COLA GU TUAK
( Fransiskus D Darma )
Pada zaman dahulu di
desa Mendang Tuwa hiduplah dua orang
bersaudara. Suatu hari sang adik meminjam kapak kakaknya untuk menebang kayu di hutan lebat yang juram. Kakaknya pun memberikan
kapak itu kepada adiknya dengan catatan kapak itu tidak boleh hilang dan sang
adik menyetujui apa yang dikatakan saudaranya. Kemudian adiknya pun pergi ke hutan untuk menebang
pohon di dekat jurang yang dalam. Setibanya di hutan ia pun segera mencari kayu
yang cocok untuk ditebang,kebetulan kayu itu berada di dekat jurang. Beberapa
saat kemudian ia mulai menebang kayu itu tetapi sialnya saat ia menebang pohon
kapak yang ada di tangannya terlepas dan jatuk ke dalam jurang yang sangat
dalam. Ia sangat panik karena tidak bisa menjangkau jurang yang dalam,terpaksa
dirinya kembali ke kampung untuk memberitahukan hal ini kepada pemilik
kapak yaitu saudaranya sendiri. Setibanya di rumah kakaknya ia memberitahukan kejadian
hilangnya kapak yang jatuh dalam jurang. Tetapi sesuai dengan kesepakatan
,adiknya harus mengambil kapak yang jatuh dalam jurang bagaimana pun caranya
apalagi ini merupakan kapak satu-satunya yang ada di keluarga mereka. Sesuai
dengan kesepakatan adiknya pergi mencari kapak itu. Ia pun binggung bagaimana
cara mengambil kapak itu,jalan satu-satunya yang dapat ia tempuh hanyalah
menggunakan tali yang terbuat dari kulit kerbau (larik). Akhirnya ia memutuskan
untuk meminjam tali dari tetangga bersama dengan anaknya. Setelah ia
mendapatkan tali itu,kemudian mereka kembali ke dalam hutan untuk mengambil
kapak yang ada di jurang. Tali itu pun disambung menjadi satu hingga sampai ke
dasar jurang. Sebelum turun sang ayah
berpesan kepada anaknya jika dirinya tidak kembali atau talinya yang digunakan
habis dan tidak bergerak maka anaknya harus kembali ke kampung untuk
memberitahukan hal ini kepada ibunya. Anaknya mendengarkan nasihat sang ayah.
Berjam-jam anaknya menunggu tetapi ayahnya belum juga kembali dari dalam jurang
apalagi tali yang digunakan ayahnya habis dan tidak bergerak sedikit pun.
Seperti yang dikatakan ayahnya sang anak segera berlari menuju ke kampung untuk
memberitahukan hal ini kepada ibu.
Dengan tergesa-gesa dia tiba di rumah sambil menangis dan memberitahukan hal
ini kepada sang ibu. Tak terhindarkan suasana duka menyelimuti keluarga ini di
hari itu. Ternyata ayahnya masih hidup dan melepaskan tali karena tidak bisa menjangkau jurang yang
begitu dalam. Ia pun turun mengelilingi jurang itu hingga tiba di Wae Bobo Manggarai Timur. Setibanya di
sana ia menemukan sebuah gua yang kemudian menjadi tempat tinggal meskipun
takut karena gua itu sangat gelap. Beberapa bulan lamanya ia mencari kapak hingga
berhasil menemukannya dengan susah payah
meskipun dalam waktu yang begitu lama. Beruntung selama mencari kapak
itu ia di beri makan oleh darat yang ada di jurang dekat Wae Bobo.
Setelah ia menemukan kapak tersebut akhirnya ia pulang mengantarkan kapak itu kepada kakaknya yang
ada di kampung. Melihat adiknya sudah pulang saudaranya sangat senang apalagi sang adik membawa
kapaknya untuk diserahkan kepadanya.
Suatu hari adiknya
pergi mencari air yang ada di pohon aren untuk dibuatkan tuak (ngo pante tuak ) minuman khas orang Manggarai
yang berwarna putih. Kebetulan air pohon aren yang didapat sangat banyak untuk
dibawa pulang dan dibuatkan tuak. Setelah adiknya sampai dirumah,kakaknya pun
pergi untuk minum tuak ( ngo lolu) hasil
pante saudaranya sambil menggendong anaknya
meskipun saat minum. Beberapa lama kemudian setelah minum mereka mabuk,
tanpa disadari anak yang di gendong saudaranya
menyentuh tuak yang disimpan dalam suke ( wadah yang terbuat dari bambu
) hingga tuak yang ada tumpah ke tanah.
Adiknya pun marah karena untuk mendapatkan tuak itu sangat susah apalagi
memanjat pohon aren. Adiknya menyuruh
saudaranya itu untuk menggali tanah untuk menemukan tuak yang tumpah namun
usahanya sia- sia meskipun sudah berusaha tetapi pada dasarnya yang namanya air
pasti meresap ke dalam tanah. Adiknya ngotot,harus mengembalikan tuak miliknya
yang tumpah ke tanah,dengan alasan tuak itu sangat sulit untuk dicari. Apalagi
adiknya ingin balas dendam kepada sang kakak waktu ia bersusah payah mencari
kapak yang jatuh ke dalam jurang. Dengan hal ini membuat kakaknya terus
berusaha untuk mencari tuak yang tumpah ke tanah. Karena tidak menemukan tuak
yang tumpah ke tanah kakaknya pun pasrah dan sebagai balasannya ia memberikan
tanah itu kepada sang adik. Dari kampung
sampai ke laut ( tacik comong
sili ne ) dan daerah Weleng Borong dopo len. Berdasarkan hasil kesepakatan itu
kini daerah yang telah disebutkan kakaknya manjadi daerah kekuasaan adiknya
beserta keturunannya. Itulah sebabnya kakaknya pindah dari Mendang Tuwa ke Pong
La’o dan sekarang keturunannya bertambah
banyak.
( Anggalinus Numpung,
umur 50 tahun ,bekerja sebagai petani )
PENDIDIKAN NILAI
Ø Nilai
pendidikan yang boleh ditiru yaitu pentingnya rasa persaudaraan dalam hidup
bermasyarakat serta pentingnya sikap mengalah.
Ø Nilai
pendidikan yang tidak boleh ditiri yaitu
rasa dendam bukan menjadi solusi untuk menyelsaikan suatu permasalahan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar