Sore itu aku duduk terpaku menikmati pemandangan
senja yang begitu menawan. Hatiku
seolah-olah bercerita tentang masa lalu yang masih membekas dalam sukma,
mungkinkah ini yang dinamakan rindu atau hanya imajinasi belaka. Ya terserah kalian para pembaca
mempersepsi rasa yang telah saya ceritakan. Rasa yang ada kian megembara dengan
senja yang begitu indah dipandang, cahaya memudar manambah nuasa remang-remang.
Begitu banyak aktivatas yang masih orang lakukan sore itu, lalu lalang
kendaraan dengan suaranya masing. Ada yang bunyinya memecahkan telinga para pejalan kaki, bunyi
seperti orang berteriak bahkan ada yang
berbunyi seperti orang yang kesakitan. Rasanya pusing jika saya harus
menceritakannya kembali.
Ketika
aku sedang asyik dengan pemandangan cahaya senja, handphone dalam saku celana
bergetar yang sempat membuat aku kaget. Ya maklumlah orang lagi ngelamun ko
diganggu.
Hehehehehe.
Singkat
cerita ku terima telepon itu. Hallo selamat sore, suara yang terdengar pertama
dari handphone butut yang tak jelas
bunyinya. Selamat sore juga” jawaban yang singkat membalas salam dari nomor
336. Suaranya begitu samar, tidak jelas dan nomornya tidak tersimpan dalam
kontak handphone, mungkin hpku kurang
baik menyebabkan suaranya samar dan nomornya tidak tersimpan
dalam memori telepon.
Karena suaranya samar, lalu kumatikan saja
handphonenya. Panggilan yang tidak jelas, mengganggu orang yang lagi senang.
Meskipun dalam perkataan saya tidak senang dengan panggilan di telepon, tetapi hal ini membuat
saya penasaran dengan nomor baru yang angka belakangnya 366. Sungguh, panggilan itu membuat saya
semakin penasaran, tidak biasanya saya seperti ini. Mungkinkah ini telepon yang
penting ataukah ini telepon bagian dari masa lalu yang sempat aku renungkan
bersama senja. Aku semakin bertambah bingung dan kepalaku sepertinya ingin
meledak, hancur kali pikiranku ini. Di situ kulihat temanku sedang asyik dengan
handphonenya, dia memutarkan lagu-lagu Dj dan
kepalanya bergoyang menikmati alunan nada. Nikmat benar hidupnya, bisa
merasakan hal-hal yang membuat hatinya bahagia sedangkan aku terjebak dalam
tanya yang harus kupecahkan.
Lalu
aku bertanya dengannya tentang nomor telepon yang sempat dipertanyakan asalnya.”
Apakah kamu kenal dengan nomor telepon yang tiga angka di belakangnya 366?
Jawaban teman saya sangat sedarhana, “Tidak”. Mungkin itu hanya nomor yang
salah alamat dan ingin mencari sensasi atau teman karena dia kesepian. Jawaban
yang aneh dan humoris, sempat membuat saya tertawa terbahak-bahak karena kata
sensasi. Dia minta hpku untuk mengecek nomor yang tadi di hanphonenya, barang
kali nomor itu ada di kontak teleponnya.
Setelah
dicek, nomor itu tidak ada dalam memorinya, lantas aku berpikir, mungkinkah itu
nomor telepon teman saya. Memang sih
tadi pagi aku sempat dibangunkan suara telepon masuk yang ternyata teman
sekelas dan ingin minta bantuan karena hari ini dia tidak masuk kelas dengan
alasan sedang sakit. Aku tidak tahu apakah dia sakit benaran atau sakit
pura-pura, ya maklumlah jika seoarang siswa malas ke sekolah,alasannya hanya
satu yaitu sakit, meskipun sesunggunya dia tidak sakit. Terkadang mereka yang
sakit menginformasikannya lewat telepon atau pesan singkat. Satu hal yang
membuat saya bingung, apakah mereka tidak tahu, kalau sedang sakit harus disertakan
dengan surat pemberitahuan bahwa dirinya sedang sakit, ini sebagai bukti dan
pegangan jika sewaktu- waktu ada masalah dengan ketidakhadirannya dalam proses
belajar.
Telepon
kembali berbunyi, teman Felly memberikan
telepon itu kepada saya. Kulihat nomor yang terpampang di layar hpku, nomor
yang sama dengan tiga angka belakangnya 366.
Hallo
selamat sore, tegurnya dengan lembut.
Aku menjawabnya dengan lembut pula,” Selamat sore juga.
Kaka
buat apa?” Katanya”.
Lalu aku menjawab tidak ada buat kebetulan
lagi duduk. Aku bertanya sebaliknya” Ini dengan siapa? Ini dengan Ani” Apakah
ini dengan kaka Frans? Dia bertanya sekali lagi.’’ Iya ini dengan saya
sendiri’’. Lantas menyebut nama Ani aku termenung sejenak.,
Siapakah
Ani?
Mungkinkah
dia teman atau keluargaku. Memang sih nama itu tidak asing dari telingaku,
perasaan saya mengatakan dia bukan orang baru saya kenal.
Setelah
bercakap- cakap cukup lama, aku mengingat dia ternyata orang yang pernah mengisi lembaran
hidupku dengan kisah indah. Saat ini
memang dia berada di salah satu kota untuk tes jadi Polisi Wanita. Kabarnya
terbarunya dia tidak lolos seleksi dan akan melanjutkan kuliah dijurusan
akuntansi, atau tidak dia akan kuliah dijurusan keperawatan bagian gizi.
Kata
Polwan inilah yang mengingatkan saya pada dirinya, dulu memang dia pernah
bercerita untuk menjadi Polisi Wanita karena ini adalah impian terbesarnya.
Cerita
kami pun berlanjut, saling menyakan kabar masing-masing saat ini. Kenangan masa
lalu kembali teringat, hal yang paling tampak pada dirinya adalah seorang
pemalu dan selalu bersikap dewasa. Aku hanya tersenyum kecil mengingat dirinya
pada masa lalu dan membanyangkan perubahannya pada masa sekarang, paling tidak dia bukan pemalu seperti dulu
lagi. Senyuman manja selalu menghias
wajah polos, cerita lama seakan tak habis bila diceritakan, bukan berarti aku
harus kembali pada masa yang lewat tetapi kini aku berkreasi dengan apa yang
sedang aku lakukan.
Tidak
terasa, kurang lebih 50 menit kami bercakap-cakap melalui telepon. Sudah banyak
hal yang telah dibicarakan, mulai dari kabar kami masing-masing, kekecewaannya
karena gagal meraih impiannya, bahkan
mendengarkan ceritanya saat dia pergi ke warung dan dicegat laki-laki.
Untunglah dia pernah belajar beladiri pencak silat dengan aku sewaktu SMA,
sehingga dirinya mampu memukul laki- laki yang memegang tanganya pada malam
hari dan berhasil melarikan diri. Kejadian itu membuatnya trauma dengan
laki-laki yang tidak dikenal sebelumnya. Kami larut dalam cerita, aku sambil
berbaring di atas ranjang sedangkan dirinya aku tidak tahu, yang pasti dia
sedang berbicara dengan aku.
Nostalgia
lama seakan terulang, canda tawa menghiasi sore itu terbungkus rapi dalam
lamunanku. Kini dirinya jauh di sana dibatasi hamparan laut yang membentang sementara
aku dihalangi gunung yang tinggi seperti tembok pembatas.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar