Teman Kesepian
Tinggal cerita yang tak berarti. Kenangan indah terhapus sesaat. Aku menyadari, kisah yang dulu harus berakhir dengan kecewa, berjanji setia pada hal yang tak mungkin terajut. Ya begitulah, kenangan tinggalah cerita manis, aku harus melupakan apa yang telah berlalu sebagai tanda untuk melepaskan semua kisah masa lalu.
Kali ini aku sangat merasakan kesepian yang sangat menghantam batin, selalu dan setiap saat melanda pikiranku. Kesepianku kali ini bukan karena cinta di masa lalu yang telah aku ceritakan namun kali ini kesepiaanku disebabkan orang tua dan adik-adikku yang masih berlibur di rumah nenek. Sunyi senyap, kira-kira begitulah suasana yang kurasakan setiap saat. Hampir selama sepekan ini hal yang sama kulakukan untuk mengusir sepi. Segelas kopi selalu kulakukan setiap 3 jam sekali, maklumlah karena kecanduan kopi sejak aku duduk dibangku Sekolah Menengah Pertama. Bayangkan saja aku bangun paling lambat jam 7 dan harus minum kopi, empat jam kemudian sekitar jam 11, setelah itu jam 3 sore.
Sebernanya minum kopi seperti ini bukan hanya saya saja tetapi budaya kami orang Manggarai yang selalu bekerja keras memang seperti ini, tanpa kopi hidup rasanya malayang-layang bagi mereka yang penikmat kopi. Bagi saya selain bekerja keras dari pagi sampai sore, kopi juga sebagai sumber inspirasi untuk menciptakan proses kreatif. Saking kecanduannya, tanpa kopi tidak bisa melakukan kegiatan yang membutuhkan tenaga yang relatif kuat dan stabil.
Hari ini ada yang berbeda, melodi musik lawas aku putarkan untuk menemani gelas kopi yang lagi sendirian. Paling tidak rasa rinduku dengan keluargaku sedikit terobati. Oh,,,, iya kalau tidak salah hari ini mereka akan kembali ke rumah, ini menambah semangat untuk bekerja.
Setelah beres-beres rumah yang berantakan, langsung ke dapur memasak sayur, untunglah tadi malam saya sudah memasak nasi, jadinya pagi ini tidak repot seperti hari sebelumya. Hidup rasanya nikmat ketika kita menjalaninya tanpa beban. Saat saya sedang memasak sayur, ada orang yang memanggil.
’’Fian,,,,,,Fian,,’’kamu ada di mana?
Beginilah suara yang terdengar dari luar rumah. Dengan polosnya aku langsung menjawab.
‘’Saya ada di sini’’, langsung membukakan pintu bagian samping.
Ternyata ada keluarga dari kampung, kebetulan tanta saya dengan suami dan anaknya. Langsung masuk dan saya persilakan duduk. Beberapa menit kemudian mereka pamit untuk ke rumah sakit untuk mengobati anaknya yang sedang sakit. Setelah saya tanya, ternyata dia ini digigit anjing kecil yang mereka pelihara. Untuk menjaga kemungkinan terkena penyakit rabies langsung ke rumah sakit.
Mereka langsung pergi.
Semoga anaknya tidak terkena penyakit rabies yang sangat berbahaya.
Sayurpun sudah matang. Tidak membuang waktu lagi, aku langsung menyatapnya. Meskipun rasanya sedikit hambar, itu bukan penghalang rasa laparku ini. Nikmat dan tentunya kenyang.
Ehhehhehhehe.
Mataku sayup-sayup, melihat setiap benda yang ada terbayang menjadi dua, semua yang ada terasa kabur. Mataku terpejam, seketika itu langsung tertidur lelap. Waktu itu sekitar jam 9 pagi. Imajinasiku kali ini tidak bertindak dalam mimpi, mungkin karena terlalu kelelahan. Memang tadi malam saya terlambat tidur, sekitar jam dua pagi. Inilah hal lain yang membuat saya lelah dan kantuk.
Kira sekitar jam dua lewat empat puluh menit aku terbanngun, sepertinya tidurku ini sudah disepakati untuk bangun sebelum jam minum kopi sore.
Inilah yang selalu kulakukan saat aku sepi dan hanya kopi sumber proses kreatif dalam hidup.
Coffe part of my life.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar