31 Mei 2016

cerpen


IMAJINASI TERBATAS

Ya seperti biasalah dikala malam semakin larut, dunia juga semakin hening seperti tak berpenghuni. Suara binatang malam selalu menghantui saat aku duduk sendiri. Akupun tidak tahu, apakah yang harus kuperbuat untuk mengisi heningnya malam ini. Biasanya saat sendiri lebih memilih untuk mendengarkan alunan nada melaui hanphone butut yang bisa membantu untuk menemani. Setiap getaran nada selalu mengantarkan jiwa ini berhayal, ya maklumlah saking sepinya malam ini dan tak ada yang menemani. 
Sementara itu badan seperti terpaku pada ranjang yang berbau  tingkah laku  sore hari tadi, badan, tangan, sampai kaki pun merasakan hal yang sama. Maklumlah, latihan teahter sore hari tadi sungguh menyiksaku, apalagi sebelum latihan, pagi harinya kami ada latihan senam dan pasukan baris berbaris. Meskipun latihannya sangat membosankan, paling tidak ada pengalamn baru yang bermakna setipa langkah kaki pagi sampai sore saat beraktivitas.
Ya,ya hampir setiap hari Sabtu melakukan aktivitas yang sama, sungguh membosankan. Selain membosankan, tak ada hal yang menarik untuk dilakukan selain berpacu dengan tugas yang menumpuk. Tugas- tugas ini sungguh menyiksaku, tapi tak apalah inikan bagian dari perjuangan hidup. Cie,,,,,,, sekarang saya berbicara tentang masa depan yang tak pernah dipikirkan sebelumnya. Hahahahha. Sungguh hal yang saya pikirkan ini menyiksaku.
Latihan tadi pagi sangat lucu, bayangkan kami sebagai mahasiswa tingkat dua latihan baris- berbaris dengan segala kelucuan yang ada. Kiri, kanan, kiri, kanan, suara bapak polisi yang seperti oarang kecapean. Matahari kian meyengat kulit hitam ini, latihan pun terus berlaanjut. Meskipun kami bukan bagian dari pasukan pengamanan, bukan angkatan bersenjata, bukan pasukan pengibar bendera, namun kami tetap bersemangat untuk melakoni gerak kiri dan kanan.
Gerak kiri dan kanan menguras tenaga kami. Kelihatannya bapak polisi juga sudah lelah tetapi dia menyembunyikan rasa lelah di balik senyuman yang asin. 
Renungan selesai, jam terus berlari berpacu dengan malam yang  dinginnya kian menusuk sukma dalam kesepian. Bulan dan bintang tersenyum melihat insan mulai sayup dengan senyuman manja pengantar tidur. Mimpi kian berorasi untuk mengisi setiap ruang  yang barangkali masih tersisa. Tanpa disadari aku telah melihat mimpi yang indah untuk mengisi setiap ruang yang tersisa. Mimpi ini tentunya pengantar tidur yag sudah diseleksi alam bawah sadarku untuk  selalu setia menemani.
Malam berganti pagi hari,setetes embun jatuh tepat di dahi tapi aku masih bermalas-malasan di atas ranjang. Sementara itu kulihat semut sibuk dengan kativitasnya mencari makan. Meskipun mata masih sayup dan ingin tidur lagi tetapi seisi rumah ributnya minta ampun. Telinga  pun Takut Untuk mendengar teriakan ibu yang membangunkan anaknya yang masih terbungkus hangatnya selimut. Bangun,,,,,,bagun,,,,,,,,,,,,kata inilah yang  paling saya benci  pagi hari itu. Terpaksa harus bangun dengan segala kebencian yang ada.” Kamu tidak pergi ke gereja”, Kata ibuku pada saat itu. Santai saja kali ma, Tuhan takan marah jika aku tidak ke gereja yang penting hati selalu bersih. Hehehehehhe, sambil bergurau. Untuk hari ini libur dulu.
Hari libur hari untuk menghilangkan beban yang ada, itulah kalimat yang selalu ada dalam otak ini saat hari Minggu. Kali ini aku bingung, tidak tahu harus berbuat apa sedangkan seisi rumah ke gereja kecuali adikku yang paling kecil yang selalu sibuk dengan urusanya sendiri. Maklumlah  anak kecil, selalu saja asyik dengan apa yang dilakukan meskipun itu  kotor terkadang menjijikan.
Hati semakin risau, terkadang jengkel dengan diri sendiri. Tidak tahu harus berbuat apa, mendengarkan musik hanya itu yang bisa menghibur keresahan hati. Walaupun mendengarkan musik, hanya untuk menghibur sesaat dalam lamunan yang tak bermakna. Imajinasi tak berkreasi pada posisi yang sangat memprihatinkan dan dunia pikiran semakin menderita. Waktu terus bergulir  seakan  menghindar dari kejamnya hari ini.  Daya imajinasi semakin terpuruk,aku hanya berusaha mencari jalan keluar dari penjara sukma yang membuntut.
Satu-satunya cara hanyalah menikmati setiap apa yang bisa dilakukan dihari tak berkompromi. Kebuntuan imajinasi terus berlanjut setiap perjalanan anak manusia yang menjadi tak berdaya. Cerita bahagia pergi begitu saja, mungkinkah masih ada waktu untuk mengajaknya kembali dan melukiskan jejak yang ada di waktu tersisa.
Sepertinya mentari juga bosan dengan aktivitasnya hari ini, tidak ada cerita yang berjejak. Perlahan marangkak,anak manusia pun kembali dengan wajah masam. Aku hanya menundukan kepala sembari membayangkan apa yang terjadi hari ini. Gelap  dunia hanya ditemani bintang buram. Akupun harus tidur, berharap apa yang terjadi hari ini tak terulang dilain waktu. Dinginya malam mengantar daya imajinasi untuk tidur bersama aku. Sembari tidur anak manusia tersenyum kesal pada dirinya sendiri.


















Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BANG LAWO "BERBURU TIKUS"

    BANG LAWO  Masa kecil menjadi masa yang indah, tidak ada beban berat yang terlintas dalam pikiran hanya ada rasa senang saat kita tert...