04 Juni 2016

CERPEN


SENJA
 

Sore  itu aku duduk terpaku menikmati pemandangan senja yang begitu menawan. Hatiku  seolah-olah bercerita tentang masa lalu yang masih membekas dalam sukma, mungkinkah ini yang dinamakan rindu atau hanya imajinasi  belaka. Ya terserah kalian para pembaca mempersepsi rasa yang telah saya ceritakan. Rasa yang ada kian megembara dengan senja yang begitu indah dipandang, cahaya memudar manambah nuasa remang-remang. Begitu banyak aktivatas yang masih orang lakukan sore itu, lalu lalang kendaraan dengan suaranya masing. Ada yang bunyinya  memecahkan telinga para pejalan kaki, bunyi seperti orang berteriak bahkan  ada yang berbunyi seperti orang yang kesakitan. Rasanya pusing jika saya harus menceritakannya kembali.
Ketika aku sedang asyik dengan pemandangan cahaya senja, handphone dalam saku celana bergetar yang sempat membuat aku kaget. Ya maklumlah orang lagi ngelamun ko diganggu.
Hehehehehe.
Singkat cerita ku terima telepon itu. Hallo selamat sore, suara yang terdengar pertama dari handphone butut  yang tak jelas bunyinya. Selamat sore juga” jawaban yang singkat membalas salam dari nomor 336. Suaranya begitu samar, tidak jelas dan nomornya tidak tersimpan dalam kontak handphone, mungkin hpku  kurang baik   menyebabkan suaranya samar dan nomornya tidak tersimpan dalam memori telepon.
 Karena suaranya samar, lalu kumatikan saja handphonenya. Panggilan yang tidak jelas, mengganggu orang yang lagi senang. Meskipun dalam perkataan saya tidak senang dengan  panggilan di telepon, tetapi hal ini membuat saya penasaran dengan nomor baru yang angka belakangnya  366. Sungguh, panggilan itu membuat saya semakin penasaran, tidak biasanya saya seperti ini. Mungkinkah ini telepon yang penting ataukah ini telepon bagian dari masa lalu yang sempat aku renungkan bersama senja. Aku semakin bertambah bingung dan kepalaku sepertinya ingin meledak, hancur kali pikiranku ini. Di situ kulihat temanku sedang asyik dengan handphonenya, dia memutarkan lagu-lagu Dj dan  kepalanya bergoyang menikmati alunan nada. Nikmat benar hidupnya, bisa merasakan hal-hal yang membuat hatinya bahagia sedangkan aku terjebak dalam tanya yang harus kupecahkan.
Lalu aku bertanya dengannya tentang nomor telepon yang sempat dipertanyakan asalnya.” Apakah kamu kenal dengan nomor telepon yang tiga angka di belakangnya 366? Jawaban teman saya sangat sedarhana, “Tidak”. Mungkin itu hanya nomor yang salah alamat dan ingin mencari sensasi atau teman karena dia kesepian. Jawaban yang aneh dan humoris, sempat membuat saya tertawa terbahak-bahak karena kata sensasi. Dia minta hpku untuk mengecek nomor yang tadi di hanphonenya, barang kali nomor itu ada di kontak teleponnya.
Setelah dicek, nomor itu tidak ada dalam memorinya, lantas aku berpikir, mungkinkah itu nomor telepon  teman saya. Memang sih tadi pagi aku sempat dibangunkan suara telepon masuk yang ternyata teman sekelas dan ingin minta bantuan karena hari ini dia tidak masuk kelas dengan alasan sedang sakit. Aku tidak tahu apakah dia sakit benaran atau sakit pura-pura, ya maklumlah jika seoarang siswa malas ke sekolah,alasannya hanya satu yaitu sakit, meskipun sesunggunya dia tidak sakit. Terkadang mereka yang sakit menginformasikannya lewat telepon atau pesan singkat. Satu hal yang membuat saya bingung, apakah mereka tidak tahu, kalau sedang sakit harus disertakan dengan surat pemberitahuan bahwa dirinya sedang sakit, ini sebagai bukti dan pegangan jika sewaktu- waktu ada masalah dengan ketidakhadirannya dalam proses belajar.
Telepon kembali berbunyi, teman  Felly memberikan telepon itu kepada saya. Kulihat nomor yang terpampang di layar hpku, nomor yang sama dengan tiga angka belakangnya 366.
Hallo selamat sore, tegurnya dengan lembut.  Aku menjawabnya dengan lembut pula,” Selamat sore juga.
Kaka buat apa?” Katanya”.
 Lalu aku menjawab tidak ada buat kebetulan lagi duduk. Aku bertanya sebaliknya” Ini dengan siapa? Ini dengan Ani” Apakah ini dengan kaka Frans? Dia bertanya sekali lagi.’’ Iya ini dengan saya sendiri’’. Lantas menyebut nama Ani aku termenung sejenak.,
Siapakah  Ani?  
Mungkinkah dia teman atau keluargaku. Memang sih nama itu tidak asing dari telingaku, perasaan saya mengatakan dia bukan orang baru saya kenal.
Setelah bercakap- cakap cukup lama, aku mengingat dia  ternyata orang yang pernah mengisi lembaran hidupku dengan kisah  indah. Saat ini memang dia berada di salah satu kota untuk tes jadi Polisi Wanita. Kabarnya terbarunya dia tidak lolos seleksi dan akan melanjutkan kuliah dijurusan akuntansi, atau tidak dia akan kuliah dijurusan keperawatan bagian gizi.
Kata Polwan inilah yang mengingatkan saya pada dirinya, dulu memang dia pernah bercerita untuk menjadi Polisi Wanita karena ini adalah impian terbesarnya.
Cerita kami pun berlanjut, saling menyakan kabar masing-masing saat ini. Kenangan masa lalu kembali teringat, hal yang paling tampak pada dirinya adalah seorang pemalu dan selalu bersikap dewasa. Aku hanya tersenyum kecil mengingat dirinya pada masa lalu dan membanyangkan perubahannya pada masa sekarang,  paling tidak dia bukan pemalu seperti dulu lagi.  Senyuman manja selalu menghias wajah polos, cerita lama seakan tak habis bila diceritakan, bukan berarti aku harus kembali pada masa yang lewat tetapi kini aku berkreasi dengan apa yang sedang aku lakukan.
Tidak terasa, kurang lebih 50 menit kami bercakap-cakap melalui telepon. Sudah banyak hal yang telah dibicarakan, mulai dari kabar kami masing-masing, kekecewaannya karena gagal  meraih impiannya, bahkan mendengarkan ceritanya saat dia pergi ke warung dan dicegat laki-laki. Untunglah dia pernah belajar beladiri pencak silat dengan aku sewaktu SMA, sehingga dirinya mampu memukul laki- laki yang memegang tanganya pada malam hari dan berhasil melarikan diri. Kejadian itu membuatnya trauma dengan laki-laki yang tidak dikenal sebelumnya. Kami larut dalam cerita, aku sambil berbaring di atas ranjang sedangkan dirinya aku tidak tahu, yang pasti dia sedang berbicara dengan aku.
Nostalgia lama seakan terulang, canda tawa menghiasi sore itu terbungkus rapi dalam lamunanku. Kini dirinya jauh di sana dibatasi hamparan laut yang membentang sementara aku dihalangi gunung yang tinggi seperti tembok pembatas.















Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BANG LAWO "BERBURU TIKUS"

    BANG LAWO  Masa kecil menjadi masa yang indah, tidak ada beban berat yang terlintas dalam pikiran hanya ada rasa senang saat kita tert...