KILAS SEPUTAR NATAL DAN TAHUN BARU
Perayaan
Natal dan Tahun Baru merupakan perayaan tahunan yang menyita perhatian banyak
orang. Biasanya hari raya Natal
dirayakan pada setiap tanggal 25 Desember dan rangkaian perayaanya mulai dari
tanggal 24- 26 Desember. Lampu-lampu natal selalu identik dengan perayaan ini.
Hampir disepanjang jalan ada lampu hias yang menerangi malam Natal, pohon-pohon
seakan bercahaya bagaikan pohon kerajaan dunia. Semarak lagu Natal manambah
sakral perayaan ini bagi umat Katolik yang di seluruh dunia.
Satu
hal yang identik dengan perayaan ini yaitu baju Natal, kue, kartu natal,
Sinterklas dengan topi dan janggut panjang serta berbagai pernak pernik yang
gemerlap. Kue-kue selalu disajikan setiap rumah, ini menandakan antusias
masyarakat terhadap kelahiran Yesus Kristus penyelamat sangat tinggi. Dari
rumah ke rumah orang berjabat tangan sebagai rasa bahagai kelahiran penyelamat
dunia. Rasa bahagia inilah yang memacu semangat persaudaraan bagi seluruh umat
manusia.
Beberapa
hari setelah perayaan Natal dilanjutkan dengan
perayaan tahun baru. Perayaan ini
biasanya sangat identik dengan petasan. Dentuman api di udara disertai percikan
cahaya menggugah hati bersorak-sorak. Meskipun sangat berbahaya bermain dengan api,
namun karena semangat yang membara untuk mengawali tahun, hal-hal semacam ini
bukan menjadi ancaman bagi mereka. Orang –orang berkumpul disatu tempat untuk
merayakan perayaan ini dengan semangat persaudaraan dan cinta kasih.
Dalam
kebudayaan masyarakat Manggarai untuk mengawali tahun biasanya dilakukan upacara
adat yang dilakukan secara turun temurun yaitu upacara” pande manuk”. Upacara
pande manuk atau wajo manuk ( menyembelih seekor ayam sebagai bahan persembahan
untuk para leluhur dan Tuhan sang pencipta) dilakukan pada akhir tahun sebagai
ucapan terima kasih untuk segala perlindungan yang dilakukan Sang Pencipta ( Mori jari agu dedek). Keluarga-keluarga
berkumpul disatu tempat untuk melaksanakan upacara adat ini, meskipun upacara
ini sederhana namun syarat akan makna untuk mensyukuri segala sesuatu yang kita
peroleh. Semua ini dilakukan sebagai rasa syukur atas segala penyertaan Tuhan
pencipta. Biasanya setelah upacara ini, tapat pada jam dua belas semua anggota
keluarga berkumpul untuk doa secara bersama-sama tepat dimalam pergantian
tahun.
Warga
Manggarai juga biasanya tidak ketinggalan seperti masyarakat di kota besar yang
merayakan malam pergantian tahun dengan petasan atau kembang api. Hal semacxam
ini biasa dilakukan warga Manggrai tepat di malam pergantian tahun. Biasanya
tempat yang dijadikan tempat untuk bermain petasan di lapangan motang Rua.
Selain itu, warga juga biasanya bermain petasan di jalan-jalan umum maupun
tempat yang mudah dijangkau oleh warga masyarakat Manggarai.
Dalam
perayaan malam pergantian tahun ada beberepa hal yang sering kali dilakukan
oleh anak muda di daerah ini. Baik hal yang berdampak negative maupun positif.
Misalkan saja sering kali pada malam pergantian tahun beberapa anak muda yang
ugal-ugalan dan mabuk-mabukan yang pada akhirnya berakir dengan perkelahian sesama
pemuda. Semestinya hal seperti ini tidak terjadi seadainya para pemuda tidak
mabuk-mabukan atau paling tidak bisa membatasi untuk mengkomsumsi minuman yang
berbau alkohol. Ini menandakan perkembangan pola pikir yamg masih sempit dan
pola budaya yang seringkali mengutamakan
minum sampai mabuk untuk mencapai sesuatau yang nikmat di malam pergantian
tahun. Seharusnya tindakan semacam ini bisa dikontrol agar malam pergantian
tahun baru bisa berjalan dengan baik.
Tidak
berhenti sampai di sini, keesokan harinya banyak oaring memanfaatkan hari
libutannya untuk jalan-jhalan ke tempat wisata maupun ke rumah-rumah keluarga
terdekat. Biasanya tempat yang paling banyak diminati masyarakat adalah daerah
pantai. Untuk daerah Manggarai lokasi pantai yang sering dikunjungi adalah
pantai di Reo dan Pantai yang ada di Borong Manggarai Timur. Intinya ebih ke
bagaimana setiap orang mencarai kebahagian di selal-sela kesibukan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar