06 Desember 2016
Lembaran Sastra Kemas Edisi 1
KEMAS
(KREATIVITAS MAHASISWA) EDISI OKTOBER 2016 1
KREATIVITAS MAHASISWA
Kemas (Kreativitas Mahasiswa)
STAF REDAKSI
ENGELBERTUS A. MANTUR (AM)
LOUIS HELMUS MUTU (LM)
FELISIANA HANDIM (FH)
FRANSISKUS D. DARMA (FD)
YOHANA B.I. DAMU (YD)
OSWALDUS Y. JEHOMAT (OJ) MARIA B. SUSANTI (MS)
Salahkah Hujan?
Awan memucat
Gerimis mengundang bayang- bayang keresahan
Pikiran tak lagi berangan
Langkah kaki seakan lemah
Tak ingin beranjak Kicaun bergema
Sekejam tangisan yang menebar
Dibalutan lara yang tak menentu
Membisu...
Kapankah petikan gemuruh merespon? (YD)
Lelaki MULUS
Renyah Empuk Imut Gurih Tipis berselera..
Pagiku terantuk lelaki berbibir mulus Seutas demi seutas terurai dikala pagi menghampiri rasa Menjulur lidah kutersigap malu Kejar bibir berapi-api merangsang
Jingkrak pada angan ku menyentuh Menggeliat ku tak terarah menentu Oh..sempurna
Bibir kudapat. (YD)
Aku (Egois)
Dikala hasrat mengaduh rasa, tak ku menyahut Kau berseru ingin rasanya buah dadaku Semakin kau bersorak, aku berdandan Amarahmu kian membesit memerah
Dunia hidung belang mengisahkan kegelapan matamu Anak bunga sedap malam belum berbunga, kau sigap dengan lahap Aku tak menyapa rayuan malammu
Hidup bersama kata sepi kau me- rangsang
Aku egois katamu Aku berkata itu egois Kekejaman belum berhari, mengisahkan pilu kelab Terserah, Aku egois.
Cerita ibu
Lentik jarimu kian terasa
Saat membelai hamparan luka
Kaulah cerita setiap jejak kaki
Semangatmu membinasakan waktu
Larut diam dan membeku
Ibu, kaulah duniaku
Dunia terang penghancur gelap
Sejuta cerita telah kau jalani
Beribu luka telah kau lalui
Hanya untuk anakmu
Sungguh hebat dirimu
Meskipun bertemankan penderitaan
Izinkan aku pinjami hatimu
Untuk bekal masa depanku (FD)
KEMAS (KREATIVITAS MAHASISWA) EDISI OKTOBER 2016 2
cerpen
POHON KARET
Pohon yang kokoh Setiap hari tubuh kokohnya dipukul Dipukul, hingga sakitnya sampai menguras hatinya Tubuhnya dicoret-coret menggunakan pena Pena yang tajam dan sangat tajam Memberikan beribu jejak Mengeluarkan berbagai jeritan Namun, jeritannya tak pernah terdengar Nanahnya selalu dirampas Bukan untuknya, tetapi untuk para perampas Untuk menghidupi para perampas itu Pernahkah para perampas itu memikirkan nasipnya? Pernahkah para perampas men- gobati lukanya?
Menutup kisah Kisah mata yang pernah terajut pandangan Kini telah sirna bersama titik-titik tangisan hari. Senja berlalu bertanya: “Apakah ada kisah kekasih lain di kota lucumu?’’ Ia. Ia katamu ? Tak kau baca syair yang berlayar di sepanjang rindu kata berbicara?
Lelaki, rindu hari yang kau cip- takan kala itu merindukan hari kubalas kata Cinta sebening embun berdetik pada jam dinding yang pernah kau titipkan. Katamu “aku pergi dan kembali bersama impian kita”. Rinduku, marah kau terlarut ber- sama air laut di seberang sana.
Tidak kau tenggok lagi, wanita yang perih dengan kepergianmu. Kepada siapa ku mengadu rasa ini? Cintamu masih kusimpan di- lemari harapan kita. Tetapi dunia berkata lain kau te- lah bersuka ria di seberang hidup abadi. Canda
Ceria Cerita hari kau bersama mereka nyaman terasa. Aku..aku..aku..!!! Meratap jejak yang pernah kita bercerita cinta. Lingkaran indah pada jari manisku,terlihat berkilau. Kini semua sirna karena kau pen- gecut yang tak mau bernyawa lagi Pengecut yang berkata pada diri sendiri, melihat aku. Aku yang rindu pada angan tak terlihat rupamu Rindu hanya tinggal kata sebab rindu itu terhalang kabut Termurung lagi kupada segelas bercermin angan Menanti anggur dituang.
BINGKISAN
Hari itu rumahku tampak sunyi dan sepi aku tak tahu bapakku pergi kemana. Hatiku sangat cemas pa- lagi bapak sering sakit mengingat ia membanting tulang untuk menghidupi aku. Meskipun ia ser- ing sakit, tak pernah ia peduli dengan apa yang dirasakan saat ini, lebih baik ia sakit dari pada anak- nya tidak makan, itulah kata yang selalu ia katakan ketika aku melarangnya untuk bekerja. Haripun berganti tapi aku tak bisa menghilangkan rasa rindu ter- hadap sosok seorang ibu yang kini telah kembali ke pangkuan Ma- hakuasasaa. Rasa rindu kian menggelbu saat dinginnya malam menikam tubuh yang kian meng- glegar. Terkadang hati berkata “ rasanya Tuhan tidak adil, mengapa semua ini harus terjadi padaku yang lemah ini. Mengapa waktu begitu cepat berlalu mengambil orang yang kusayangi. Ingin kem- bali berkumpul bersama, “aaahhhhh” rasanya itu hanya ter- jadi dalam mimpi di siang hari. Waktu terus berlalu aku hanyut da- lam mimpi yang tak pasti…… Jjjjrrrrrrrrrrrrrrrrrrrengggggg……j rengggggggggg
Bunyi alaram berkali-kali mem- bangunkan anak manusia yang hanyut dalam mimpi…….. Mentari tersenyum, menyambut deretan cerita baru. Akupun bergeges menuju ke sekolah bersama teman- teman dari sekitaran rumahku….eits sebagai anak yang baik jangan lupa pamit sama bapak setelah itu baru deh jalan. Selamat pagi bu…………….pela- jaran di mulai ,kami bersemangat mendengarkan penjelasan yaaaaa maklumlah pelajaran yang kami sukai yaitu sejarah apalagi se- jarang bangsa Indonesia. Tengggggg……..teng…………te ng…………. Tidak terasa pelajaran selesai saya dan teman-teman bergeges kem- bali ke rumah masing-masing. Waktu terus berlalu mengiringi ak- tivitas aku hari ini……kini ma- tahari mulai pamh it parlahan,na- mun bapakku belum pulang juga. Keadaan ini membuat aku cemas apalagi ia sedang sakit. Pikiran aneh perlahan menjalar dihantui rasa cemas tarhadap bapak yang belum pulang” jangan – jangan ter- jadi sesuatu terhadap bapak. Tapi itu tidak mungkin terjadi, bapakku orang hebat. Tokkk…….tok,,,,tok,,,,,,,, Berlari membuka pintu,mungkin bapa sudah pulang,,,, ya ternyata temannku yang ingin mengajak
aku main. Dengan wajah lesu me- nolak ajakan temanku. Menunggu dan terus menunggu it- ulah yang aku lakukan meskipun perasaan tidak tenang tapi men- coba untuk bersabar. Beberapa saat kemudian aku masuk dalam rumah dan ternyata bapak sedang minum kopi,,,,,,bingung,,,,,tapi hati se- nang. “Bagimana mungkin bapak ada da- lam rumah sementara dari tadi saya mencari bapak…..???? Oh,,,, iya maaf, bapak tadi ketiduran dalam kamar soalnya baak cape pulang dari pasar tadi siang……. “ ya bapak akukan kwatir,,,,,,,, ah bapak bikin orang panik. “Bapak membeli sesuatu un- tukmu,,,,,,memberikan bungkusan yang lumayan besar….. Perlahan membuka …….. Hati berdebar membuka bingkisan itu…… jreng,,,,,,,jreng,, ternyata sepatu bola yang aku impikan selama ini. Rasanya bahagia,,, meskipun kini ibu telah tiada namun sosok bapak manggantikan ibu sekarang ini.
(FD)
PENA YANG KEHABISAN TINTA
Kalian tahu yang namanya penakan? Sungguh terlalu kalau kalian tidak mengetahuinya. Aku punya sebuah pena. Pena itu begitu cantik, sangking cantik aku takut untuk memakainya, terlebih lagi pena itu hanya ada satu didunia ini. Tubuhnya berbentuk bulat, dengan panjang 13cm, badanya kecil, warnanya biru. Tadi aku bilang dia cantik dan tak ingin kupakaikan? Dan kalian percaya? Aku memakai pena itu. Aku men- coret-coret lembaran pada bukuku. Tapi aku hanya memakainya sesekali saja, karena takut tintanya akan habis. Aku tidak pernah menggunakan pena tersebut untuk mencorat-coret sesuatu yang akan mengenyangkanku. Sama sekali tidak pernah. Aku memakainya hanya untuk mencorat-coret seuatu yang tidak dapat mengen- yangkanku, yang ada malah mem- buatku kelaparan.
Berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan aku memakai pena itu, tapi tintanya tak pernah habis. Tintanya masih banyak. Suatu hari, ada teman yang mau meminjam pena itu, tapi aku sama sekali tak memberikannya. Alasannya ka- rena pena itu cantik dan Cuma satu di dunia ini. Karena aku tidak memberikan pena itu temanku ber- kata “bagaimana pun kau menjaga pena itu, kau hemant dalam menggunakan pena itu, suatu saat nanti tinta pena itu akan habis juga.” Aku tidak menghiraukan perkataannya. Sudah dua tahun pena itu ada di tanganku, tinta belum habis juga. Hingga suatu saat aku ingin men- corat-coret menggunakan pena itu, bukan untuk sesuatu yang membu- atku kelaparan, tetapi yang akan mengenyangkan. Aku terus men- corat-coret, hingga ketika aku ingin mengakhiri kegiatan coret- mencoretku, tiba-tiba saja, penanya tidak berwarna lagi, tidak ada lagi coretan. Aku bingung. Jan- gan bilang kalau tintanya habis.
Ah, ternyata betul tintanya habis. Padahal coretanku ini belum selesai. Bagaimana ini? Tintanya habis, aku harus bagaimana? Di dunia ini tidak ada lagi pena sema- cam ini. Oh pena, coretanku ini tinggal sedikit, kenapa kau tak ber- tahan hanya untuk coretanku yang tinggal sedikit itu? Ah, seandainya aku memakai pena ini dari dulu, pasti sudah banyak coretan yang mengen- yangkanku.(FH)
MASIH ADAKAH CINTA UNTUKKU
Rani seorang gadis yang cantik.Ia berumur 18 tahun,dan kini ia duduk di kelas 3 SMA di salah satu sekolah ternama di kota tempat tinggalnya.Rani berasal dari keluarga yang berada.Kedua orang tuanya sering keluar kota bahkan sampai keluar negri untuk bekerja.Mereka jarang memperhatikan Rani karena sibuk dengan pekerjaan mereka masing- masing.Sehingga Rani sering merasa kesepian.Ia sangat menginginkan kedua orangtuannya itu tidak hanya memberikan materi atau fasilitas yang mahal kepada Rani,tetapi juga ia menginginkan kasih sayang dan perhatian dari kedua orang tuanya.
Tetapi untunglah Rani mempunyai kedua sahabat yang sangat menyayanginya,yaitu Sarah dan Fina.Kedua sahabatnya itu sering menyinap di rumahnya untuk menemaninya.Rani sering menceritakan tentang kedua orangtuanya yang mementingkan pekerjaan dari pada mememperhatikan dirinya kepada kedua sahabatnya itu.Dan kedua sahabatnya itu memberikan pengertian kepada Rani bahwa kedua orangtuanya bekerja demi masa depan Rani.
Suatu hari Rani merayakan ulang tahun di rumahnya.Ia mengundang semua teman kelasnya untuk menghadiri ulangtahunnya.Tetapi kebahagiaan Rani belum lengkap tanpa kehadiran orangtuanya.Dan itu yang membuat Rani sangat sedih dan kecewa kepada kedua orang tuanya.Rani selalu memegang ponselnya dan menunggu telfon dari kedua orang tuannya untuk mengucapkan “Selamat ulang tahun sayang”dan ponsel tidak juga juga berdering dan itu yang membuat Rani tambah kecewa dengan kedua orang tuanya.Dan itu yang kesekian kalinya Rani meryakan ulangtahun tanpa kedua orang tuanya.
Kesokan harinya kedua orangtua Rani pulang dan membawa oleh-oleh yang banyak untuk Rani,tetapi Rani tidak mau memerima apapun yang dibawakan kedua orang tuanya.Yang diinginkan Rani sedikit perhatian dari orang tuanya seperti teman-temannya.Kadang- kadang ia iri melihat teman- temannya walaupun hidup mereka pas-pasasan tetapi mereka mempunyai orang tuan sangat menyayangi mereka.Kadang Rani berpikir apakah ia hanyalah anak pungut dan itu yang membuat Rani sering meneteskan air mata.Dan ia menyakan kepada orang tuanya “apakah masih ada cinta untukku?”.Tetapi kedua orang tuannya itu tidak memperdulikan apa yang dikatakannya,malah mereka marah kepada Rani dan mengatakan semua yang kami lakukan demi masa depan kamu.
Suatu hari di sekolah Rani mengadakan lomba membacakan puisi.Dan Rani diutus oleh teman- teman kelasnya untuk mengikuti lomba tersebut.Rani menelfon
kedua orangtuannya untuk menonton lomba yang dibawakan Rani.Tetapi kedua orang tuanya tidak mengangkat telfonnya dan Rani kembali meneteskan air matanya.Perlombaan pun di mulai dan Rani mendapat urutan yang terakhir untuk membacakan puisinya.Dan judul puisi yang dibawakannya “Masih dakah cinta untukku?dan Rani mendapaat juara pertama.Rani sangat senang dan bangga dan mau menunjukan kepada kedua orang tuanya.Dan Rani pun pulang ke rumahnya.Ia menunggu taxi di gerbang sekolahnya.Tak lama kemudian taxipun datang dan Rani menaiki taaxi tersebut.Di tengah perjalanan taxi yang dinaiki Rani mengalami kecelan.Dan Rani ditolong warga setempat dan dibawa ke ruamah sakit.Dan Rani sangat kritis.Kedua sahabat Rani langsung ke rumah sakit begitu mendengar bahwa Rani mengalami kecelakaan.Pihak ruamah sakit menyatakan tidak bisa tertolong lagi karena keadaannya sangat parah.Kedua sahabatnya menelfon kedua orang tuannya,tetapi tidak bisa dihubungi.Kedua sahabatnya itu sangat kesal dan kecewa kepada kedua orangtua Rani.Tak lama kemudian Rani memutuskan nafas terakhirnya.Sarah dan Fina sangat sedih dan kasihan kepada Rani karena disaat-saat terakhirnya kedua orangtua Rani tidak berada bersamanya.
Satu minngu setelah kematian Rani orangtuanya pulang.Mereka sangat kebingungan dan heran karena banyak sekali karangan karangan bunga yang tertulis nama Rani.Mereka semakin kebingungan,dan ketika mereka masuk ke rumah teman-teman Rani sedang berdoa untuk Rani.Kedua orangtua Rani
menyakan apa yang terjadi pada Rani.Sarah dan Fina mengatakan bahwa Rani sudah tidak ada lagi di dunia ini,dia telah meninngal.Kedua orangtuanya menangis dan menyesal karena menelantarkan Rani selama hidupnya.Dan mereka meminta maaf tetapi semuannya itu tiada artinya,Rani pun telah tiada.Dan mereka menyadari anak adalah titipan Tuhan yang harus dijaga dan bukan hanya berupa materi saja yang diberikan tetapi juga perhatian dan kasih sayang.(MS)
BINGKAI HARAPAN
Hari itu semenjak Rinus melihat denganya, Ia merasa seakan-akan apa yang impikan selama ini tidak sesuai dengan harapannya. Harapan akan bersama melangkah dengannya sudah pupus , setelah Ani yang selalu dia id- amankan dalam mimpi tudurnya berpaling pada Laki- laki berambut kriting. Rinus yang kesehari- annya selalu ceria kini tiba-tiba berubah menjadi kusut bagaikan bunga yang dijemur pada panasnya matahari, hat- inya tenggelam, perasaannya melayang terbang dan terka- dang mendarat pada ranting kering, perasaan yang selama ini tersimpan rapi pada bingkai harapan, kini tercecer tak tau arah, cinta yang dikemas dalam bingkisan kesetian kini tak tau kepada siapakah seharusnya ia berikan, apakah kepada awan
yang selama ini menemaninya dalam setiap langkah hidupnya ? ataukah kepada angin yang selalu setia mengirimkan kabar tentangnya ? semua tidak akan terjawab, hanya air mata yang bisa membuktikan cinta seseorang. “ semoga ia bahagia dengan pilihannya ” keluh Ri- nus sebelum menutupi matanya dengan selimut. “ Apakah aku tidak pantas un- tuknya ? ataukah Apa aku tidak layak untuk memilikinya ? ucap- nya dalam hati Hari berganti hari, bulan ber- ganti bulan, Kabar dari Ani tak pernah tergiang ditelinganya, angin yang selalu memberi ka- bar juga tak pernah datang di- setiap detik kehidupannya, sampai pada suatu hari alam menjadi saksi bisu ketika Rinus secara tak diduga, bertemu dengan Sang dambaannya di sebuah tempat Rinus terkejut dan diam seribu bahasa dan lebih terkejut lagi ketika Ani mengatakan “ Apa kabar “ ?, dengan lembut ia menjawab “ kabarku tak menentu karena perasaanku tak bisa mersakan apa yang sedang kurasakan ketika sesorang yang selama ini kuharapkan dalam mimpiku bertannya tentang kabarku “
“ Apakah salah jika yang orang kamu harapkan itu pergi men- cari setangkai pelangi dan membawa selembar puisi untuk seorang yang mengharap- kannya” balasnya dengan seribu senyuman . “ Apa maksudmu ? tanya Rinus dengan penuh penasaran, “ ha- ruskah aku menghapkan seseorang, yang sudah men- jadi pelangi dihati orang lain”. “ Apakah perlu kucatat dalam sejarah bahwa pelangi yang selama ini kutunggu, kini sekarang mulai melukis di alam perasaanku, karena seber- narnya aku pergi untuk kembali “ ucapnya sambil memalingkan wajahnya pada Rinus. Mendengar itu Rinuspun berkaca-kaca sambil berkata “sejujurnya pelangi itu akan in- dah ketika kita bersama untuk melukiskan kehiduapan “. Hati Anipun bergelora dan bahagia, ia pun kembali mengatakan “ kisah ini akan kukenang, tak akan kubiarkan kisah ini menjdi asin. Sejak pertemuan itu Rinus dan Ani bersama dalam setiap nam- pak dan senjanya sang surya
(AM).
API PENYELAMAT
Adegan 1 Narator : cahaya bintang yang berkelap-kelip mulai hilang oleh kesunyian malam, supardi berjalan menyusuri malam sepi nan gelap. Angin sepoi-sepoi menyerang tubuhnya hingga ia merasa kedinginan. Dari kejauhan dia melihat ada sekelompok pria yang sedang duduk mengelilingi sebuah api sambil meminum minuman khas Manggarai yaitu sopi. Karena merasa kedinginan iapun meng- hampiri mereka.
Supardi : (menarik napas) permisi ew ka’e nganceng sarap cama api hitu ko ka’e? Pria 1 : oe mai ge ase lonto cama no’o wan. Supardi : (merasa senang) terimakasih ge ka’e. Pria 2 : mai ne mai ite bo ge ase? Supardi : e ka’e toe ma mopon bo lako ho’o ge ka’e. Pria 2 : (merasa binging) co’o tara nggitun ta ase? Supardi : e ka’e reme stres aku ew. Pria 2 : stres ata co ta ase? Supardi : e kae pengaruh raha agu wina aku ew ka’e. Pria 3 : (penasaran) apa keta campit tara sampe raha dite ta ase? Pria 4 : ase, inung sopi ho cekoen kut enak pikiran hitu (sam- bil menyodorkan sopi ke arahku). Supardi : (sambil men- gulurkan tangan) terimakasih ge ka’e (lalu meminum sopi tersebut dan berkata) gunan sekolah ho danong ew ka’e, eme di’a sekolah lorong nggitu kole mose dite tapi eme toe molor sekolah neho aku ho’o ew ka’e, toe ma pekerjaan, nanang ngo kawe tong ga toe kole manga ijasah, cait
woko manga wina agu anak ge ka’e sengsara keta mose daku. Pria 1 : e ase do,do bersa- bar kat ka’eng one lino ho ew. Pria 2 : apa neng peker- jaan dite ho g ase? Supardi : toe manga ew ka’e, cebo langu terus e ka’e (sam- bil tersenyum). Pria 2 : ase, (sambil me- megang pundak supardi) eme nuk wina agu anak tite emo inung ga, agu eme tara manga anak ge ase berarti tu’a mose hitu ga. Jadi ase, neka menyerah, eme toe kawe hang tite ase teing apas wina agu anak musi, agu masalah apa kat ase neka gelang keta putus asa harus bersabar cobaan taung situ. Supardi : (menundukkan kepala) iyo ka’e, terimakasih ge ka’e, toing dite na’a one nais taung laku. Pria 3 : ase, manga ema koe daku ata buka tokong wa pasar iw, hia reme kawe ata kut kerja, ngoeng diteKo ase? Supardi : ole delek eme nggitu ta ka’e, tapi ka’e aku toe manga ijasah ew ka’e. Pria 3 : gampang hitu ta ase, diang tite ga ngo cama wa ema koe hitu. Supardi : terimakasih ge kae (sambil tersenyum karena merasa senang).
Adegan 2
Narator : keesokkan harinya su- pardi dan pria 3 berangkat ke toko tersebut, sesampai di toko tersebut pria 3 berbicara tentang su- pardi yang ingin mendapatkan pekerjaan, setelah beberapa menit bicara pria 3 menghampiri supardi dan berkata.
pria 3 : ase, poli laku tombon agu ema koe daku bo ge, diang tite ga nganceng mulai kerja no’o. supardi : (sangat senang) ole ter- imakasih banyak ge ka’e karena ite poli bantu aku. Pria 3 : iyo ase, cama manusia ite harus saling membantu.
Narator : akhirnya supardi mendapat pekerjaan yang tetap dan gajinya cukup untuk menghidupi istri dan anaknya. (OJ) TAMAT
Drasing ( Drama Singkat )
KEMAS (KREATIVITAS MAHASISWA) EDISI OKTOBER 2016 7
OPINI
Bahasa Indonesia Menjadi
Bahasa ASEAN, Bisakah? Bahasa Indonesia merupakan ba- hasa persatuan bagi seluruh rakyat Indonesia. Ini sudah menjadi sumpah dan janji yang telah diikrarkan anak-anak bangsa ini melalui peristiwa sumpah pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928. Sumpah dan janji itu bahkan diucapkan atau diikrarkan jauh sebelum Bangsa Indonesia merdeka dari penjajahan. Kita ketahui bersama bahwa peristiwa Summpah Pemuda merupakan tonggak penting mengalirnya se- mangat nasionalisme bangsa kita saat itu. Upacaara ini juga sekaligus menetapkan Bahasa Me- layu kala itu menjadi bahasa per- satuan atau Bahas Indonesia. Sejak saat itu para pemuda pejuang bangsa menyatukan diri dengan berbagai organisasi dari berbagai daerah dan bergagai latar belakang di seluruh pelosok negeri dengan menggunakan satu bahasa yaitu Bahasa Indonesia. Berdasarkan alur sejarah atau his- toris tersebut, dapat kita pahami bahwa Bahasa Indonesia sebenarnya juga memiliki peran penting bagi tercapainya ke- merdekaan bangsa kita dari penja- jah. Dapat dibayangkan apabila da- hulu para pemuda dan pejuang kita
tidak memahami atau menggunakan Bahasa Indonesia, mungkin kita akan kesulitan mendapatkan kemerdekaan, sebab setiap pejuang dari berbagai daerah sulit memahami bahasa yang satu dengan yang lain. Berangkat dari ulasan tersebut, kita dapat melihat realitas kita di zaman modern ini. Yang terjadi saat ini adalah Bahasa Indonesia tetap menjadi bahasa nasional dan men- jadi bahasa pemersatu untuk semua masyarakat Indondesia mauupun pemerintahnya. Bahkan lebih dari itu, kita juga akhir-akhir ini mendengar berita bahwa para pekerja asing yang bekerja Di In- donesai harus menguasai Bahasa Indonesia, walaupun tidak beer- laku di semua sektor lapangan kerja yang mempekerjakan tenaga asing. Fenomena ini menunjukan bahawa adanya penghargaan yang tinggi dan penghormatan dari pemerintah terhadap kelestarian Bahasa Indonesia. Usaha tersebut perlu dilakukan sebab pengaruh bahasa asing Di Indonesia sudah cukup besar. Selain upaya-upaya tersebut, ada sebuah pertanyaan yang muncul dalam benak kita sebagai anak bangsa. Apkah Bahasa Indonesia berpotensi menjadi Bahasa ASEAN? Berbicara mengenai potensi sebenarnya Bahasa Indonesia san- gat berpotensi. Jika kita kembali
kepada sejarah, Bahasa Indonesia sebenarnya berasal dari Bahasa Melayu, Sedangkan kita juga tahu bahwa sebagian besar penduduk Asia Tenggara merupakan ras Me- layu. Jadi akan sangat mudah un- tuk menyesuaikan diri dengan Ba- hasa Indonesia.Selain itu, bukan hanya Indonesia yang menggunakan Bahasa Melayu melainkan digunakan pula oleh Negara Malaysia, meskipun masih memiliki perbedaan dari berbagai segi. Hal lain yang mendukung potensi Bahasa Indonesia menjadi Bahasa ASEAN adalah Indonesia merupa- kan salah satu negara yang memel- opori berdirinya Organisasi ASEAN. Sebgai negara pelopor berdirinya ASEAN, Indonesia juga memainkan peran penting di berbagai bidang seperti ketenagakerjaan, pariwisata, perekonomin, dan yang paling penting juga adalah politik. Dengan peran strategis seperti itu- lah sebenarnya Bahasa Indonesia harus dipromosikan menjadi Ba- hasa di tingkat ASEAN. Adapun potensi-potensi lain ialah Bahasa Indonesia merupakan salah satu bahasa yang mudah untuk dipela- jari. Jadi dengan demikian orang dari berbagai negara dapat dengan mudah memperlajarinya dan bahkan menggunakannya. Dari sekian banyak potensi yang sudah disebutkan, kita tentu juga
KEMAS (KREATIVITAS MAHASISWA) EDISI OKTOBER 2016 8
berhadapan dengan berbagai per- soalan dalam negeri sendiri teru- tama menyangkut Bahasa Idnone- sia. Persoalan-persoalan tersebut misalnya masih terlalu banyak rakyt kita yang tidak bisa berba- hasa Indonesia dengan baik.Misal- nya dalam dunia pendidikan kita saat ini, dimana anak-anak SD di kampung-kampung yang masih kesulitan berbahas Indonesia su- dah diajarkan Bahasa Inggris. Ini merupakan masalah besar bagi kita semua dalam usaha tersebut. Jadi, Bahasa Indonesia sebenarnya sangat berpotensi untuk dijadikan sebagai bahasa di tingkat ASEAN. Namun bagaimana itu bisa terjadi apa bila orang Indonesia sendiri masih banyak yang belum men- guasai bahasanya dengan baik? Peran semua elemen bangsa san- gat dibutuhkan dalam usaha besar ini. Semakin banyak pembelajar bahasa yang baik dan berkualitas, semakin besar pula peluang Ba- hasa Indonesia menjadi Bahasa
ASEAN. (LM)
Eksistensi Budaya
dan Amnesia Identitas
(Menilik Eksistensi Budaya “tengge” di Kalangan Kaum Muda Manggarai)
Sekilas Tentang Budaya Budaya adalah sesuatu yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Budaya sebagai makan, minum dan rumah tinggal (home) untuk manusia. Budaya melahirkan manusia yang sungguh manusia yang mencapai kepenuhannya. Bagaimana itu dipahami? Sebuah perspektif bahwa manusia tanpa memliki budaya ia tidak menjadi seorang manusia yang mampu berpikir, bertindak, dan menentukan yang baik dan buruk, benar dan salah. Inilah peran budaya bagi manusia. Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural- Determinism.
Manggarai merupakan daerah yang kaya akan budaya. Hal ini terdapat dalam keanekragaman wujud budaya. Ada bahasa, sistem mata pencaharian, upacra adat, kepercayaan, kesenian dan wujud kebudayaan lainnya. Manusia sebagai pemegang kebudayaan, dan fungsi kebudayaan itu sendiri mengatasi naluri untuk bertindak sewenang-wenang tanpa bertanggung jawab. Selain itu mengatur, menyelaraskan dan membatasi perbedaan kebiasaan setiap individu yang unik dan khas. Berangankat dari ulusan pemahaman tentang budaya kita mencoba melihat wujud kebudayaan daerah manggarai yang terletak pada budaya tengge. Tengge merupakan kebiasaan orang manggarai yang tertanam pada setiap orang yang mengandung suatu perpektif yang wajib dan memilki nilai santunitas. Tengge berarti mengenakan kain tenun yang terletak di pinggang hingga kaki. Budaya tengge sebuah tradisi dari nenek moyang dahulu yang diwariskan secara turun- temurun. Tradisi ini digunakan dalam konteks seperti upacara adat, lonto leok, (duduk bersama) menerima tamu, dan urusan lainnya. Budaya tengge ini menjadi identitas atau ciri khas orang manggarai. Pada substansinya budaya ini mengikat dan melekat pada se- tiap insan kehidupan orang manggarai. Budaya “ Tengge ” di Kalangan Kaum Muda Mangarai
Modern ditandai dengan suatu kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Kemajuan yang pesat memiliki pengaruh positif dan negatif. Dengan adanya kemajuan membantu manusia mudah memperoleh kebutuhannya. Namun di sisi lain ada pengaruh negatif. Hal ini lebih spesifik dampaknya terhadap budaya. Suatu fakta yang menunjukan eksistensi budaya termarginal karena pengaruh budaya asing yang terbawa oleh kendaraan global- isasi. Bagaimana dengan budaya tengge manggarai di kalangan kaum muda yang eksistensinya pada mula kokoh dan tercorak kini menjadi luntur dan terdegradasi? Kalau kita melihat sepintas akan menemukan beberapa faktor memengaruhi budaya tengge menjadi pudar ialah kaum muda menganggap
budaya tengge suatu yang kuno, budaya tengge tidak elegan, budaya tengge tidak gaul bagi anak muda. Faktor ini tentu berpengaruh pada kurangnya kecintaan untuk mempertahankan budaya tengge tersebut. Kurangnya pemahaman tentang budaya tengge meyebabkan kurang percaya diri menunjukan identitas orang manggarai. Hal tersebut terkesan “Amnesia identitas” budaya sebagai identitas wajib dilestarikan dan dikembangkan dalam ke- hidupan. Keberadaan budaya tengge dikalangan kaum muda manggarai sangat memprihat- inkan. Animo kaum muda yang konsumtif dan hedonis ber- pengaruh terhadap perkem- bangan budaya, karena angga- pan tidak elok jika dikemas da- lam setiap aktivitas dan budaya tengge juga tidak memenuhi kriteria dalam konteks modern. Untuk mengembalikan budaya tengge ini pada relnya kita kembali pada diri kita sendiri, khususnya dikalangan kaum muda yang notabene adalah kaum pewaris sekaligus kaum penerus budaya ini, agar senantiasa melestarikan budaya ini melalui mengubah cara pandang yang terkontami- nasi dengan perubahan zaman,
menginternalisasi budaya tengge sebagai bagian dari aspek santunitas, mengedepankan budaya tengge sebagai identitas adalah langkah pertama dan utama. Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang, dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang, dan diwariskan dari generasi ke generasi. Save budaya tengge untuk peradapan tanah congka
sae. (AM)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
BANG LAWO "BERBURU TIKUS"
BANG LAWO Masa kecil menjadi masa yang indah, tidak ada beban berat yang terlintas dalam pikiran hanya ada rasa senang saat kita tert...
-
BANG LAWO Masa kecil menjadi masa yang indah, tidak ada beban berat yang terlintas dalam pikiran hanya ada rasa senang saat kita tert...
-
Kutitipkan Rindu pada Hujan Telah kusampaikan rindu pada helaan nafas Kemudian angin bertiup membawa menggumpal di atas awa...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar