BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Dewasa
ini, berbicara tentang pendidikan berarti berbicara juga tentang karakter
manusia. Dikatakan demikian karena proses pendidikan pada dasarnya dapat
membentuk karakter manusia itu sendiri. Pendidikan karakter merupakan sebuah
proses pengajaran kepada anak-anak tentang nilai-nilai kemanusiaan dasar,
termasuk di dalamnya kejujuran, keramahtamahan, kemurahan hati, keberanian, kebebasan, persamaan dan rasa
hormat. Menurut Ratna Mega Wangi (Darma Kusuma: 2004: 95) pendidikan karakter
merupakan sebuah usaha untuk mendidik anak-anak agar dapat mengambil keputusan dengan bijak dan
mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari sehingga mereka dapat memberikan kontribusi
yang positif kepada lingkungan. Selanjutnya pendidikan karakter
merupakan usaha sadar untuk mengembangkan keseluruhan dinamika relasional
antara pribadi dengan
berbagai macam dimensi, baik dari dalam maupun dari luar dirinya. Dari beberapa
pengertin tersebut, kita dapat menyimpulkan bahwa pendidikan karakter merupakan
suatu kegiatan atau usaha sadar untuk mengubah prilaku atau sifat manusia ke
arah yang lebih baik guna terciptanya hubungan baik antara satu individu dengan
individu lain.
Pendidikan
karakter jika dihubungkan dengan pemahaman seperti demikian, dapat diperoleh
atau diterima melalui berbagai cara misalnya melalui keluarga, tempat ibadah,
pengarahan di sekolah atau juga melalui kegiatan lain yang berhubungan dengan
pengembangan prilaku atau kepribadian.
Secara formal, pendidikan karakter dapat ditemui atau diperoleh, serta
diberikan melalui pendidikan di sekolah atau ruangan kelas. Proses pendidikan
seperti ini biasaya diberikan secara khusus di dalam kelas atau juga diselipkan daam materi-materi
pembelajaran lain yang setidaknya memiliki pesan tersirat terkait dengan
pendidikan karakter itu sendiri. Dalam proses formal tersebut, penddidikan
karakter juga menjadi bagian dari tujuan dari terlaksananya pendidikan itu
sendiri yaitu mengubah karakter dan prilaku siswa secara moral agar menjadi pribadi-pribadi yang berbudi pekerti. Hal ini secara tidak langsung
menegaskan bahwa pendidikan karakter juga merupakan bentuk budaya atau ciri khas
dari suatu lembaga pendidikan.
Seperti
apa sebetulnya pendidikan karakter dalam lembaga pendidikan atau berbasis kelas
tersebut, serta bagaimana pendidikan karakter itu menjadi kultur sekolah dan komunitas?
Semuanya
akan dibahas secara rinci dalam tulisan ini.
1.2.Rumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang di atas maka permasalahan
yang akan dibahas dalam tulisan ini
adalah sebagai berikut:
- Apa itu pendidikan karakter berbasis kelas?
- Apa itu pendidikan karakter sebagai kultur sekolah dan komunitas?
1.3.Tujuan Penulisan
- untuk mengetahui pendidikan karakter berbasis kelas.
- Untuk mengetahui pendidikan karakter sebagai kultur sekolah dan komunitas.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Asumsi Pendidikan Karakter
Pendekatan pendidikan karakter yang
dipahami adanya pengelompokan mata pelajaran tertentu juga mendasar diri pada
beberapa asumsi.
Pertama,
pendidikan karakter hanya
dapat ditemukan pada jenis mata
pelajaran tertentu. Pendidikan karakter bersifat terbatas, dan hanya dapat
ditemukan dalam pengolongan mata pelajaran tertentu yang memang diyakini dapat
memiliki muatan
bagi pengembangan pendidikan karakter dengan lebih nyata. Mata pelajaran khusus
tentang pendidikan karakter tidak diperlukan karena tidak diperlukan karena
pada kenyataannya pendidikan karakter bisa diintegrasikan melalui berbagai
macam praksis pedagogis pengajaran di kelas sesuai dengan mata pelajaran yang
sedang dibahas. Mata pelajaran bahasa Indonesia, misalnya, memiliki muatan
pendidikan karakter yang kuat ketika siswa membahas karakter sebuah novel, atau
membuat kritik sastra dari karya novel tertentu. Ketika siswa mampu menganalisis
dan menjelaskan nilai-nilai dan karakter dari pribadi tertentu yang tercantum
dalm kisah sebuah novel, siswa telah belajar memahami apa itu karakter baik dan
buruk, dan perangi macam apa yang bisa dimiliki
dan terjadi dalam diri induvidu tertentu. Demikian juga dalam pelajaran
Agama. Di situ,
siswa mempelajari bagaimana manusia dapat hidup baik sebagai orang
beriman. Pandangan ini lebih mengutamakan ilmu-ilmu humaniora sebagai mata
pelajaran yang lebih kental mengandung muatan pendidikan karakter , sedangkan
mata pelajaran sains dan eksata, seperti kimia , matematika, biologi dan fisika
dianggap kurang memiliki kaitan langsung
dengan pendidikan karakter siswa.
Kedua, pendekatan
ini juga berasumsi bahwa tanggung jawab pendidikan karakter siswa di sekolah
adalah terbatas pada para guru yang mengajar dibidang –bidang yang diyakini
sebagai memiliki muatan pendidikan karakter. Tidak ada integrasi dan pemahaman
bersama bahwa pendidikan karakter bisa merasuk dan menjadi dimensi dalam
keseluruhan mata pelajaran serta menjadi tanggung jawab setiap guru. Ada
pemisahan dan spesifikasi tanggung jawab tentang guru pengampuh pendidikan karakter.
Ketiga, sama seperti pendekatan pertama, corak
pendidikan karakter ini berlansung satu
arah, yaitu guru menjadi murid yang terjadi dalam proses belajar mengajar dalam
kelas. Kalau ada interaksi lebih
diutamakan antara anak dengan teks
sehingga terjadi proses internalisasi nilai secara tanpa disadari. Dalam hal
ini, guru menjadi semacam fasilitator penanaman nilai selama proses
pembelajaran berlansung.
2.2. Pendidikan Karakter Berbasis Kelas
Desain pendidikan karakter
berbasis kelas berkaitan dengan bagaimana hubungan antara guru sebagai pendidik
dan siswa sebagai pembelajar dalam kelas. Konteks pendidikan karekter adalah
proses relasional komunitas kelas dalam proses pembelajaran. Relasi antara guru
dan pembelajar bukan monolog melainkan dialog dengan banyak arah sebab
komunitas kelas terdiri dari guru dan siswa yang sama-sama berinteraksi dengan
meteri. Memberikan pemahaman dan
pengertian akan keutamaan yang benar terjadi dalam konteks pengajaran ini,
termasuk di dalamnya adalah ranah non-instruksional
seperti manejeman kelas, consensus kelas dan lainya yang membantu terciptanya
suasana yang nyaman dalam proses pembelajaran.
a. Makna Kelas
Kelas yang dimaksud di sina bukan terutama bangunan
fisik ( ruangan/gedung dengan aksesorisnya), melainkan lebih pada corak
relasional yang terjadi antara guru dan murid dalam proses pendidikan. Relasi
guru murid dalam konteks pembelajaran
lebih menentukan makna keberadaan sebuah kelas dan bukan terutama kondisi
fisiknya. Dengan demikian pendidikan karakter berbasis kelas membahas lebih
tentang bagimana lembaga pendidikan dapat memaksimalkan corak relasional yang
terjadi dalam kelas agar masing-masing iindividu dapat bertumbuh secara sehat,
dewasa,da bertanggung jawab.
Pendidikan
karakter berbasis kelas mempergunakan kelas sebagai locus educationis bagi pengembangan karakter. Satu dimensi penting
yang menjadi dasar bagi pengembangan pendidikan karakter berbasis kelas adalah
kualitas relasional antar anggota kelas. Relasi yang terutama terjadi di dalam
kelas adalah relasi pribadai anatara guru dan murid dan antar individu/ murid.
Relasi antar komunitas kelas ini akan
memengaruhi keberhasilan sebuah proses belajar mengakar dalam kelas.
Relasi di
dalam kelas terjadi karena guru melakukan sesuatu dengan siswa seputar hal yang
dipelajari. Apa yang dilakukan dan sesuatu yang oleh guru dan murid sangatlah
banyak. Demikian juga , ada bebrbagai macam metode pembelajaran yang adapat
disesuaikan dengan apa yang dipelajari dan bagaiman menggarakan siswa agar
mereka adapat belajar dengan baik. Karena interaksi dalam kelas selalu bersifat
lokal dan aktual, proses belajar mengajar di dalam kelas menjadi sebuah
dinamika yang mengalir, yang membutuhkan kemampuan dan kompetensi yang tidak
sedarhana.
Relasi guru
murid dalam kelas pada ruang dan waktu tertentu sangatlah khas, dan tak dapat
dipisahkan. Relasi dalam kelas melalui
berbagai macan faktor yang saling mempengaruhi satu sama lain. Praksis
pembelajaran dalam kelas selalu menyisakan kompleksitas dalam praksis. Misalnya,
banyak materi yang mesti dibahas oleh guru di dalam kelas dan mesti dipelajari
oleh siswa secara bersamaan. Karena terjadi secara simultan,banyak kegiatan dan
persoalan dikerjakan dalam satu waktu yang sama dalam sebuah tindakan tunggal.
Kompleksitas
relasioanal dalam pembelajaran adalah ciri khas sebuah kelas. Setiap momen pengajaran
akan menyiksakan pengalaman yang berbeda. Oleh karena itu, akan selalu ada
interaksi antara guru dan murid dengan materi pembelajaran itu sendiri.
Interaksi inilah yang membuat relasi dalam kelas senantiasa bersifat kompleks,
mengejutkan dan tidak terduga. Pendidikan karakter merupakan sebuah usaha
sadar. Oleh karena itu, proses pembelajaran dan interaksi di dalam kelas yang
dijiwai semangat pendidikan karakter yang mesti menyertakan kesadaran dan
perencanaan. Jika tidak,pendidikan karakter berbasis kelas tidak akan muncul.
Sadar bahwa setiap proses kegiatan belajar mengajar di dalam kelas memilki potensi bagi
pembentukan karakter siswa ,merupakan langkah awal yang baik bagi pengembangan
pendidikan karakter berbasis kelas( Doni Koesoema:2012: 106)
b. Ciri-Ciri Pendidikan Berbasis Kelas
Pendidikan karakter berbasis kelas merupakan locus
educationnis utama bagi praksis pendidikan karakter di sekolah.
1. Guru Sebagai Fasilitator Pembelajaran
Dalam ciri ini guru sebagai fasilitator dan pendamping
bagi siswa dalam proses belajar. Tugas utamanya adalah memepermudah siswa untuk
memahami dan mengerti isi materi atas hal yang di bahas dan bukan mempersulit
apa yang dipelajari.
2. Guru Sebagai Motivator
Peran guru dalam ciri ini yaitu, guru berperan sebagai
pemberi motivasi bagi anak didik dalam belajar. Motivasi ini harus ditumbuhkan
terus menerus dari hari ke hari,diukang-ulang agar anak semakin menyadari bahwa
keberhasilan seorang sangat ditentukan dari besarnya motivasi ( 2012; 116)
3. Guru Sebagai Desainer Program
4. Guru Sebagai Pembimbing Dan Sumber Keteladanan
5. Isi Kurikulum Menjadi Sumber Bagi Pembentukan Karakter
6. Metode Pengajaran Dialog Bukan Monolog
7. Mempergunakan Metode Pembelajaran Melalui Kerja Sama
2.3. Pendidikan
Karakter Berbasis Kultur Sekolah
Desain
pendidikan karakter berbasis kultur sekolah. Desain ini mencoba membangun
kultur sekolah yang mampu membentuk karakter anak didik dengan bantuan pranata
sosial sekolah agar nilai tertentu terbentuk dan terbatinkan dalam diri siswa.
Untuk menanamkan nilai kejujuran tidak cukup hanya dengan memberikan pesan-pesan
moral kepada anak didik. Pesan moral ini mesti diperkuat dengan penciptaan
kultur kejujuran melalui pembuatan tata perat uran sekolah yang tegas dan
konsisten terhadap setiap perilaku ketidakjujuran.
Pendidikan
karakter berbasis kultur sekolah merupakan perpanjangan lebih lanjut dari parksis
pendidikan karakter berbasis kelas. Dalam pendidikan karakter berbasis kelas,
terdapat struktur relasional yang jelas dan masih terbatas antara guru dan
siswa serta siswa dengan siswa. Penegembangan pendidikan karakter berbasis
sekolah mengandaikan sebuah kepercayaan bahwa manusia dan lingkungan itu saling
memilki hubungan timbal balik.
Mengembangkan pendidikan karakter berbasis
kultur sekolah bertujuan untuk menciptakan lingkungan pendidikan sebagai sebuah
lingkungan pembelajaran yang dapat membantu setiap individu semakin dapat
menemukan individualitasnya dan menghayati kebebasannya secara lebih penuh.
Kultur sekolah yang berjiwa pembentukan karakter membantu individu bertumbuh
secara dewasa dan sehat, secara psikologis, moral, dan spiritual.
Kultur
sekolah terbentuk dari berbagai macam norma, pola prilaku, sikap, dan
keyakinan-keyakinan yang dimiliki oleh para anggota komunitas sebuah lembaga
pendidikan. Kultur sekolah atau budaya sekolah itu sangat penting sebab
nilai-nilai budaya itu dijadikan dasar dalam pemberian makna terhadap suatu
konsep dan arti dalam komunikasi antar anggota masyarakat itu.
Dalam
konteks pendidikan, kultur sekolah
merupakan sebuah pola perilaku dan cara bertindak yang telah terbentuk secara
otomatis menjadi bagian yang hidup dalam sebuah komunitas pendidikan. Dasar
pola perilaku dan cara bertindak itu adalah norma sosial, peraturan sekolah,
dan kebijakan pendidikan di tingkat lokal. Kultur sekolah dapat dikatakan
seperti kurikulum tersembunyi, yang sesungguhnya lebih efektif mempengaruhi
pola perilaku dan cara berpikir seluruh anggota komunitas sekolah.
Kultur
sekolah berjiwa pendidikan karakter terbentuk ketika dalam merancang sebuah
program, setiap individu dapat bekerja sama satu sama lain melaksanakan misi
dan visi sekolah melalui berbagai macam kegiatan yang membentuk dasar bagi
pertumbuhan kultur sekolah yang sehat dan dewasa. Program-program itu pun perlu
direncanakan, didesain, dan dievaluasi secara terus menerus.
2.4. Pendidikan Karakter Berbasis Komunitas
Lembaga
pendidikan memiliki ikatan yang erat dengan komunitas yang menjadi bagian dari
keluarga besar sebuah lembaga pendidikan. Ada banyak komunitas yang terlibat,
secara langsung ataupun tidak langsung, yang mempengaruhi keberhasilan desain
pendidikan karakter. Komunitas-komunitas itu antara lain:
a. Komunitas sekolah terdiri dari siswa, guru, karyawan,
staf sekolah, pengurus yayasan, dan lain-lain.
b. Komunitas keluarga terdiri dari orang tua, wali siswa,
komite sekolah.
c. Komunitas masyarakat yaitu LSM, pengusaha, berbagai
kumpulan sosial dan lain-lain.
d. Komunitas politik: penjabat birokrasi negara bidang pendidikan.
Mulai dari penjabat tingkat dinas pendidikan sampai dengan kemantrian
pendidikan.
Komunitas-komunitas
tersebut sesungguhnya memiliki peran penting dalam mewujudnyatakan keberhasilan
pendidikan karakter di sekolah. Tanpa ada kerja sama antara sekolah dengan
komunitas, pendidikan karakter akan pincang. Pendidikan karakter akan sekedar
berhenti sebagai kepentingan pengembangan individu yang bersifat sektorial,
tanpa ada dukungan dan bantuan dari komunitas yang lebih besar.
Komunitas
merupakan sebuah kumpulan individu yang saling bekerja sama agar kebutuhan
masing-masing individu terpenuhi. Komunitas hadir karena individu memiliki
deficit ketika terlepas dari individu lain yang hidup dalam komunitas yang
lebih besar. Lebih dari itu, individu sesungguhnya terlahir tidak secara cukup
diri. Artinya, keberadaan dirinya itu dapat bertumbuh dengan baik dan alami
ketika ada kehadiran orang lain.
Komunitas
merupakan sebuah kumpulan individu yang bersifat dinamis. Tidak ada komunitas
yang terbentuk secara stabil dan permanen. Hal itu terjadi karena komunitas
dalam dirinya sendiri mensyaratkan ada komunikasi satu sama lain agar tujuan
yang ingin dicapai oleh komunitas itu dapat terwujud. Karena lembaga pendidikan
senantiasa memiliki anggota baru, komunitas pun selalu berubah corak dan warna
tergantung dari mobilitas individu yang ada di dalamnya. Oleh karena itu, yang
menentukan ciri utama keberadaan komunitas adalah kemampuannya berkomunikasi
dan berdialog satu sama lain. Kemampuan berkomunikasi dan berdialog ini
melahirkan tatanan sosial,, norma, dan pola perilaku yang berlaku bagi komunitas
tertentu.
Komunitas
merupakan sebuah kumpulah individu yang bersifat dinamis. Tidak ada komunitas
yang terbentuk secara stabil dan permanen. Hal itu terjadi karena komunitas
dalam dirinya sendiri mensyaratkan ada komunikasi satu sama lain agar tujuan
yang ingin dicapai oleh komunitas itu dapat terwujud. Karena lembaga pendidikan
senantiasa memiliki anggota baru, komunitas pun selalu berubah corak dan warna
tergantung dari mobilitas individu yang ada di dalamnya. Oleh karena itu, yang
menentukan ciri utama keberadaan komunitas adalah kemampuanya berkomunikasi dan
berdialog satu sama lain. Kemampuan berkomunikasi dan berdialog ini melahirkan
tatanan sosial, norma ,dan perilaku yang berlaku bagi komunitas tertentu. Tentu
saja, di dalam komunitas, pergantian individu yang menjadi anggota tidak
otomatis mengubah tatanan sosial yang telah ada. Namun demikian ,komunitas
tidak terbentuk semata dari tatanan sosial dan norma yag telah ada sebelum
kehadiran individu baru yang menjadi anggota sebuah komunitas. Bentuk sebuah komunitas akan terjadi melalui proses
pengelolan bersama, yaitu sebuah proses dialogis antar individu dalam komunitas
tersebut dalam mengatur dan membentuk kebersamaan secara komunikatif agar
tujuan komunitas tercapai. Berubahnya komposisi individu dalam komunitas akan
mengubah cara-cara berkomunikasi dalam komunitas tersebut. Aturan dan regulasi
tidak akan mengubah pola komunikasi dengan sendirinya. Individu membentuk
aturan dan regulasi itu dalam komunitas agar tujuan keberadaan komunitas itu
tercapai. Oleh karena itu, komunitas selalu bersitaf dinamis dan senantiasa berada dalam pencarian
terus menerus. Pendidikan karakter hanya dapat berhasil dan efektif jika ada
bantuan sinergis dari berbagai macam komunitas yang memiliki kaitan, langsung
ataupun tidak langsung, dengan dinamika kehidupam sekolah. Sekolah sebagai
sebuah komunitas yang memilki relasi dengan banyak pihak mesti tetap dinamis,terbuka,dan
mau belajar terus menerus jika tidak ingin menjadi sebuah lembaga yang mandek,
yang semakin lama tidak relefan dengan kebutuhan anggotanya.
Komunitas
yang pertama yang menjadi acuan kerja sama antar sekolah dengan pihak luar
adalah komunitas orang tua. Meraka merupakan salah satu pemangku kepentingan dalam sekolah
karena mereka berkapentingan agar anak yang meraka percayakan kepada sekolah
dapat bertumbuh dan berkembang dengan baik. Kepercayaan dari orang tua ini
perlu di jaga oleh pihak sekolah agar
kepentingan masimg-masing pihak dihormati. Orang tua mempercayakan anak-anaknya
agar dididik oleh para guru, sedangkan sekolah berdasarkan kepercayaan dari
orang tua, memiliki tugas untuk mendidik dan mendampingi siswa tersebut agar
berkembang secara lebih dewasa sebagai individu. Untuk itu, kerja sama antara
pihak sekolah dengan pihak orang tua sangatlah penting agar terdapat
kesinambungana antara proses pendidikan di sekeolah dan di rumah.
Membangun kerja sama dengan orang tua
tidaklah mudah. Kesibukan kerja dan dinamika kehidupan masyarakat modern sering
kali memaksa orang tua meninggalkan tugas pokok mereka sebagai pendidik
anak-anak ketika mereka berada di rumah. Hal itu terjadi karena kuantitas
perjumpaan mereka dengan anak-anaknya semakin sedikit. Ada gejala bahwa orang
tua hanya menyerahkan anak mereka secara penuh kepada sekolah namun orang tua
sendiri tidak mempunyai banyak waktu untuk anak mereka. Orang tua telah
membayar mahal sekolah dan sekarang mereka hanya sekadar meminta hasil dari
sekolah atas apa yang mereka bayar. Situasi sebaliknya dapat juga terjadi.
Sekolah memanfaatkan ketidakmampuan orang tua dalam mendidik anak-anak didik
mereka dengan cara menarik biaya setinggi-tingginya. Namun setelah mereka
memperoleh dana dari orang tua, dana tersebut tidak dipakai demi meningkatkan
kepentingan pelayanan pendidikan anak. Hal ini dapat kita lihat dari pelayanan
pihak sekolah. Dengan berbagai alasan sekolah mencari dana dari orang tua
mereka.
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Dari pemaparan materi di atas, dapat kita simpuljan
bahwa pendidikan karakter pada dasarnya memiliki peranan penting dalam
membentuk kepribadian peserta didik dalam rangka usaha menciptakan manusia yang
berkualitas dan dapat diterima di kehidupan sosial masyarakat.
Agar pendidikan karakter dapat mencapai sasaran atau
tujuan yang sebenarnya, maka perlu beberapa unsure atau basis pendidikan
karakter itu sendiri. Basisi tersebut lebih banyak terjadi atau bersumber pada
lembaga pendidikan seperti sekolah. Pembentukan karakter siswa amat penting
dilakukan di sekolah oleh guru dan komponen lain agar pendidikan tidak hanya
dapat mencapai tujuan kognitif semata tetapi juga siswa dapat mahir dalam
keterampilah afektif. Selain sekolah, peran komunitas keluarga terutama orang
tua juga amat penting dalam pembentukan karakter dan sikap atau prilau anak
didik. Peran sekolah dan orang tua haruslah bersifat sinergi atau bekerja sama
agar terbentuk pola hidup yang baik bagi peserta didik.
3.2. Saran
Untuk dapat mencapai tujuann utamanya, pendidikan karakter hendaknya harus
dilakukan sejak dini dalam proses pendidikan peserta didik. Hal ini amat
penting guna menyesuaikan dengan perkembangan psikologi dari siswa. Hal lain
yang perlu dilakukan adalah hendaknya pihak sekolah menyediakan pendidikan
karakter secara khusus ditambah dengan diselipkannya pendidikan karakter pada
materi pelajaran umum. Selain itu perlu ada kerja sma berkesinambungan antar
orang tua dan pihak sekolah guna memantau perkembangan karakter peserta didik.
Hal ini penting agar mereka dapat mengetahui seperti apa masalah yang dihadapi
peserta didik dan pada akhirnya mereka dapat memecahkannya secara bersama.
Daftar Pustaka
Muslich,
Masnur.2011. Pendidikan Karakter:
Menjawab Tantangan Krisis Multidimensional :Jakarta: PT
Bumi Aksara.
Abidin,Yunus: 2013. Pembelajaran Bahasa Berbasis Pendidikan Karakter : Jakarta : Refika
Aditama
Koesoma,Doni A. 2012. Pendidikan Karakter Utuh dan
Menyeluruh: Jogjakarta: Kanisius
Kurniawan,Syamsul.2013.
pendidikan Karakter: Pontianak: AR-RUZZ
MEDIA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar