08 November 2018

Puisi Baru, fransdarma.blogspot.com







PAWANG HUJAN
Ada yang ingin menendang mundur hujan
dengan perisai saat menyerang bumi

Dihembuskan kepulan asap rokok membentuk perisai
Gempuran gempuran butir air kian memaksa mundur
Berontak, memukul mental mulut pemilik mantra
Digoyangkannya jari-jari membuka telapak ke langit
Komat-kamit membaca mantra penghalau hujan

Butiran-butiran itu kian lemah, tidak mampu menahan kerasnya asap
Mantra-mantra seakan kokoh, tak tertandingi.






Didera Mimpi I
Malam yang panjang
Saat kau harus tertidur dengan mimpi mengerikan
Melihat bayang-bayang beringas memanggil namamu

Hai keturunanku, mengapa engkau membangun leluhurmu?
Semua jari tangan gemetar menyaksikan wajah
yang tidak pernah kau lihat sebelumnya
Wajah itu kian mengamuk, meminta ganjaran
atas apa yang telah kau perbuat.

Sekali lagi dia bertanya, mengapa kau mengganggu?
Melihat wajah yang sangar, jari-jari semakin gemetar tak terarah
Keringat ketakutan menetes di sela-sela bulu mata
Meskipun kau tahu itu mimpi di malam dingin
dan mungkin akan menjadi nyata
Aku ini memang leluhurmu, lalu apa yang kau inginkan?
Tidak mampu berkata-kata
Hanya mata melotot, seperti akan terlepas dari lingkarannya
Sungguh sangat menakutkan saat ingin menjawabnya

Sentuhan angin malam yang panjang
Perlahan menyuntik ke sela pori-pori
Sel-sel dalam tubuhmu ikut merasakan mimpi yang tak tahu ujungnya
Semuanya berontak ingin melompat ke tubuh lain
Ketika merasakan tubuhku didera



Didera Mimpi II
Hari beranjak pagi
Tidak ada yang menegur dengan selamat pagi
Hanya saja ayam berkokok
mungkin juga menegur dengan cara seperti itu
Derap langkah kaki membuka hari
Setiap orang sibuk menata masa depannya.

Termenung, bayang-bayang mimpi leluhur meniru langkah
Semuanya dihantui rasa takut
Kedua tangan menopang dagu memikirkan apa yang akan terjadi.
Cerita-cerita arti mimpi membisik ke telinga
Semua orang berseru, kau yang salah, kenapa membangunkan mereka
Bingung dan takut; aku tidak membangunkan mereka.


Fransiskus D. Darma











1 komentar:

BANG LAWO "BERBURU TIKUS"

    BANG LAWO  Masa kecil menjadi masa yang indah, tidak ada beban berat yang terlintas dalam pikiran hanya ada rasa senang saat kita tert...