30 Januari 2017

GO'ET , SASTRA LISAN MANGGARAI



                                       GO’ET” SASTRA LISAN MANGGARAI
 Manggarai, Flores NTT merupakan salah satu daerah yang tekenal akan sastra lisannya. Banyak hal dalam kebudayaan Manggarai yang berupa sastra lisan, misalnya seni tarik suara dalam berbagai acara adat yang biasa di sebut “neggo”, bundu ( teka teki atau sejenis permainan tebak-tebakan), tombo turuk ( dongeng) , dan go’et ( sejenis puisi lama). Pada umumnya sastra lisan Manggarai mempunyai nilai moral untuk membentuk karakter setiap individu terutama anak muda yang masih membutuhkan pengawasan orangtua.
Sastra lisan pada umumnya tak lepas dari apa yang tertulis. Untuk menjaga setiap sastra lisan maka perlu dijaga dengan membuat tulisan tentang sastra yang dianggap penting sebagai dokumen bersejarah yang berguna untuk anak cucu nantinya. Umumnya sastra lisan diwariskan secara turun temurun atau dari generasi ke generasi mulai dari yang tua ke yang muda. Begitu pula dengan sastra lisan Manggarai yang diwariskan secara turun temurun seperti go’et.
Go’et merupakan bentuk puisi lama yang kaya akan makna. Biasanya ketika seorang mengucapkan tentang go’et maka erat kaitannya dengan ajaran yang berbentuk puisi dan sangat bermakna. Misalkan saja.  Mori jari agu dedek, tanan wa awang etan. Go’et ini bermakna religius yang berarti Tuhan sang penguasa yang menciptakan langit dan bumi serta segala isinya.
 Nai ca anggit tuka ca lelen. Goet ini mempunyai makna persatuan dan kesatuan, setiap orang harus saling bersatu dan tidak boleh berbeda pendapat. Go’et biasa digunakan pada ritus-ritus adat  untuk menyampaikan pesan kepada khalayak umum.
Goet juga bisa dikomunikasikan dengan nyanyian khas Manggarai dalam berbagai acara adat misalkan saja dalam nyayian tarian caci, sanda, dan mbata. Setiap nyanyian mempunyai pesan moral dan bukan sekedar dinyanyikan.
Misalkan saja dalam lagu Sanda Lelang bait kelima
cako
Lelang oooo e ouoo lelang nga
Neki weki, kope oles yo lelang nga, toda kongkol
Kudut manga mongko go
Bait kelima lagu ini yang telah dimodifikasi oleh sebagian orang bermakna persatuan dan kesatuan masyarakat Manggarai. Lagu-lagu lain dapat kita lihat pula pada teks-teks tertulis lagu sanda dan mbata maupun pada acara-acara adat yang memang secara langsung dinyayikan.
Nilai- nilai dalam go’et dan sastra lisan lainnya berupaya menanamkan pendidikan karakter bagi setiap orang yang mendengarkannya.  Meskipun saat ini keberadaan go’et semakin merosot karena tak dipahami dan jarang digunakan oleh generasi sekarang, namun nilai yang tertanamkan masih ada melalui teks-teks yang masih memuat tentang go’et atau media sejenisnya. Ini seharusnya menjadi perhatian serius masyarakat Manggarai supaya bisa mengedepankan eksistensi budayanya sebagai pengontrol sosial masyarakat.
 Bila hal ini tidak dilakukan dan kita lebih mengedepankan budaya luar tanpa memperhatikan budaya sendiri terutama sastra lisan, bukan tidak mungkin sastra lisan seperti go’et dan sejenisnya akan mudah tergerus oleh zaman. Pada akhirnya peran go’et sebagai pengontrol sosial masyarakat Manggarai akan lenyap dan tidak meninggalkan warisan sastra lisan kepada anak cucu.

Beberapa kutipan go’et
Nai ca anggit, tuka ca leleng
Setiap orang tidak boleh berbeda pendapat
Mori ata jari agu dedek
Tuhan penguasa yang menjadikan segala isi dan bumi
Muku ca  pu’u neka  woleng curup, teu ca ambo neka woleng lako
Ini juga sama seperti go’et yang pertama yang bermakna persatuan. Kita tidak boleh berjalan sendiri tetapi kita harus selalu bersama-sama dalam suka maupun duka.
Neka nepo leso, neka ringis tis
Go’et ini bermakna kesehatan yang artinya jangan lekang kerena panas matahari, jangan sakit karena hujan rintik.
Cimar neho rimang cama rimang rana, kimpur neho kiwung cama kiwung lopo
Kekar seperti kayu lidi yang ada di pohon enau yang bertumbuh
Uwa haeng wulang, langkas haeng ntala
Bertumbuh dan berkembang sampai di bulan dan bintang di langit
Curup hae ubu, neho luju mu’u cepa hae reba cama neho emas lema
Persahabatan harus dijaga dengan baik dan berbicara dengan sopan






3 komentar:

BANG LAWO "BERBURU TIKUS"

    BANG LAWO  Masa kecil menjadi masa yang indah, tidak ada beban berat yang terlintas dalam pikiran hanya ada rasa senang saat kita tert...