31 Mei 2016

cerpen


BINGKISAN ISTIMEWA
Hari itu rumahku tampak sunyi dan sepi aku tak tahu bapakku pergi kemana. Hatiku sangat cemas palagi bapak sering sakit mengingat ia membanting tulang untuk menghidupi aku. Meskipun  ia sering sakit, tak pernah ia peduli dengan apa yang dirasakan saat ini,  lebih baik ia sakit dari pada anaknya tidak makan, itulah kata yang selalu ia katakan ketika aku melarangnya untuk bekerja.  Haripun berganti tapi aku tak bisa menghilangkan rasa rindu  terhadap sosok seorang ibu yang kini telah kembali ke pangkuan Mahakuasasaa. Rasa rindu kian menggelbu saat dinginnya malam menikam tubuh yang kian mengglegar.  Terkadang hati berkata “ rasanya Tuhan tidak adil, mengapa semua ini harus terjadi padaku yang lemah ini. Mengapa waktu begitu cepat berlalu mengambil orang yang kusayangi. Ingin  kembali berkumpul bersama,  “aaahhhhh”  rasanya itu hanya terjadi dalam mimpi di siang hari. Waktu terus berlalu aku hanyut dalam mimpi yang tak pasti……
Jjjjrrrrrrrrrrrrrrrrrrrengggggg……jrengggggggggg
Bunyi alaram berkali-kali membangunkan anak manusia yang hanyut dalam mimpi……..
Mentari tersenyum, menyambut deretan cerita baru.
Akupun bergeges menuju ke sekolah bersama teman- teman dari sekitaran rumahku….eits sebagai anak yang baik  jangan lupa pamit sama bapak setelah itu baru deh jalan.
Selamat pagi bu…………….pelajaran di mulai ,kami bersemangat  mendengarkan penjelasan yaaaaa maklumlah pelajaran yang kami sukai  yaitu sejarah apalagi sejarang bangsa Indonesia.
Tengggggg……..teng…………teng………….
Tidak terasa pelajaran selesai saya dan teman-teman bergeges kembali ke rumah masing-masing.
Waktu terus berlalu mengiringi aktivitas aku hari ini……kini matahari mulai pamh it parlahan,namun bapakku belum pulang juga. Keadaan ini membuat aku cemas apalagi ia sedang sakit. Pikiran aneh perlahan menjalar dihantui rasa cemas tarhadap bapak yang belum pulang” jangan – jangan terjadi sesuatu terhadap bapak. Tapi itu tidak mungkin terjadi, bapakku orang hebat.
Tokkk…….tok,,,,tok,,,,,,,,
Berlari membuka pintu,mungkin bapa sudah pulang,,,, ya ternyata temannku yang ingin mengajak aku main. Dengan wajah lesu menolak ajakan temanku.
Menunggu dan terus menunggu itulah yang aku lakukan meskipun perasaan tidak tenang tapi mencoba untuk bersabar. Beberapa saat kemudian aku masuk dalam rumah dan ternyata bapak sedang minum kopi,,,,,,bingung,,,,,tapi hati senang.
“Bagimana mungkin bapak ada dalam rumah sementara  dari tadi saya mencari bapak…..????
Oh,,,, iya maaf, bapak tadi ketiduran dalam kamar soalnya baak cape pulang dari pasar tadi siang…….
“ ya bapak akukan kwatir,,,,,,,, ah bapak bikin orang panik.
“Bapak membeli sesuatu untukmu,,,,,,memberikan bungkusan yang lumayan besar…..
Perlahan membuka ……..
Hati berdebar membuka bingkisan itu…… jreng,,,,,,,jreng,, ternyata sepatu bola yang aku impikan selama ini.
 Rasanya bahagia,,, meskipun kini ibu telah tiada namun sosok bapak manggantikan ibu sekarang ini.
( Fransiskus D. Darma II E)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BANG LAWO "BERBURU TIKUS"

    BANG LAWO  Masa kecil menjadi masa yang indah, tidak ada beban berat yang terlintas dalam pikiran hanya ada rasa senang saat kita tert...