04 Juni 2016

PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS KELAS, SEKOLAH DAN KOMUNITAS


BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Dewasa ini, berbicara tentang pendidikan berarti berbicara juga tentang karakter manusia. Dikatakan demikian karena proses pendidikan pada dasarnya dapat membentuk karakter manusia itu sendiri. Pendidikan karakter merupakan sebuah proses pengajaran kepada anak-anak tentang nilai-nilai kemanusiaan dasar, termasuk di dalamnya kejujuran, keramahtamahan, kemurahan hati, keberanian, kebebasan, persamaan dan rasa hormat. Menurut Ratna Mega Wangi (Darma Kusuma: 2004: 95) pendidikan karakter merupakan sebuah usaha untuk mendidik anak-anak  agar dapat mengambil keputusan dengan bijak dan mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari sehingga mereka dapat memberikan kontribusi yang positif  kepada  lingkungan. Selanjutnya pendidikan karakter merupakan usaha sadar untuk mengembangkan keseluruhan dinamika relasional antara pribadi dengan berbagai macam dimensi, baik dari dalam maupun dari luar dirinya. Dari beberapa pengertin tersebut, kita dapat menyimpulkan bahwa pendidikan karakter merupakan suatu kegiatan atau usaha sadar untuk mengubah prilaku atau sifat manusia ke arah yang lebih baik guna terciptanya hubungan baik antara satu individu dengan individu lain.
Pendidikan karakter jika dihubungkan dengan pemahaman seperti demikian, dapat diperoleh atau diterima melalui berbagai cara misalnya melalui keluarga, tempat ibadah, pengarahan di sekolah atau juga melalui kegiatan lain yang berhubungan dengan pengembangan prilaku atau kepribadian.  Secara formal, pendidikan karakter dapat ditemui atau diperoleh, serta diberikan melalui pendidikan di sekolah atau ruangan kelas. Proses pendidikan seperti ini biasaya diberikan secara khusus di dalam kelas atau  juga diselipkan daam materi-materi pembelajaran lain yang setidaknya memiliki pesan tersirat terkait dengan pendidikan karakter itu sendiri. Dalam proses formal tersebut, penddidikan karakter juga menjadi bagian dari tujuan dari terlaksananya pendidikan itu sendiri yaitu mengubah karakter dan prilaku siswa secara moral agar menjadi pribadi-pribadi yang berbudi pekerti. Hal ini secara tidak langsung menegaskan bahwa pendidikan karakter juga merupakan bentuk budaya atau ciri khas dari suatu lembaga pendidikan.
Seperti apa sebetulnya pendidikan karakter dalam lembaga pendidikan atau berbasis kelas tersebut, serta bagaimana pendidikan karakter itu menjadi kultur sekolah dan komunitas?
Semuanya akan dibahas secara rinci dalam tulisan ini.

1.2.Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas  maka permasalahan  yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah  sebagai berikut:
  1. Apa itu pendidikan karakter berbasis kelas?
  2. Apa itu pendidikan karakter sebagai kultur sekolah dan komunitas?
1.3.Tujuan Penulisan
  1. untuk mengetahui pendidikan karakter berbasis kelas.
  2. Untuk mengetahui pendidikan karakter sebagai kultur sekolah dan komunitas.











BAB II
PEMBAHASAN
2.1.  Asumsi Pendidikan Karakter
            Pendekatan pendidikan karakter yang dipahami adanya pengelompokan mata pelajaran tertentu juga mendasar diri pada beberapa asumsi.
Pertama, pendidikan karakter hanya dapat ditemukan  pada jenis mata pelajaran tertentu. Pendidikan karakter bersifat terbatas, dan hanya dapat ditemukan dalam pengolongan mata pelajaran tertentu yang memang diyakini dapat memiliki muatan bagi pengembangan pendidikan karakter dengan lebih nyata. Mata pelajaran khusus tentang pendidikan karakter tidak diperlukan karena tidak diperlukan karena pada kenyataannya pendidikan karakter bisa diintegrasikan melalui berbagai macam praksis pedagogis pengajaran di kelas sesuai dengan mata pelajaran yang sedang dibahas. Mata pelajaran bahasa Indonesia, misalnya, memiliki muatan pendidikan karakter yang kuat ketika siswa membahas karakter sebuah novel, atau membuat kritik sastra dari karya novel tertentu. Ketika siswa mampu menganalisis dan menjelaskan nilai-nilai dan karakter dari pribadi tertentu yang tercantum dalm kisah sebuah novel, siswa telah belajar memahami apa itu karakter baik dan buruk, dan perangi macam apa yang bisa dimiliki  dan terjadi dalam diri induvidu tertentu. Demikian juga dalam pelajaran Agama. Di situ, siswa mempelajari bagaimana manusia dapat hidup baik sebagai orang beriman. Pandangan ini lebih mengutamakan ilmu-ilmu humaniora sebagai mata pelajaran yang lebih kental mengandung muatan pendidikan karakter , sedangkan mata pelajaran sains dan eksata, seperti kimia , matematika, biologi dan fisika dianggap kurang memiliki kaitan langsung dengan pendidikan karakter siswa.
            Kedua, pendekatan ini juga berasumsi bahwa tanggung jawab pendidikan karakter siswa di sekolah adalah terbatas pada para guru yang mengajar dibidang –bidang yang diyakini sebagai memiliki muatan pendidikan karakter. Tidak ada integrasi dan pemahaman bersama bahwa pendidikan karakter bisa merasuk dan menjadi dimensi dalam keseluruhan mata pelajaran serta menjadi tanggung jawab setiap guru. Ada pemisahan dan spesifikasi tanggung jawab tentang guru pengampuh pendidikan karakter.
Ketiga,  sama seperti pendekatan pertama, corak pendidikan  karakter ini berlansung satu arah, yaitu guru menjadi murid yang terjadi dalam proses belajar mengajar dalam kelas. Kalau  ada interaksi lebih diutamakan antara anak  dengan teks sehingga terjadi proses internalisasi nilai secara tanpa disadari. Dalam hal ini, guru menjadi semacam fasilitator penanaman nilai selama proses pembelajaran berlansung.

2.2. Pendidikan Karakter Berbasis Kelas
 Desain pendidikan karakter berbasis kelas berkaitan dengan bagaimana hubungan antara guru sebagai pendidik dan siswa sebagai pembelajar dalam kelas. Konteks pendidikan karekter adalah proses relasional komunitas kelas dalam proses pembelajaran. Relasi antara guru dan pembelajar bukan monolog melainkan dialog dengan banyak arah sebab komunitas kelas terdiri dari guru dan siswa yang sama-sama berinteraksi dengan meteri. Memberikan pemahaman  dan pengertian akan keutamaan yang benar terjadi dalam konteks pengajaran ini, termasuk di dalamnya adalah ranah non-instruksional seperti manejeman kelas, consensus kelas dan lainya yang membantu terciptanya suasana yang  nyaman  dalam proses pembelajaran.
a.       Makna Kelas
Kelas yang dimaksud di sina bukan terutama bangunan fisik ( ruangan/gedung dengan aksesorisnya), melainkan lebih pada corak relasional yang terjadi antara guru dan murid dalam proses pendidikan. Relasi guru  murid dalam konteks pembelajaran lebih menentukan makna keberadaan sebuah kelas dan bukan terutama kondisi fisiknya. Dengan demikian pendidikan karakter berbasis kelas membahas lebih tentang bagimana lembaga pendidikan dapat memaksimalkan corak relasional yang terjadi dalam kelas agar masing-masing iindividu dapat bertumbuh secara sehat, dewasa,da bertanggung jawab.

      Pendidikan karakter berbasis kelas mempergunakan kelas sebagai locus educationis bagi pengembangan karakter. Satu dimensi penting yang menjadi dasar bagi pengembangan pendidikan karakter berbasis kelas adalah kualitas relasional antar anggota kelas. Relasi yang terutama terjadi di dalam kelas adalah relasi pribadai anatara guru dan murid dan antar individu/ murid. Relasi antar komunitas kelas  ini akan memengaruhi keberhasilan sebuah proses belajar mengakar dalam kelas.
      Relasi di dalam kelas terjadi karena guru melakukan sesuatu dengan siswa seputar hal yang dipelajari. Apa yang dilakukan dan sesuatu yang oleh guru dan murid sangatlah banyak. Demikian juga , ada bebrbagai macam metode pembelajaran yang adapat disesuaikan dengan apa yang dipelajari dan bagaiman menggarakan siswa agar mereka adapat belajar dengan baik. Karena interaksi dalam kelas selalu bersifat lokal dan aktual, proses belajar mengajar di dalam kelas menjadi sebuah dinamika yang mengalir, yang membutuhkan kemampuan dan kompetensi yang tidak sedarhana.

      Relasi guru murid dalam kelas pada ruang dan waktu tertentu sangatlah khas, dan tak dapat dipisahkan. Relasi dalam kelas  melalui berbagai macan faktor yang saling mempengaruhi satu sama lain. Praksis pembelajaran dalam kelas selalu menyisakan kompleksitas dalam praksis. Misalnya, banyak materi yang mesti dibahas oleh guru di dalam kelas dan mesti dipelajari oleh siswa secara bersamaan. Karena terjadi secara simultan,banyak kegiatan dan persoalan dikerjakan dalam satu waktu yang sama dalam sebuah tindakan tunggal.

      Kompleksitas relasioanal dalam pembelajaran adalah ciri khas sebuah kelas. Setiap momen pengajaran akan menyiksakan pengalaman yang berbeda. Oleh karena itu, akan selalu ada interaksi antara guru dan murid dengan materi pembelajaran itu sendiri. Interaksi inilah yang membuat relasi dalam kelas senantiasa bersifat kompleks, mengejutkan dan tidak terduga. Pendidikan karakter merupakan sebuah usaha sadar. Oleh karena itu, proses pembelajaran dan interaksi di dalam kelas yang dijiwai semangat pendidikan karakter yang mesti menyertakan kesadaran dan perencanaan. Jika tidak,pendidikan karakter berbasis kelas tidak akan muncul. Sadar bahwa setiap proses kegiatan belajar  mengajar di dalam kelas memilki potensi bagi pembentukan karakter siswa ,merupakan langkah awal yang baik bagi pengembangan pendidikan karakter berbasis kelas( Doni Koesoema:2012: 106)

b.      Ciri-Ciri Pendidikan Berbasis Kelas
Pendidikan karakter berbasis kelas merupakan locus educationnis utama bagi praksis pendidikan karakter di sekolah.
1.      Guru Sebagai Fasilitator Pembelajaran
Dalam ciri ini guru sebagai fasilitator dan pendamping bagi siswa dalam proses belajar. Tugas utamanya adalah memepermudah siswa untuk memahami dan mengerti isi materi atas hal yang di bahas dan bukan mempersulit apa yang dipelajari.
2.      Guru Sebagai Motivator
Peran guru dalam ciri ini yaitu, guru berperan sebagai pemberi motivasi bagi anak didik dalam belajar. Motivasi ini harus ditumbuhkan terus menerus dari hari ke hari,diukang-ulang agar anak semakin menyadari bahwa keberhasilan seorang sangat ditentukan dari besarnya motivasi ( 2012; 116)
3.      Guru Sebagai Desainer Program
4.      Guru Sebagai Pembimbing Dan Sumber Keteladanan
5.      Isi Kurikulum Menjadi Sumber Bagi Pembentukan Karakter
6.      Metode Pengajaran Dialog Bukan Monolog
7.      Mempergunakan Metode Pembelajaran Melalui Kerja Sama

2.3.  Pendidikan Karakter Berbasis Kultur Sekolah
            Desain pendidikan karakter berbasis kultur sekolah. Desain ini mencoba membangun kultur sekolah yang mampu membentuk karakter anak didik dengan bantuan pranata sosial sekolah agar nilai tertentu terbentuk dan terbatinkan dalam diri siswa. Untuk menanamkan nilai kejujuran tidak cukup hanya dengan memberikan pesan-pesan moral kepada anak didik. Pesan moral ini mesti diperkuat dengan penciptaan kultur kejujuran melalui pembuatan tata perat uran sekolah yang tegas dan konsisten terhadap setiap perilaku ketidakjujuran.
            Pendidikan karakter berbasis kultur sekolah merupakan perpanjangan lebih lanjut dari parksis pendidikan karakter berbasis kelas. Dalam pendidikan karakter berbasis kelas, terdapat struktur relasional yang jelas dan masih terbatas antara guru dan siswa serta siswa dengan siswa. Penegembangan pendidikan karakter berbasis sekolah mengandaikan sebuah kepercayaan bahwa manusia dan lingkungan itu saling memilki hubungan timbal balik.
Mengembangkan pendidikan karakter berbasis kultur sekolah bertujuan untuk menciptakan lingkungan pendidikan sebagai sebuah lingkungan pembelajaran yang dapat membantu setiap individu semakin dapat menemukan individualitasnya dan menghayati kebebasannya secara lebih penuh. Kultur sekolah yang berjiwa pembentukan karakter membantu individu bertumbuh secara dewasa dan sehat, secara psikologis, moral, dan spiritual.
            Kultur sekolah terbentuk dari berbagai macam norma, pola prilaku, sikap, dan keyakinan-keyakinan yang dimiliki oleh para anggota komunitas sebuah lembaga pendidikan. Kultur sekolah atau budaya sekolah itu sangat penting sebab nilai-nilai budaya itu dijadikan dasar dalam pemberian makna terhadap suatu konsep dan arti dalam komunikasi antar anggota masyarakat itu.
            Dalam konteks  pendidikan, kultur sekolah merupakan sebuah pola perilaku dan cara bertindak yang telah terbentuk secara otomatis menjadi bagian yang hidup dalam sebuah komunitas pendidikan. Dasar pola perilaku dan cara bertindak itu adalah norma sosial, peraturan sekolah, dan kebijakan pendidikan di tingkat lokal. Kultur sekolah dapat dikatakan seperti kurikulum tersembunyi, yang sesungguhnya lebih efektif mempengaruhi pola perilaku dan cara berpikir seluruh anggota komunitas sekolah.
            Kultur sekolah berjiwa pendidikan karakter terbentuk ketika dalam merancang sebuah program, setiap individu dapat bekerja sama satu sama lain melaksanakan misi dan visi sekolah melalui berbagai macam kegiatan yang membentuk dasar bagi pertumbuhan kultur sekolah yang sehat dan dewasa. Program-program itu pun perlu direncanakan, didesain, dan dievaluasi secara terus menerus.
2.4. Pendidikan Karakter Berbasis Komunitas
            Lembaga pendidikan memiliki ikatan yang erat dengan komunitas yang menjadi bagian dari keluarga besar sebuah lembaga pendidikan. Ada banyak komunitas yang terlibat, secara langsung ataupun tidak langsung, yang mempengaruhi keberhasilan desain pendidikan karakter. Komunitas-komunitas itu antara lain:
a.       Komunitas sekolah terdiri dari siswa, guru, karyawan, staf sekolah, pengurus yayasan, dan lain-lain.
b.      Komunitas keluarga terdiri dari orang tua, wali siswa, komite sekolah.
c.       Komunitas masyarakat yaitu LSM, pengusaha, berbagai kumpulan sosial dan lain-lain.
d.      Komunitas politik: penjabat birokrasi negara bidang pendidikan. Mulai dari penjabat tingkat dinas pendidikan sampai dengan kemantrian pendidikan.

      Komunitas-komunitas tersebut sesungguhnya memiliki peran penting dalam mewujudnyatakan keberhasilan pendidikan karakter di sekolah. Tanpa ada kerja sama antara sekolah dengan komunitas, pendidikan karakter akan pincang. Pendidikan karakter akan sekedar berhenti sebagai kepentingan pengembangan individu yang bersifat sektorial, tanpa ada dukungan dan bantuan dari komunitas yang lebih besar.
       
      Komunitas merupakan sebuah kumpulan individu yang saling bekerja sama agar kebutuhan masing-masing individu terpenuhi. Komunitas hadir karena individu memiliki deficit ketika terlepas dari individu lain yang hidup dalam komunitas yang lebih besar. Lebih dari itu, individu sesungguhnya terlahir tidak secara cukup diri. Artinya, keberadaan dirinya itu dapat bertumbuh dengan baik dan alami ketika ada kehadiran orang lain.

      Komunitas merupakan sebuah kumpulan individu yang bersifat dinamis. Tidak ada komunitas yang terbentuk secara stabil dan permanen. Hal itu terjadi karena komunitas dalam dirinya sendiri mensyaratkan ada komunikasi satu sama lain agar tujuan yang ingin dicapai oleh komunitas itu dapat terwujud. Karena lembaga pendidikan senantiasa memiliki anggota baru, komunitas pun selalu berubah corak dan warna tergantung dari mobilitas individu yang ada di dalamnya. Oleh karena itu, yang menentukan ciri utama keberadaan komunitas adalah kemampuannya berkomunikasi dan berdialog satu sama lain. Kemampuan berkomunikasi dan berdialog ini melahirkan tatanan sosial,, norma, dan pola perilaku yang berlaku bagi komunitas tertentu.
     
      Komunitas merupakan sebuah kumpulah individu yang bersifat dinamis. Tidak ada komunitas yang terbentuk secara stabil dan permanen. Hal itu terjadi karena komunitas dalam dirinya sendiri mensyaratkan ada komunikasi satu sama lain agar tujuan yang ingin dicapai oleh komunitas itu dapat terwujud. Karena lembaga pendidikan senantiasa memiliki anggota baru, komunitas pun selalu berubah corak dan warna tergantung dari mobilitas individu yang ada di dalamnya. Oleh karena itu, yang menentukan ciri utama keberadaan komunitas adalah kemampuanya berkomunikasi dan berdialog satu sama lain. Kemampuan berkomunikasi dan berdialog ini melahirkan tatanan sosial, norma ,dan perilaku yang berlaku bagi komunitas tertentu. Tentu saja, di dalam komunitas, pergantian individu yang menjadi anggota tidak otomatis mengubah tatanan sosial yang telah ada. Namun demikian ,komunitas tidak terbentuk semata dari tatanan sosial dan norma yag telah ada sebelum kehadiran individu baru yang menjadi anggota sebuah komunitas. Bentuk  sebuah komunitas akan terjadi melalui proses pengelolan bersama, yaitu sebuah proses dialogis antar individu dalam komunitas tersebut dalam mengatur dan membentuk kebersamaan secara komunikatif agar tujuan komunitas tercapai. Berubahnya komposisi individu dalam komunitas akan mengubah cara-cara berkomunikasi dalam komunitas tersebut. Aturan dan regulasi tidak akan mengubah pola komunikasi dengan sendirinya. Individu membentuk aturan dan regulasi itu dalam komunitas agar tujuan keberadaan komunitas itu tercapai. Oleh karena itu, komunitas selalu bersitaf  dinamis dan senantiasa berada dalam pencarian terus menerus. Pendidikan karakter hanya dapat berhasil dan efektif jika ada bantuan sinergis dari berbagai macam komunitas yang memiliki kaitan, langsung ataupun tidak langsung, dengan dinamika kehidupam sekolah. Sekolah sebagai sebuah komunitas yang memilki relasi dengan banyak pihak mesti tetap dinamis,terbuka,dan mau belajar terus menerus jika tidak ingin menjadi sebuah lembaga yang mandek, yang semakin lama tidak relefan dengan kebutuhan anggotanya.
      Komunitas yang pertama yang menjadi acuan kerja sama antar sekolah dengan pihak luar adalah komunitas orang tua. Meraka merupakan salah  satu pemangku kepentingan dalam sekolah karena mereka berkapentingan agar anak yang meraka percayakan kepada sekolah dapat bertumbuh dan berkembang dengan baik. Kepercayaan dari orang tua ini perlu  di jaga oleh pihak sekolah agar kepentingan masimg-masing pihak dihormati. Orang tua mempercayakan anak-anaknya agar dididik oleh para guru, sedangkan sekolah berdasarkan kepercayaan dari orang tua, memiliki tugas untuk mendidik dan mendampingi siswa tersebut agar berkembang secara lebih dewasa sebagai individu. Untuk itu, kerja sama antara pihak sekolah dengan pihak orang tua sangatlah penting agar terdapat kesinambungana antara proses pendidikan di sekeolah dan di rumah.

      Membangun kerja sama dengan orang tua tidaklah mudah. Kesibukan kerja dan dinamika kehidupan masyarakat modern sering kali memaksa orang tua meninggalkan tugas pokok mereka sebagai pendidik anak-anak ketika mereka berada di rumah. Hal itu terjadi karena kuantitas perjumpaan mereka dengan anak-anaknya semakin sedikit. Ada gejala bahwa orang tua hanya menyerahkan anak mereka secara penuh kepada sekolah namun orang tua sendiri tidak mempunyai banyak waktu untuk anak mereka. Orang tua telah membayar mahal sekolah dan sekarang mereka hanya sekadar meminta hasil dari sekolah atas apa yang mereka bayar. Situasi sebaliknya dapat juga terjadi. Sekolah memanfaatkan ketidakmampuan orang tua dalam mendidik anak-anak didik mereka dengan cara menarik biaya setinggi-tingginya. Namun setelah mereka memperoleh dana dari orang tua, dana tersebut tidak dipakai demi meningkatkan kepentingan pelayanan pendidikan anak. Hal ini dapat kita lihat dari pelayanan pihak sekolah. Dengan berbagai alasan sekolah mencari dana dari orang tua mereka.





BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Dari pemaparan materi di atas, dapat kita simpuljan bahwa pendidikan karakter pada dasarnya memiliki peranan penting dalam membentuk kepribadian peserta didik dalam rangka usaha menciptakan manusia yang berkualitas dan dapat diterima di kehidupan sosial masyarakat.
Agar pendidikan karakter dapat mencapai sasaran atau tujuan yang sebenarnya, maka perlu beberapa unsure atau basis pendidikan karakter itu sendiri. Basisi tersebut lebih banyak terjadi atau bersumber pada lembaga pendidikan seperti sekolah. Pembentukan karakter siswa amat penting dilakukan di sekolah oleh guru dan komponen lain agar pendidikan tidak hanya dapat mencapai tujuan kognitif semata tetapi juga siswa dapat mahir dalam keterampilah afektif. Selain sekolah, peran komunitas keluarga terutama orang tua juga amat penting dalam pembentukan karakter dan sikap atau prilau anak didik. Peran sekolah dan orang tua haruslah bersifat sinergi atau bekerja sama agar terbentuk pola hidup yang baik bagi peserta didik.
3.2. Saran
Untuk dapat mencapai tujuann  utamanya, pendidikan karakter hendaknya harus dilakukan sejak dini dalam proses pendidikan peserta didik. Hal ini amat penting guna menyesuaikan dengan perkembangan psikologi dari siswa. Hal lain yang perlu dilakukan adalah hendaknya pihak sekolah menyediakan pendidikan karakter secara khusus ditambah dengan diselipkannya pendidikan karakter pada materi pelajaran umum. Selain itu perlu ada kerja sma berkesinambungan antar orang tua dan pihak sekolah guna memantau perkembangan karakter peserta didik. Hal ini penting agar mereka dapat mengetahui seperti apa masalah yang dihadapi peserta didik dan pada akhirnya mereka dapat memecahkannya secara bersama.




Daftar Pustaka
Muslich, Masnur.2011. Pendidikan Karakter: Menjawab Tantangan Krisis Multidimensional :Jakarta: PT Bumi Aksara.
Abidin,Yunus: 2013. Pembelajaran Bahasa Berbasis Pendidikan Karakter : Jakarta : Refika Aditama
Koesoma,Doni A. 2012. Pendidikan Karakter  Utuh dan Menyeluruh: Jogjakarta: Kanisius
Kurniawan,Syamsul.2013. pendidikan Karakter: Pontianak: AR-RUZZ MEDIA


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BANG LAWO "BERBURU TIKUS"

    BANG LAWO  Masa kecil menjadi masa yang indah, tidak ada beban berat yang terlintas dalam pikiran hanya ada rasa senang saat kita tert...