08 Februari 2019

PUISI TERBARU F.D.D






Tak Ada Kabar Bapakku (1)


Lelaki paruh bayah terbaring dikursi kayu panjang, mulut tertutup sehelai kain
Disebelah ada seorang anak duduk di antara pohon pisang
merenget minta dibelikan jajan
Dia hanya menoleh menatap kasihan anaknya
Tak ada uang sepeserpun dalam saku celana tisu kusut
Anaknya terus berteriak minta jajan
Sekali lagi lelaki itu menatap, jangan menangis tidak ada orang yang memberimu uang
Bukan diam anak itu terus berteriak
Sekali lagi menatap lalu berdiri meninggalkan anaknya
Pergi sejauh mungkin hingga tak terdegar lagi kabar.
                                                                01 Februari 2018

Tak Ada Kabar Bapakku (2)

Hari terus berlalu tak ada kabar bapak
Padahal setiap bintang jatuh selalu memohon agar bapak pulang
Tak ada yang memberiku uang
Tak ada yang menemani berburu
Kini satu pekan berlalu, belum juga ada kabar
Setiap sore mama selalu menatap senja
Barangkali merindukan masa duduk bersama di tepi pelabuhan belakang rumah
Bapak, kenapa belum pulang,
Apa rindumu  membatu untuk leuarga?
                                                7 Februari 2018

Ditegur Matahari

Tuhan, pagi ini hambamu bangun terlambat
Bukan disengaja, hanya saja Aku lelah
Sejujurnya malu pada burung-burung, serangga, binatang, dan
Matahari yang menegur saat beranjak siang
Untung saja hari ini libur kalau tidak ini menjadi rasa mundur dalam diri.
                                                                05 Februari 2019

Suara yang Tidak Didengar

Ada suara yang  terdengar tetapi tak dihiraukan
Mengetuk-ngetuk, mengalirkan getaran ke arah gendang telinga
Suara itu kian mendekat, menderap di antara keramik-keramik
Kemudian melenting pada dinding-dinding tembok.
Derap langkah kian mengeras berbenturan pada kaca jendela
Menabrak kursi dan meja hingga hingga ke dapur

Terlihat tikus tua dan muda sedang makan dengan lahap berbaring di atas meja
Lalat-lalat kecil hinggap pada tumpukan sisa makanan tikus,
lalu ditampar, ditendang, dan dicemoohkan
Kalian mengganggu,” kata segerombolan tikus”.
Sisa-sisa makanan kemudian dikumpulkan lagi
Disembunyikan pada lemari tak berlubang
Simpan saja, “ teriak tikus tua”, itu untuk teman kita
Biarkan saja disitu hingga rayap menggerus
Tak sudi itu dimakan kaum melata seperti mereka.
                                05 Februari 2019


Dengarkan cerita Ini

Adindaku sayang
Bukankah pernah Aku katakan padamu tentang rindu
disetiap jarak yang ditebas, disetiap jarak yang harus dipangkas
Bukankah pernah juga kukatakan tentang hati ini milik siapa
Kenapa mukamu masam?
Mengerut  hingga tak terbentuk cantikmu
Sudah kukatakan padamu disetiap pesan sebelum tidur,
rindu ini untuk perempuanku
Akankah Engkau terus seperti ini?

Adinda
Pernahkan Kau bayangkan rindu terbungkus ruang gelap dan sunyi
Hanya menatap langit-langit,  dinding kamar saling beradu,
merebut sepi dan gelisah padaku.
Belum lagi hujan menggertak menghapus jejak-jejak
Angin serta kilat merayu menghantam, mengoyak perisai cerita
Harus kujelaskan apalagi!!
Sudah banyak kata, kalimat yang kuceritakan,
hingga  mata ini tak mampu membaca sekali lagi.
Tangan ini tak mampu lagi menulis
Mulut tak lagi bersuara

Semoga, akan kau temukan dimasa akan datang setelah selesai kutulis
Mungkin juga membaca cerita baru yang masih kurenungkan.


Sisi Lain

Renungkan ketika suatu pagi setelah bangun lalu berkaca
Tak ada wajahmu saat Kau bercermin
Yang tampak hanya bayangan lain menatap sinis penuh curiga
Sadarlah, ini bukan dirimu
Cermin ini bukan milikmu
Engkau pun heran seakan tidak percaya
Mana mungkin cermin dalam kamar sendiri milik bayangan lain

Bayangan siapa itu?
Senyum sinis mengalirkan perasaan emosi kepadaku
                               
                                                                                   06 Februari 2019
                                                             

Rintik-Rintik Hujan

Gerimis Mengantar Sunyi
Bulir-bulir hujan menetas mengalir pada tiang-tiang besi
Melompat-lompat menuruni anak tangga hingga berserakan di lantai gudang
Sedikit demi sedikit mengikis kenangan
melewati lubang-lubang paralon ventilasi dasar lantai
Senyum pahit buruh memperhatikan gerimis mengalir menahan rejeki
Canda tawa hiasan belaka mengusir kegundaan
Lalu lalang kendaraan kecil bukan tujuan,
mereka hanya memperhatikan mobil-mobil besar pengantar rindu kesejahteraan
rintik-rintik hujan terus mengalir
Gemercik air melenting pada daun kresem menetes jatuh ke tanah mencari kehidupan

                                                    04 Februari 2018



Pengantar Kerinduan

Ketika matahari perlahan berjalan ke ufuk Barat,
orang berbondong-bondong mencari tempat terindah menikmatinya.
Ketika itu juga sepasang kekasih berlari menikmati senja dari pinggir dermaga
Berpelukan menikmati sisa waktu hari itu
Entah apa yang mereka bicarakan, kelihatan mesra sekali
Dari sudut pagar di antara celah daun,
bayangan seorang lelaki memperhatikan kemesraan sepasang kekasih
Rupanya terbayang kisah sepuluh tahun lalu saat duduk di tempat  sama bersama bayangan kekasih yang kini memilih seribu kehidupan baru
                                                07 Februari 2019




Nama: Fransiskus D. Darma (FDD)
Alamat : La’o Lanar, Kel. Wali, Kec. Langke Rembong, Kab. Manggarai, NTT










Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BANG LAWO "BERBURU TIKUS"

    BANG LAWO  Masa kecil menjadi masa yang indah, tidak ada beban berat yang terlintas dalam pikiran hanya ada rasa senang saat kita tert...