Mimpi Tak Terwujud
(Fian darma)
Celana
tisu hitam, berkemeja, dan bersepatu
kulit hitam yang mengkilat. Saat itu aku
berjalan mengitari daerah Ruteng dengan sepeda motor laki yang kugunakan,
menambah menambah aura ketampananku. Aku melihat di samping kiri dan kanan
melambaikan tangan seperti menyambut kedatangan artis yang tampan. Begitu
banyak para cewek cantik meyiapkan buku
dan ponsel untuk tanda tangan dan berfoto dengan saya. Setiap orang berteriak
memanggil nama saya,,,,, Amir,,,Amir,,,Amir.
Susah
ya jadi orang terkenal. Kemana-mana selalu dikerumuni orang banyak.
Apa
yang kuinginkan pasti bisa kudapatkan, kalau kata orang sih, hidupku ini
beralaskan uang dan bermandikan emas. Setiap yang aku mau selalu dengan modal
ketampananku untuk mengisi acara-acara di Tv. Mobilku banyak, harta melimpah
seperti lagunya om Iwan.
Aku
tersentak dari tempat tidur, membanyangkan semua yang telah aku pikirkan secara
matang.
Busettttt
Ternyata
semua yang aku pikirkan cuma mimpi, nasib, nasib. Memang nasib oranng susah
selalu berkhayal yang indah-indah saja. Alasanya ya, tidak lain tidak bukan
adalah bosan dengan hidup susah yang
selalu berkekurangan.
Celana
tisu, berkemaja, sepatu kulit, bermotor,
banyak penggemar, uang dan emas hanya angan- angan dalam mimpi di siang bolong
saat sedang istrahat kerja. Kapan ya, saya bisa memiliki semua itu? Sebenarnya
bosan juga dengan berkhayal yang tak pernah terwujud. Dengan bekerja keras,
membanting tulang sana sini, pergi pagi pulang malam, eh maksud saya pergi pagi
pulang pagi supaya lebih berkesan tetapi tetap saja tidak bisa mewujudkan apa
yan saya inginkan.
Kata
orang sih, hidup ini sesuai garis tangan. Kalau sudah ditakdirkan untuk susah,
maka hidup akan terus-terusan susah. Ya, paling tidak ada benarnya, apa yang
aku alami saat ini merupakan gambaran hidupku untuk seterusnya. Bukan berarti
saya menyerah dan berputus asa, memang benigilah hidupku.
Sebaliknya,
orang kaya, akan kaya terus-menerus sampai tujuh turunanan bahkan sampai dunia
kiamat mereka akan tetap akan kaya mungkin juga mereka bisa akaya di dunia
akhirat. Mereka bisa melakukan apa saja dengan uang yang mereka miliki termasuk
harga diri orang yang bisa dibeli. Tidur beralaskan uang bukan sebuah impian
tetapi kenyataan.
Terkadang
saya berpikir, Tuhan memang tidak adil dengan saya yang selalu berkekurangan
dan tak punya apa-apa. Bukan soal harta saja Tuhan tidak adil bahkan juga
perkara lainnya. Orang yang jahat di beri umur panjang sedangkan orang yang
baik hanya singkat saja mereka menikmati
hidup. Hhhmhmhm, seperti yang kukatakan
tadi, memang beginilah hidup masalah adil dan tidak adil buksn masalah yang
baru untuk kami kaum yang tertindas.
Sore
hari itu aku melanjutkan pekerjaan dengan beberapa orang lainnya, ada bapa Man, bapa soni, bapa Reni dan beberapa
anak-anak yang sempat ikut. Kami pun berangkat ke gudang penyimpanan pupuk di
derah Bunga Indah tepatnya di desa Mawar. Kurang lebih ada sekitar 50 karung
pupuk yang kami angkut dan dibagikan pada kelompok tani pada daerah yang telah
ditentukan sesuai dengan kelompok mereka masing-masing. Setelah semuanya
diangkut, langsung diantar ke rumah masing-masing. Pekerjaan yang melelahkan,
bukan perkara mudah mengangkat puluhan karung pupuk yang beratnya berkisar 30
sampai 40 kg/ karung. Beban berat yang
harus kami pikul tidak menjadi masalah, yang penting kami lakukan secara
bersama-sama.
Sekitar
pukul 16.00 Wita, pembagian telah selesai dan kamipun pulang ke rumah
masing-masing. Rasanya badan terkurung dalam rasa lelah yang mendera akibat
aktivitas hari ini. Malam semakin larut, aku harus tidur, mengingat esok harus
kerja lagi. Mimpi kembali mengantar saya dengan tisu hitam, berkemeja, sepatu
kulit dan motor laki yang saya pakai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar