07 Agustus 2016

cerpen Libur Untuk Bekerja


LIBUR UNTUK BEKERJA
                                                                    
Tak ada hal lain yang saya lakukan selama sepekan ini. Bangun pagi, cuci muka dan langsung makan.  Tidak ada waktu untuk berjemur matahari seperti orang lain, bahkan untuk makan pun harus terburu- buru seperti dikejar waktu. Liburan kali ini begitu bermanfaat bagiku, ini dikarenakan aku berkerja dengan bapakku selama liburan. Meskipun aku menyadari, pekerjaan kali ini menyita banyak waktu sebagai kuli bangunan dan tentunya menguras banyak tenaga.
Bukan hanya aku yang bekerja sebagai kuli bangunan, tetapi banyak anak-anak seusiaku. Hal semacam ini sudah terbiasa bagi anak-anak di kampung. Biasanya kami bekerja mencari uang untuk membeli buku selain membantu kedua orang tua. Kami benar- benar menyadari apa yang kami rasakan dengan keadaan yang ada, untuk bertahan hidup kita harus berjuang dengan kerasnya zaman yang tidak kompromi terhadap  orang malas. Tidak beker berarti tidak makan, itulah yang kami rasakan saat ini. Rasa sakit dan lelah tidak lagi kami hiraukan saat tulang-tulang yang yang belum kuat dipaksakan bertarung meskipun belum kokoh. Tangan dan kaki dipaksa bergerak saat badan terpenjara dalam lelah untuk mendapat sesuatu yang lebih berarti. Seandainya hidup ini seperti mereka-mereka yang hidup di atas kenyamanan pasti tak sesulit yang dialami sekarang. Aku menyadari, tak ada yang kekal di dunia ini, harta, jabatan, dan kehormatan hanya fana dan tidak berarti di dunia akhirat.
Segala sesuatu yang ada diciptakan sesuai dengan perutukan dan bukan untuk manusia yang rakus. Hanya saja orang seringkali melihat segala sesuatu yang indah sebagai sesuatu yang harus dimiliki. Hidupku, beginilah adanya. Meskipun hidup dengan segala keterbatasan namun aku menyadari inilih hidup yang harus kujalani.
  
Tak ada yang tahu, apa yang akan terjadi hari ini dan esok. Setiap hari alur cerita berganti dengan cerita yang berbeda.
Saat ini hanya kuli, hari nanti yakin dan percaya akan lebih baik. 
 Bukan soal apa yang kita jalani yang menjadi masalahnya tetapi bagaimana kita menikmati dan menjalani apa yang kita lakukan. Bukan soal berapa upah yang kita terima sebagai buru tetapi apa yang kita dapat sebagai hasil belajar untuk masa akan datang. Terkadang kita hanya prioritaskan apa yang kita dapatkan saat itu dan tidak memikirkan kemungkinan yang lebih baik yang akan datang.
Ternyata ada juga orang memanfaatkan pada prinsip pengalaman lebih penting, dengan cara memberi gaji yang rendah pada burunya tak memikirkan apakah itu cukup untuk sepiring nasi.  Bukan tidak mungkin yang dicari para buruh hanyalah bungkusan nasi sisanya kebutuhan sekolah dan sehari-hari.
Setelah sore hari sekitar pukul 17.30 Wita, aku dan bapak pulang, begitu juga dengan para pekerja lain.
Pekerjaan hari ini sungguh melelahkan. Kaki, tangan, dan punggung jadi lemas.  Pekerjaan ini menyadarkanku untuk mendapatkan sesuatu harus bekerja sepenuh hati. Kebutuhan kita tidak kan terwujud sepenuhnya. Kerasnya dunia selalu menuntut setiap individu bersaing untuk mendapatkan hasilnya, karena itu orangtua selalu menyarankan untuk bersekolah dengan baik. Barangkali dengan sekolah bisa menjamin kehidupan yang lebih baik dari kehidupan  mereka yang selalu bergelut dengan keras dunia. Nasihat inilah yang menjadi motivasi untuk kami sebagai anak.
Setibanya di rumah, aku langsung mandi meskipun badan ini malu bersetuhan dengan air yang begitu dingin. Memang, air di daerah ini sangat dingin makanya kotaku ini dijuluki kota dingin yang berada di daerah pegunungan. Kota dingin ini memberi kami kehidupan yang lumayan layak. Banyak tanaman yang bisa berkembang terutama komoditas sayur-sayuran dan inilah yang menjadi andalan di daerah kami. Sayuran apa saja bisa tumbuh dan menghasilkan uang bagi para petani yang menekuni bidang ini. Uang yang dihasilkan dari berjualan sayur tidak seberapa, paling tidak cukup untuk kami yang ada di sekitar daearah.
Bukan hanya saya yang membantu orangtua untuk menghasilkan uang, anak-anak di desa kami berlomba-lomba membantu keluargan dengan caranya masing-masing yang bisa dilakukan. Jujur, aku sangat bangga dengan anak-anak di sini, meskipun tidak seberapa yang mereka lakukan namun sangat membantu orang lain. Begitu masa sekolah tiba, mereka menyiapkan perlengkapan sekolah dengan usaha mereka. Ada kecenderungan dalam diri anak di desa ini yang sulit diubah, dengan mencari uang sendiri mereka menjadi perokok dan peminum usia dini yang berbahaya untuk kesehatan. Inilah hal negative dari apa yang mereka lakukan. Untunglah sampai saast ini saya belum menjadi perokok seperti mereka begitu pula dengan adik-adik saya berkata arahan dari kedua orangtua yang senantiasa membimbing anak-anaknya. Bukan berarti anak- anak yang lain tidak dibimbing orangtuanya tetapi mereka merokok dan minum moke secara sembunyi- sembunyi.
Malam harinya kami berkumpul dengan anggota keluarga, canda tawa selalu menghiasi malam bersama bintang-bintang yang selalu setia menghiasi langit dan bulan tetap setia menagawasi bintang- bintang di langit. Biasnya malam seperti ini kami biasa merefleksi apa yang telah kami lakukan pada siang hari tadi, apakah sudah benar atau masih ada lubang harus diperbaiki. Dengan seperti ini kami bisa melakukan hal yang lebih baik pada hari berikutnya.
Rupanya sang malam mulai kelelahan  menemani kami malam ini dan butuh istrahat. Kami pun begitu, mata mulai sayup menatap satu sama lain dan butuh beristrahat   mengingat besok harus bekerja. Saya terbangun dari tidur dan segera mengangkat semen dan menimba air untuk mencampur semen. Air saya timba terjatuh dan membasi kaki saya, di situ saya merasaka dingin yang begitu menyengat kulit. Sentak saya terbangun, ternyata cuman mimpi menjelang pagi. Saat itu saya berpikir, dalam mimpi kadang bekerja yang menambah lelah setiap pemimpi.  Tidak lama setelah itu aku kembali ngorok menikmati waktu yang tersisa sebelum bekerja.









Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BANG LAWO "BERBURU TIKUS"

    BANG LAWO  Masa kecil menjadi masa yang indah, tidak ada beban berat yang terlintas dalam pikiran hanya ada rasa senang saat kita tert...