A. PENDIDIKAN KARAKTER SEBUAH TINJAUAN HISTORIS
Istilah
karakter dipakai secara khusus dalam konteks pendidikan baru muncul pada abad
-18. Terminologi ini biasanya mengacu pada idealis –spiritual dalam pendidikan
juga dikenal teori pendidikan normatif. Yang menjadi prioritas dalam hal ini
adalah nilai-nilai transenden yang dipercayai sebagai motor penggerak sejarah
baik bagi individu maupun bagi perubahan sosial. Namun,sebenarnya pandidikan
karakter telah lama menjadi bagian dari
sejarah pendidikan itu sendiri. Jika ingin berbicara pendidikan karakter kita
mesti melihat pujangga Yunani kuno Homeros. Hal ini dikarenakan dari Homeros
bermula tradisi kebudayaan Yunani yang tak terputus. Ini dapat kita lihat pada buku kuno yang sangat
berharga tentang pendidikan arkhais.
Bagi Homeros ,gambaran ideal tampilan
seorang manusia adalah gambaran diri seorang pahlawan. Ia memiliki gambaran
yang tegas antara apa yang disebut manusia yang baik dam manusia yang tidak
baik. Oleh karena itu,idealnya seorang manusia adalah menjadi manusia yang
baik. Pendidikan karakter Yunani yang menimba idealism visi antropologi
homerian bisa diringakaskan dengan dua hal,yaitu:
1. Gimnastik
dam Musik
Gimnastik
adalah kultur tas tubuh yang manjadi karakteristik pendidikan manusia Yunani
dengan berbagai macam penekanan yang berkembang, tidak hanya dalam perang,tapi
dalam kerja keras dan lain-lain. Musik adalah seluruh disiplin ilmu di
lingkungan kebudayaan yang dilindungi Muse. Jadi bukan musik dalam arti sempit
yang berarti memaikan alat musik seperti sekarang ini.
2. Kebaikan
dan Keindahan
Dua
binomi ini menjadi initi pendidikan kuno. Kebaikan sebagai sifat mewujudkan
nilai-nilai keutamaan manusia Yunani yang disebut arête yang merupakan jiwa
yang membentuk manusia utama. Sementara konsep keindahan merupakan konsep khas
dalam bidang seni yang pertama-tama mengacu pada keindahan merawat tubuh
Jadi,
pendidikan karakter dalam masyarakat Yunani kuno khususnya pada masa Homeros
lebih menekankan pertumbuhan individu secara utuh dengan cara mengembangkan potensi dalam diri individu.penekanan utama
pendidikan karakter ala homerian adalah kesadaran akan diri yang berkaitan dengan berbagai macam
dimensi dalam diri individu yaitu dimensi fisik dan moral.
B. PENDIDIKAN KARAKTER DALAM PENDIDIKAN NASIONAL
Pendidikan karakter sesunggunya telah
lama menjadi roh dan semangat dalam paraktek pendidikan di Indonesia. Sejak
awal kemerdekaan ,kebijakan pendidikan memamng diarahkan pada pembentukan
karakter bangsa sebagai mana digagas para pendiri bangsa. Pribadi
berkarakter adalah mereka yang mampu
menggunakan dan mempertanggung jawabkan kebebasan demi sebuah nilai ,cita-cita
dan idealism yang mengatasi pamrih individu.
Dalam sejarah kurikulum di Indonesia pernah terjadi pendidikan
karakter diaharkan secara eksplisit di sekolah-sekolah formal pendidikan dasar
dalam sebuah mata pelajaran yang disebut sebagai Budi Pekerti pada tahun
1996-an. Pendidikan Budi pekerti yang diajarkan dalam sebuah mata pelajaran
merefleksikan prioritas nilai bagi para siswa. Ada masa di mana pendidikan karakter tampil dalam penggolongan
kelompokpelajaran yang memiliki muatan pembentukan watak,separti pelajaran
agama,seni,sastra, dan olahraga. Dengan masuknya model pengelompokan seperti
ini,pelajaran Budi Pekerti yang secara eksplisit diajarkan dalam mata pelajaran
khusus pelan-pelan menghilang dari sekolah dan tergantikan dengan penglompokan
mata pelajaran ini.
Pada masa Orde Baru ,pendidikan karakter diwujudkan secara
eksplisit melalui program pendidikan yang sistematis,seperti tampak pada
Penataran Pedoman Penghayatan Pancasila (P4) yang dikenal dengan 36 butir P4.
Penataran P4 merupakan kewajiban bagi setiap insan pendidikan mulai dari
tingkat dasar sampai di tingkat perguruan tinggi. Orde Baru juga melahirkan
mata pelajaran eksplisit menunjukan dimansi pembelajaran moral bangsa
Indonesia dalam mata pelajaran yang
disebut dengan Pendidikan Moral Pancasila ( PMP). Pendidikan pancasila mencoba
mendimensikan dan menanamakan dalam diri
anak sebagai warga bangsa untuk membentuk bangsa ini. Pancasila dan Undang-Undang Dasar menjadi dasar berdirinya negara ini. Oleh karena itu
wajarlah bila setiap warga negara wajib memaham dasar-dasar penting bagi kehidupan bersama melalui pendidikan
Kewarganegaraan mata pelajaran PMP. Pada masa Orde Baru juga pelajaran PMP
diganti dengan mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan. Pergantian nama
meskipun isinya sama,dilakukan karena dalam praksisnya PMP cenderung menjadi
sekadar pengajaran dan bahkan dalam proses pengajaran cendrung menjadi ekstrim
sehingga menjadi indoktrinasi. Selain itu PMP diubah karena sangat moralis
dengan menekankan hal-hal yang berbau moral. Perubahan ini juga mengubah haluan
pembelajaran karakter menuju keutamaan sebagai warga negara ,di mana Pancasila
tidak lagi menuju utama melaikan lebih pada bagaimana negara mempersiapkan
warga negara yang baik,aktif dan bertanggung jawab melalui pendidikan. Gagasan
ini juga mengambalikan mata pelajaran civic yang digagas pada zaman
pemerintahan Soekarno.
Pada masa pasca reformasi, usaha
untuk mamasukan pendidikan karakter
tampil bukan mmelalui pembelajaran nilai-nilai moral melainkan beralih pada
dimensi religious keagamaan yang menekankan iman takwa dan akhlak mulia. Hal
ini bahkan ditampilkan dalam formulasi tujuan pendidikan menurut UU Sistem
Pendidikan nasional No.20 tahun 2003 yang mengatakan : “ Pendidikan nasional
berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradapan bangsa
yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa , bertujuan untuk
berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan
bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa , berakhlat mulia ,sehat,berilmu,cakap,kreatif,mandiri
dan menjadi warga negara yang demokratisdan bertanggung jawab ( pasal 3).
Dalam konteks ini pelajaran agama atau hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan
rohani dan religius. Lantas menjadi bagian yang sangat penting bagi pembentukan
karakter siswa. Perkembangan religius pesrta didik menjadi prioritas dalam
kinerja pada masa reformasi. Bahkan sering sering kali dipromosikan bahwa pendidikan religius merupakan salah
satu cara yang efektif dalam menangkal kemerosotan moral bangsa.
Pada akhirnya , apa yang menentukan
keberhasilan pendidikan karakter adalah
adanya konsisitensi antara pemahaman dan praksis di lapangan. Pemahaman yang
sama dalam pendidikan karakter bisa memiliki perbedaan dalam paraksis di
lapangan. Praksis inilah yang menentukan keberhasilan pendidikan karakter.bisa
jadi ppemahaman tentang pendidikan karakter baik,utuh,dan integral namun
ternyata praksis di lapangan sangatlah berbeda.
Berkaitan
dengan ini, Megawangi sabagai pencetus pendidikan di Indonesia telah menyusun 9
pilar pendidikan karakter mulia selayaknya dijadikan acuan dalam
pendidikan karakter.
1. Cinta
Allah dan kebenaran
2. Tanggung
jawab, disiplin,dan mandiri
3. Amanah
4. Hormat
dan santun
5. Kasih
sayang,peduli, dan kerja sama
6. Percaya
diri,kreatif, dn pantang menyerah
7. Adil
dan berjiwa kepemimpinan
8. Baik
dan rendah hati
9. Toleran
dan cinta damai.
Kiranya
kesembilan hal ini dapat menjadi acuan untuk pembentukan karakter individu
untuk kemajuan bangsa ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar