh rusak lagi, saya tidak paham, sebenarnya
dia bisa atau tidak bermain sepeda.
Bulan
lalu, ada permintaan lain darinya untuk dibelikan motor. Permintaan yang sangat
berat bagi orang tuanya mengingat
usianya sudah tua dengan tulang yang kropos untuk mencari uang. Untunglah dia
punya tiga saudari yang kerja di tanah perantaun dan selalu mengirimkan uang
untuk kebutuhan mereka yang di kampung. Tanpa uang tidak mungkin bisa makan.
Memang sih ada kebun kecil untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi itu
tidak cukup untuk kebutuhan sekolahnya dan saudari satu-satunya yang tinggal
dengan ibunya.
Perjuangan
sang ibu untuk memenuhi kebutuhan anaknya sangat berat, membanting tulang sudah
pasti dilakukan untuk masa depan anaknya yang cerah. Hujan, panas, badai dan
tantangan lainnya bukan halangan lagi untuk dirinya. Yang penting anaknya bisa
makan dan bisa bersekolah. Memang tak bisa dimungkiri, kasihnya begitu besar
untuk anak- anaknya dan tidak bisa dibalas dengan hal apapun. Sebagai seorang
anak kita harus mencintai ibu kita, dengan cinta itu hatinya pasti tenang meskipun begitu berat
tembok yang harus dilalui.
Motor
yang diimipikan Yohan sudah dibelikan. Tentu dia senang sekali , permintaanya
dikabulkan.
Setelah
berbicara cukup lama dengan aku, Yohan kembali ke rumah untuk persiapan acara
sebentar malam. Aku pun tidur, ranjang
mengantarkanku dalam dunia mimpi yang penuh warna. Cerita yang telah lalu
seakan menghampiri, dunia mimpi memang seperti itu terkadang apa yang telah
diperbuat pada hari sebelumnya akan teringat di dunia mimpi.
Matahari
kembali ke persembunyian setelah cukup lama menampakan diri pada orang asing
yang berlalu lalang dengan bantuan sinarnya yang amat terang. Itu artinya, bumi
kembali gelap, hanya sedikit orang yang
berjalan dalam kegelapan. Sementara itu seluruh
keluarga kami bergegas ke rumahnya Yohan, persiapan pun dilakukan
meskipun hanya persiapan yang sedarhana.
Malam
hari ini suasananya riuh, maklumlah seluruh anggota keluarga berkumpul bersama
dalam acara wuat wa’i ( acara dalam
lingkungan adat Manggarai untuk melepas anak yang hendak bersekolah di tanah
perantaun). Meskipun suasana riuh, pasti hati tetap sedih, seorang anak akan
pergi ke tempat perantaun yang jauh terhalang gunung dan lautan yang begitu
luas. Mengingat Yohan tipe anak yang bawel, nakal dan manja di mata keluarga,
namun kami yakin ketika dia di tanah orang pasti sikapnya akan berubah dan
dewasa. Harapan
akan keberhasilan Yohan begitu besar di mata keluarganya, cita-cita, doa selalu
terpampang di setiap raut wajah angggota keluarga yang hadir.
Permohonan
kepada leluhur untuk perlindungan dalam acara ini pun dilakukan, agar mereka
beserta Yohan dalam perjalanan. Tidak lupa pula doa dipanjatkan kepada yang
Maha Kuasa untuk perlindungan dalam setiap langkah anak manusia.
Malam
semakain larut, hawa dingin menusuk
kulit sementara itu hati setiap orang
semakin gelisah menatap perpisahan yang kini tinggal hitungan jam. Acara pun
sudah selesai, kini saatnya makan bersama sebelum berpisah. Begitu banyak masukan
dari anggota keluarga untuk dia pada malam hari itu. Berangkat dengan sejuta
harapan pulang dengan masa depan yang lebih cerah” kira-kira itulah yang dapat
dipetik dari harapan anggota keluarga.
Tidak terasa
waktu mununjukan pukul 12.00 Wita, iringan kata perpisahan mulai terucap.
Sementara itu, orang-orang mulai beranjak dari tempat duduknya dan pulang ke
rumah masing-masing. Akupun pulang bersama kedua orang tuaku, dalam perjalanan
terselimut ucapan doa untuk anak dan adik kami, kelak menjadi orang berguna
bagi keluarga.
Bulan
tertidur dengan selimut yang hangat dan sejuta harapan kami. Tidak beberapa
lama kemudian matahari bangkit dari persembunyiannya dan tersenyum kaku
mengawali hari dan akan melihat anak manusia pergi dengan sejuta harapan dan doa.
Sinarnya mampu menghibur sedikit hati yang bersedih saat melihat hati yang meratap.
Kira-kira
tepat pukul 10.00 Wita, Yohan berangkat ke palabuhan dengan mobil travel
hitam melaju kencang tanpa menengok mereka yang sedang menangis. Suasana sedih tak
terhindarkan saat perpisahan ada di depan mata. Setiap tangisan bukan hal
biasa, namun beris doa dan harapan kelak seorang anak akan menjadi orang yang
berguna bagi keluarga maupun orang lain.
Fransiskus D Darma
