BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dewasa
ini belajar merupakan salah satu hal yang paling penting untuk mencapai sesuatu yang kita
inginkan. Dengan belajar kita akan memahami tentang apa yang belum kita
ketahui. Begitu pula dalam mempelajari ilmu psikologi,untuk mengetahui teori
belajar maka kita dituntut untuk memahami teori belajar itu sendiri. Suka dan
tidak suka kita dituntut untuk belajar tentang psikologi. Dikatakan demikian
karena belajar diukur dari perubahan perilaku atau dengan kata lain,hasil dari
belajar diterjemahkan ke dalam bentuk perilaku yang dapat kita amati. Semakin
tinggi seseorang belajar maka perilakunya semakin baik sesuai dengan apa yang
telah dipelajari.
Setelah seorang melakukan proses
belajar diharapkan mampu untuk mengaplikasikan apa yang telah dia pelajari.
Dalam hal ini seseorang juga mampu untuk
melakukan hal yang sebelumnya tidak dapat dilakukan dan setelah belajar dia
mampu untuk melakukannya. Tetapi perlu diketahui bahwa perubahan perilaku tidak
sepenuhnya langsung berubah setelah seseorang bejalar. Terkadang proses yang
terjadi membutuhkan waktu yang lama dan dipengaruhi faktor-faktor lain. Dalam
makalah ini kita akan melihat beberapa teori belajar yang Hull yang mempunyai
sumbangan untuk proses belajar dalam dunia pendidikan.
1.2 Tujuan
Penulisan
Tujuan dari
penulisan makalah ini yaitu, untuk mejelaskan kepada pembaca beberapa teori belajar
yang dipelopori Clark L. Hull
yang mempunyai sumbangsi dalam dunia pendidikan.
BAB
II
PEMBAHASAN
Teori Belajar Bahasa Clark Leonard Hull
2.1 Riwayat Hidup Hull
CLAKR L. HULL ( 1884-1952) meraih gelar Ph.D. dari Universyty of Wisconsin pada 1918, tempat mengajar dari 1916 sampai
1929. Pada tahun 1929 dia pindah ke Yale dan tinggal di sana samapai dia
meninggal. Kariernya dapat dibagi menjadi tiga bagian terpisah. Perhatian utama adalah tes bakat
dan tes kecakapan. Dia mengampulkan materi tes bakat saat
mengajar topik itu di University
of Wisconsin dan dia mempublikasikan buku berjudul Aptitude Testing pada 1929. Perhatian utama kedua
Hull adalah hypnosis dan setelah
mempelajarai proses hipnotik, dia menulis buku berjudul Hypnosis
and Suggestibility ( 1933b).
Perhatian ketiganya, dan
karya yang membuatnya terkenal adalah
studi proses belajar. Buku utama Hull
menganai belajar adalah principles of behavior ( 1943) mengubah studi tentang
belajar secara radikal karya ini adalah usaha pertama untuk mengaplikasikan
teori ilmiah yag komperhensif ke dalam studi fenomena psikologi yang kompleks.
Pada tahun 1945 Hull mendapat
penghargaan berupa Warren Medal atas jasanya dalam mengembangkan secara cermat
teori prilaku yang sistematis. Hull menderita cacat fisik dan kelumpuhan sebagian karena polio
sejak kecil. Tahun 1948 dia terkena serangan jantung koroner dan empat tahun
kemudian dia meninggal. Dalam bukunya yang terakhir (A Behavior System) dia mengekspresikan penyesalannya karena tidak
bisa mewujudkan bukunya yang terakhir.
Meskipun teori Hull belum lengkap, namun teorinya namun teori belajarnya
sangat berpengaruh terhadap dunia belajar di seluruh dunia. Kenneth Spence
(1952) salah satu murid Hull yan paling terkenal menunjukan bahwa 40% dari
eksperiment di Journal of Experimental
Psychology dan Journal of Comparative
And Physiological Psychology antara
tahun 1941 dab 1945 merujuk ke beberapa aspek karya Hull.
2.2 Pokok-pokok teori belajar Hull
2.2.1
Pendekatan Teoresasi Hull
Sebagai langkah pertama dalam menyusun
teorinya, Hull menyelesaikan ulasan mendalam terhadap riset-riset belajar yang
sudah ada. Lalu dia berusaha mendeduksi konsekuensi yang dapat diuji
berdasarkan ringkasan yang sudah dibuatnya. Pendekatan Hull dalam membangun
suatu teori dinamakan hypothetical deductive (deduksi hipoteris) atau logical
deductive. Teori belajar ini dikembangkan Hull dengan menggunakan metode
deduktif. Hull percaya bahwa pengembangan ilmu psikologi harus didasarkan pada
teori dan tidak semata-mata berdasarkan fenomena individual atau secara
induktif.
Tipe teoresasi ini menghasilkan
sistem yang dinamis dan terbuka (open-ended). Hipotesis selalu dibuat, beberapa
diantaranya dikuatkan oleh hasil eksperimen dan beberapa lainnya ditolak.
Ketika eksperimen mengarah ke arah yang diprediksikan, maka seluruh teori,
termasuk postulat dan teorema menjadi kuat. Ketika eksperimen menghasilkan
hal-hal yang sudah diprediksikan, maka teori dianggap lemah dan harus direvisi.
Sebuah teori harus terus menerus diperbarui
sesuai dengan hasil dari penelitian ilmiah. Nilai dasar teori ditentukan oleh
seberapa kuatkah ia sesuai dengan fakta yang teramati. Seberapapun abstraknya
teori, pada akhirnya mesti menghasilkan proposisi yang dapat diverifikasi
secara empiris, itulah yang terjadi dalam teori Hull.
2.2.2
Konsep Teoretis Utama Hull
Teori
Hull mengandung struktur postulat dan teorema yang logis mirip seperti geometri
Euclid. Postulat itu adalah pernyataan umum tentang
perilaku yang tidak dapat diverifikasi secara langsung, meskipun teorema yang
secara logis berasal dari postulat itu dapat diuji. Hull mengajukan enam belas
postulat dalam cakupan enam hal yakni sebagai berikut:
Postulat
1: Impuls saraf afferent dan bekas lanjutannya.
Jika suatu perangsang mengenai reseptor, maka timbullah impuls saraf afferent
dengan cepat mencapai puncak intensitasnya dan kemudian berkurang secara
berangsur-angsur. Sesaat saraf afferent berisi impuls dan diteruskan kepada
saraf sentral dalam beberapa detik dan seterusnya timbul respon. S-R diubah
menjadi S-s-R atau S-s-r-R. Simbol s adalah impuls atau stimulus trace dalam
saraf sensoris, dan simbol r adalah impuls respon yang masih dalam saraf
afferent.
Postulat 2: The
Interaction Of Sensory Impules ( Interaksi saraf afferent).
Mengindikasikan
kompleksitas stimulasi dan karenanya menunjukan kesulitan dalam berprilaku.
Perilaku jarang merupakan fungsi dari satu stimulus
Postulat 3: Unlearned
Behavior
Hull percaya bahwa,
organism dilahirkan dengan hirarki respons, Unlearned Behavoir (prilaku yang
tak dipelajari), yang akan aktif jika dibutuuhkan. Misalnya, jika suatu objek
asing masuk mata, maka secara otomatis akan berkedip-kedip dan keluarlah air
mata. Istilah hierarki dipakai untuk menyebut respon-respon karena lebih
dari satu reaksi yang mungkin terjadi. Menurut Hull, belajar hanya dibutuhkan
jika mekanisme neural bawaan dan respon yang dihasilkannya gagal untuk memenuhi
kebutuhan organisme.
Postula 4: Contiguity and Drive Reduction as
Necessary Conditions for Learning.
Jika suatu stimulus
menimbulkan respons dan jika respons itu bisa memuaskan kebutuhan biologis,
maka asosiasi antara stimulus dan respon akan diperkuat. Semakin sering
stimulus dan respon yang menghasilkan pemenuhan kebutuhan dipasangkan, semakin
kuat hubungan antara stimulus dan respon tersebut.
Postulat 5: Stimulus Generalization.
Hull mengatakan bahwa,
kemampuan suatu stumulus ( selain stimulus yang digunakan selama pengkondision
) untuk menimbulkan respons yang ditentukan oleh kemiripannya dengan stimulus
yang digunakan selama training. Jadi SHR akan
digeneralisasikan dari satu stimulus ke stimulus lain sepanjang dua stimulus
itu sama. Hull menyebut proses ini sebagai generalizased habit strength (
kekuatan kebiasaan yang digeneralisasikan (SHR) ).
Postulat 6: Stimuli Associated with Drives.
Defisiensi biologis dalam
organism akan menghasilkan drive ( dorongan [ D ] ), dan setiap dorongan
diasosiasikan dengan stimuli spesifik. Contohnya adalah rasa perut lapar yang
mengiringi dorongan lapar, dan mulut kering, bibir kering, dan tenggorokan
kering yang mengiringi dorongan haus.
Postulat 7: Reaction Potential as a Function of
Drive an Habit Strength.
Kemungkinan respon yang
dipelajari akan terjadi pada suatu waktu tertentu dinamakan reaction
potential ( potensi reaksi [ SER ] ). Potensi teaksi
adalah fungsi dari kekuatan kebiasaan ( SER ) dan
dorongan ( D ). Agar respons yang dipelajari terjadi, SHR harus
diaktifkan oleh D. Komponen dasar dari teori Hull yang kita bahas sejauh ini
dapat dikombinasikan dalam rumus berikut :
Potensi reaksi = SER
= SHR X D
Jadi, potensi reaksi
adalah fungsi dari seberapa sering respons diperkuat dalam situasi itu dan
sejauh mana dororngannya ada.
Postulat 8: Responding Causes Fatigues, which
Operates Againts the Elicitation of a Conditional Response.
Respon memerlukan kerja,
dan kerja menyebabkan keletihan. Reactive inhibition ( hambatan reaktif
IR ) disebabkan oleh kelelahan akibat aktivitas otot dan kegiatan
dalam menjalankan tugas.
Postulat 9: The Learned Response of Not Responding
Kelelahan adalah
pendorong negative dan karenannya tidak memberikan respons akan menghhasilkan
penguatan. Respon untuk tidak merespon ini
dinamakan conditioned inhibition ( SIR ) (
hambatan yang dikondisikan ).
Postulat 10: Factors Tending to Inhibit a
Learned Response Change from Moment to Moment.
Menurut Hull, ada “
potensi penghambat “ yang bervariasi dari suatu waktu ke waktu lainnya dan
menghambat muculnya respons yang telah dipelajari. Prediksi prilaku berdasarkan
nilai SER akan selalu dipengaruhi oleh nilai SOR
yang fluktuatif dan akan selalu bersifat probablistik.
Postulat 11: Momentary Efective Reaction
Potential Must Exceed A Certain Value
Before A Learned Response Can Accur. Nilai potensi reaksi efektif harus lebih tinggi sebelumrespon yang
terkordinisikan dapat muncul dinamakan reaction thereshold
Postualt 12: the
probability that e learned respone will
be made is a combined function of SӖR, SOR,
dan, SlR.
Kemungkinan respon adalah
fungsi normal dari potensi reaksi efektif melampaui reaksi ambang perangsang.
Postulat 13: the
Greather the Vlue Of Ser the
Sorter Wiil Be the Latency Between S And R Latency.
Latensi
[STR] adalah waktu antara presentasi stimulus ke
organisme dan respon yang dipelajarinya. Makin potensi reaksi efektif melampaui
reaksi ambang perangsang makin pendek latensi respon, artinya
respon makin cepat timbul.
Postulat
14: The Value Of Ser
Will Determine Resitance to Extincation
Makin
besar potensi reaksi efektif, makin besar respon yang timbul tanpa perkuatan,
sebelum berhenti atau ekstingsi.
Postulat 15: The
Amplitude of a Conditioned Response Varies Direcly With sER.
Besarnya
dorongan dilantari atau disebabkan oleh peningkatan kekuatan potensi efektif
reaksi dalam sistem saraf otonom.
Postulat 16: When Two or More Incompantible Response Tend to
Be Elicited in the Same
Jika
potensi-potensi reaksi kepada dua atau lebih respon-respon yang bertentangan terjadi
dalam organisme pada waktu yang sama, maka hanya reaksi yang mempunyai potensi
reaksi yang lebih besar akan terjadi responnya.
2.2.3
Perbedaan Utama Antara Teori Hull Tahun 1943 Dengan 1952
Motivasi
Insentif (K)
Tahun
1943, hull membahas besaran penguatan sebagai variable belajar. Semakin besar
jumlah penguatan, semakin besar jumlah reduksi dorongan dan karenanya semakin
besar peningkatan dalam sHr. Eksperimen mengidentifikasikan bahwa kinerja
berubah secara dramatis saat besarnya penguatan divariasikan setelah belajar
selesai. Perubahan kinerja setelah perubahan besaran penguatan tidak dapat
dijelaskan dalam term perubahan sHr karena perubahan itu terlampau cepat.
Kecuali satu atau lebih faktor beroperasi melawan sHr, nilainya tidak akan turun.
Hull mengambil kesimpulan bahwa organisme belajar sama cepatnya untuk insentif
kecil dan insentif besar, namun binatang melakukannya secara berbeda sesuai
dengan variasi besarnya insentif (K). Perubahan kinerja yang cepat setelah
adanya perubahan ukuran penguatan ini disebut sebagai Crespi Effect .
Dinamisme
Intensitas-Stimulus
Menurut hull, stimulus-itensity dynamism adalah variable pengintervensi yang
bervariasi menurut intensitas stimulus eksternal (S). Secara sederhana
dinamisme intensitas-stimulus menunjukkan bahwa semakin besar intensitas dari
suatu stimulus, semakin besar kemungkinan munculnya respons yang telah
dipelajari.
Perubahan dari Reduksi Dorongan ke Reduksi Stimulus
Dorongan
Mulanya
hull mengikuti teori reduksi belajar, namun kemudian dia merevisinya menjadi
teori drive stimulus reduction dalam belajar. Salah satu alasan perubahan ini
adalah kesadaran jika hewan yang haus diberi air sebagai penguat agar melakukan
beberapa tindakan, akan dibutuhkan banyak waktu untuk memuaskan dorongan haus
ini. Hull menyimpulkan bahwa reduksi dorongan tidak memadai untuk menjelaskan
proses belajar. Yang dibutuhkan untuk menjelaskan belajar adalah sesuatu yang
terjadi setelah penyajian penguat, dan sesuatu itu adalah reduksi drive stimuli.
Seperti telah dikemukakan diatas, stimuli dorongan untuk dorongan haus mencakup
rasa kering di mulut dan bibir yang pecah. Air dengan segera mereduksi stimulus
ini, dan karenanya kini mendapatkan mekanisme yang dibutuhkannya untuk
menjelaskan belajar.
Alasan kedua perubahan dari teori reduksi dorongan ke reduksi stimulus dorongan
diberikan oleh Sheffeld dan Roby (1950), yang menemukan bahwa tikus yang lapar
diperkuat oleh sakarin yang tak mengandung nutrisi, yang tidak mungkin
mereduksi dorongan lapar.
Respon Tujuan Pendahulu Fraksional
Ingatkah, ketika stimulus neural secara
konsisten dipasangkan dengan penguatan primer, ia akan memiliki property penguatan sendiri.
Yakni ia menjadi penguat sekunder. Konsep penguatan sekunder ini sangat penting
untuk memahami operasi fractional antedating goal respon, yang merupakan salah
satu konsep terpenting dari hull. Misalnya kita melatih tikus untuk mencari
suatu makanan lewat jalan yang ruwet. Kita meletakkan si tikus ini di kotak
awal dan akhirnya ia mencapai kotak tujuan yang berisi makanan, penguat primer.
Respon tujuan pendahulu fraksional adalah respon terkondisikan terhadap
stimuli, yang dialami sebelum pencernaan makanan. Contoh dari respon
terkondisikan adalah dimana melibatkan keluarnya air liur, pengunyahan dan
penjilatan, akan dimunculkan oleh berbagi stimuli dalam kotak tujuan saat tikus
itu mendekati makanan.
Hierarki
Rumpun Kebiasaan
Karena ada banyak kemungkinan respon nyata terhadap sG tertentu, maka ada
banyak cara untuk mencapai tujuan. Akan tetapi, rute yang paling mungkin adalah
rute yang paling cepat membawa hewan mendekati penguatan. Menurut hull pada
tahun 1952 “semakin lama penundaan dalam penguatan hubungan di dalam rantai
perilaku tertentu, semakin lemah potensi reaksi dari hubungan itu terhadap
jejak stimulus yang ada pada saat itu”. Ada hubungan erat antara hierarki
rumpun kebiasaan dengan bagaimana respon tujuan pendahuluan fraksional dan
stimulus yang menimbulkannya beroperasi dalam proses berantai ini. Respons yang
paling cepat membawa hewan berjumpa dengan penguat sekunder akan menjadi
respons sekunder karena respons itu memiliki nilai sEr tertinggi. Semakin lama
penundaan penguatan semakin rendah nilai sEr. Jadi ada hierarki respons yang
diasosiasikan dengan setiap sG dan karenanya ada sejumlah besar rute
disepanjang jalur yang ruwet. Jika satu rute yang berisi respons-respons dengan
nilai sEg tertinggi tertutup, jalur selanjutnya dalam hierarki itu akan
dipilih, dan begitu seterusnya.
2.2.4
Ringkasan Sistem Terakhir Hull
Ada tiga macam variable dalam teori hull :
1.
Variabel Bebas (independent),
yang merupakan kejadian stimulus yang secara sistematis dimanipulasi oleh
eksperimenter.
2.
Variabel Pengintervensi (intervening), yakni proses yang dianggap
terjadi di dalam organisme tetapi tidak dapat diamati secara langsung. Semua
variable pengintervensi dalam sistem hull didefinisikan secara operasional.
3.
Variabel Terikat(dependen), yakni beberapa aspek dari perilaku yang
diukur oleh eksperimenter dalam rangka menentukan apakah variable bebas punya
efek atau tidak.
2.3 Sumbangan dari Teori Hull Terhadap Dunia Pendidikan dan Proses Pembelajaran
Teori belajar hull adalah
teori reduksi dorongan atau reduksi stimulus dorongan. Mengenai soal
spesifiabilitas tujuan, ketertiban kelas, dan proses belajar dari yang
sederhana ke yang kompleks. Namun menurutnya, belajar melibatkan dorongan yang
dapat direduksi. Sulit membayangkan bagaimana dorongan primer dapat berperan
dalam belajar di kelas, tetapi beberapa pengikut hull menekankan kecemasan
sebagai sebentuk dorongan dalam proses belajar manusia. Latihan harus
didistribusikan dengan cermat agar hambatan tidak muncul. Guru hullian akan
membagi topik-topik yang diajarkannya sehingga pembelajar (siswa) tidak akan
kelelahan yang bisa mengganggu proses belajar. Miller dan Dollard (1941)
meringkaskan aplikasi teori Hull untuk pendidikan sebagai berikut :
·
Drive
: Pembelajar harus menginginkan sesuatu
·
Cue
: Pembelajar harus memerhatikan sesuatu
·
Response
: Pembelajar harus melakukan sesuatu
·
Reinforcement :Respon pembelajar harus membuatnya
mendapatkansesuatu yang
diinginkannya.
2.4 Kelebihan dan Kekurangan Teori Hull
1. Kelebihan
·
Kelebbihan dari teori ini cendrung seoarang naka
berpikir konvergen
·
Teori ini cocok untuk anak yang masih
membutuhkan dominasi peran orang
dewasan, anak yang suka meniru dan suka dengan penghargaan langsung seperti permen
atau pujian langsung.
·
Cocok untuk memperoleh pengetahuan dengan cara
prakter dan pembiasaan yang mengandung
unsur -unsur sperti kecepatan ,spontanitas, kelenturan, refleksi, dan
sebagainya tahan dan sebagainya.
2. kekurangan
·
Proses belajar dipandang sebagai kegiatan yang
diamati langsung, padahal belajar adalah
kegiatan yang ada dalam sistem syaraf manusia
yang tidak terlihat kecuali gejalanya.
·
Proses belajar dipandang bersifat otomatis yang
terkesan seperti robot.
·
Teori ini cendrung menjelaskan situasi belajar secara kompleks.
·
Proses belajar
dianalogikan dengan binatang, padahal manusia dan binatang sangat
berbeda dalam proses belajar.
BAB
III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dari
uraian di atas dapat disimpulkan bahwa teori Hull mengandung postulat teorema
yang logist. Postulat ini adalah pernyataan
umum tentang perilaku yang rterbagi
atas dua periode yaitu, tahun 1943 dan tahun 1952. Namun dalam prosesnya teori
ini memilki perbedaan yang mencakup motivasi insentif, dinamisme intensitas-
stimulus, perubahan dari reduksi dorongan ke reduksi stimulus dorongan, respons
tujuan pendahulu fraksional, dan
hierarki rumpun kebiasaan.
3.2 Saran
Untuk
mencapai tujuan yang lebih baik dari urain teori Hull maka dalam proses belajar
harus mengutamakan proses. Hal ini dilakukan untuk mencapai hasil yang lebih
baik dan tidak terkesan seperti robot dalam proses pembelajaran.
DAFTAR
PUSTAKA
Hergenhann , B.R dan
Olson H. Marten; 2010. Theories of Learning. Jakarta. Kencana Prenada
Media Group.
http: // Ainumalikah.
Blogspot. Com /2011/12/ Teori Clark Hull
Tidak ada komentar:
Posting Komentar