06 Januari 2017

pendidikan karakter sebagai sebuah tinjaun historis


A.   PENDIDIKAN  KARAKTER SEBUAH TINJAUAN HISTORIS
Istilah karakter dipakai secara  khusus  dalam konteks pendidikan baru muncul pada abad -18. Terminologi ini biasanya mengacu pada idealis –spiritual dalam pendidikan juga dikenal teori pendidikan normatif. Yang menjadi prioritas dalam hal ini adalah nilai-nilai transenden yang dipercayai sebagai motor penggerak sejarah baik bagi individu maupun bagi perubahan sosial. Namun,sebenarnya pandidikan karakter telah lama  menjadi bagian dari sejarah pendidikan itu sendiri. Jika ingin berbicara pendidikan karakter kita mesti melihat pujangga Yunani kuno Homeros. Hal ini dikarenakan dari Homeros bermula tradisi kebudayaan Yunani yang tak terputus. Ini dapat  kita lihat pada buku kuno yang sangat berharga tentang pendidikan arkhais.
     Bagi Homeros ,gambaran ideal tampilan seorang manusia adalah gambaran diri seorang pahlawan. Ia memiliki gambaran yang tegas antara apa yang disebut manusia yang baik dam manusia yang tidak baik. Oleh karena itu,idealnya seorang manusia adalah menjadi manusia yang baik. Pendidikan karakter Yunani yang menimba idealism visi antropologi homerian bisa diringakaskan dengan dua hal,yaitu:
1.      Gimnastik dam Musik
Gimnastik adalah kultur tas tubuh yang manjadi karakteristik pendidikan manusia Yunani dengan berbagai macam penekanan yang berkembang, tidak hanya dalam perang,tapi dalam kerja keras dan lain-lain. Musik adalah seluruh disiplin ilmu di lingkungan kebudayaan yang dilindungi Muse. Jadi bukan musik dalam arti sempit yang berarti memaikan alat musik seperti sekarang ini.
2.      Kebaikan dan Keindahan
Dua binomi ini menjadi initi pendidikan kuno. Kebaikan sebagai sifat mewujudkan nilai-nilai keutamaan manusia Yunani yang disebut arête yang merupakan jiwa yang membentuk manusia utama. Sementara konsep keindahan merupakan konsep khas dalam bidang seni yang pertama-tama mengacu pada keindahan merawat tubuh
Jadi, pendidikan karakter dalam masyarakat Yunani kuno khususnya pada masa Homeros lebih menekankan pertumbuhan individu secara utuh  dengan cara mengembangkan  potensi dalam diri individu.penekanan utama pendidikan karakter ala homerian adalah kesadaran  akan diri yang berkaitan dengan berbagai macam dimensi dalam diri individu yaitu dimensi fisik dan moral.
B.      PENDIDIKAN KARAKTER DALAM PENDIDIKAN NASIONAL
        Pendidikan karakter sesunggunya telah lama menjadi roh dan semangat dalam paraktek pendidikan di Indonesia. Sejak awal kemerdekaan ,kebijakan pendidikan memamng diarahkan pada pembentukan karakter bangsa sebagai mana digagas para pendiri bangsa. Pribadi berkarakter  adalah mereka yang mampu menggunakan dan mempertanggung jawabkan kebebasan demi sebuah nilai ,cita-cita dan idealism yang mengatasi pamrih individu.
     Dalam sejarah kurikulum  di Indonesia pernah terjadi pendidikan karakter diaharkan secara eksplisit di sekolah-sekolah formal pendidikan dasar dalam sebuah mata pelajaran yang disebut sebagai Budi Pekerti pada tahun 1996-an. Pendidikan Budi pekerti yang diajarkan dalam sebuah mata pelajaran merefleksikan prioritas nilai bagi para siswa. Ada masa di mana  pendidikan karakter tampil dalam penggolongan kelompokpelajaran yang memiliki muatan pembentukan watak,separti pelajaran agama,seni,sastra, dan olahraga. Dengan masuknya model pengelompokan seperti ini,pelajaran Budi Pekerti yang secara eksplisit diajarkan dalam mata pelajaran khusus pelan-pelan menghilang dari sekolah dan tergantikan dengan penglompokan mata pelajaran ini.
        Pada masa Orde Baru  ,pendidikan karakter diwujudkan secara eksplisit melalui program pendidikan yang sistematis,seperti tampak pada Penataran Pedoman Penghayatan Pancasila (P4) yang dikenal dengan 36 butir P4. Penataran P4 merupakan kewajiban bagi setiap insan pendidikan mulai dari tingkat dasar sampai di tingkat perguruan tinggi. Orde Baru juga melahirkan mata pelajaran eksplisit menunjukan dimansi pembelajaran moral bangsa Indonesia  dalam mata pelajaran yang disebut dengan Pendidikan Moral Pancasila ( PMP). Pendidikan pancasila mencoba mendimensikan dan menanamakan  dalam diri anak sebagai warga bangsa untuk membentuk bangsa ini. Pancasila  dan Undang-Undang Dasar menjadi dasar  berdirinya negara ini. Oleh karena itu wajarlah bila setiap warga negara wajib memaham dasar-dasar penting  bagi kehidupan bersama melalui pendidikan Kewarganegaraan mata pelajaran PMP. Pada masa Orde Baru juga pelajaran PMP diganti dengan mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan. Pergantian nama meskipun isinya sama,dilakukan karena dalam praksisnya PMP cenderung menjadi sekadar pengajaran dan bahkan dalam proses pengajaran cendrung menjadi ekstrim sehingga menjadi indoktrinasi. Selain itu PMP diubah karena sangat moralis dengan menekankan hal-hal yang berbau moral. Perubahan ini juga mengubah haluan pembelajaran karakter menuju keutamaan sebagai warga negara ,di mana Pancasila tidak lagi menuju utama melaikan lebih pada bagaimana negara mempersiapkan warga negara yang baik,aktif dan bertanggung jawab melalui pendidikan. Gagasan ini juga mengambalikan mata pelajaran civic yang digagas pada zaman pemerintahan  Soekarno.
           Pada masa pasca reformasi, usaha untuk  mamasukan pendidikan karakter tampil bukan mmelalui pembelajaran nilai-nilai moral melainkan beralih pada dimensi religious keagamaan yang menekankan iman takwa dan akhlak mulia. Hal ini bahkan ditampilkan dalam formulasi tujuan pendidikan menurut UU Sistem Pendidikan nasional No.20 tahun 2003 yang mengatakan : “ Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradapan bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa , bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa , berakhlat mulia ,sehat,berilmu,cakap,kreatif,mandiri dan menjadi warga negara yang demokratisdan bertanggung jawab ( pasal 3).
       Dalam konteks ini pelajaran agama  atau hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan rohani dan religius. Lantas menjadi bagian yang sangat penting bagi pembentukan karakter siswa. Perkembangan religius pesrta didik menjadi prioritas dalam kinerja pada masa reformasi. Bahkan sering sering kali dipromosikan  bahwa pendidikan religius merupakan salah satu cara yang efektif dalam menangkal kemerosotan moral bangsa.
      Pada akhirnya , apa yang menentukan keberhasilan pendidikan  karakter adalah adanya konsisitensi antara pemahaman dan praksis di lapangan. Pemahaman yang sama dalam pendidikan karakter bisa memiliki perbedaan dalam paraksis di lapangan. Praksis inilah yang menentukan keberhasilan pendidikan karakter.bisa jadi ppemahaman tentang pendidikan karakter baik,utuh,dan integral namun ternyata praksis di lapangan sangatlah berbeda.
Berkaitan dengan ini, Megawangi sabagai pencetus pendidikan di Indonesia telah menyusun 9 pilar pendidikan  karakter  mulia selayaknya dijadikan acuan dalam pendidikan karakter.
1.      Cinta Allah dan kebenaran
2.      Tanggung jawab, disiplin,dan mandiri
3.      Amanah
4.      Hormat dan santun
5.      Kasih sayang,peduli, dan kerja sama
6.      Percaya diri,kreatif, dn pantang menyerah
7.      Adil dan berjiwa kepemimpinan
8.      Baik dan rendah hati
9.      Toleran dan cinta damai.
Kiranya kesembilan hal ini dapat menjadi acuan untuk pembentukan karakter individu untuk kemajuan bangsa ini.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BANG LAWO "BERBURU TIKUS"

    BANG LAWO  Masa kecil menjadi masa yang indah, tidak ada beban berat yang terlintas dalam pikiran hanya ada rasa senang saat kita tert...