KETAKUTAN BERSAMA BANYANGAN PETIR
Sore
itu langit tampak mencekam. Awan-awan hitam berkumpul pada satu tempat yang
sepertinya siap menurunkan hujan dengan penuh amarah. Burung-burung di udara
lalu lalang berterbangan mencari tempat tenang. Masyarakat kami percaya, jika
burung-burung banyak berterbangan di sore hari, ini tandanya akan hujan. Bagi
kami, awan hitam pekat belum tentu turun hujan. Bisa saja ada pawang hujan yang
akan mengatur itu semua. Memang, kepercayaan akan hal mistis masih melekat pada
masyarakat.
Hiruk pikuk mulai terlihat, para petani
mengumpulkan hasil pertanian dan peralatannya. Rintik-rintik hujan perlahan
menyapa. Aku biasanya tak pernah memperdulikan hujan yang intesitasnya
rendah. Bagiku, hujan yang belum lebat
tidak akan mengurungkan niatku untuk terus bekerja meskipun petani di ladang
sebelah sudah berteduh di pondoknya masing-masing. Kuperhatikan bagian selatan
dan arah timur laut masih cerah, mungkin tidak akan turun hujan hari ini.
Sementara itu, kakek tua yang renta namanya Markus, memanggilku untuk
beristirahat tetapi aku berkata” sebentar dulu kek, hujan belum lebat, masih
banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan, rumput-rumput belum diangkat”. Baiklah nak, kata kakek tua itu. Waktu terus
berjalan, belum ada niat untuk beristirahat.
Langit bagian selatan sepertinya tidak
cerah lagi. Awan hitam sedikit demi sedikit bergerak menuju arah timur laut. Burung-burung
semakin banyak berterbangan. Apakah ini pertanda akan hujan lebat? Bingung dan
cemas menghantui, antara bekerja lagi atau istirahat, padahal pekerjaan belum
tuntas. Aku paling malas bekerja setelah hujan, biasanya rumput-rumput basah
lebih berat untuk diangkat. Sejenak menoleh ke arah pondok, tiba-tiba cahaya
yang begitu cepat melintas di depan mata.
Prak………
Bunyi letusan petir yang sangat dasyat
hingga getaran menjalar ke hati. Terlihat semua orang yang masih bekerja
berlarian menuju sekang (pondok) mereka masing-masing. Aku terdiam, berteriak
dan merangkak ketakutan. Kemudian berlari menuju tempat berteduh di bagian
Timur ladang. Desiran darah mengalir begitu cepat, detak jantung semakin tak
terkontrol. Hembusan nafas setelah berlari tak teratur seakan menghembuskan
nafas terakhir.
Kakek sudah bilang, jangan memaksakan
diri untuk bekerja kalau cuacanya tidak memungkinkan. Kamu juga tahu, daerah
kita ini tempat yang rawan. Sudah ada beberapa orang meninggal disambar petir.
Untung saja, kamu tidak apa-apa. Sebab kalau itu terjadi, daerah sekiran ini
mungkin bertambah angker dan lebih banyak lagi yang takut karena trauma dengan
kejadian seperti ini. Aku hanya terdiam merenungkan jika itu terjadi padaku.
Sudah, ganti bajumu dan nyalakan api!
“perintah kakek Markus”. Hujan disertai angin kencang terus mengguyur. Hatiku
cukup cemas melihat cuaca sore itu. Bukan soal petir lagi, tetapi melihat
tanaman jagung yang terseok-seok mengikuti arah angin, apalagi tanamannya masih
berbunga saat ini.
Bencana besar, ini akan menjadi bencana
yang menyakitkan. Tidak ada yang bisa dipanen kalau hujan serta angin terus
mengguyur tanamanku. Natal sudah dekat, apa yang bisa dimakan saat Natal nanti?
Aku terus perhatikan tanaman yang terseok-seok. Bunga-bunga jangung mulai
berjatuhan, batang patah, dan jagung yang lain terbang tertiup angin entah
kemana. Hanya bisa terdiam melihat semua ini. Sejenak memandang ke langit,
akankah semua ini berakhir dengan penderitaan berkepanjangan. Ini memang cobaan
yang menyakitkan. Sudah tidak terhitung lagi waktu yang telah terbuang untuk
merawat semua ini. Tertunduk lesu dan sudah tidak ada harapan lagi.
Anak muda, jangan melamun. Nyalakan
apinya, hujan akan semakin lebat, mengeluarkan korek api dari saku celana,
kakek tua itu hanya tersenyum dan memegang bahuku dengan tangan kanan. Terlihat
garis kerutan dan lecet pada telapak tangan menandakan betapa kerasnya ia
berusaha untuk menghidupi keluarga.
Kakek
juga pernah merasakan apa yang sedang kamu rasakan. Memang menyakitkan, tapi ya,
mau bagaimana lagi. Tuhan sudah mengatur semua ini. Tidak ada hujan, kebutuhan
akan air juga tidak terpenuhi untuk daerah persawan kita.
Api sudah dinyalakan, aku dan kakek
Markus duduk di dekat perapian, sebatang rokok menemani candaan kami berdua
sore itu sembari menunggu air matang untuk membuat kopi. Rupanya kakek Markus
lumayan humoris. Kejadian demi kejadian diceritakan untuk menemani hujan yang
semakin lebat. Tidak terasa waktu sudah menunjukan pukul 16.00 Witeng. Hujan
belum juga redah, malahan semakin lebat. Sesaat menunggu air matang aku
tertidur. Kakek Markus tetap duduk di dekat perapian, mungkin belum ngantuk.
Prak……
Bunyi
keras memukul mental kami. Bahkan bunyi itu, menyebabkan getaran di sela-sela
alas bambu tempatku tidur. Bukan hanya sekali saja bahkan berulang-ulang
menghantam kesunyian sore itu. Kakek hanya terdiam, aku juga ikut diam. Aku
tidak tahu apa yang harus kuperbuat. Kepanikan, ketakutan, dan keraguan semakin
menjadi-jadi. Rupanya kakek juga takut dan trauma dengar bunyi petir, ini
terlihat dari refleksnya menutup telinga dan memejamkan mata. Saking takut,
tikar alas tidur dijadikan sebagai tempat sembunyi seperti main petak umpet.
Pondok sangat berantakan saat itu akibat gerakan secara tidak sadar. Air yang
hampir matang tumpah mengenai sela-sela bambu akibat dari kaki yang secara
tidak sengaja mengenai kayu dekat perapian. Aku pun tidak tahu, kaki siapa yang
meneganai kayu itu. Sudahlah. Ini sudah terjadi yang penting selamat. Sudah
tidak tahu lagi, apa yang terjadi saat itu. Aku dan kakek Markus tertidur di
tengah ketakutan yang begitu dasyat.
Ketika
suara guntur tak terdengar, hujan juga redah. Terdengar teriakan memecah
kesunyian setelah hujan.
Tolong,
tolong, tolong.
Teriakan seorang pria paru baya di tengan
jalan. Semua orang keluar dari pondok memperhatikan pria itu. Semua mendekat
dan mengikuti pria itu berlari ke tengah hamparan sawah. Terlihat seorang
perempuan tua terkapar di antara batang-batang padi. Tubuhnya sebagian terbakar
dan lebam terkena sambaran petir. Tidak ada yang tahu, perempuan tua ini masih
selamat atau tidak. Semuanya panik dan ketakutan. Lalu, beberapa pria turun dan
mengangkat perempuan itu. Di antara mereka juga tidak ada yang tahu, perempuan
itu masih hidup atau tidak.
Semuanya
panik.
Perempuan
itu langsung diangkat dan dibawa ke rumah sakit saat itu juga. Orang-orang
berdoa, semoga dia selamat.
Melihat kejadian ini orang-orang takut.
Hari sudah semakin sore, satu persatu petani kembali ke rumah. Aku dan kakek
pun pulang ke rumah masing-masing. Dalam perjalanan pulang semuanya sunyi
terbanyang kejadian tadi. Kakek tua yang biasanya lucu, sekarang menjadi pendiam.
Hanya ketakutan yang ada.
Sekitar pukul 18.00 Witeng terdengar suara
sirene di sekitaran kampung. Terdengar kabar perempuan tua yang terkapar di
tengah persawan tadi sudah meninggal. Inilah awal kisah menakutkan. Saat hujan
turun, semua petani pasti kembali ke rumah, tidak ada lagi yang berteduh di
sawah atau ladang mereka, sekalipun hujan saat itu tidak bersamaan dengan
petir. Aku pun demikian, kejadian saat itu menjadi ketakutan yang membekas
dalam bayangan.
Ruteng, 6 Desember 2018
Ruteng, 6 Desember 2018
Nama penulis:
Fransiskus Darviansa Darma (Fian)
TTL: La’o Lanar, 17
Oktober 1995
Tidak ada komentar:
Posting Komentar