07 Agustus 2016

CERPEN DOA



DOA
.
 

Matahari terbangun dari tidurnya semabari tertawa bahagia. Ayam bernyayi bersama kawan-kawannya  menyambut pagi yang cerah. Creeeeng…………. Suara hanphone butut yang melengking membakar telinga anak manusia yang masih tertidur pulas. Bangun,,,bangun ‘’ Kata adikku sebelum berangkat ke sekolah. Terpaksa aku harus bangun, sebab kalau tidak pasti suara yang lebih keras akan mambakar telinga.
Semua seperti biasa, bangan pagi langsung mandi setelah itu langsung ke kampus. Oh iya, hari ini hari Sabtu, artinya tidak ada proses perkuliahan, hanya ada ada kegiatan ekstrakulikuler. Meskipun demikian aku tetap bersemangat, walau hanya kegiatan ekstra bukan berarti malas ke kampus.
Kegiatan hari itu berjalan dengan lancar tanpa ada hambatan yang berarti, sepatutnya kita mengucapkan syukur kehadirat Tuhan atas berkat yang masih dilimpahkan pada anak manusia yang hina ini. Panas membakar kulit, semangat tak pernah surut tuk pulang ke rumah. Akhirnya kegiatan ekstra sudah selesai untuk hari ini, setibanya di rumah aku langsung melamparkan tubuhku ke atas ranjang yang menyambut dengan muka masam, karena tak sanggup menahan bau badan setelah aku kegiatan ekstra. Hahahahahaha.
Tok….Tok………Tok…………
Aku langsung beranjak  dari tempat tidur  menuju pintu belakang, ternyata adik sepupuku. Selamat siang, “ suara yang terucap dari gua yang penuh kebisingan. Kenapa saya katakan demikian, sebabnya dia anak laki-laki dalam keluarga yang bawel, manja, dan nakal. Apa yang diinginkannya harus terpenuhi, itulah mengapa dia di sebut sebagai orang yang bawel, manja dan beberapa julukan yang lainnya. Memang sikap manjanya ini dimaklumi keluarganya, ini dikarenakan dia ditinggalkan ayahnya yang berpulang ke rumah bapa sewaktu masih kecil. Dulu dia selalu dimanjakan ketika ayahnya pulang kerja, tidak heran kalau sekarang dia manja dengan ibunya.
Beberapa tahun lalu sewaktu  kecil, dia memaksa ibunya untuk membeli sepeda keren, permintaannya pun dituruti meskipun harus terpaksa dibelikan oleh ibunya mengingat keuangan yang semakin menipis. Setelah dibelikan tidak lama kemudian sepeda rusak. Permintaannya, harus diperbaiki secepat mungkin. Setelah diperbaiki eh rusak lagi, saya tidak paham, sebenarnya dia bisa atau tidak bermain sepeda.
Bulan lalu, ada permintaan lain darinya untuk dibelikan motor. Permintaan yang sangat berat bagi  orang tuanya mengingat usianya sudah tua dengan tulang yang kropos untuk mencari uang. Untunglah dia punya tiga saudari yang kerja di tanah perantaun dan selalu mengirimkan uang untuk kebutuhan mereka yang di kampung. Tanpa uang tidak mungkin bisa makan. Memang sih ada kebun kecil untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi itu tidak cukup untuk kebutuhan sekolahnya dan saudari satu-satunya yang tinggal dengan ibunya.
Perjuangan sang ibu untuk memenuhi kebutuhan anaknya sangat berat, membanting tulang sudah pasti dilakukan untuk masa depan anaknya yang cerah. Hujan, panas, badai dan tantangan lainnya bukan halangan lagi untuk dirinya. Yang penting anaknya bisa makan dan bisa bersekolah. Memang tak bisa dimungkiri, kasihnya begitu besar untuk anak- anaknya dan tidak bisa dibalas dengan hal apapun. Sebagai seorang anak kita harus mencintai ibu kita, dengan cinta itu  hatinya pasti tenang meskipun begitu berat tembok yang harus dilalui.
Motor yang diimipikan Yohan sudah dibelikan. Tentu dia senang sekali , permintaanya dikabulkan. 
Setelah berbicara cukup lama dengan aku, Yohan kembali ke rumah untuk persiapan acara sebentar malam. Aku pun  tidur, ranjang mengantarkanku dalam dunia mimpi yang penuh warna. Cerita yang telah lalu seakan menghampiri, dunia mimpi memang seperti itu terkadang apa yang telah diperbuat pada hari sebelumnya akan teringat di dunia mimpi.
Matahari kembali ke persembunyian setelah cukup lama menampakan diri pada orang asing yang berlalu lalang dengan bantuan sinarnya yang amat terang. Itu artinya, bumi kembali gelap, hanya sedikit orang  yang berjalan dalam kegelapan. Sementara itu seluruh  keluarga kami bergegas ke rumahnya Yohan, persiapan pun dilakukan meskipun hanya persiapan yang sedarhana.
Malam hari ini suasananya riuh, maklumlah seluruh anggota keluarga berkumpul bersama dalam acara wuat wa’i ( acara dalam lingkungan adat Manggarai untuk melepas anak yang hendak bersekolah di tanah perantaun). Meskipun suasana riuh, pasti hati tetap sedih, seorang anak akan pergi ke tempat perantaun yang jauh terhalang gunung dan lautan yang begitu luas. Mengingat Yohan tipe anak yang bawel, nakal dan manja di mata keluarga, namun kami yakin ketika dia di tanah orang pasti sikapnya akan berubah dan dewasa. Harapan akan keberhasilan Yohan begitu besar di mata keluarganya, cita-cita, doa selalu terpampang di setiap raut wajah angggota keluarga yang hadir.
Permohonan kepada leluhur untuk perlindungan dalam acara ini pun dilakukan, agar mereka beserta Yohan dalam perjalanan. Tidak lupa pula doa dipanjatkan kepada yang Maha Kuasa untuk perlindungan dalam setiap langkah anak manusia.
Malam semakain larut, hawa dingin  menusuk kulit  sementara itu hati setiap orang semakin gelisah menatap perpisahan yang kini tinggal hitungan jam. Acara pun sudah selesai, kini saatnya makan bersama sebelum berpisah. Begitu banyak masukan dari anggota keluarga untuk dia pada malam hari itu. Berangkat dengan sejuta harapan pulang dengan masa depan yang lebih cerah” kira-kira itulah yang dapat dipetik dari harapan anggota keluarga.
Tidak terasa waktu mununjukan pukul 12.00 Wita, iringan kata perpisahan mulai terucap. Sementara itu, orang-orang mulai beranjak dari tempat duduknya dan pulang ke rumah masing-masing. Akupun pulang bersama kedua orang tuaku, dalam perjalanan terselimut ucapan doa untuk anak dan adik kami, kelak menjadi orang berguna bagi keluarga.
Bulan tertidur dengan selimut yang hangat dan sejuta harapan kami. Tidak beberapa lama kemudian matahari bangkit dari persembunyiannya dan tersenyum kaku mengawali hari dan akan melihat anak manusia pergi dengan sejuta harapan dan doa. Sinarnya mampu menghibur sedikit hati yang bersedih saat melihat  hati yang meratap.
Kira-kira tepat pukul 10.00 Wita, Yohan berangkat ke palabuhan dengan mobil travel hitam melaju kencang tanpa menengok mereka yang sedang menangis. Suasana sedih tak terhindarkan saat perpisahan ada di depan mata. Setiap tangisan bukan hal biasa, namun beris doa dan harapan kelak seorang anak akan menjadi orang yang berguna bagi keluarga maupun orang lain.






 Fransiskus  D Darma






puisi


TUHANHANTU
( FIAN DARMA)

 
TUHAN
HANTU
TUHANTU
HANTUHAN

HANTU
TUHAN
HANTUHAN
TUHANTU

TUHAN DAN HANTU
HANTU DAN TUHAN
TUHAN?
HANTU?

SIAPAKAH TUHAN YANG TAK TERLIHAT?
YANG SELALU DALAM JALAN KEBENARAN
HANTUKAH YANG SELALU BERDOSA?
MENGANTARKAN MANUSIA DALAM JALAN KEGELAPAN

TUHAN DAN HANTU MEMILIKI KEKUASAAN

TUHAN BERADA PADA JALAN  TERANG
MENERANGI JALAN GELAP
HANTU BERADA PADA JALAN GELAP
MENGHAPUS JEJAK TERANG TERCIPTA

BENARKAH ADA TUHAN?
TUHAN SELALU BERCIRI BAIK
BENARKAH ADA HANTU?
SELALU DILIHAT JAHAT

TUHAN DAN HANTU
MEMILIKI KEKUASAAN
KUASA GELAP
KUASA TERANG

cerpen Libur Untuk Bekerja


LIBUR UNTUK BEKERJA
                                                                    
Tak ada hal lain yang saya lakukan selama sepekan ini. Bangun pagi, cuci muka dan langsung makan.  Tidak ada waktu untuk berjemur matahari seperti orang lain, bahkan untuk makan pun harus terburu- buru seperti dikejar waktu. Liburan kali ini begitu bermanfaat bagiku, ini dikarenakan aku berkerja dengan bapakku selama liburan. Meskipun aku menyadari, pekerjaan kali ini menyita banyak waktu sebagai kuli bangunan dan tentunya menguras banyak tenaga.
Bukan hanya aku yang bekerja sebagai kuli bangunan, tetapi banyak anak-anak seusiaku. Hal semacam ini sudah terbiasa bagi anak-anak di kampung. Biasanya kami bekerja mencari uang untuk membeli buku selain membantu kedua orang tua. Kami benar- benar menyadari apa yang kami rasakan dengan keadaan yang ada, untuk bertahan hidup kita harus berjuang dengan kerasnya zaman yang tidak kompromi terhadap  orang malas. Tidak beker berarti tidak makan, itulah yang kami rasakan saat ini. Rasa sakit dan lelah tidak lagi kami hiraukan saat tulang-tulang yang yang belum kuat dipaksakan bertarung meskipun belum kokoh. Tangan dan kaki dipaksa bergerak saat badan terpenjara dalam lelah untuk mendapat sesuatu yang lebih berarti. Seandainya hidup ini seperti mereka-mereka yang hidup di atas kenyamanan pasti tak sesulit yang dialami sekarang. Aku menyadari, tak ada yang kekal di dunia ini, harta, jabatan, dan kehormatan hanya fana dan tidak berarti di dunia akhirat.
Segala sesuatu yang ada diciptakan sesuai dengan perutukan dan bukan untuk manusia yang rakus. Hanya saja orang seringkali melihat segala sesuatu yang indah sebagai sesuatu yang harus dimiliki. Hidupku, beginilah adanya. Meskipun hidup dengan segala keterbatasan namun aku menyadari inilih hidup yang harus kujalani.
  
Tak ada yang tahu, apa yang akan terjadi hari ini dan esok. Setiap hari alur cerita berganti dengan cerita yang berbeda.
Saat ini hanya kuli, hari nanti yakin dan percaya akan lebih baik. 
 Bukan soal apa yang kita jalani yang menjadi masalahnya tetapi bagaimana kita menikmati dan menjalani apa yang kita lakukan. Bukan soal berapa upah yang kita terima sebagai buru tetapi apa yang kita dapat sebagai hasil belajar untuk masa akan datang. Terkadang kita hanya prioritaskan apa yang kita dapatkan saat itu dan tidak memikirkan kemungkinan yang lebih baik yang akan datang.
Ternyata ada juga orang memanfaatkan pada prinsip pengalaman lebih penting, dengan cara memberi gaji yang rendah pada burunya tak memikirkan apakah itu cukup untuk sepiring nasi.  Bukan tidak mungkin yang dicari para buruh hanyalah bungkusan nasi sisanya kebutuhan sekolah dan sehari-hari.
Setelah sore hari sekitar pukul 17.30 Wita, aku dan bapak pulang, begitu juga dengan para pekerja lain.
Pekerjaan hari ini sungguh melelahkan. Kaki, tangan, dan punggung jadi lemas.  Pekerjaan ini menyadarkanku untuk mendapatkan sesuatu harus bekerja sepenuh hati. Kebutuhan kita tidak kan terwujud sepenuhnya. Kerasnya dunia selalu menuntut setiap individu bersaing untuk mendapatkan hasilnya, karena itu orangtua selalu menyarankan untuk bersekolah dengan baik. Barangkali dengan sekolah bisa menjamin kehidupan yang lebih baik dari kehidupan  mereka yang selalu bergelut dengan keras dunia. Nasihat inilah yang menjadi motivasi untuk kami sebagai anak.
Setibanya di rumah, aku langsung mandi meskipun badan ini malu bersetuhan dengan air yang begitu dingin. Memang, air di daerah ini sangat dingin makanya kotaku ini dijuluki kota dingin yang berada di daerah pegunungan. Kota dingin ini memberi kami kehidupan yang lumayan layak. Banyak tanaman yang bisa berkembang terutama komoditas sayur-sayuran dan inilah yang menjadi andalan di daerah kami. Sayuran apa saja bisa tumbuh dan menghasilkan uang bagi para petani yang menekuni bidang ini. Uang yang dihasilkan dari berjualan sayur tidak seberapa, paling tidak cukup untuk kami yang ada di sekitar daearah.
Bukan hanya saya yang membantu orangtua untuk menghasilkan uang, anak-anak di desa kami berlomba-lomba membantu keluargan dengan caranya masing-masing yang bisa dilakukan. Jujur, aku sangat bangga dengan anak-anak di sini, meskipun tidak seberapa yang mereka lakukan namun sangat membantu orang lain. Begitu masa sekolah tiba, mereka menyiapkan perlengkapan sekolah dengan usaha mereka. Ada kecenderungan dalam diri anak di desa ini yang sulit diubah, dengan mencari uang sendiri mereka menjadi perokok dan peminum usia dini yang berbahaya untuk kesehatan. Inilah hal negative dari apa yang mereka lakukan. Untunglah sampai saast ini saya belum menjadi perokok seperti mereka begitu pula dengan adik-adik saya berkata arahan dari kedua orangtua yang senantiasa membimbing anak-anaknya. Bukan berarti anak- anak yang lain tidak dibimbing orangtuanya tetapi mereka merokok dan minum moke secara sembunyi- sembunyi.
Malam harinya kami berkumpul dengan anggota keluarga, canda tawa selalu menghiasi malam bersama bintang-bintang yang selalu setia menghiasi langit dan bulan tetap setia menagawasi bintang- bintang di langit. Biasnya malam seperti ini kami biasa merefleksi apa yang telah kami lakukan pada siang hari tadi, apakah sudah benar atau masih ada lubang harus diperbaiki. Dengan seperti ini kami bisa melakukan hal yang lebih baik pada hari berikutnya.
Rupanya sang malam mulai kelelahan  menemani kami malam ini dan butuh istrahat. Kami pun begitu, mata mulai sayup menatap satu sama lain dan butuh beristrahat   mengingat besok harus bekerja. Saya terbangun dari tidur dan segera mengangkat semen dan menimba air untuk mencampur semen. Air saya timba terjatuh dan membasi kaki saya, di situ saya merasaka dingin yang begitu menyengat kulit. Sentak saya terbangun, ternyata cuman mimpi menjelang pagi. Saat itu saya berpikir, dalam mimpi kadang bekerja yang menambah lelah setiap pemimpi.  Tidak lama setelah itu aku kembali ngorok menikmati waktu yang tersisa sebelum bekerja.









cerpen Mimpi yang Tak Terwujud


Mimpi Tak Terwujud
(Fian darma)
Celana tisu hitam,  berkemeja, dan bersepatu kulit hitam yang mengkilat. Saat  itu aku berjalan mengitari daerah Ruteng dengan sepeda motor laki yang kugunakan, menambah menambah aura ketampananku. Aku melihat di samping kiri dan kanan melambaikan tangan seperti menyambut kedatangan artis yang tampan. Begitu banyak para cewek  cantik meyiapkan buku dan ponsel untuk tanda tangan dan berfoto dengan saya. Setiap orang berteriak memanggil nama saya,,,,, Amir,,,Amir,,,Amir.
Susah ya jadi orang terkenal. Kemana-mana selalu dikerumuni orang banyak.
Apa yang kuinginkan pasti bisa kudapatkan, kalau kata orang sih, hidupku ini beralaskan uang dan bermandikan emas. Setiap yang aku mau selalu dengan modal ketampananku untuk mengisi acara-acara di Tv. Mobilku banyak, harta melimpah seperti lagunya om Iwan.
Aku tersentak dari tempat tidur, membanyangkan semua yang telah aku pikirkan secara matang.
Busettttt
Ternyata semua yang aku pikirkan cuma mimpi, nasib, nasib. Memang nasib oranng susah selalu berkhayal yang indah-indah saja. Alasanya ya, tidak lain tidak bukan adalah  bosan dengan hidup susah yang selalu berkekurangan.
Celana tisu, berkemaja,  sepatu kulit, bermotor, banyak penggemar, uang dan emas hanya angan- angan dalam mimpi di siang bolong saat sedang istrahat kerja. Kapan ya, saya bisa memiliki semua itu? Sebenarnya bosan juga dengan berkhayal yang tak pernah terwujud. Dengan bekerja keras, membanting tulang sana sini, pergi pagi pulang malam, eh maksud saya pergi pagi pulang pagi supaya lebih berkesan tetapi tetap saja tidak bisa mewujudkan apa yan saya inginkan.
Kata orang sih, hidup ini sesuai garis tangan. Kalau sudah ditakdirkan untuk susah, maka hidup akan terus-terusan susah. Ya, paling tidak ada benarnya, apa yang aku alami saat ini merupakan gambaran hidupku untuk seterusnya. Bukan berarti saya menyerah dan berputus asa, memang benigilah hidupku.
Sebaliknya, orang kaya, akan kaya terus-menerus  sampai tujuh turunanan bahkan sampai dunia kiamat  mereka akan tetap akan kaya  mungkin juga mereka bisa akaya di dunia akhirat. Mereka bisa melakukan apa saja dengan uang yang mereka miliki termasuk harga diri orang yang bisa dibeli. Tidur beralaskan uang bukan sebuah impian tetapi kenyataan.
Terkadang saya berpikir, Tuhan memang tidak adil dengan saya yang selalu berkekurangan dan tak punya apa-apa. Bukan soal harta saja Tuhan tidak adil bahkan juga perkara lainnya. Orang yang jahat di beri umur panjang sedangkan orang yang baik hanya singkat saja mereka  menikmati hidup.  Hhhmhmhm, seperti yang kukatakan tadi, memang beginilah hidup masalah adil dan tidak adil buksn masalah yang baru untuk kami kaum yang tertindas.
Sore hari itu aku melanjutkan pekerjaan dengan beberapa orang lainnya, ada bapa  Man, bapa soni, bapa Reni dan beberapa anak-anak yang sempat ikut. Kami pun berangkat ke gudang penyimpanan pupuk di derah Bunga Indah tepatnya di desa Mawar. Kurang lebih ada sekitar 50 karung pupuk yang kami angkut dan dibagikan pada kelompok tani pada daerah yang telah ditentukan sesuai dengan kelompok mereka masing-masing. Setelah semuanya diangkut, langsung diantar ke rumah masing-masing. Pekerjaan yang melelahkan, bukan perkara mudah mengangkat puluhan karung pupuk yang beratnya berkisar 30 sampai 40 kg/ karung.  Beban berat yang harus kami pikul tidak menjadi masalah, yang penting kami lakukan secara bersama-sama.
Sekitar pukul 16.00 Wita, pembagian telah selesai dan kamipun pulang ke rumah masing-masing. Rasanya badan terkurung dalam rasa lelah yang mendera akibat aktivitas hari ini. Malam semakin larut, aku harus tidur, mengingat esok harus kerja lagi. Mimpi kembali mengantar saya dengan tisu hitam, berkemeja, sepatu kulit dan motor laki yang saya pakai. 




BANG LAWO "BERBURU TIKUS"

    BANG LAWO  Masa kecil menjadi masa yang indah, tidak ada beban berat yang terlintas dalam pikiran hanya ada rasa senang saat kita tert...