07 Agustus 2016

cerpen Mimpi yang Tak Terwujud


Mimpi Tak Terwujud
(Fian darma)
Celana tisu hitam,  berkemeja, dan bersepatu kulit hitam yang mengkilat. Saat  itu aku berjalan mengitari daerah Ruteng dengan sepeda motor laki yang kugunakan, menambah menambah aura ketampananku. Aku melihat di samping kiri dan kanan melambaikan tangan seperti menyambut kedatangan artis yang tampan. Begitu banyak para cewek  cantik meyiapkan buku dan ponsel untuk tanda tangan dan berfoto dengan saya. Setiap orang berteriak memanggil nama saya,,,,, Amir,,,Amir,,,Amir.
Susah ya jadi orang terkenal. Kemana-mana selalu dikerumuni orang banyak.
Apa yang kuinginkan pasti bisa kudapatkan, kalau kata orang sih, hidupku ini beralaskan uang dan bermandikan emas. Setiap yang aku mau selalu dengan modal ketampananku untuk mengisi acara-acara di Tv. Mobilku banyak, harta melimpah seperti lagunya om Iwan.
Aku tersentak dari tempat tidur, membanyangkan semua yang telah aku pikirkan secara matang.
Busettttt
Ternyata semua yang aku pikirkan cuma mimpi, nasib, nasib. Memang nasib oranng susah selalu berkhayal yang indah-indah saja. Alasanya ya, tidak lain tidak bukan adalah  bosan dengan hidup susah yang selalu berkekurangan.
Celana tisu, berkemaja,  sepatu kulit, bermotor, banyak penggemar, uang dan emas hanya angan- angan dalam mimpi di siang bolong saat sedang istrahat kerja. Kapan ya, saya bisa memiliki semua itu? Sebenarnya bosan juga dengan berkhayal yang tak pernah terwujud. Dengan bekerja keras, membanting tulang sana sini, pergi pagi pulang malam, eh maksud saya pergi pagi pulang pagi supaya lebih berkesan tetapi tetap saja tidak bisa mewujudkan apa yan saya inginkan.
Kata orang sih, hidup ini sesuai garis tangan. Kalau sudah ditakdirkan untuk susah, maka hidup akan terus-terusan susah. Ya, paling tidak ada benarnya, apa yang aku alami saat ini merupakan gambaran hidupku untuk seterusnya. Bukan berarti saya menyerah dan berputus asa, memang benigilah hidupku.
Sebaliknya, orang kaya, akan kaya terus-menerus  sampai tujuh turunanan bahkan sampai dunia kiamat  mereka akan tetap akan kaya  mungkin juga mereka bisa akaya di dunia akhirat. Mereka bisa melakukan apa saja dengan uang yang mereka miliki termasuk harga diri orang yang bisa dibeli. Tidur beralaskan uang bukan sebuah impian tetapi kenyataan.
Terkadang saya berpikir, Tuhan memang tidak adil dengan saya yang selalu berkekurangan dan tak punya apa-apa. Bukan soal harta saja Tuhan tidak adil bahkan juga perkara lainnya. Orang yang jahat di beri umur panjang sedangkan orang yang baik hanya singkat saja mereka  menikmati hidup.  Hhhmhmhm, seperti yang kukatakan tadi, memang beginilah hidup masalah adil dan tidak adil buksn masalah yang baru untuk kami kaum yang tertindas.
Sore hari itu aku melanjutkan pekerjaan dengan beberapa orang lainnya, ada bapa  Man, bapa soni, bapa Reni dan beberapa anak-anak yang sempat ikut. Kami pun berangkat ke gudang penyimpanan pupuk di derah Bunga Indah tepatnya di desa Mawar. Kurang lebih ada sekitar 50 karung pupuk yang kami angkut dan dibagikan pada kelompok tani pada daerah yang telah ditentukan sesuai dengan kelompok mereka masing-masing. Setelah semuanya diangkut, langsung diantar ke rumah masing-masing. Pekerjaan yang melelahkan, bukan perkara mudah mengangkat puluhan karung pupuk yang beratnya berkisar 30 sampai 40 kg/ karung.  Beban berat yang harus kami pikul tidak menjadi masalah, yang penting kami lakukan secara bersama-sama.
Sekitar pukul 16.00 Wita, pembagian telah selesai dan kamipun pulang ke rumah masing-masing. Rasanya badan terkurung dalam rasa lelah yang mendera akibat aktivitas hari ini. Malam semakin larut, aku harus tidur, mengingat esok harus kerja lagi. Mimpi kembali mengantar saya dengan tisu hitam, berkemeja, sepatu kulit dan motor laki yang saya pakai. 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BANG LAWO "BERBURU TIKUS"

    BANG LAWO  Masa kecil menjadi masa yang indah, tidak ada beban berat yang terlintas dalam pikiran hanya ada rasa senang saat kita tert...