13 Desember 2018

CERPEN: KETAKUTAN BERSAMA BANYANGAN PETIR




KETAKUTAN BERSAMA BANYANGAN PETIR

Sore itu langit tampak mencekam. Awan-awan hitam berkumpul pada satu tempat yang sepertinya siap menurunkan hujan dengan penuh amarah. Burung-burung di udara lalu lalang berterbangan mencari tempat tenang. Masyarakat kami percaya, jika burung-burung banyak berterbangan di sore hari, ini tandanya akan hujan. Bagi kami, awan hitam pekat belum tentu turun hujan. Bisa saja ada pawang hujan yang akan mengatur itu semua. Memang, kepercayaan akan hal mistis masih melekat pada masyarakat.
Hiruk pikuk mulai terlihat, para petani mengumpulkan hasil pertanian dan peralatannya. Rintik-rintik hujan perlahan menyapa. Aku biasanya tak pernah memperdulikan hujan yang intesitasnya rendah.  Bagiku, hujan yang belum lebat tidak akan mengurungkan niatku untuk terus bekerja meskipun petani di ladang sebelah sudah berteduh di pondoknya masing-masing. Kuperhatikan bagian selatan dan arah timur laut masih cerah, mungkin tidak akan turun hujan hari ini. Sementara itu, kakek tua yang renta namanya Markus, memanggilku untuk beristirahat tetapi aku berkata” sebentar dulu kek, hujan belum lebat, masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan, rumput-rumput belum diangkat”.  Baiklah nak, kata kakek tua itu. Waktu terus berjalan, belum ada niat untuk beristirahat.
Langit bagian selatan sepertinya tidak cerah lagi. Awan hitam sedikit demi sedikit bergerak menuju arah timur laut. Burung-burung semakin banyak berterbangan. Apakah ini pertanda akan hujan lebat? Bingung dan cemas menghantui, antara bekerja lagi atau istirahat, padahal pekerjaan belum tuntas. Aku paling malas bekerja setelah hujan, biasanya rumput-rumput basah lebih berat untuk diangkat. Sejenak menoleh ke arah pondok, tiba-tiba cahaya yang begitu cepat melintas di depan mata.
Prak………
Bunyi letusan petir yang sangat dasyat hingga getaran menjalar ke hati. Terlihat semua orang yang masih bekerja berlarian menuju sekang (pondok) mereka masing-masing. Aku terdiam, berteriak dan merangkak ketakutan. Kemudian berlari menuju tempat berteduh di bagian Timur ladang. Desiran darah mengalir begitu cepat, detak jantung semakin tak terkontrol. Hembusan nafas setelah berlari tak teratur seakan menghembuskan nafas terakhir.
Kakek sudah bilang, jangan memaksakan diri untuk bekerja kalau cuacanya tidak memungkinkan. Kamu juga tahu, daerah kita ini tempat yang rawan. Sudah ada beberapa orang meninggal disambar petir. Untung saja, kamu tidak apa-apa. Sebab kalau itu terjadi, daerah sekiran ini mungkin bertambah angker dan lebih banyak lagi yang takut karena trauma dengan kejadian seperti ini. Aku hanya terdiam merenungkan jika itu terjadi padaku.
Sudah, ganti bajumu dan nyalakan api! “perintah kakek Markus”. Hujan disertai angin kencang terus mengguyur. Hatiku cukup cemas melihat cuaca sore itu. Bukan soal petir lagi, tetapi melihat tanaman jagung yang terseok-seok mengikuti arah angin, apalagi tanamannya masih berbunga saat ini.
Bencana besar, ini akan menjadi bencana yang menyakitkan. Tidak ada yang bisa dipanen kalau hujan serta angin terus mengguyur tanamanku. Natal sudah dekat, apa yang bisa dimakan saat Natal nanti? Aku terus perhatikan tanaman yang terseok-seok. Bunga-bunga jangung mulai berjatuhan, batang patah, dan jagung yang lain terbang tertiup angin entah kemana. Hanya bisa terdiam melihat semua ini. Sejenak memandang ke langit, akankah semua ini berakhir dengan penderitaan berkepanjangan. Ini memang cobaan yang menyakitkan. Sudah tidak terhitung lagi waktu yang telah terbuang untuk merawat semua ini. Tertunduk lesu dan sudah tidak ada harapan lagi.
Anak muda, jangan melamun. Nyalakan apinya, hujan akan semakin lebat, mengeluarkan korek api dari saku celana, kakek tua itu hanya tersenyum dan memegang bahuku dengan tangan kanan. Terlihat garis kerutan dan lecet pada telapak tangan menandakan betapa kerasnya ia berusaha untuk menghidupi keluarga.
Kakek juga pernah merasakan apa yang sedang kamu rasakan. Memang menyakitkan, tapi ya, mau bagaimana lagi. Tuhan sudah mengatur semua ini. Tidak ada hujan, kebutuhan akan air juga tidak terpenuhi untuk daerah persawan kita.
Api sudah dinyalakan, aku dan kakek Markus duduk di dekat perapian, sebatang rokok menemani candaan kami berdua sore itu sembari menunggu air matang untuk membuat kopi. Rupanya kakek Markus lumayan humoris. Kejadian demi kejadian diceritakan untuk menemani hujan yang semakin lebat. Tidak terasa waktu sudah menunjukan pukul 16.00 Witeng. Hujan belum juga redah, malahan semakin lebat. Sesaat menunggu air matang aku tertidur. Kakek Markus tetap duduk di dekat perapian, mungkin belum ngantuk.
Prak……
Bunyi keras memukul mental kami. Bahkan bunyi itu, menyebabkan getaran di sela-sela alas bambu tempatku tidur. Bukan hanya sekali saja bahkan berulang-ulang menghantam kesunyian sore itu. Kakek hanya terdiam, aku juga ikut diam. Aku tidak tahu apa yang harus kuperbuat. Kepanikan, ketakutan, dan keraguan semakin menjadi-jadi. Rupanya kakek juga takut dan trauma dengar bunyi petir, ini terlihat dari refleksnya menutup telinga dan memejamkan mata. Saking takut, tikar alas tidur dijadikan sebagai tempat sembunyi seperti main petak umpet. Pondok sangat berantakan saat itu akibat gerakan secara tidak sadar. Air yang hampir matang tumpah mengenai sela-sela bambu akibat dari kaki yang secara tidak sengaja mengenai kayu dekat perapian. Aku pun tidak tahu, kaki siapa yang meneganai kayu itu. Sudahlah. Ini sudah terjadi yang penting selamat. Sudah tidak tahu lagi, apa yang terjadi saat itu. Aku dan kakek Markus tertidur di tengah ketakutan yang begitu dasyat.
Ketika suara guntur tak terdengar, hujan juga redah. Terdengar teriakan memecah kesunyian setelah hujan.
Tolong, tolong, tolong.
 Teriakan seorang pria paru baya di tengan jalan. Semua orang keluar dari pondok memperhatikan pria itu. Semua mendekat dan mengikuti pria itu berlari ke tengah hamparan sawah. Terlihat seorang perempuan tua terkapar di antara batang-batang padi. Tubuhnya sebagian terbakar dan lebam terkena sambaran petir. Tidak ada yang tahu, perempuan tua ini masih selamat atau tidak. Semuanya panik dan ketakutan. Lalu, beberapa pria turun dan mengangkat perempuan itu. Di antara mereka juga tidak ada yang tahu, perempuan itu masih hidup atau tidak.
Semuanya panik.
Perempuan itu langsung diangkat dan dibawa ke rumah sakit saat itu juga. Orang-orang berdoa, semoga dia selamat.
Melihat kejadian ini orang-orang takut. Hari sudah semakin sore, satu persatu petani kembali ke rumah. Aku dan kakek pun pulang ke rumah masing-masing. Dalam perjalanan pulang semuanya sunyi terbanyang kejadian tadi. Kakek tua yang biasanya lucu, sekarang menjadi pendiam.
Hanya ketakutan yang ada.
Sekitar pukul 18.00 Witeng terdengar suara sirene di sekitaran kampung. Terdengar kabar perempuan tua yang terkapar di tengah persawan tadi sudah meninggal. Inilah awal kisah menakutkan. Saat hujan turun, semua petani pasti kembali ke rumah, tidak ada lagi yang berteduh di sawah atau ladang mereka, sekalipun hujan saat itu tidak bersamaan dengan petir. Aku pun demikian, kejadian saat itu menjadi ketakutan yang membekas dalam bayangan.
                                               Ruteng, 6 Desember 2018

Nama penulis: Fransiskus Darviansa Darma (Fian)
TTL: La’o Lanar, 17 Oktober 1995


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BANG LAWO "BERBURU TIKUS"

    BANG LAWO  Masa kecil menjadi masa yang indah, tidak ada beban berat yang terlintas dalam pikiran hanya ada rasa senang saat kita tert...