PASKAH RENDE
Dalam menyambut perayaan Paska tahun
2016,kami mahasiswa( IIe dan Ic) Prodi Dikbindo mengadakan kunjungan ke Paroki
St. Yosef Kisol Stasi Rende sebagai
bagian dari Tri dharma perguruan tinggi yaitu pengabdian masyarakat. Kegiatan
pengabdian masyarakat merupakan suatu kegiatan yang yang rutin dilakukan kaum
cendekiawan STKIP St. Paulus Ruteng dalam menyonsong setiap perayaan suci. Kali ini kami berkesempatan berkunjung
ke Stasi Rende yang merupakan bagian dari Paroki St. Yosef Kisol.
Dalam menyosong Paska di Rende, para
mahasiswa mempersiapkan koor untuk perayaan Minggu Raya. Adapun kegiatan lain
selama lima hari lamanya saat para mahasiswa berbaur dengan masyarakat,seperti
kerja bhakti,olahraga dan sebagai penutup nantinya diisi dengan pentas kreasi
bersama OMK ( Orang Muda Katolik), anak-anak SMK dan masyarakat Rende. Ketika
kami menginjakan kaki di wilayah itu,rasanya kaki tidak bisa melangkah karena
tidak tahu apayang harus kami perbuat. Beberapa saat kemudian kami diterima
secara adat Manggarai yang merupakan tanda bahwa kami diterima oleh masyarakat
setempat. Rasa keterasingan bukan lagi menjadi suatu hal yang tertanam dalam
diri tapi kini menjadi pupuk dalam rasa persaudaraan ketika kami menjadi anak
bara wu’a tuka (anak kandung) selama lima hari di Rende.
Hari-hari kami lalui bersama mereka,
tampak rasa persaudaraan mulai ada di antara kami meskipun ini pertemuan yang
pertama. Rasa ini muncul ketika kami selalu berinteraksi dalam setiap kegiatan
yang kami lakukan mulai dari bhakti sosial sebelum misa Kamis Putih maupun pada saat misa. Hari
berikutnya kami sealalu bergabung dengan masyarakat baik untuk persiapan misa
maupun untuk kegiatan lain yang ada dalam gereja. Puncak dari kegiatan ini pada
hari Minggu Raya,lantunan lagu-lagu koor yang dinyanyikan teman-teman mahasiswa begitu meriah dan mampu mengantar
umat Stasi Rende dalam suka cita Minggu Paska.
Tepuk tangan umat Stasi Rende semakin
mencairkan suasana setelah menyanyikan lagu Terpujilah Tuhan dalam bahasa Latin
dan lagu Haleluya Midley yang mampu menghipnotis umat Rende. Tentunya
keberhasilan dari lagu-lagu ini tak lepas dari penampilan dirigen Yohana B. Damu dan Arjen sang composer melantukan melodi yang mampu menyentuh hati pendengarnya.
Setelah misa kamipun pulang ke rumah masing-masing, kami dengan rasa banggga
mampu memberikan yang terbaik untuk masyarakat meskipun sebenarnya tidak
sempurna seperti para penyayi yang sebenarnya.
Pada sore harinya kami berolahraga
bersama masyarakat dalam pertandingan bola voly putra dan putri. Meskipun cuaca
kurang bersahabat pada waktu itu tetapi semangat kami untuk menampilkan yang
terbaik selalu muncul dalam setiap gerak permainan bola voly. Hujan bukan
menjadi halangan,apalagi sorakan penonoton menambah semangat kami untuk bermain
bersama OMK dan masyarakat Rende pada
saat itu. Permainan selesai,kami saling berjabat tangan sebagai rasa
persaudaraan. Malam harinya pentas kreasi,para mahasiswa,OMK,SMK dan masyarakat
bersiap-siap di belakang panggung untuk menghibur para penonoton.
Masyarakat sangat antusias menonoton
acara ini apalagi jumblah penonton yang sangat banyak memenuhi ruangan gereja
yang luas. Kami sadar ini merupakan hari terakhir kami di tempat ini dan besoknya
kami harus balik ke Ruteng. selesai
pentas seni Rm Mansu sebagai Pastor Paroki memberikan arahan kepada mahasiswa
untuk bersekolah dengan baik. Matahari kembali tersenyum seakan mengiringi
perpisahan kami,rasa haru dan suara tangis mengiringi setiap langkah kaki ini.
Kami yang sudah dianggap anak sendiri
harus pulang untuk mencari cerita baru. Tak ingin kami meninggalkan merekanamun
kaki ini terus melangkah. Sebelum kembali ke Ruteng kami berkumpul di gereja
untuk dilepas secara adat. Sambutan dari bapak ketua Stasi mengiringi
detik-detik perpisahan yang kian memburu dalam suasana hening. Lagu kemesraan
kami nyanyikan bersama untuk menutup perjumpaan ini dan kami harus kembali.
Meski kaki ini melangkah tetapi hati
selalu bersama kalian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar