04 Juni 2016

DONGENG


                                                 COLA GU TUAK
                                                 ( Fransiskus D Darma )
   
Pada zaman dahulu di desa Mendang Tuwa  hiduplah dua orang bersaudara. Suatu hari sang  adik  meminjam kapak  kakaknya untuk menebang kayu di hutan  lebat yang juram. Kakaknya pun memberikan kapak itu kepada adiknya dengan catatan kapak itu tidak boleh hilang dan sang adik menyetujui apa yang dikatakan saudaranya. Kemudian  adiknya pun pergi ke hutan untuk menebang pohon di dekat jurang yang dalam. Setibanya di hutan ia pun segera mencari kayu yang cocok untuk ditebang,kebetulan kayu itu berada di dekat jurang. Beberapa saat kemudian ia mulai menebang kayu itu tetapi sialnya saat ia menebang pohon kapak yang ada di tangannya terlepas dan jatuk ke dalam jurang yang sangat dalam. Ia sangat panik karena tidak bisa menjangkau jurang yang dalam,terpaksa dirinya kembali ke kampung untuk memberitahukan hal ini kepada  pemilik  kapak yaitu saudaranya sendiri. Setibanya  di rumah kakaknya ia memberitahukan kejadian hilangnya kapak yang jatuh dalam jurang. Tetapi sesuai dengan kesepakatan ,adiknya harus mengambil kapak yang jatuh dalam jurang bagaimana pun caranya apalagi ini merupakan kapak satu-satunya yang ada di keluarga mereka. Sesuai dengan kesepakatan adiknya pergi mencari kapak itu. Ia pun binggung bagaimana cara mengambil kapak itu,jalan satu-satunya yang dapat ia tempuh hanyalah menggunakan tali yang terbuat dari kulit kerbau (larik). Akhirnya ia memutuskan untuk meminjam tali dari tetangga bersama dengan anaknya. Setelah ia mendapatkan tali itu,kemudian mereka kembali ke dalam hutan untuk mengambil kapak yang ada di jurang. Tali itu pun disambung menjadi satu hingga sampai ke dasar  jurang. Sebelum turun sang ayah berpesan kepada anaknya jika dirinya tidak kembali atau talinya yang digunakan habis dan tidak bergerak maka anaknya harus kembali ke kampung untuk memberitahukan hal ini kepada ibunya. Anaknya mendengarkan nasihat sang ayah. Berjam-jam anaknya menunggu tetapi ayahnya belum juga kembali dari dalam jurang apalagi tali yang digunakan ayahnya habis dan tidak bergerak sedikit pun. Seperti yang dikatakan ayahnya sang anak segera berlari menuju ke kampung untuk memberitahukan hal ini kepada  ibu. Dengan tergesa-gesa dia tiba di rumah sambil menangis dan memberitahukan hal ini kepada sang ibu. Tak terhindarkan suasana duka menyelimuti keluarga ini di hari itu. Ternyata ayahnya masih hidup dan melepaskan tali  karena tidak bisa menjangkau jurang yang begitu dalam. Ia pun turun mengelilingi jurang itu hingga  tiba di Wae Bobo Manggarai Timur. Setibanya di sana ia menemukan sebuah gua yang kemudian menjadi tempat tinggal meskipun takut karena gua itu sangat gelap. Beberapa bulan lamanya ia mencari kapak hingga berhasil menemukannya dengan susah payah  meskipun dalam waktu yang begitu lama. Beruntung selama mencari kapak itu ia di beri makan oleh darat  yang  ada di jurang dekat  Wae Bobo.  Setelah ia menemukan kapak tersebut akhirnya ia pulang  mengantarkan kapak itu kepada kakaknya yang ada di kampung.  Melihat   adiknya sudah pulang saudaranya  sangat senang apalagi sang adik membawa kapaknya untuk diserahkan kepadanya.
Suatu hari adiknya pergi mencari air yang ada di pohon aren untuk dibuatkan tuak (ngo  pante tuak ) minuman khas orang Manggarai yang berwarna putih. Kebetulan air pohon aren yang didapat sangat banyak untuk dibawa pulang dan dibuatkan tuak. Setelah adiknya sampai dirumah,kakaknya pun pergi untuk minum tuak ( ngo lolu)  hasil pante saudaranya sambil menggendong anaknya  meskipun saat minum. Beberapa lama kemudian setelah minum mereka mabuk, tanpa disadari anak yang di gendong saudaranya  menyentuh tuak yang disimpan dalam suke ( wadah yang terbuat dari bambu )  hingga tuak yang ada tumpah ke tanah. Adiknya pun marah karena untuk mendapatkan tuak itu sangat susah apalagi memanjat pohon aren. Adiknya  menyuruh saudaranya itu untuk menggali tanah untuk menemukan tuak yang tumpah namun usahanya sia- sia meskipun sudah berusaha tetapi pada dasarnya yang namanya air pasti meresap ke dalam tanah. Adiknya ngotot,harus mengembalikan tuak miliknya yang tumpah ke tanah,dengan alasan tuak itu sangat sulit untuk dicari. Apalagi adiknya ingin balas dendam kepada sang kakak waktu ia bersusah payah mencari kapak yang jatuh ke dalam jurang. Dengan hal ini membuat kakaknya terus berusaha untuk mencari tuak yang tumpah ke tanah. Karena tidak menemukan tuak yang tumpah ke tanah kakaknya pun pasrah dan sebagai balasannya ia memberikan tanah itu kepada sang adik. Dari kampung  sampai ke laut ( tacik  comong sili ne ) dan daerah Weleng Borong dopo len. Berdasarkan hasil kesepakatan itu kini daerah yang telah disebutkan kakaknya manjadi daerah kekuasaan adiknya beserta keturunannya. Itulah sebabnya kakaknya pindah dari Mendang Tuwa ke Pong La’o dan sekarang  keturunannya bertambah banyak. 


( Anggalinus Numpung, umur 50 tahun ,bekerja sebagai petani )
PENDIDIKAN NILAI
Ø  Nilai pendidikan yang boleh ditiru yaitu pentingnya rasa persaudaraan dalam hidup bermasyarakat serta pentingnya sikap mengalah.
Ø  Nilai pendidikan yang tidak boleh ditiri yaitu  rasa dendam bukan menjadi solusi untuk menyelsaikan suatu permasalahan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BANG LAWO "BERBURU TIKUS"

    BANG LAWO  Masa kecil menjadi masa yang indah, tidak ada beban berat yang terlintas dalam pikiran hanya ada rasa senang saat kita tert...