IMAJINASI TERBATAS
Ya
seperti biasalah dikala malam semakin larut, dunia juga semakin hening seperti
tak berpenghuni. Suara binatang malam selalu menghantui saat aku duduk sendiri.
Akupun tidak tahu, apakah yang harus kuperbuat untuk mengisi heningnya malam
ini. Biasanya saat sendiri lebih memilih untuk mendengarkan alunan nada melaui
hanphone butut yang bisa membantu untuk menemani. Setiap getaran nada selalu
mengantarkan jiwa ini berhayal, ya maklumlah saking sepinya malam ini dan tak
ada yang menemani.
Sementara
itu badan seperti terpaku pada ranjang yang berbau tingkah laku
sore hari tadi, badan, tangan, sampai kaki pun merasakan hal yang sama.
Maklumlah, latihan teahter sore hari tadi sungguh menyiksaku, apalagi sebelum
latihan, pagi harinya kami ada latihan senam dan pasukan baris berbaris.
Meskipun latihannya sangat membosankan, paling tidak ada pengalamn baru yang
bermakna setipa langkah kaki pagi sampai sore saat beraktivitas.
Ya,ya
hampir setiap hari Sabtu melakukan aktivitas yang sama, sungguh membosankan.
Selain membosankan, tak ada hal yang menarik untuk dilakukan selain berpacu
dengan tugas yang menumpuk. Tugas- tugas ini sungguh menyiksaku, tapi tak
apalah inikan bagian dari perjuangan hidup. Cie,,,,,,, sekarang saya berbicara
tentang masa depan yang tak pernah dipikirkan sebelumnya. Hahahahha. Sungguh
hal yang saya pikirkan ini menyiksaku.
Latihan
tadi pagi sangat lucu, bayangkan kami sebagai mahasiswa tingkat dua latihan
baris- berbaris dengan segala kelucuan yang ada. Kiri, kanan, kiri, kanan,
suara bapak polisi yang seperti oarang kecapean. Matahari kian meyengat kulit
hitam ini, latihan pun terus berlaanjut. Meskipun kami bukan bagian dari
pasukan pengamanan, bukan angkatan bersenjata, bukan pasukan pengibar bendera,
namun kami tetap bersemangat untuk melakoni gerak kiri dan kanan.
Gerak
kiri dan kanan menguras tenaga kami. Kelihatannya bapak polisi juga sudah lelah
tetapi dia menyembunyikan rasa lelah di balik senyuman yang asin.
Renungan
selesai, jam terus berlari berpacu dengan malam yang dinginnya kian menusuk sukma dalam kesepian.
Bulan dan bintang tersenyum melihat insan mulai sayup dengan senyuman manja
pengantar tidur. Mimpi kian berorasi untuk mengisi setiap ruang yang barangkali masih tersisa. Tanpa disadari
aku telah melihat mimpi yang indah untuk mengisi setiap ruang yang tersisa.
Mimpi ini tentunya pengantar tidur yag sudah diseleksi alam bawah sadarku untuk
selalu setia menemani.
Malam
berganti pagi hari,setetes embun jatuh tepat di dahi tapi aku masih bermalas-malasan
di atas ranjang. Sementara itu kulihat semut sibuk dengan kativitasnya mencari
makan. Meskipun mata masih sayup dan ingin tidur lagi tetapi seisi rumah
ributnya minta ampun. Telinga pun Takut
Untuk mendengar teriakan ibu yang membangunkan anaknya yang masih terbungkus
hangatnya selimut. Bangun,,,,,,bagun,,,,,,,,,,,,kata inilah yang paling saya benci pagi hari itu. Terpaksa harus bangun dengan
segala kebencian yang ada.” Kamu tidak pergi ke gereja”, Kata ibuku pada saat
itu. Santai saja kali ma, Tuhan takan marah jika aku tidak ke gereja yang
penting hati selalu bersih. Hehehehehhe, sambil bergurau. Untuk hari ini libur
dulu.
Hari
libur hari untuk menghilangkan beban yang ada, itulah kalimat yang selalu ada
dalam otak ini saat hari Minggu. Kali ini aku bingung, tidak tahu harus berbuat
apa sedangkan seisi rumah ke gereja kecuali adikku yang paling kecil yang
selalu sibuk dengan urusanya sendiri. Maklumlah
anak kecil, selalu saja asyik dengan apa yang dilakukan meskipun
itu kotor terkadang menjijikan.
Hati
semakin risau, terkadang jengkel dengan diri sendiri. Tidak tahu harus berbuat
apa, mendengarkan musik hanya itu yang bisa menghibur keresahan hati. Walaupun
mendengarkan musik, hanya untuk menghibur sesaat dalam lamunan yang tak bermakna.
Imajinasi tak berkreasi pada posisi yang sangat memprihatinkan dan dunia
pikiran semakin menderita. Waktu terus bergulir
seakan menghindar dari kejamnya
hari ini. Daya imajinasi semakin
terpuruk,aku hanya berusaha mencari jalan keluar dari penjara sukma yang
membuntut.
Satu-satunya
cara hanyalah menikmati setiap apa yang bisa dilakukan dihari tak berkompromi.
Kebuntuan imajinasi terus berlanjut setiap perjalanan anak manusia yang menjadi
tak berdaya. Cerita bahagia pergi begitu saja, mungkinkah masih ada waktu untuk
mengajaknya kembali dan melukiskan jejak yang ada di waktu tersisa.
Sepertinya
mentari juga bosan dengan aktivitasnya hari ini, tidak ada cerita yang
berjejak. Perlahan marangkak,anak manusia pun kembali dengan wajah masam. Aku
hanya menundukan kepala sembari membayangkan apa yang terjadi hari ini.
Gelap dunia hanya ditemani bintang buram.
Akupun harus tidur, berharap apa yang terjadi hari ini tak terulang dilain
waktu. Dinginya malam mengantar daya imajinasi untuk tidur bersama aku. Sembari
tidur anak manusia tersenyum kesal pada dirinya sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar