Tak Ada Kabar Bapakku (1)
Lelaki paruh
bayah terbaring dikursi kayu panjang, mulut tertutup sehelai kain
Disebelah
ada seorang anak duduk di antara pohon pisang
merenget
minta dibelikan jajan
Dia hanya
menoleh menatap kasihan anaknya
Tak ada uang
sepeserpun dalam saku celana tisu kusut
Anaknya
terus berteriak minta jajan
Sekali lagi
lelaki itu menatap, jangan menangis tidak ada orang yang memberimu uang
Bukan diam
anak itu terus berteriak
Sekali lagi
menatap lalu berdiri meninggalkan anaknya
Pergi sejauh
mungkin hingga tak terdegar lagi kabar.
01 Februari 2018
Tak Ada Kabar Bapakku (2)
Hari terus
berlalu tak ada kabar bapak
Padahal
setiap bintang jatuh selalu memohon agar bapak pulang
Tak ada yang
memberiku uang
Tak ada yang
menemani berburu
Kini satu
pekan berlalu, belum juga ada kabar
Setiap sore
mama selalu menatap senja
Barangkali
merindukan masa duduk bersama di tepi pelabuhan belakang rumah
Bapak,
kenapa belum pulang,
Apa
rindumu membatu untuk leuarga?
7
Februari 2018
Ditegur
Matahari
Tuhan, pagi ini hambamu bangun terlambat
Bukan disengaja, hanya saja Aku
lelah
Sejujurnya malu pada burung-burung, serangga, binatang, dan
Matahari yang menegur saat beranjak siang
Untung saja hari ini libur kalau tidak ini menjadi rasa mundur dalam
diri.
05
Februari 2019
Suara
yang Tidak Didengar
Ada suara yang terdengar tetapi
tak dihiraukan
Mengetuk-ngetuk, mengalirkan getaran ke arah gendang telinga
Suara itu kian mendekat, menderap di antara keramik-keramik
Kemudian melenting pada dinding-dinding tembok.
Derap langkah kian mengeras berbenturan pada kaca jendela
Menabrak kursi dan meja hingga hingga ke dapur
Terlihat tikus tua dan muda sedang makan dengan lahap berbaring di atas
meja
Lalat-lalat kecil hinggap pada tumpukan sisa makanan tikus,
lalu ditampar, ditendang, dan dicemoohkan
Kalian mengganggu,” kata segerombolan tikus”.
Sisa-sisa makanan kemudian dikumpulkan lagi
Disembunyikan pada lemari tak berlubang
Simpan saja, “ teriak tikus tua”, itu untuk teman kita
Biarkan saja disitu hingga rayap menggerus
Tak sudi itu dimakan kaum melata seperti mereka.
05
Februari 2019
Dengarkan
cerita Ini
Adindaku sayang
Bukankah pernah Aku katakan padamu tentang rindu
disetiap jarak yang ditebas, disetiap jarak yang harus dipangkas
Bukankah pernah juga kukatakan tentang hati ini milik siapa
Kenapa mukamu masam?
Mengerut hingga tak terbentuk
cantikmu
Sudah kukatakan padamu disetiap pesan sebelum tidur,
rindu ini untuk perempuanku
Akankah Engkau terus seperti ini?
Adinda
Pernahkan Kau bayangkan rindu terbungkus ruang gelap dan sunyi
Hanya menatap langit-langit, dinding
kamar saling beradu,
merebut sepi dan gelisah padaku.
Belum lagi hujan menggertak menghapus jejak-jejak
Angin serta kilat merayu menghantam, mengoyak perisai cerita
Harus kujelaskan apalagi!!
Sudah banyak kata, kalimat yang kuceritakan,
hingga mata ini tak mampu
membaca sekali lagi.
Tangan ini tak mampu lagi menulis
Mulut tak lagi bersuara
Semoga, akan kau temukan dimasa akan datang setelah selesai kutulis
Mungkin juga membaca cerita baru yang masih kurenungkan.
Sisi Lain
Renungkan ketika suatu pagi setelah bangun lalu berkaca
Tak ada wajahmu saat Kau bercermin
Yang tampak hanya bayangan lain menatap sinis penuh curiga
Sadarlah, ini bukan dirimu
Cermin ini bukan milikmu
Engkau pun heran seakan tidak percaya
Mana mungkin cermin dalam kamar sendiri milik bayangan lain
Bayangan siapa itu?
Senyum sinis mengalirkan perasaan emosi kepadaku
06
Februari 2019
Rintik-Rintik
Hujan
Gerimis
Mengantar Sunyi
Bulir-bulir
hujan menetas mengalir pada tiang-tiang besi
Melompat-lompat
menuruni anak tangga hingga berserakan di lantai gudang
Sedikit
demi sedikit mengikis kenangan
melewati
lubang-lubang paralon ventilasi dasar lantai
Senyum
pahit buruh memperhatikan gerimis mengalir menahan rejeki
Canda tawa
hiasan belaka mengusir kegundaan
Lalu lalang
kendaraan kecil bukan tujuan,
mereka
hanya memperhatikan mobil-mobil besar pengantar rindu kesejahteraan
rintik-rintik
hujan terus mengalir
Gemercik
air melenting pada daun kresem menetes jatuh ke tanah mencari kehidupan
04
Februari 2018
Pengantar Kerinduan
Ketika
matahari perlahan berjalan ke ufuk Barat,
orang
berbondong-bondong mencari tempat terindah menikmatinya.
Ketika itu
juga sepasang kekasih berlari menikmati senja dari pinggir dermaga
Berpelukan
menikmati sisa waktu hari itu
Entah apa
yang mereka bicarakan, kelihatan mesra sekali
Dari sudut
pagar di antara celah daun,
bayangan
seorang lelaki memperhatikan kemesraan sepasang kekasih
Rupanya
terbayang kisah sepuluh tahun lalu saat duduk di tempat sama bersama bayangan kekasih yang kini
memilih seribu kehidupan baru
07
Februari 2019
Alamat : La’o Lanar, Kel. Wali, Kec. Langke Rembong, Kab. Manggarai, NTT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar