04 Juni 2016

PSIKOLOGI BELAJAR


BAB I
PENDAHULUAN
1.1   Latar Belakang
Dewasa ini belajar merupakan salah satu hal yang paling  penting untuk mencapai sesuatu yang kita inginkan. Dengan belajar kita akan memahami tentang apa yang belum kita ketahui. Begitu pula dalam mempelajari ilmu psikologi,untuk mengetahui teori belajar maka kita dituntut untuk memahami teori belajar itu sendiri. Suka dan tidak suka kita dituntut untuk belajar tentang psikologi. Dikatakan demikian karena belajar diukur dari perubahan perilaku atau dengan kata lain,hasil dari belajar diterjemahkan ke dalam bentuk perilaku yang dapat kita amati. Semakin tinggi seseorang belajar maka perilakunya semakin baik sesuai dengan apa yang telah dipelajari.
            Setelah seorang melakukan proses belajar diharapkan mampu untuk mengaplikasikan apa yang telah dia pelajari. Dalam hal ini seseorang  juga mampu untuk melakukan hal yang sebelumnya tidak dapat dilakukan dan setelah belajar dia mampu untuk melakukannya. Tetapi perlu diketahui bahwa perubahan perilaku tidak sepenuhnya langsung berubah setelah seseorang bejalar. Terkadang proses yang terjadi membutuhkan waktu yang lama dan dipengaruhi faktor-faktor lain. Dalam makalah ini kita akan melihat beberapa teori belajar yang Hull yang mempunyai sumbangan untuk proses belajar dalam dunia pendidikan.
1.2  Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan makalah ini yaitu, untuk mejelaskan kepada pembaca beberapa teori belajar  yang dipelopori  Clark L. Hull  yang mempunyai sumbangsi dalam dunia pendidikan.





BAB II
PEMBAHASAN
 Teori Belajar Bahasa  Clark Leonard Hull
2.1     Riwayat Hidup Hull
CLAKR L. HULL ( 1884-1952) meraih gelar  Ph.D. dari Universyty of Wisconsin pada 1918, tempat mengajar dari 1916 sampai 1929. Pada tahun 1929 dia pindah ke Yale dan tinggal di sana samapai dia meninggal. Kariernya dapat dibagi menjadi tiga bagian  terpisah. Perhatian utama adalah tes bakat dan tes kecakapan. Dia mengampulkan materi tes bakat  saat  mengajar topik itu di  University of  Wisconsin  dan dia mempublikasikan buku berjudul Aptitude Testing  pada 1929. Perhatian utama  kedua  Hull  adalah hypnosis dan setelah mempelajarai proses hipnotik, dia menulis buku berjudul  Hypnosis and Suggestibility ( 1933b).  Perhatian  ketiganya, dan karya  yang membuatnya terkenal adalah studi proses belajar.  Buku utama Hull menganai belajar adalah principles of behavior ( 1943) mengubah studi tentang belajar secara radikal karya ini adalah usaha pertama untuk mengaplikasikan teori ilmiah yag komperhensif ke dalam studi fenomena psikologi yang kompleks.
            Pada tahun 1945 Hull mendapat penghargaan berupa Warren Medal atas jasanya dalam mengembangkan secara cermat teori prilaku yang sistematis. Hull menderita cacat  fisik dan kelumpuhan sebagian karena polio sejak kecil. Tahun 1948 dia terkena serangan jantung koroner dan empat tahun kemudian dia meninggal. Dalam bukunya yang terakhir (A Behavior System) dia mengekspresikan penyesalannya karena tidak bisa mewujudkan bukunya yang terakhir.  Meskipun teori Hull belum lengkap, namun teorinya namun teori belajarnya sangat berpengaruh terhadap dunia belajar di seluruh dunia. Kenneth Spence (1952) salah satu murid Hull yan paling terkenal menunjukan bahwa 40% dari eksperiment di Journal of Experimental Psychology dan Journal of Comparative And Physiological Psychology  antara tahun 1941 dab 1945 merujuk ke beberapa aspek karya Hull.
2.2  Pokok-pokok teori belajar Hull
2.2.1        Pendekatan Teoresasi Hull
Sebagai langkah pertama dalam menyusun teorinya, Hull menyelesaikan ulasan mendalam terhadap riset-riset belajar yang sudah ada. Lalu dia berusaha mendeduksi konsekuensi yang dapat diuji berdasarkan ringkasan yang sudah dibuatnya. Pendekatan Hull dalam membangun suatu teori dinamakan hypothetical deductive (deduksi hipoteris) atau logical deductive. Teori belajar ini dikembangkan Hull dengan menggunakan metode deduktif. Hull percaya bahwa pengembangan ilmu psikologi harus didasarkan pada teori dan tidak semata-mata berdasarkan fenomena individual atau secara induktif.
Tipe teoresasi ini menghasilkan sistem yang dinamis dan terbuka (open-ended). Hipotesis selalu dibuat, beberapa diantaranya dikuatkan oleh hasil eksperimen dan beberapa lainnya ditolak. Ketika eksperimen mengarah ke arah yang diprediksikan, maka seluruh teori, termasuk postulat dan teorema menjadi kuat. Ketika eksperimen menghasilkan hal-hal yang sudah diprediksikan, maka teori dianggap lemah dan harus direvisi.
Sebuah teori harus terus menerus diperbarui sesuai dengan hasil dari penelitian ilmiah. Nilai dasar teori ditentukan oleh seberapa kuatkah ia sesuai dengan fakta yang teramati. Seberapapun abstraknya teori, pada akhirnya mesti menghasilkan proposisi yang dapat diverifikasi secara empiris, itulah yang terjadi dalam teori Hull.
2.2.2        Konsep Teoretis Utama Hull
            Teori Hull mengandung struktur postulat dan teorema yang logis mirip seperti geometri Euclid.  Postulat itu adalah pernyataan umum tentang perilaku yang tidak dapat diverifikasi secara langsung, meskipun teorema yang secara logis berasal dari postulat itu dapat diuji. Hull mengajukan enam belas postulat dalam cakupan enam hal yakni sebagai berikut:
 Postulat 1: Impuls saraf afferent dan bekas lanjutannya. Jika suatu perangsang mengenai reseptor, maka timbullah impuls saraf afferent dengan cepat mencapai puncak intensitasnya dan kemudian berkurang secara berangsur-angsur. Sesaat saraf afferent berisi impuls dan diteruskan kepada saraf sentral dalam beberapa detik dan seterusnya timbul respon. S-R diubah menjadi S-s-R atau S-s-r-R. Simbol s adalah impuls atau stimulus trace dalam saraf sensoris, dan simbol r adalah impuls respon yang masih dalam saraf afferent.
Postulat 2: The Interaction Of Sensory Impules ( Interaksi saraf afferent).
Mengindikasikan kompleksitas stimulasi dan karenanya menunjukan kesulitan dalam berprilaku. Perilaku jarang merupakan fungsi dari satu stimulus
Postulat 3: Unlearned Behavior
Hull percaya bahwa, organism dilahirkan dengan hirarki respons, Unlearned Behavoir (prilaku yang tak dipelajari), yang akan aktif jika dibutuuhkan. Misalnya, jika suatu objek asing masuk mata, maka secara otomatis akan berkedip-kedip dan keluarlah air mata. Istilah hierarki dipakai untuk menyebut respon-respon karena lebih dari satu reaksi yang mungkin terjadi. Menurut Hull, belajar hanya dibutuhkan jika mekanisme neural bawaan dan respon yang dihasilkannya gagal untuk memenuhi kebutuhan organisme.
Postula 4: Contiguity and Drive Reduction as Necessary Conditions for Learning.
Jika suatu stimulus menimbulkan respons dan jika respons itu bisa memuaskan kebutuhan biologis, maka asosiasi antara stimulus dan respon akan diperkuat. Semakin sering stimulus dan respon yang menghasilkan pemenuhan kebutuhan dipasangkan, semakin kuat hubungan antara stimulus dan respon tersebut.
Postulat 5: Stimulus Generalization.
Hull mengatakan bahwa, kemampuan suatu stumulus ( selain stimulus yang digunakan selama pengkondision ) untuk menimbulkan respons yang ditentukan oleh kemiripannya dengan stimulus yang digunakan selama training. Jadi SHR akan digeneralisasikan dari satu stimulus ke stimulus lain sepanjang dua stimulus itu sama. Hull menyebut proses ini sebagai generalizased habit strength ( kekuatan kebiasaan yang digeneralisasikan (SHR) ).
Postulat 6: Stimuli Associated with Drives.
Defisiensi biologis dalam organism akan menghasilkan drive ( dorongan [ D ] ), dan setiap dorongan diasosiasikan dengan stimuli spesifik. Contohnya adalah rasa perut lapar yang mengiringi dorongan lapar, dan mulut kering, bibir kering, dan tenggorokan kering yang mengiringi dorongan haus.
Postulat 7: Reaction Potential as a Function of Drive an Habit Strength.
Kemungkinan respon yang dipelajari akan terjadi pada suatu waktu tertentu dinamakan reaction potential ( potensi reaksi [ SER ] ). Potensi teaksi adalah fungsi dari kekuatan kebiasaan ( SER ) dan dorongan ( D ). Agar respons yang dipelajari terjadi, SHR harus diaktifkan oleh D. Komponen dasar dari teori Hull yang kita bahas sejauh ini dapat dikombinasikan dalam rumus berikut :
Potensi reaksi = SER = SHR X D
Jadi, potensi reaksi adalah fungsi dari seberapa sering respons diperkuat dalam situasi itu dan sejauh mana dororngannya ada.
Postulat 8: Responding Causes Fatigues, which Operates Againts the Elicitation of a Conditional Response.
Respon memerlukan kerja, dan kerja menyebabkan keletihan. Reactive inhibition ( hambatan reaktif IR ) disebabkan oleh kelelahan akibat aktivitas otot dan kegiatan dalam menjalankan tugas.
Postulat 9:  The Learned Response of Not Responding
Kelelahan adalah pendorong negative dan karenannya tidak memberikan respons akan menghhasilkan penguatan. Respon untuk tidak merespon ini  dinamakan conditioned inhibition ( SIR ) ( hambatan yang dikondisikan ).
Postulat 10: Factors Tending to Inhibit a Learned Response Change from Moment to Moment.
Menurut Hull, ada “ potensi penghambat “ yang bervariasi dari suatu waktu ke waktu lainnya dan menghambat muculnya respons yang telah dipelajari. Prediksi prilaku berdasarkan nilai SER akan selalu dipengaruhi oleh nilai SOR yang fluktuatif dan akan selalu bersifat probablistik.
Postulat 11: Momentary Efective Reaction Potential Must  Exceed A Certain Value Before A Learned Response Can Accur. Nilai potensi reaksi efektif  harus lebih tinggi sebelumrespon yang terkordinisikan dapat muncul dinamakan reaction thereshold
Postualt 12: the probability  that e learned respone will be made is a combined function of  SӖR,  SOR, dan, SlR.
 Kemungkinan respon adalah fungsi normal dari potensi reaksi efektif melampaui reaksi ambang perangsang.
Postulat 13: the Greather the Vlue Of Ser the Sorter Wiil Be the Latency Between S And R Latency.
Latensi [STR] adalah waktu antara presentasi stimulus ke organisme dan respon yang dipelajarinya. Makin potensi reaksi efektif melampaui reaksi ambang perangsang makin pendek latensi respon, artinya respon makin cepat timbul.
Postulat 14: The Value Of Ser Will Determine Resitance to Extincation
Makin besar potensi reaksi efektif, makin besar respon yang timbul tanpa perkuatan, sebelum berhenti atau ekstingsi.
Postulat 15: The Amplitude of a Conditioned Response Varies Direcly With sER.
Besarnya dorongan dilantari atau disebabkan oleh peningkatan kekuatan potensi efektif reaksi dalam sistem saraf otonom.
Postulat 16: When Two or More Incompantible Response Tend to Be Elicited in the Same
Jika potensi-potensi reaksi kepada dua atau lebih respon-respon yang bertentangan terjadi dalam organisme pada waktu yang sama, maka hanya reaksi yang mempunyai potensi reaksi yang lebih besar akan terjadi responnya.
2.2.3        Perbedaan Utama  Antara Teori Hull Tahun 1943 Dengan 1952
                        Motivasi Insentif (K)
      Tahun 1943, hull membahas besaran penguatan sebagai variable belajar. Semakin besar jumlah penguatan, semakin besar jumlah reduksi dorongan dan karenanya semakin besar peningkatan dalam sHr. Eksperimen mengidentifikasikan bahwa kinerja berubah secara dramatis saat besarnya penguatan divariasikan setelah belajar selesai. Perubahan kinerja setelah perubahan besaran penguatan tidak dapat dijelaskan dalam term perubahan sHr karena perubahan itu terlampau cepat. Kecuali satu atau lebih faktor beroperasi melawan sHr, nilainya tidak akan turun. Hull mengambil kesimpulan bahwa organisme belajar sama cepatnya untuk insentif kecil dan insentif besar, namun binatang melakukannya secara berbeda sesuai dengan variasi besarnya insentif (K). Perubahan kinerja yang cepat setelah adanya perubahan ukuran penguatan ini disebut sebagai Crespi Effect .
Dinamisme Intensitas-Stimulus
            Menurut hull, stimulus-itensity dynamism adalah variable pengintervensi yang bervariasi menurut intensitas stimulus eksternal (S). Secara sederhana dinamisme intensitas-stimulus menunjukkan bahwa semakin besar intensitas dari suatu stimulus, semakin besar kemungkinan munculnya respons yang telah dipelajari.
Perubahan dari Reduksi Dorongan ke Reduksi Stimulus Dorongan
Mulanya hull mengikuti teori reduksi belajar, namun kemudian dia merevisinya menjadi teori drive stimulus reduction dalam belajar. Salah satu alasan perubahan ini adalah kesadaran jika hewan yang haus diberi air sebagai penguat agar melakukan beberapa tindakan, akan dibutuhkan banyak waktu untuk memuaskan dorongan haus ini. Hull menyimpulkan bahwa reduksi dorongan tidak memadai untuk menjelaskan proses belajar. Yang dibutuhkan untuk menjelaskan belajar adalah sesuatu yang terjadi setelah penyajian penguat, dan sesuatu itu adalah reduksi drive stimuli. Seperti telah dikemukakan diatas, stimuli dorongan untuk dorongan haus mencakup rasa kering di mulut dan bibir yang pecah. Air dengan segera mereduksi stimulus ini, dan karenanya kini mendapatkan mekanisme yang dibutuhkannya untuk menjelaskan belajar.
            Alasan kedua perubahan dari teori reduksi dorongan ke reduksi stimulus dorongan diberikan oleh Sheffeld dan Roby (1950), yang menemukan bahwa tikus yang lapar diperkuat oleh sakarin yang tak mengandung nutrisi, yang tidak mungkin mereduksi dorongan lapar.
Respon Tujuan Pendahulu Fraksional
            Ingatkah,  ketika stimulus neural secara konsisten dipasangkan dengan penguatan primer,  ia akan memiliki property penguatan sendiri. Yakni ia menjadi penguat sekunder. Konsep penguatan sekunder ini sangat penting untuk memahami operasi fractional antedating goal respon, yang merupakan salah satu konsep terpenting dari hull. Misalnya kita melatih tikus untuk mencari suatu makanan lewat jalan yang ruwet. Kita meletakkan si tikus ini di kotak awal dan akhirnya ia mencapai kotak tujuan yang berisi makanan, penguat primer. Respon tujuan pendahulu fraksional adalah respon terkondisikan terhadap stimuli, yang dialami sebelum pencernaan makanan. Contoh dari respon terkondisikan adalah dimana melibatkan keluarnya air liur, pengunyahan dan penjilatan, akan dimunculkan oleh berbagi stimuli dalam kotak tujuan saat tikus itu mendekati makanan.
            Hierarki Rumpun Kebiasaan
            Karena ada banyak kemungkinan respon nyata terhadap sG tertentu, maka ada banyak cara untuk mencapai tujuan. Akan tetapi, rute yang paling mungkin adalah rute yang paling cepat membawa hewan mendekati penguatan. Menurut hull pada tahun 1952 “semakin lama penundaan dalam penguatan hubungan di dalam rantai perilaku tertentu, semakin lemah potensi reaksi dari hubungan itu terhadap jejak stimulus yang ada pada saat itu”. Ada hubungan erat antara hierarki rumpun kebiasaan dengan bagaimana respon tujuan pendahuluan fraksional dan stimulus yang menimbulkannya beroperasi dalam proses berantai ini. Respons yang paling cepat membawa hewan berjumpa dengan penguat sekunder akan menjadi respons sekunder karena respons itu memiliki nilai sEr tertinggi. Semakin lama penundaan penguatan semakin rendah nilai sEr. Jadi ada hierarki respons yang diasosiasikan dengan setiap sG dan karenanya ada sejumlah besar rute disepanjang jalur yang ruwet. Jika satu rute yang berisi respons-respons dengan nilai sEg tertinggi tertutup, jalur selanjutnya dalam hierarki itu akan dipilih, dan begitu seterusnya.
2.2.4        Ringkasan Sistem Terakhir Hull
Ada tiga macam variable dalam teori hull :
1.           Variabel Bebas (independent), yang merupakan kejadian stimulus yang secara sistematis dimanipulasi oleh eksperimenter.
2.         Variabel Pengintervensi (intervening), yakni proses yang dianggap terjadi di dalam organisme tetapi tidak dapat diamati secara langsung. Semua variable pengintervensi dalam sistem hull didefinisikan secara operasional.
3.         Variabel Terikat(dependen), yakni beberapa aspek dari perilaku yang diukur oleh eksperimenter dalam rangka menentukan apakah variable bebas punya efek atau tidak.
2.3  Sumbangan dari Teori Hull Terhadap Dunia Pendidikan dan Proses Pembelajaran
                                Teori belajar hull adalah teori reduksi dorongan atau reduksi stimulus dorongan. Mengenai soal spesifiabilitas tujuan, ketertiban kelas, dan proses belajar dari yang sederhana ke yang kompleks. Namun menurutnya, belajar melibatkan dorongan yang dapat direduksi. Sulit membayangkan bagaimana dorongan primer dapat berperan dalam belajar di kelas, tetapi beberapa pengikut hull menekankan kecemasan sebagai sebentuk dorongan dalam proses belajar manusia. Latihan harus didistribusikan dengan cermat agar hambatan tidak muncul. Guru hullian akan membagi topik-topik yang diajarkannya sehingga pembelajar (siswa) tidak akan kelelahan yang bisa mengganggu proses belajar. Miller dan Dollard (1941) meringkaskan aplikasi teori Hull untuk pendidikan sebagai berikut :
·         Drive               : Pembelajar harus menginginkan sesuatu
·         Cue                  : Pembelajar harus memerhatikan sesuatu
·         Response          : Pembelajar harus melakukan sesuatu
·         Reinforcement :Respon pembelajar harus membuatnya mendapatkansesuatu    yang  diinginkannya.
2.4  Kelebihan dan Kekurangan Teori Hull
            1. Kelebihan
·         Kelebbihan dari teori ini cendrung seoarang naka berpikir konvergen
·         Teori ini cocok untuk anak yang masih membutuhkan dominasi peran  orang dewasan, anak yang suka meniru dan suka dengan penghargaan langsung seperti permen atau pujian langsung.
·         Cocok untuk memperoleh pengetahuan dengan cara prakter  dan pembiasaan yang mengandung unsur -unsur sperti kecepatan ,spontanitas, kelenturan, refleksi, dan sebagainya tahan dan sebagainya.

            2. kekurangan
·      Proses belajar dipandang sebagai kegiatan yang diamati langsung,  padahal belajar adalah kegiatan yang ada dalam sistem syaraf manusia  yang tidak terlihat kecuali gejalanya.
·      Proses belajar dipandang bersifat otomatis yang terkesan seperti robot.
·      Teori ini cendrung  menjelaskan situasi belajar secara kompleks.
·      Proses belajar  dianalogikan dengan binatang, padahal manusia dan binatang sangat berbeda dalam proses belajar.




















BAB III
PENUTUP
3.1  Kesimpulan
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa teori Hull mengandung postulat teorema yang logist. Postulat ini adalah pernyataan  umum tentang perilaku yang  rterbagi atas dua periode yaitu, tahun 1943 dan tahun 1952. Namun dalam prosesnya teori ini memilki perbedaan yang mencakup motivasi insentif, dinamisme intensitas- stimulus, perubahan dari reduksi dorongan ke reduksi stimulus dorongan, respons tujuan pendahulu fraksional,  dan hierarki rumpun kebiasaan.
3.2  Saran
Untuk mencapai tujuan yang lebih baik dari urain teori Hull maka dalam proses belajar harus mengutamakan proses. Hal ini dilakukan untuk mencapai hasil yang lebih baik dan tidak terkesan seperti robot dalam proses pembelajaran.  













DAFTAR PUSTAKA
Hergenhann , B.R dan Olson H. Marten; 2010. Theories of Learning. Jakarta. Kencana Prenada Media Group.
http: // Ainumalikah. Blogspot. Com /2011/12/ Teori Clark Hull





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BANG LAWO "BERBURU TIKUS"

    BANG LAWO  Masa kecil menjadi masa yang indah, tidak ada beban berat yang terlintas dalam pikiran hanya ada rasa senang saat kita tert...