04 Juni 2017

Puisi " HUJAN"



Hujan I


Hujan , kali ini kau hadir di siangku
Membasahi bumi, diriku dan  beberapa  teman lain
Tidak seperti biasanya kau hadir di sore hari
Aku bersyukur kau hadir dalam lingkaran hidupku
Membantu aku menghapus kisahku yang penat
Bukan berarti semua kisah yang kuhapus
Hanya saja kisah yang tak sesuai dengan harapanku
Kisah-kisah yang tak sesuai harapanku
akan menjadi jalan yang yang akan mengantarkanku
pada kisah yang aku impikan
Namun  tahukah kau hujan, kali ini aku rindu pada hujan di siang tadi
Mungkin kau bertanya, mengapa kamu merindukan hujan yang sudah mengganggumu
Bukankah hujan  yang menghalangimu siang tadi
Memang benar hujan yang menghalangiku tetapi bukan hujan yang aku rindukan
Melainkan kata yang membuat aku rindu akan hujan tadi siang.

Hujan II
Kali ini kau juga hadir lebih awal
Gemercik hujan di atas kepalaku
Terdengar pada seng tua nan lemut
Jujur saja, aku sepertinya terjerumus pada nada
Mengantarkan pada mimpi sebelumnya
Aku tersentak dalam lamunanku
Bangun
Bangun
Hari sudah menjelang siang
Anak manusia tak boleh malas
Apakah kau akan terus bersama mimpimu
Masih banyak persoalan menantimu
Biarkan hujan ini sebatas nada penghibur di kala sepi

28 Mei 2017

Hujan III
Hujan
Kali ini kau pun hadir lagi
Mengisi sore ceria
Lambaian dedaunan menahan hujan seoalh tak mampu menahan
Gemercik butiran air  melompat ke jendela
Memanggil mereka yang menyaksikannya
Para orang tua tertawa
Terbawa cerita anak-anaknya yang tampak lucu
Aku melihat kopi sudah di dasar gelas
Perlahan-lahan mengangkat
Menikmati tegukan terakhir dengan tawa
Kopi habis, mana kopi?
Cerita sore ini semakin menggila
Kulihat anaknya tertawa geli
Mana kopi, cerita tidak bisa dilanjutkan
Aku hanya bisa bercerita kalau ada si hitam
Hujan kian meraja
Benturan hujan dengan seng seakan tertawa
Kopi yang tak muncul lagi
Perlahan cerita mereka menyusut
Pada akhirnya terdiam
Tak ada kopi yang dinikmati lagi

                                                29 Mei 2017


Hujan IV

Selanjutnya aku terbangun dari lamunan
Segelas kopi yang kuminta tak kunjung hadir
Hujan
Kini hadir lagi di malam hari
Sepi, dingin, segelas kopi tak jua datang




Hujan V
Lama aku menunggu kekasihku
Tak kunjung juga datang
Dikala hujan tak juga reda
Hujan terus mendinginkan jiwa yang kian berontak
Gemercik air melompat-lompat
Di antara dedaunan, jalan, dan juan jendela kamarku
Bunyi atap rumah layaknya nada
Meskipun tak semerdu suara piano
Dentingan air menyentuh seng menedukan jiwa
Hujan, tak juga redah
Masih ingin menghibur atau mengolok
Akhir-akhir ini kau gemer mengunjungiku
Tak bosan, tiada hari tanpamu musim ini
Aku bosan, suaramu tak merdu lagi

















Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BANG LAWO "BERBURU TIKUS"

    BANG LAWO  Masa kecil menjadi masa yang indah, tidak ada beban berat yang terlintas dalam pikiran hanya ada rasa senang saat kita tert...