MENCEKAM, MARIA
Maria, cuaca malam ini begitu mencekam
Angin, hujan, disertai kilat senantiasa menegur
Air menetes di celah-celah tiang baja
Dinding kamar basah kuyup
Tetap saja Aku takut meskipun tiang rumah ini dari baja
Gelombang laut perlahan meninggi walaupun tidak terlihat jelas
Suara riuh itu Maria,
menghantam dermaga hingga menembus batas ketakutan
Lampu-lampu suram, penyakit gelap kian kumat
Tak ada kabar yang dapat kubaca
Terjadilah, kini sudah gelap.
Reo, 07 Januari 2019
Aku Menatapmu
Rasakan sentuhan
jiwa ini
Pada
setiap malam Aku bermimpi
tentang
celotehmu tiap kali kita duduk.
Aku
memelukmu dan kamu pun membalas meskipun masih kaku
Sungguh
dunia ini seperti milik kita.
Getaran
jantung memompa aliran darah seperti keluar dari tubuh
Kita
berteduh di bawah pohon rindang
Menikmati
masa sepi yang menjadi ceria ketika bersama
Kemudian
sepi lagi, kehabisan kata indahn hari itu.
Kini
Aku mulai serius menatap mata, alis, hidung, senyum bibirmu,
sesekali
menatap lesung pipi.
Aku
menatapmu terus- menerus
Kau
membalas tatapanku.
Kemudian
berpaling
Tak
sanggup rasanya menatapmu terlalu lama.
Kubuka
percakapan serius
Ujung-ujungnya
hanya candaan menanyakan nama ibu, nama bapak,
bahkan menanyakan, kamu berapa bersaudara?
Membuka
percakapan lebih serius
Tapi
rasanya susah, kau menatap, aku pun menatap,
jadinya
malu sendiri dan kembali berpaling.
Kupegang
saja tanganmu, kayaknya hari itu dentak jantung memompa lebih kuat dari yang
pertama.
Tanganmu
gemetar saat kuraba
Keringat
dingin berkumpul di pelipis kiri
hingga
berlari perlahan dan jatuh tepat di telapak tangan
yang
sedang menggengam erat tanganmu.
Mulai
lagi candaan lebih serius
menanyakan
perasaanmu padaku
hingga
bayangan masa depan bila harus bersama.
Saat
kuingin mengatakan semua tentang isi hati dan ingin mencium keningmu, hujan
berteriak merobek seluruh tubuh
kemudian
berbisik, belum saatnya.
Semua
berlalu begitu saja hingga kuantar depan pintu rumahmu.
30 Juni 2019
MUNGKIN LAIN KALI
Ini kali doa terus disulam pada tiap detak jantung
hingga tak ada kata lain.
Bait-bait doa yang sama, terus mengalir hingga penghujung mata
Ini kali tidak ada candaan yang seperti waktu lalu
Ini kali lorong jalanan desa sangat kaku bagaikan kota mati
Ini kali, mungkin juga lain kali akan baik-baik saja.
Reo, 01 April 2020
Tidak ada komentar:
Posting Komentar